Mimpi Untuk Nyata

Mimpi Untuk Nyata
64


__ADS_3

Rio sudah menghubungi beberapa pemilik kontrakan dan akan melihat-lihat terlebih dahulu, jika tempatnya nyaman maka ia akan langsung menempati hari ini juga.


“Bagaimana yah?” tanya Rio


“Kalo menurut ayah ini bagus dan nyaman juga, ya lebih nyaman dari kontrakan yang sebelumnya kita lihat, tempatnya juga lumayan dekat dengan kampus dan Cafe kamu jadi kamu tidak capek nantinya kalo harus ke Cafe” jawab Surya


“Jadi ayah lebih nyaman yang ini, kalo begitu ambil yang ini saja ya yah?” ujar Rio


“Kalo kamu setuju juga ayah juga setuju” ucap Surya


Rio menghampiri pemilik kontrakan.


“Pak saya mau mengontrak di sini dan mau langsung menempati hari ini juga” ucap Rio


“Iya, ini kuncinya” ucap pemilik kontrakan memberikan kunci kontrakannya


“Ini uangnya pak” Rio menerima kuncinya dan memberikan uang untuk kontrakannya


“Semoga betah ya, saya pergi dulu” ucapnya


“Iya pak terima kasih” ucap Rio


Rio kembali ke dalam, ia membereskan kontrakannya dan meletakkan baju-baju yang dibawanya.


“Ayah, Rio harus kembali ke Cafe, ayah di sini saja ya. Nanti aku beli makan malam iar ayah tidak perlu masak kan alat-alatnya juga belum dibawa semua” ucap Rio


“Iya nak, hati-hati ya” ucap Surya


“Rio berangkat ya Assalamualaikum” ujar Rio


“Waalaikumsalam”


Rio kembali ke Cafenya, ia bilang pada pelayan Cafenya kalau Rio akan pulang lebih awal. Jadi ia meminta karyawannya untuk membereskan dulu sebelum pulang dan mengunci pintunya. Rio akan pulang setelah isya’, ia akan membeli makan malam untuk dirinya dan juga ayahnya.

__ADS_1


“Bang beli nasi gorengnya dua ya” ucap Rio


“Iya dek” ucap penjual nasi goreng


Setelah menunggu beberapa menit nasi goreng yang dipesannya sudah selesai.


“Ini nasi gorengnya” penjual nasi goreng memberikan nasi gorengnya pada Rio


“Ini uangnya pak, terima kasih ya pak” ucap Rio


“Iya sama-sama pak”


Rio melajukan motornya ke kontrakannya, terlihat Surya sedang duduk di depan kontrakannya.


“Assalamualaikum yah” ucap Rio


“Waalaikumsalam” ucap Surya


“Ayo kita makan nak” ucap Surya


Rio dan Surya memakan nasi gorengnya hingga habis, setelah makan mereka masuk ke dalam kontrakannya. Rio membersihkan badannya yang sudah bau keringat karna seharian beraktivitas. Sedangkan Surya masuk ke dalam kamarnya. Kontrakan itu memang tidak terlalu ramai, karna tetangga yang mengontraknya ada yang masih bekerja ada juga yang sudah tidur karna bekerja seharian, jadi tempat itu nyaman untuk orang yang tidak terlalu suka kebisingan.


Malam ini suasana beda, kita di desa angin terasa sejuk karna banyak pepohonan tapi di kota angin malam terasa panas karena pohon yang jarang dan juga rumah-rumah dan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Di kota jika menginginkan sesuatu pasti lebih mudah untuk didapat, karna banyak toko-toko yang menyediakan keperluan. Tapi terkadang kehidupan di desa lebih nyaman, Surya masih termenung dan tak dapat memejamkan matanya. Ada yang berbeda ketika dirinya ada di kota, tapi semua harus ia lakukan agar ia lebih tenang tidak berjauhan dari Rio. Bisa saja Surya enggan ikut Rio untuk tinggal di kota, tapi ia tahu kalo putranya khawatir jika meninggalkannya sendiri.


Rumah di desa sengaja tak ia jual agar nanti jika ia ingin pulang ke desa masih ada tempat untuk berteduh, rumah itu banyak kenangan dengan almarhum istrinya, ia belum rela jika tempat yang berisi kenangan itu dijual. Biarlah kenangan itu tetap ada di sana meski tak lagi ia rasakan.


