Mimpi Untuk Nyata

Mimpi Untuk Nyata
53


__ADS_3

“Iya benar kata papi kamu Bram, lagian kan kamu juga yang bakal jadi pengganti beliau nanti” ujar Rio


“Ya sebenarnya aku tidak terlalu berminat tapi mau bagaimana lagi” ujar Bram


“Semua hal yang dilakukan dengan ikhlas pasti akhirnya akan berkah apalagi pekerjaan, jangan pernah berharap hasilnya saja tapi juga berharap keberkahannya agar rezeki yang diperoleh cukup, itulah gunanya kita bersyukur jangan pernah kufur atas nikmat yang telah diberikan oleh-Nya” nasihat Surya


“Iya om, terima kasih atas nasehatnya. Bram sekarang mulai biasa di perusahaan semoga Bram bisa banggain papi” ujar Bram


“Amin, membahagiakan orang tua itu perlu dilakukan nak. Saya lihat nak Bram sangat menyayangi papinya, nanti kita akan merasakan bagaimana menjadi orang tua bila anak kita tidak bisa menuruti keinginan kita apalagi keinginan itu adalah kebaikan” ucap Surya


“Iya om, Bram juga akan berusaha untuk menjadi anak yang berbakti kepada orang tua Bram, Rio kamu harus mencontoh aku” ledek Bram


“Apanya yang harus mencontoh kamu, lebih bagus aku kan yah?” tanya Rio pada Surya


“Kalian semua anak yang baik maka dari itu tetap berbuat baik” ujar Surya


“Sebenarnya om Surya mau memuji aku, cuma tidak enak sama kamu” ucap Bram menahan tawa


“Ayah pasti bangga sama Rio, jangan dengar omongan si curut ini yah” ucap Rio


“Kamu memang tidak mau kalah sama aku, padahal aku yang paling baik” ucap Bram membanggakan dirinya


“Sudah-sudah kok malah jadi ribut kalian semua anak baik, semoga mendapat jodoh yang baik juga” ujar Surya


“Eh kok jodoh om” ucap Bram kaget

__ADS_1


“Iya kalian kan sudah dewasa apa kalian mau orang tua kalian tidak bisa melihat cucu-cucunya nanti”


“Kami masih seleksi dulu om, kami kan anak baik jadi harus mencari yang baik juga”


“Seleksi kamu kira lomba” sanggah Rio


“Ya kan memang begitu kita harus seleksi biar dapat jodoh yang cantik” ujar Bram tertawa


“Meskipun cantik kalau hatinya tidak cantik pasti tidak bisa memuliakan suaminya, jangan mencari luarnya saja yang cantik tapi dalamnya juga harus cantik” Surya tak henti-henti memberi nasehat pada Rio dan Surya


“Aku serasa dapat wejangan om, semoga aku segera bertemu jodoh biar cepat nikah” ucap Bram tersenyum


“Kamu ini malah mau cepat-cepat nikah mau dikasih apa nanti istri dan anak kamu” ucap Bram


“Tugas aku mencari nafkah, jadi istri aku pasti dapat nafkah lahir dan batin hahaha” Bram tertawa


“Duh pak bos marah, iya ini bantuin” Rio bangkit dari duduknya


“Ayah bantu apa?” tanya Surya pada Rio


“Ayah bantu do’a biar Bram saja yang kerja nanti biar aku potong gajinya” ujar Rio tertawa


“Memang mau gaji berapa, gini-gini juga mau yang mahal”


“Duh kamu banyak bicara bukannya banyak kerja, jangan-jangan kamu kalo di perusahaannya juga begitu” sidik Rio

__ADS_1


“Enak saja kalo di kantor aku paling rajin”


“Ayo cepat bantu, nanti keburu ada yang beli”


Bram menghampiri Rio dan membantunya, sedangkan Surya hanya melihat Bram dan Rio yang kompak membereskan dan menyiapkan semua yang dibutuhkan kalau ada pembeli yang datang.


