Mimpi Untuk Nyata

Mimpi Untuk Nyata
41


__ADS_3

Setelah menunggu selama satu hari, malam ini Bela akan memberikan jawabannya pada Rendra. Mereka akan bertemu di pinggir danau, tempat yang tenang untuk menyampaikan sesuatu, tempat ini menjadi tempat yang biasa Bela datangi jika dirinya sedang merasa sedih.


Bela sudah ada di sana, ia menunggu Rendra yang belum juga muncul. Bela sudah memberitahu alamatnya jadi tak mungkin Rendra kesasar. Hampir 15 menit Bela menunggu Rendra tapi tak kunjung datang, Bela berniat menghubungi Rendra, tapi Hpnya berdering.


“Halo, ada di mana? Aku sudah di sini menunggumu” ucap Bela


“Aku sudah tahu jawabannya, jadi aku tak perlu datang ke sana” ucap Rendra


“Maksud kamu apa? Aku sudah menunggumu 15 menit dan kamu tidak mau datang ke sini” ujar Bela kesal


“Aku sudah tahu jawabannya Bela, jadi untuk apa aku datang, aku tahu kamu dekat dengan Erik” ucap Rendra


“Kamu belum tahu jawaban aku mas, kamu harus datang ke sini. Saya tunggu 20 menit di sini, kalo kamu tidak datang aku tidak akan mau bertemu denganmu lagi” ucap Bela dengan nada penekanan, ia langsung mematikan sambungan teleponnya.


“Bagaimana bisa dia menyimpulkan sesuatu yang belum pasti, hanya dengan melihat aku makan siang dengan Erik, membuat dia mengambil keputusan, jadi orang kok mudah menyerah” gerutu Bela


Sudah 20 menit Bela menunggu tapi Rendra tak datang juga.


“Apa dia tidak akan datang, apa aku sia-sia menunggunya di sini” ucap Bela lirih


Bela masih merenung dan berkelahi dengan pikirannya, Hpnya berdering ia langsung mengambilnya dari dalam tas.


“Mas Rendra” ucap Bela


“Halo mas, kamu di mana? Aku sudah menunggu kamu dan ini lebih dari 20 menit” ucap Bela


“Maaf ini istrinya atau keluarga yang punya Hp?” tanya orang dari seberang sana


“Iya saya temannya yang punya Hp ini, ini siapa ya? Kok bisa ada di kamu Hpnya? Orangnya ke mana?” tanya Bela heran karena yang menelepon bukan Rendra tapi menggunakan Hp Rendra


“Maaf bak, orang yang punya Hp ini kecelakaan jadi saya mencoba menghubungi keluarganya dan yang ada di panggilan terakhirnya nomor mbak, jadi saya menelepon mbak” jelasnya


Bela yang mendengar kabar tersebut membuat tubuhnya gemetar, ia lemas tak bisa menahan tubuhnya untuk berdiri.


“Sekarang ada di mana korbannya?” tanya Bela dengan suara yang tertahan


“Korban dilarikan ke rumah sakit, jadi mbaknya bisa langsung ke rumah sakit”


“Terima kasih kalau begitu”

__ADS_1


Bela bergegas menaiki taksi dan menyusul Rendra ke rumah sakit, ia tak tahu bagaimana akan mengabari Mayang dan Kayla, pasti mereka akan sangat syok mendengar kabar ini. Tapi mau tidak mau Mayang harus tahu keadaan Rendra.


“Aku harus mengabari ibu, ia harus tahu keadaan mas Rendra, tapi ini sudah malam nanti ibu khawatir. Tidak mungkin kalau ia akan ke sini malam-malam begini” ucap Bela


“Pak lebih cepat sedikit ya” ujar Bela pada sopir taksi


“Iya bak” jawabnya


Bela tidak tenang sebelum sampai dan tahu keadaan Rendra. Bela memutuskan untuk memberi tahu Mayang besok saja, ia takut membuat Mayang syok, apalagi sudah malam tak mungkin Bela tega membiarkan malam-malam harus pergi ke Bandung, ia akan menunggu Rendra sampai besok, sampai Mayang tiba di rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit Bela langsung bertanya pada suster di mana ruangan Rendra.


“Sus, ruangan korban kecelakaan atas nama Rendra di mana ya?” tanya Bela


“Korban kecelakaan yang baru saja dibawa ada di ruangan mawar 4, silakan ibu menuju ke sana” jawab suster


“Terima kasih sus”


Bela langsung berlari mencari ruangan Rendra, setelah sampai di depan ruangan itu dokter yang menangani keluar, Bela langsung bertanya keadaan Rendra.


