Mimpi Untuk Nyata

Mimpi Untuk Nyata
42


__ADS_3

“Mas Rendra kecelakaan tadi malam dan sekarang mas Rendra ada di rumah sakit, ibu ke sini ya ajak Kayla” ujar Bela


“Apa” Mayang langsung duduk karena lutut-lututnya lemas tak bisa menahan berdiri


“Halo bu, ibu” panggil Bela


“Iya Bela, bagaimana keadaan Rendra?”


“Mas Rendra koma bu”


“Aku akan ke sana, kamu jaga Rendra dulu ya”


“Iya bu, ibu hati-hati”


Setelah memberi tahu Mayang, Bela kembali duduk dan melihat wajah Rendra yang pucat.


“Mas ayo bangun, kamu belum mendengar jawaban aku, kamu harus bangun mas” ucap Bela memegang tangan Rendra


Bela diam sambil menunggu kedatangan Mayang, ia bahkan lupa mengabari Erik dan meminta izin untuk tidak masuk, sampai Erik yang menghubunginya.


“Halo Bela, kamu di mana? Kenapa belum datang? Apa ada urusan yang membuat kamu telat” tanya Erik dari seberang sana


“Maaf pak, saya sampai lupa mengabari bapak. Saya izin ya pak, saya sedang menjaga mas Rendra” ucap Bela


“Memang pak Rendra kenapa?” tanya Erik


“Mas Rendra kecelakaan tadi malam pak, dan ibunya menuju ke sini saya sedang menunggu sampai ibunya datang”


“Kok bisa? Ya sudah saya segera ke situ ya, kamu kirim alamatnya” ucap Erik


“Iya pak”


Bela kembali menatap wajah Rendra, lelaki yang biasanya tegas dan berwibawa itu sudah lemah terbaring. Sakit rasanya melihat orang yang kita suka seperti itu, apalagi sebelumnya Bela memang tak pernah mau lagi membuka hati, tapi setelah kebersamaan dengan Rendra membuat hatinya luluh, dan perasaan itu hadir dengan sendirinya. Siapa yang bisa menahannya, jika ada mungkin tak akan ada orang yang patah hati nantinya.


Erik yang langsung menuju ke rumah sakit setelah mendengar kabar dari Bela bahwa Rendra kecelakaan dan sedang koma di rumah sakit. Ia mencari ruangan tempat Rendra dirawat,


“Bela” panggil Erik yang baru saja membuka pintu


“Pak Erik, kita bicara di luar saja pak” ajak Bela


Erik mengikuti langkan Bela yang keluar.


“Bagaimana keadaan Rendra? Kok bisa kecelakaan?” tanya Erik yang penasaran mengapa Rendra bisa kecelakaan


“Saya tidak tahu pak, saya mendapat telepon kalau mas Rendra kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit, jadi saya langsung ke rumah sakit”

__ADS_1


“Lalu ibu pak Rendra sudah diberitahu dan akan ke sini?”


“Iya ibunya sudah diberi tahu dan sedang perjalanan ke sini”


“Bagaimana kondisinya?”


“Kata dokter, belum tahu kapan ia akan sadar dan mas Rendra juga membutuhkan darah tapi untungnya ada stok di rumah sakit, tapi tulang kakinya retak ia harus memakai kursi roda terlebih dahulu” ucap Bela menunduk menahan tangisnya


“Apa kamu sudah makan?”


Bela menggelengkan kepalanya.


“Kamu sudah menunggunya dari semalaman, kamu harus makan dulu agar kamu tidak sakit” ucap Erik


“Saya tidak nafsu makan pak”


“Saya belikan roti dulu ya, kamu harus makan tunggu di sini”


Erik pergi ke kantin rumah sakit untuk membelikan roti agar Bela mau makan, sedangkan Bela menunggu di depan kamar Rendra.


“Ini, kamu makan dulu” Erik memberikan roti yang dibelinya


“Terima kasih pak”


“Iya”


“Bagaimana kondisi Rendra Bela?” Tanya Mayang dengan panik


“Ibu tenang dulu ya” ucap Erik


“Mas Rendra koma bu, dan dokter bilang belum tahu kapan akan sadar” jawab Bela


“Ya Allah Rendra, kok bisa seperti ini”


“Sabar bu, sebaiknya kita berdo’a agar pak Rendra segera sadar”


“Tapi” Bela menghentikan ucapannya


“Tapi apa Bela? Kenapa?” tanya Mayang yang tak sabar mendengarkan


“Tapi tulang kaki mas Rendra retak karena hantaman yang cukup kuat, jika nanti ia sadar harus memakai kursi roda agar retaknya tidak terlalu parah” ucap Bela


Mendengar ucapan Bela, Mayang seketika lemas dan jatuh tapi Erik sigap menahannya dan menyuruhnya duduk di kursi agar lebih tenang dan bisa kuat menghadapi semua ini.