Selesai membereskan semuanya Rio dan Bram menunggu pengunjung yang datang, Surya menunggu di dalam ruangan yang memang Rio sediakan untuk beristirahat jika dirinya merasa lelah sehingga tidak perlu keluar dari Cafenya. Beberapa menit menunggu ada yang datang dan membeli di Cafenya.


Semakin sore semakin banyak yang datang, rata-rata memang anak- anak muda yang mungkin bosan dan ingin nongkrong, Rio sedang mempersiapkan makanan dan minuman yang dipesankan, kalau Bram mengantarkan makanan ke meja. Mereka membagi tugas, jika Cafe semakin ramai Rio harus mencari teman untuk membantu karna tak mungkin Bram akan terus membantunya, Bram harus bekerja juga di perusahaan orang tuanya.


“Kalo banyak yang datang seperti ini, kamu harus mencari pelayan tidak mungkin kamu sendirian, ya meski pun yang datang bergantian tapi itu pasti bisa membuat kamu kualahan” ujar Bram setelah semua pesanan teratasi


“Iya kamu benar, besok aku akan coba menawarkan sama teman-teman di kampus, siapa tahu ada yang mau kalau tidak ada aku akan cari di tempat lain” ucap Rio


“Iya, kamu tahulah aku tidak mungkin bantu kamu terus, kalau aku libur pasti aku sempatkan untuk membantu, karna papi juga pasti akan bertanya kalau tidak masuk kantor, bisa-bisa saya dicoret dari kartu keluarga” ujar Bram


“Iya terima kasih ya sudah bantu aku sampai bisa buka usaha sendiri, aku janji akan langsung balikin uang modalnya ke kamu setelah semuanya terkumpul, semoga saja semakin hari semakin banyak yang datang ke Cafe ini” ucap Rio


“Kamu kayak ke siapa saja, santai saja kali kalo sudah benar-benar ada baru kamu balikin, kamu tidak akan kabur juga, meski pun nantinya kamu kabur aku juga tahu rumah kamu” ucap Bram tertawa


“Kalo aku mau kabur pasti pinjamnya banyak ngapain cuma pinjam buat modal mending pinjam buat biaya hidup selama 10 tahun atau mungkin seumur hidup kan enak tidak usah capek-capek kerja sudah dapat duit” diselingi tawa Rio


Perbedaan kasta tidak membuat mereka berjarak, dengan seperti ini mereka bisa memiliki seorang teman yang seperti saudara dan saling melengkapi. Meski tidak ada hubungan darah saling membantu dan berbagi itu harus dilakukan apalagi kepada orang terdekat.


Kehidupan Bram yang memang sudah terjamin sejak kecil membuatnya kasihan pada Rio, meski begitu Bram sudah menawarkan bantuan dengan memberikan uang padanya tapi Rio menolak, Rio selalu berkata kalau dirinya masih mampu untuk membiayai hidupnya dan juga ayahnya. Sering kali Bram menawarkan bantuan tapi Rio selalu menolak. Setelah Rio berkata ingin membuka usaha, dari situ Bram bisa membantu meski sebenarnya Rio ingin memberikan modal bukan meminjamkan modal, tapi lagi-lagi Rio menolak kalau dirinya akan mengganti uang yang dipinjamnya.

__ADS_1


Bukan karna ia merasa mampu, tapi ia tidak ingin mendapatkan semuanya dengan cuma-cuma, yang bisa membuatnya terlena dan terus ingin meminta tanpa adanya usaha. Selain karna dirinya yang sudah biasa berjuang, ayahnya selalu mengingatkan agar tidak pernah meminta belas kasihan orang lain, selagi masih sehat dan bisa bekerja maka bekerjalah karna tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, pesan Surya yang selalu ia katakan.


Surya hanya takut kalau anaknya itu malah terlena akan kekayaan yang bukan haknya, meski orang itu memberi belum tentu ikhlas, tapi kalau kita bekerja dengan hasil keringat sendiri walau pun hasilnya tidak seberapa itu lebih baik dan insya Allah ada keberkahan di dalamnya.


__ADS_2