
“Kamu sudah sarapan Bram?” tanya Bela
“Sudah tan, sebelum berangkat tadi sarapan dulu” jawab Bram
Bela mengangguk, di sana Bram mengajak Kayla berbicara walau hanya sekedar menanyakan kabar, Bram berharap Kayla bisa mendengar dan ia segera sadar.
“Kayla apa kabar? Aku ke sini mau lihat kamu loh, apa kamu tidak rindu kuliah, ayo bangun anak-anak yang lain juga pada nanyain kamu, katanya mereka rindu sama kamu” ucap Bram
Tak ada respons dari Kayla, Bram menghela nafasnya ia tidak boleh menyerah siapa tahu ada keajaiban.
“Tante, Bram ke kampus dulu ya” pamit Bram
“Iya kamu hati-hati ya” Bela mengelus pundak Bram agar ia bersabar karna Kayla belum sadar juga
*
Satu minggu setelah Rio menjenguk Kayla, selama itu pula Rio belum sempat untuk kembali menjenguknya karna ia masih fokus mengembangkan usahanya dan ternyata semua tidak sia-sia. Kini Rio sudah membuka cabang baru, karna banyaknya tawaran dan juga peminatnya, pengunjung suka dengan dekor dan juga menu-menu yang disajikan di Cafe Harapan ini. Rio memberi nama Cafe ini dengan Cafe Harapan karna Rio menaruh harapan yang besar dari Cafe ini.
Sebentar lagi Rio akan wisuda tinggal menunggu skripsinya ditanda tangani maka Rio sudah bisa mengikuti wisuda, sayangnya ia tak bisa merasakan wisuda bersama Kayla, entah saat ini keadaannya seperti apa Rio tak tahu, bahkan untuk menghubungi Bram saja ia enggan karna sudah terlanjur kecewa dengannya.
Rio berharap masih bisa bertemu kembali dengan Kayla, mungkin saja Kayla sudah dibawa keluarganya ke luar negeri untuk pengobatan atau Kayla sudah sembuh dan masih dirawat di rumah sakit, Rio akan memastikannya tapi tidak sekarang karna pikirannya sudah terpecah untuk Cafe dan juga penyembuhan ayahnya. Waktu itu Surya sempat terpeleset di kamar mandi dan kakinya keseleo yang mengharuskan dirinya tidak boleh banyak bergerak, Rio mengurus Surya sebelum ia berangkat ke Cafe, jika ia berangkat ke Cafe maka semuanya disediakan di dekat ayahnya. Keadaannya sekarang sudah membaik dan bisa berjalan walau pelan-pelan.
“Rio berangkat, ayah kalo ada apa-apa langsung hubungi Rio ya” ucap Rio
“Iya nak”
“Ayah jangan terlalu banyak gerak dulu, nanti kalo kakinya sudah sembuh total baru ayah bisa jalan ke mana-mana, ya sudah Rio berangkat Assalamualaikum”
“Waalaikumsala, hati-hati ya”
Rio mengangguk dan keluar mengendarai sepeda motornya.
Setelah tiba di Cafe Rio langsung pergi ke ruangannya, di sana Rio mengecek laporan yang sudah disiapkan oleh Desi.
“Pak Rio” panggil Desi
Rio yang sedang fokus pun menoleh ke sumber suara.
“Iya ada apa Des?” Tanya Rio
“Tidak pak, saya hanya membawakan bapak kopi, tadi ketika masuk sepertinya bapak tidak bersemangat dan banyak pikiran” ucap Desi
“Iya terima kasih Des” ucap Rio.
Desi meletakkan kopi di meja Rio, setelah meletakkan Desi tak langsung keluar ia masih berdiri di depan Rio, Rio yang menyadari itu lalu bertanya pada Desi.
__ADS_1
“Ada lagi?” tanya Rio
“Tidak pak” jawab Desi
“Silakan kembali ke kasir, takutnya ada yang datang membeli ”ucap Rio
“Oh iya pak” Desi kelabakan dan langsung ke luar dari ruangan Rio
Rio menggelengkan kepalanya melihat tingkah Desi, dulu ia tak seperti itu apa mungkin karna belum lama mengenalnya dan sekarang sudah tahu sikap dan tingkah Desi. Rio yang tak menyadari dengan perhatian Desi menganggap semua itu hal biasa yang dilakukan karyawan pada atasannya.