“Dok bagaimana keadaan mas Rendra di dalam?” tanya Bela panik


“Mbak ini istrinya pasien?” tanya dokter


“Saya, saya temannya dok” jawab Bela


“Lalu keluarganya ke mana? Apakah sudah diberi tahu?”


“Belum dok, keluarganya ada di Jakarta jadi saya berniat memberi tahu besok pagi” ucap Bela tertunduk


“Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan pada keluarganya, kalau begitu besok saya tunggu keluarga pasien di ruangan saya”


“Tentang apa dok? Beritahu saya saja, saya juga kerabatnya”


“Tapi” Belum sempat dokter itu melanjutkan Bela sudah memotong ucapannya


“Saya juga kerabatnya dok, ayo beritahu saya akan menyampaikannya pada keluarganya” ucap Bela


“Baiklah kalau begitu, saya akan sampaikan ini semua, sebelumnya saya berharap kamu bersabar ya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini asal kita mau berusaha dan berdo’a” dokter mencoba menenangkan Bela terlebih dahulu sebelum menyampaikannya

__ADS_1


“Keadaan pasien yang kritis kemungkinan untuk sadar dalam waktu dekat tidak mungkin hanya do’a yang bisa kita lakukan agar pasien cepat sadar, benturan di kakinya membuat beberapa tulangnya retak, jadi bila nanti pasien sadar ia harus menggunakan kursi roda terlebih dahulu sambil ia lahtihan berdiri” ujar dokter


“Apa maksud dokter mas Rendra akan lama mengalami koma? Dan apa pengaruh dari tulang yang retak membuatnya lumpuh?” tanya Bela yang tak bisa menahan air matanya lagi


“Ya, kemungkinan bisa lama tapi semua bergantung kuasa Allah, kita hanya bisa berdo’a semoga ia bisa melewatinya, dan untuk tulang yang retak tidak akan menyebabkan kelumpuhan tapi ia harus memakai kursi roda terlebih dahulu, jika ia merasa sudah bisa dan kuat berdiri baru menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan, tapi” dokter menghentikan bicaranya


“Tapi apa dok?” tanya Bela


“Pasien harus belajar berjalan agar kakinya bisa kembali normal, setelah ia memakai tongkat” jawab dokter


“Lalu berapa lama mas Rendra harus memakai kursi Roda?” tanya Bela


“Saya tidak bisa memastikan, jika kakinya sudah tidak terasa sakit lagi barulah ia bisa memakai tongkat untuk membantunya berjalan”


“Sampai kapan mas Rendra koma?” tanya Bela


“Kita berdo’a saja semoga ia segera sadar, kalau begitu saya permisi dulu. Silakan temui pasien ajak bicara sesering mungkin” ujar dokter


“Iya dok, terima kasih”


Bela masuk ke ruangan tempat Rendra di rawat, Bela tak menyangka bahwa semua ini akan terjadi pada Rendra.


“Ini semua salah aku, aku yang memintamu untuk cepat-cepat datang seandainya aku tak memintamu datang semua ini tak akan terjadi, maafkan aku” ucap Bela memegang tangan Rendra


Bela menatap Rendra yang terbaring lemah, Bela merasakan sakit ketika melihat orang yang ia sayang tergeletak tak sadarkan diri, apalagi penyebabnya karena ingin bertemu dengan dirinya. Bela menemani Rendra di rumah sakit semalaman, ia tidur di samping Rendra dengan masih menggenggan tangannya.


Bela harus mengabari Mayang, ia harus tahu keadaan Rendra, Bela mengambil Hpnya di dalam tasnya dan menghubungi nomor Mayang.


“Assalamualaikum  bu” ujar Bela serak


“Waalaikumsalam, tumben telepon pagi-pagi?” tanya Mayang


“Iya bu ada sesuatu yang ingin aku sampaikan”


“Ada apa Bela? Apakah Rendra membuatmu kesal atau marah? Atau dia mengerjaimu?” tanya Mayang


“Tidak bu, mas Rendra tidak melakukan apa-apa”


“Lalu ada apa Bela?”

__ADS_1


“Mas Rendra kecelakaan tadi malam dan sekarang mas Rendra ada di rumah sakit, ibu ke sini ya ajak Kayla” ujar Bela


__ADS_2