Mimpi Untuk Nyata

Mimpi Untuk Nyata
35


__ADS_3

Rio sudah sampai di taman, ia beristirahat sejenak karena perjalanan yang cukup jauh membuat kakinya sedikit pegal. Setelah merasa tidak terlalu capek lagi, Rio berjalan ke arah orang-orang yang ramai, ia mulai menjajakan jualannya, Rio menawarkan ke semua orang yang berada di sana.


Rio yang masih di tempat ramai tak mendengar kalau ada yang memanggil dirinya.


“Rio!” panggil Kayla


Rio masih belum menoleh karena di sana ramai dan ia tak mendengar suara Kayla.


“Rio... Rio”


Setelah mendekati Rio, barulah Rio sadar kalau ada yang mendengarnya.


“Eh Kayla”


“Dari tadi aku panggil kamu tidak dengar ya” ucap Kayla


“Maaf aku tidak dengar, ayo kita ke sana di sini rame” ajak Rio


“Ayo”


Mereka berdua menjauhi tempat yang ramai dengan anak-anak bermain.


“Tumben kamu main ke sini?” tanya Rio membuat Kayla heran


“Kan memang biasanya aku main ke sini kalo nenek tidak melarang” jawab Kayla


“Aku beberapa hari ini tidak melihat kamu lagi main di sini” ujar Rio


“Iya, aku satu minggu lebih ke Bandung ikut papah sekalian liburan kan sudah libur sekolah” Kayla menjelaskan bahwa dirinya tidak main ke taman karena ikut bersama papah dan neneknya “Aku bawa oleh-oleh buat kamu” Kayla memberikan satu bungkus oleh-oleh yang ia beli sewaktu di Bandung


“Ini apa?” tanya Rio


“Kamu buka nanti di rumah ya, sekarang kita jualan aku mau bantu kamu. Oh iya aku pakai gelang ini, aku beli 2, kamu lihat nanti ya di dalam sini” ucap Kayla


“Ya sudah aku buka di rumah, bagus gelangnya”


Rio dan Kayla berkeliling taman untuk menjual dagangannya. Sri yang menemani Kayla menunggu sambil mengawasi Kayla. Mayang mengizinkan Kayla main di luar kalau ada yang mengawasinya, tentu Kayla meminta Sri untuk menemaninya, jika Mayang yang menemani tidak akan mungkin Kayla diizinkan untuk membantu Rio.

__ADS_1


Sudah mulai sore, Kayla berpamitan pada Rio untuk pulang karena takut neneknya menunggu dan mencarinya. Rio juga ingin pulang, ia ingin membuka oleh-oleh yang diberikan oleh Kayla.


Setelah menempuh perjalanan, Rio sudah sampai di rumahnya. Rio bergegas mandi dan menaruh tas dan juga barang dagangannya.


“Kira-kira apa ya isinya, sampai satu plastik penuh” ucap Rio


Rio langsung membuka, dan isinya adalah beberapa baju, jajan dan juga gelang yang sama dengan Kayla.


“Wah banyak banget bajunya, satu dua tiga. Ada tiga baju, dan ada jajan juga. Ini gelangnya sama kayak punya Kayla tadi, aku pakai langsung deh” Rio memasang gelangnya di tangan kanannya


“Besok aku mau bilang terima kasih sama Kayla, sudah membelikan oleh-oleh dan baju-baju untuk aku, ternyata Kayla masih ingat walau ia liburan” ujar Rio


Rio sangat senang, ia akan memberitahukan pada ayahnya nanti kalau sudah pulang. Rio memang sudah tidak punya baju baru, makanya ia sangat senang ketika mendapat baju baru. Jangankan untuk membeli baju baru, untuk makan saja sudah cukup Rio sangat bersyukur apalagi sampai membeli baju.


Selesai membuka oleh-oleh yang diberikan Kayla, Rio langsung memasak, meski Surya sudah melarangnya untuk memasak agar menunggu Surya tapi Rio tetap memasak agar ayahnya tidak terlalu capek dan harus memasak ketika pulang kerja. Rio tak ingin melihat wajah ayahnya kelelahan karena harus memasak biar Rio saja yang memasak, ia juga sudah tahu caranya, begitu ucapnya.


“Assalamualaikum, Rio”  ujar Surya yang baru tiba di rumahnya


“Waalaikumsalam, ayah sudah pulang?”