“Sepertinya sudah semua, mungkin aku bisa ke rumah sakit melihat keadaan Kayla dan memastikan apakah Kayla pergi ke luar negeri atau tidak” Rio berdiri dan keluar dari ruangannya
“Desi, saya ada urusan sebentar di luar jadi kalo ada apa-apa hubungi saya” ucap Rio
“Bapak mau ke mana?” tanya Desi membuat Rio mengernyitkan keningnya
Desi yang melihat Rio merasa aneh dengan pertanyaannya langsung menjelaskan.
“Ma-maksud say kalau nanti ada yang menanyakan pak Rio dan ingin bertemu dengan pak Rio saya bisa menjawab pak Rio pergi ke mana” terang Desi
“Oh saya mau pergi ke rumah sakit” jawab Rio
“Memang siapa yang sakit?” tanya Desi
“Teman, ya sudah aku pergi dulu” ucap Rio berlalu
“Memang sih seperti tidak bisa digapai, tapi sebelum janur kuning melengkung kita bisa menikung” ucap Desi terkekeh
“Siapa yang menikung?” tanya salah satu karyawan yang mendengarnya
“Apa sih kepo banget, ngapain ke sini sana kembali ke dapur” ucap Desi
“Ini juga mau ke dapur, awas jangan macam-macam” ucapnya memperingati
“Tidak mungkinlah macam-macam, paling hanya satu macam” ucap Desi tersenyum
“Terserah kamu” ia pun pergi meninggalkan Desi
*
DI rumah sakit, Rio langsung ke kamar tempat Kayla di rawat. Rio melihat sekitar apakah ada Mayang atau tidak, ia tak mau terusir sebelum tahu dan melihat kondisi Kayla seperti apa walau hanya bisa melihat dari jarak jauh. Sesampainya di depan kamar Kayla, Rio mengintip dari celah jendela apakah Kayla ada di dalam atau tidak.
“Loh Rio kenapa cuma mengintip, ayo masuk” ajak Rendra yang hendak masuk ke dalam
“Eh om, emm” Rio tampak berpikir sebelum memutuskan masuk, ia malas sekali berdebat dengan Mayang, apalagi hanya masalah perjodohan yang dibahasnya
__ADS_1
“Ayo masuk, di dalam ada Bram” ucap Rendra
“i-iya om” akhirnya Rio masuk mengikuti Rendra
“Coba tebak siapa yang datang” ucap Rendra
“Siapa pah?” tanya Kayla
Kayla sudah sadar, itulah kenapa sekarang masih ada di sini bukan di luar negeri. Dua hari sebelum Rendra akan membawa Kayla pergi, Kayla sadar. Karna menurut dokter semakin hari Kayla semakin membaik hanya butuh pemulihan karna retaknya, Rendra memutuskan untuk merawat Kayla tetap di rumah sakit ini, yang paling utama kesembuhan Kayla bagi Rendra.
“Ini dia” Rendra membuka pintu dan Rio masuk
“Rio” ucap Kayla dan Bram kompak
“Bagaimana keadaannya Kayla?” tanya Rio
“Baik dan masih pemulihan, kata dokter lusa kalo sudah membaik diizinkan pulang asal kontrol setiap minggu dan jangan terlalu banyak aktivitas” jawab Kayla
“Syukurlah” ucap Rio
“Om, aku mau bicara sesuatu sama om” ucap Bram
“Ya sudah ayo keluar” ajak Rendra
“Rio kamu temani Kayla dulu ya, Bram mau bicara sama om” ucap Rendra
“Iya om”
Rendra dan Bram keluar, kini hanya ada Rio dan Kayla di dalam.
“Kenapa kamu baru ke sini?” tanya Kayla yang mulai meluapkan kesedihannya karna ketika dirinya sadar dan membuka matanya, Kayla tak menemukan keberadaan Rio
“Maaf, aku lagi mengembangkan Cafe dan juga ayah sakit jadi aku benar-benar tidak bisa ke sini” ucap Rio lembut
“Ayah sakit apa?” tanya Kayla khawatir
“Ayah terpeleset di kamar mandi dan kakinya keseleo tidak bisa jalan hampir satu minggu, sekarang sudah bisa jalan meski pelan-pelan” jawab Rio
“Titip salam buat ayah ya”
“Iya, nanti aku sampaikan. Bagaimana?” tanya Rio
“Bagaimana apanya?” tanya Kayla tak mengerti
“Perjodohannya?” tanya Rio membuat Kayla terkejut, karna selama ia sakit ia melupakan masalah perjodohan dan neneknya juga tidak membahasnya
__ADS_1
“Aku tidak tahu, aku belum bertanya pada nenek ataupun ayah masalah perjodohan ini dan mereka juga tidak pernah membicarakan masalah ini” jawab Kayla