Mimpi Untuk Nyata

Mimpi Untuk Nyata
55


__ADS_3

Rendra mengungkapkan perasaannya, Rendra langsung melamar Bela. Beberapa bulan menjalin hubungan dan mereka mantap untuk menuju ke jenjang yang lebih serius. Pernikahan pun dilangsungkan dengan sangat mewah, Rendra mengundang semua rekan-rekan dan juga karyawannya di perusahaannya.


Semenjak Rendra menikah dengan Bela, Mayang dan Kayla menetap di Bandung hanya Rendra saja yang kadang ke Jakarta untuk mengecek perusahaannya. Sampai pada akhirnya Kayla melanjutkan SMP dan SMA di Bandung.


Flash back of


“Jadi papah kamu sudah menikah?” tanya Rio


“Iya, papah menikah dengan mamah Bela karna nenek juga setuju dan menyukai mamah Bela jadi ya begitu” ucap Kayla


“Terus kenapa kamu sekarang pindah ke Jakarta lagi?” tanya Rio


“Papah yang mengajak pindah ke sini, awalnya mamah Bela tidak mau karna katanya sudah biasa di Bandung dan susah kalau meninggalkan Bandung karna banyak kenangan bersama orang tuanya, tapi papah memberi pengertian kalau mamah dan papah bisa ke Bandung kapan saja mamah mau, karna papah juga tidak mungkin menetap di Bandung, sedangkan perusahaan di Jakarta belum ada yang mengelolanya dengan baik, kalau di Bandung ada asisten papah yang sudah dipercaya banget sama papah kalau di Jakarta papah belum menemukan orang yang tepat.” Jelas Kayla


“Jadi kamu akan di Jakarta terus?” tanya Rio lagi


“Iya, aku juga kuliah di sini, beberapa hari yang lalu pindah” ujar Kayla


“Memang pindah di mana?” tanya Rio


“Di situ” Kayla menunjuk kampus yang berada di samping Cafe Rio


“Jadi kamu pindah di sana? Aku baru tahu”


Rio dan Kayla masih mengobrol, Bram yang baru datang dan langsung masuk ke Cafe Rio.


“Halo bro” sapa Bram yang menghampirinya


“Tumben ke sini pagi-pagi biasanya juga nanti pas pulang kuliah” ujar Rio


“Kamu bagaimana sih teman datang bukannya disambut malah tidak senang sepertinya” ucap Bram


“Loh Kayla” Bram yang melihat Kayla duduk di samping Rio langsung menyapanya


“Bram ya?” tanya Kayla takut salah karna ia belum begitu hafal nama-nama teman-temannya

__ADS_1


“Iya, kamu ngapain di sini?” tanya Bram


“Ini mampir ke Cafenya Rio sekalian ngobrol sudah lama tidak ketemu” jawab Kayla


“Kok bisa kenal sama Rio? Kan kalian buka sekelas” tanya Bram heran


“Kita itu teman kecil, cuma terpisah jadi baru ketemu dan bisa ngobrol sekarang” ucap Kayla


“Kok kamu bisa kenal sama Kayla?” tanya Rio pada Bram


“Ya kenallah kita kan satu kelas masak iya tidak kenal” jawab Bram


Rio mengangguk paham, kalau Kayla pindah ke kampusnya mengambil jurusan yang sama dengan Bram. Meski baru pindah beberapa hari ke kampus ini, sepertinya Kayla dan Bram bisa menjadi teman, pikir Rio.


“Kamu tidak masuk kelas?” tanya Bram pada Rio


“Masuk, setelah ini akan berangkat” jawab Rio


“Kita berangkat yuk Kayla, kan bentar lagi juga masuk” ucap Bram


“Kenapa meski berangkat bareng?” tanya Rio sewot


“Ya sudah sana berangkat” usir Rio


“Kok malah diusir, harusnya itu bilang, iya berangkat hati-hati ya” ucap Bram dengan lembut


“Ogah bilang kayak begitu, kan kamu sudah gede ngapain disuruh hati-hati” ucap Rio


“Terserah deh, ayo Kayla kita berangkat” ajak Bram


“Aku berangkat ke kampus dulu ya, kapan-kapan aku main ke sini lagi boleh?” tanya Kayla


“Boleh, kapan pun kamu boleh ke sini” ucap Rio


“Eheem” Bram berdehem untuk mengalihkan perhatian mereka dan menghentikan drama tatap-tatapan “Ayo Kayla” ajak Bram

__ADS_1


“Iya ayo” jawab Kayla


Bram dan Kayla keluar dari Cafe, Rio masih menatap kepergian Kayla dengan tersenyum, meski belum puas mengobrol dan bertemu dengan Kayla, Rio harus merelakan gadis itu pergi setidaknya nanti ia bisa bertemu lagi di lain waktu.


