
“Kamu mah belajar juga?” tanya Rio heran
“Mau sama kamu” jawab Anggi tersenyum
“Aku mau belajar, jadi kamu jangan ganggu aku” ucap Rio
“Ya siapa yang mau ganggu, aku kan cuma mau lihat kamu saja”
“Aku tidak mau diganggu, mending kamu ke kantin atau ke mana aku mau sendiri biar fokus belajarnya, jadi kamu jangan ganggu aku” ucap Rio berlalu meninggalkan Anggi
“Iih dasar, aku kan tidak akan mengganggu” gerutu Anggi
Rio langsung masuk ke perpustakaan, karna masuk kelas masih kurang setengah jam lagi ia akan belajar dulu dan mencari buku di perpustakaan untuk menambah pemahaman materinya.
Rio melihat angka di jamnya, menunjukkan pukul 8:30 yang artinya sudah waktunya masuk ke kelas karna sebentar lagi dosen akan datang. Ia bergegas membereskan buku-buku dan mengambil tasnya, karena terburu-buru Rio menabrak seseorang.
“Aduuuh” keluhnya
“Maaf, maaf aku tidak sengaja. Aku buru-buru tidak lihat maaf ya” ujar Rio mengambil buku-buku yang terjatuh
“Lain kali hati-hati” ucapnya berlalu
Rio sekilas melihat wajah gadis itu, kenapa rasanya tidak asing dan ini bukan pertemuan pertama dengannya.
“Ah sudahlah, aku harus buru-buru ke kelas” ucap Rio berlalu
Sesampainya di kelas Rio melihat kalau dosennya ternyata belum sampai, ia mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk presentasinya dibantu dengan teman sekelompoknya.
Hampir dua jam dan Rio sudah keluar dari kelasnya.
“Eh Rio tunggu” panggil Anggi
“Ada apa Gi?” tanya Rio
“Kita jalan yuk” ajak Anggi
__ADS_1
“Aku tidak bisa, aku harus kerja” tolak Rio
“Yaelah Gi, ngapain jalan sama dia mending sama aku saja” ujar Denis
“Apaan sih, aku itu lagi bicara sama Rio” ucap Anggi ketus
“Maaf ya Gi, aku harus kerja nanti telat. Mending kamu jalan sama Denis saja” ucap Rio
“Kamu ngapain sih mau jalan sama dia, yang ada nanti kamu yang bayar lagi, kalo sama aku tenang saja, kamu mau apa saja aku yang bayar. Rio kan miskin” ucap Denis
“Aku pergi dulu” Rio tak menghiraukan ucapan Denis, ia sudah tahu betul sifat Denis seperti apa, daripada dirinya telat dan membuat kecewa bosnya lebih baik ia pergi dan tak membalas ucapan Denia
“Kamu lihat sendiri Rio itu tidak suka sama kamu, lebih baik sama aku saja. Kalo kamu pacaran sama aku hidup kamu terjamin, kalo sama dia? Aku tidak tahu deh hidup kamu kayak apa, dia miskin kerjanya apa? Paling jualan” ucap Denis tertawa
“Kamu tidak sadar kalo Rio lebih tampan dari kamu, aku tidak akan pernah suka sama kamu, buat apa aku jadi pacar kamu, kalau pun nanti aku pacaran sama Rio tidak masalah aku yang bayar toh aku juga punya uang buat bayar” ujar Anggi berlalu meninggalkan Denis
“Dasar Anggi sialan, berani-beraninya dia nolak awas kamu Rio” ucap Denis sangat kesal dengan Rio, padahal ia tak tahu menahu
Rio yang sudah sampai di Cafe langsung berganti pakaian, manajernya sudah menunggu untuk bertanya-tanya perihal dirinya, dan juga ingin melihat kemampuan bekerjanya. Meski hanya pelayan, harus tetap profesional jangan memandang enteng dengan pekerjaan, itu adalah nasihat yang pernah ayahnya ucapkan sewaktu Rio masih SMA dulu, agar nanti ketika dirinya sudah sukses atau pun bekerja di suatu tempat tetap ingat bahwa dalam bekerja tidak hanya memerlukan pengalaman tapi juga kejujuran. Apa pun pekerjaannya jika tidak jujur tidak akan berkah, juga akan dipandang dan diingat orang kalau pernah melakukan kecurangan sehingga membuat orang takut dan tidak percaya untuk memperkerjakannya.