“Ayah mandi duli, setelah itu kita makan”


“Kamu sudah masak?”


“Sudah yah”


“Kan ayah bilang, kamu tidak perlu masak biar ayah saja. Kamu pasti capek pulang sekolah terus jualan dan harus masak.”


“Rio tidak capek kok, ayah tenang saja. Begini saja, kalau Rio pulang duluan Rio yang masak, tapi kalau ayah yang pulang duluan jadi ayah yang masak” ucap Rio


“Tapi kan yang lebih sering pulang duluan kamu, ayah tidak mau kamu capek jadinya mengganggu konsentrasi belajar kamu, kan sebentar lagi akan ujian dan setelah itu ujian kelulusan, ayah tidak mau kamu nantinya tidak fokus”


“Ayah jangan khawatir meski pun Rio harus jualan dan masak, Rio kan bisa belajar malamnya, Rio juga bisa belajar di sekolah pas istirahat atau sebelum berangkat sekolah” ucap Rio meyakinkan ayahnya


“Yang ada nanti kamu terlalu capek dan tubuh kamu tidak bisa menyeimbangkan semuanya, nanti kamu malah sakit lagi” ujar Surya khawatir


“Insya Allah Rio kuat yah, ayah jangan khawatir. Kalau seumpamanya Rio sudah capek Rio akan istirahat dan tidak akan jualan dulu, Rio janji” ucap Rio mengangkat tangannya

__ADS_1


“Ya sudah jika itu mau kamu tapi, kamu harus benar-benar istirahat ya kalau sudah capek dan tidak akan jualan lagi apalagi harus masak”


“Iya Rio janji, jadi ayah jangan khawatir”


“Kalau begitu ayah mandi dulu, kamu tunggu ya  setelah itu kita makan bareng”


Surya pergi ke kamarnya untuk mengambil handuk, dan langsung mandi karena Rio sudah menunggunya untuk makan. Surya jarang makan siang, jika ia sangat lapar maka akan membeli nasi atau bisa diganjal dengan gorengan, terkadang juga ada yang memberikan gorengan atau roti dari pedagang yang jualannya belum habis.


Sedangkan Rio, ia membeli roti jika perutnya sudah lapar. Tak jarang banyak orang yang kasihan apalagi pedagang-pedagang di taman, mereka sering memberi Rio makanan karena tak tega melihat anak sekecil Rio harus bekerja. Sebagian pedagang ada yang tahu mengapa Rio bekerja, sedangkan yang lain belum mengetahui sebab Rio bekerja.


“Lama yang menunggu?” tanya Surya


“Tidak yah, Rio tadi sambil baca-baca jadinya tidak terasa” jawab Rio


“Ayo kita makan”


Surya dan Rio memakan dengan lahap, meski hanya telur dan nasi mereka tetap menikmati. Terkadang Surya membeli ikan di pasar, dan langsung di goreng untuk dimakan karena mereka tak punya kulkas untuk menyimpan ikannya agar tetap segar.


Setelah selesai makan Rio menceritakan kalau Kayla memberikan oleh-oleh untuknya.


“Tadi aku dikasih oleh-oleh sama Kayla yah” ucap Rio


“Oleh-oleh?” tanya Surya


“Iya, kan Kayla dan keluarganya liburan ke Bandung jadi Kayla kasih aku oleh-oleh. Ada baju terus jajan ini” Fio tak memberitahu kalau Kayla memberinya gelang yang sama dengan dirinya


“Berarti kamu harus bilang Terima kasih, Kayla sudah kasih kamu oleh-oleh banyak”


“Iya yah, besok Rio mau bilang Terima kasih karena sudah kasih aku oleh-oleh banyak banget”


“Ya sudah kamu siap-siap buat pergi ke masjid, biar ayah yang bereskan semuanya”


“Iya yah”


 


Di Bandung seorang perempuan yang sedang merenung di dalam kamarnya, ia bimbang harus bagaimana. Setelah Rendra kembali ke Jakarta, ia merasa ada yang hilang, meski Rendra sering menghubunginya tapi semua itu ia lakukan hanya untuk Kayla. Bela tak tabu sejak kapan ia menaruh hati pada Rendra, tapi perasaan itu tiba-tiba muncul meski Bela tak pernah memintanya.

__ADS_1


__ADS_2