“Aku ke kampus dulu, jadi kamu yang handle di kasir ya” ucap Rio pada salah satu karyawannya


“Baik pak” ucapnya


Rio pergi ke kampus dengan berjalan kaki motornya ia parkir di Cafenya, karna jaraknya tidak jauh jadi Rio memutuskan untuk berjalan kaki.


Setelah selesai kuliah Rio langsung kembali ke Cafenya. Suasana Cafe selalu ramai, membuat Rio bersyukur karna rezekinya dilancarkan.


Sepasang mata sedang memperhatikan Cafe Rio yang terlihat dari kejauhan, banyak yang datang dan pergi dari Cafe itu, tak sedetik pun ia berpindah untuk menatap ke arah lain.


“Jadi di sana usaha baru kamu, kurang ajar berani-beraninya kamu membuka usaha di sana membuat Cafeku menjadi sepi” ucapnya mengepalkan tangannya “Lihat saja apa yang akan saya lakukan” imbuhnya tersenyum sinis


“Bro” panggil Bram yang baru masuk


“Ngapain kamu ke sini?” tanya Rio


“Apaan sih pakai tanya-tanya segala” jawab Bram


“Sana pulang, nanti dicari lagi sama papi kamu” ucap Rio


“Jadi kamu ngusir aku, ya sudah aku pulang” Bram membalikkan badannya dan keluar dari Cafenya


Rio yang melihat Bram pulang hanya menghela nafasnya.


Hari mulai gelap, Rio akan menutup Cafenya karna sudah pukul 9 malam, ia masih harus pulang ke rumahnya, jadi ia tak bisa membuka Cafe sampai larut, perjalanan ke rumahnya saja satu jam. Rio belum menyampaikan kalau ia akan mengontrak di dekat Cafe atau kampusnya, agar jaraknya tidak jauh. Setelah ia melunasi pinjaman dari Bram ia akan menabung dan akan mengontrak di kota.


Sesampainya di rumahnya Rio langsung masuk dan melihat kalau ayahnya sudah tidur di kamarnya, karna memang sudah malam mungkin Surya tertidur karna menunggu Rio pulang. Rio tak membangunkan Surya, ia langsung masuk ke kamarnya dan mandi agar tubuhnya terasa segar setelah seharian bekerja di Cafenya.


Rio merebahkan tubuhnya setelah selesai membersihkan dirinya, ia menatap gelang yang dipakainya.


“Sepertinya kita memang hanya sebatas teman masa kecil” Rio menghela nafasnya dengan kasar

__ADS_1


Karena pikirannya sedang kacau, Rio memutuskan untuk tidur karna besok ia harus berangkat pagi. Hari-harinya seperti itu, berangkat pagi dan pulang malam. Semoga uangnya segera terkumpul agar ia bisa mengontrak atau membeli rumah di kota, sehingga Rio tak perlu jauh-jauh untuk pulang dan pergi, apalagi kalau ada tugas tentu akan membuat pikiran dan tenaganya terkuras, tapi Rio menikmati semua proses itu agar nantinya ia bisa lebih tangguh lagi jika dihadapkan dengan hal-hal sulit dalam perjalanan hidupnya.


Lelah yang Rio rasakan hari ini adalah proses yang harus dilaluinya dalam merintis usaha, apalagi nanti ketika dirinya sudah jaya, rintangan itu akan semakin sulit, Rio juga harus pandai mencari teman jangan sampai ia terkecoh dengan kata kawan yang sebenarnya adalah lawan. Dunia yang seperti ajang persaingan pasti akan menimbulkan sifat-sifat yang bisa merubah manusia. Banyak sekali orang yang terlalu percaya pada seseorang tapi pada kenyataannya orang itu yang menghancurkan kepercayaannya. Itulah sebabnya kita harus berhati-hati pada orang yang memberi perhatian lebih, bisa jadi itu adalah sebuah ancaman.


__ADS_2