Semakin hari Rio semakin semangat dan yakin jika impiannya membuka Cafe yang lebih besar akan terwujud, karna setiap hari banyak yang datang ke Cafenya apalagi teman-temannya tak pernah absen untuk tidak datang ke Cafenya. Rio sudah menambah karyawan, agar ketika dirinya pergi kuliah ada yang berjaga di kasir, total karyawannya sudah empat orang. Desi teman kerja di Cafe dulu, kini bekerja di Cafe Rio karna di Cafe sebelumnya melakukan pengurangan karyawan, semenjak omset dan pengunjungnya menurun. Meski pun Cafe milik Rio tidak terlalu luas, tapi memberikan kenyaman adalah prioritas utama agar pengunjung Cafenya selalu nyaman dan betah.


*


Di rumah, Kaya sedang melamun ia bingung harus bagaimana. Neneknya seperti keras kepala tidak mau membatalkan permohonan ia dan Bram, padahal sudah banyak cara yang Kayla lakukan dengan membatalkan permohonan ini. Dari Bram yang menolak untuk dijadikan, sampai Kayla berniat pergi dari rumah agar tidak ada permohonan tapi sayangnya Mayang tak menghiraukannya. Mayang bilang kalau Kayla sampai pergi maka ia tak akan menerima warisan darinya sedikit pun, dan ia tidak boleh membawa barang-barang yang diberikan oleh Rendra, Kaya tak jadi pergi karna jika ia memaksa kemungkinan ia akan benar-benar tak akan dianggap lagi oleh Mayang.


Mayang memberi waktu dua bulan lagi agar Kayla dan Bram lebih mengenal, dan setelah waktu itu mereka akan melakukan acara pertentangan.

__ADS_1


“Kamu lebih mengenal Bram lebih dalam lagi, agar kamu tahu ia seperti apa dan kamu sadar kalo Bram memang laki-laki yang pantas untuk kamu dan bisa menjamin masa depan kamu, dua bulan nenek rasa sangat cukup untuk mengenal Bram dan setelah itu acara pertentangan akan dilangsungkan tanpa bisa ditawarkan lagi” perkataan Mayang masih teringat jelas dalam ingatan Kayla.


“Bagaimana mungkin aku bisa melakukan semuanya, kalo yang aku inginkan bukan Bram. Dia memang baik, tapi aku belum bisa membuka hati untuknya apalagi Rio dan Bram sudah berteman sebelum aku datang di tengah-tengah mereka, aku tidak mau merusak pertemanan mereka” ucap Kayla, ia duduk di pojok kasusnya memikirkan cara apalagi yang harus ia lakukan agar perjodohannya tidak dilanjutkan.


“Sepertinya aku harus memberi tahu Rio tentang ini, siapa tahu dia punya solusi. Apalagi sekarang Cafenya sudah sukses dan akan membuka yang lebih besar lagi pasti Rio siap untuk melamar aku” ucap Kayla yakin


Kayla mengambil HP, ia menghubungi Rio.


“Assalamualaikum Kayla” ucap Rio di seberang sana


“Waalaikumsalam Rio, lagi sibuk?” tanya Kayla


“Tidak Kayla, ini lagi santai saja” ucap Rio


“Aku mau bicara hal yang serius sama kamu” ucap Kayla


“Iya, bicara tentang apa Kayla?” tanya Rio


“Tentang hubungan kita, nenek memberi aku waktu untuk kenal lebih dekat dengan orang yang dijodohkan, aku bingung harus bagaimana tidak tahu cara apalagi yang harus aku lakukan agar nenek membatalkan permohonan ini, apa kamu siap untuk bertemu orang tua aku, kamu melamar aku Rio, aku tidak mau orang lain aku mau kamu” ucap Kayla yang mulai menangis


“Apa kamu sudah bertemu dengan orang yang akan kamu jodohkan?” tanya Rio


“Sudah” jawab Kayla


“Lalu apa kamu menyukainya” tanya Rio lagi


“Mana mungkin aku menyukai orang lain, aku maunya kamu” ucap Kayla


“Kamu beri aku waktu satu bulan ya, setelah aku bisa membuka Cafe yang lebih besar lagi aku akan menemui orang tuamu, setidaknya nenek kamu tidak akan memandang rendah aku, dan aku bisa lebih percaya diri ketika menemui orang tua kamu” ucap Rio


“Kamu janji ya, satu bulan kamu sudah membuka Cafe kamu yang baru dan datang ke sini” ujar Kayla


“Iya aku janji” ucap Rio

__ADS_1


__ADS_2