“Kenapa Rendra bisa kecelakaan Bela? Apa kamu bersamanya?” tanya Mayang dengan suara serak karena tak hentinya menangis

__ADS_1


“Saya tidak bersama mas Rendra bu, tadi malam saya ditelepon kalau mas Rendra kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit, aku belum tahu apa penyebabnya karena aku terlalu panik dan juga menjaga mas Rendra semalaman di sini” jawabnya


“Terima kasih ya sudah menjaga anak saya” ucap Mayang


“Ibu tidak perlu berbicara seperti itu, bagaimana pun mas Rendra adalah bos Bela”


“Nenek” Kayla yang dari tadi hanya mendengarkan menghampiri neneknya dan duduk di sebelahnya


“Sini sayang sama mamah Bela, mamah sampai lupa kalau ada kamu” ucap Bela


“Kayla mau ketemu papah” ucap Bela yang ingin menangis karena dari tadi ia melihat Mayang menangis


“Papah ada di dalam sayang, Kayla mau ketemu papah? Ayo kita masuk” ajak Bela


Bela membawa Kayla ke dalam, diikuti Mayang dan juga Erik, Mayang yang melihat Rendra terbaring merasakan sakit, meski sakitnya tidak sebanding dengan yang dirasakan Rendra.


“Papah kenapa nek? Kok tidak bangun-bangun?” tanya Kayla


“Papah lagi sakit sayang, do’akan papah ya semoga papah cepat sembuh” Bela menjawab pertanyaan Kayla karena Mayang masih menangis dan tak sanggup berkata-kata


“Kayla akan mendo’akan papah, Kayla kangen sama papah” ucap Kayla yang meneteskan air matanya


“Kok Kayla menangis, jangan sedih dong nanti papah juga sedih kalo lihat kalau begini” Bela mencoba menghibur Kayla meski dirinya juga merasakan sedih karna Rendra belum sadar juga.


“Kayla takut papah nanti tidak sembuh, terus siapa yang akan antar Kayla ke sekolah, yang mau ajak main Kayla” ucap Kayla membuat Mayang menoleh dan menghampiri Kayla


“Kayla sayang, papah pasti sembuh. Papah kan kuat jadi Kayla harus berdo’a agar papah cepat sembuh ya” ucap Mayang


“Iya nek”


Erik berpamitan untuk kembali ke kantornya karna akan ada meeting, Bela masih menunggu Rendra di rumah sakit meski Mayang sudah menyuruh Bela untuk pulang dan istirahat di rumahnya karena sudah semalaman menunggu Rendra.


 


Sedangkan Rio yang sudah pulang sekolah menunggu Kayla untuk mengucapkan terima kasih, kemarin Rio ingin mengatakan tapi Kayla tidak datang ke taman, jadi hari ini Rio menunggu Kayla berharap bisa bertemu dan mengucapkan terima kasih.


Rio berkeliling taman, sesekali melihat di rumah Kayla apakah Kayla ada di sana, tapi sampai sore pun Rio tak melihat Kayla ada di taman atau sekitar rumahnya. Hari sudah sore, Rio memutuskan untuk pulang saja. Ternyata ayahnya sudah sampai lebih dulu.


“Loh baru pulang nak?” sapa Surya


“Iya yah, tadi kesorean yang pulang karna menunggu Kayla” jawab Rio


“Menunggu Kayla? Memang Kaylanya ke mana?” tanya Surya


“Kayla tidak datang ke taman, padahal Rio mau bilang terima kasih” Rio terlihat kecewa karna tak bisa bertemu dengan Kayla

__ADS_1


“Mungkin Kayla sedang ada perlu, jadi kamu jangan sedih. Lain kali kamu bisa ketemu sama Kayla” Surya menghibur Rio agar ia semangat lagi


“Iya yah, Rio mandi dulu ya”


__ADS_2