“Iya pak, saya Rio” jawab Rio
“Kamu akan bekerja part time ya?” tanya manajernya
“Iya pak, karena saya masih kuliah”
“Tidak masalah, asal kamu bekerja dengan baik, saya akan mengawasi kamu hari ini untuk melihat cara kerja kamu memperlakukan pembeli seperti apa, jadi silakan kamu ke dapur dan memulai kerja”
“Baik pak, terima kasih”
Rio pergi ke dapur untuk memulai bekerja. Ia sangat senang, karna bisa bekerja. Nanti ia ingin membuka usaha, sesuai dengan jurusan yang diambilnya yaitu management, yang nantinya tidak akan membuatnya kesulitan untuk mempraktikkannya.
Rio bekerja dengan hati-hati, menyambut orang yang datang dengan baik agar nantinya bisa kembali lagi ke Cafe ini.
“Mohon ditunggu pesanannya” ucap Rio berlalu ke dapur untuk menyiapkan makanan yang dipesan
__ADS_1
“Bagus Rio, kamu memperlakukan pengunjung dengan ramah. Pertahankan seperti itu agar mereka merasa nyaman dan bisa kembali ke Cafe ini lagi” ucap manajernya
“Iya pak, sebisa mungkin saya akan memperlakukan mereka dengan baik” ujar Rio
“Ya sudah kamu lanjut bekerja, saya mau ke ruangan saya”
“Baik pak”
Rio kembali melanjutkan pekerjaannya. Tak terasa sudah maghbrib, mereka bergantian untuk makan dan juga sholat.
“Kamu sudah makan Rio?” tanya Desi
“Belum, ini baru selesai sholat, kamu sudah makan?”
“Belum, kalo begitu ayo kita makan dulu” ajak Desi
“Ayo”
Merek berdua ke arah dapur. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka.
“Berani-beraninya kamu mendekati Desi” ucapnya
Leon merupakan partner kerja Desi dan juga Rio, Leon sudah lama menyukai Desi hanya saja Leon belum berani mengungkapkan perasaannya. Leon sempat mengajak Desi untuk makan malam dan nongkrong, niatnya Leon akan menyatakan cintanya. Namun sayang, Desi terburu-buru karna ada urusan, jadi Leon tak sempat mengungkapkan perasaannya. Sampai sekarang pun ia belum sempat menyatakan perasaannya pada Desi.
Melihat Desi dekat dengan Rio membuat hati Leon panas, ia tak suka jika Desi dekat dengan laki-laki lain. Meski Rio dan Desi hanya sekedar mengobrol dan makan, Leon tetap tidak suka, Leon yang sudah melakukan berbagai cara agar bisa mendekati Desi tidak membuahkan hasil. Malah dengan kehadiran Rio membuatnya semakin berjarak dengan Desi. Tak bisa dipungkiri Leon hanya takut kalau Rio atau pun Desi saling suka dan Leon tidak bisa mendapatkan Desi, padahal ia yang lebih dulu kenal dan menyukai Desi.
Desi yang memang ramah pada setiap rekan kerjanya membuat siapa saja yang dekat dengannya nyaman karna orangnya asik dan tidak baperan. Leon masih memperhatikan Desi dan juga Rio, mereka terlihat sangat akrab walau baru mengenal. Rio yang melihat ke arah Leon sadar kalau Leon melihat dirinya dan juga Desi yang sedang makan.
“Hei Leon, sini makan bareng sama kita” ujar Rio
Leon yang merasa dirinya sudah ketahuan karna memperhatikan Desi dan Rio langsung menghampiri mereka.
“Ayo sini makan bareng, biar rame” ujar Rio yang memberikan kursi agar Leon duduk
“Iya Leon, ayo makan bareng di sini daripada kamu makan sendirian di sana” sambung Desi
__ADS_1
“Ya sudah aku makan bareng kalian di sini sepertinya asik ya” ucap Leon menunjukkan senyum palsunya padahal hatinya sedang panas menahan kesal pada Rio.