Mimpi Untuk Nyata

Mimpi Untuk Nyata
22


__ADS_3

“Mau pesan apa?” tanya Erik


“Saya pesan ice tea saja” jawab Bela


“Tidak mau makan?”


“Tidak lapar jadi minum saja”


“Oh ya sudah, bak ice tea dua ya” ujar Erik


“Ada apa kok tumben mengajak keluar” tanya Bela


“Tidak ada apa-apa cuma ingin keluar aja, karena sendirian jadi aku ajak kamu saja biar ada temannya” ujar Erik


Bela mengangguk saja, karena ia masih canggung biasanya ia bertemu dengan Erik di kantor tapi sekarang ia di Cafe bersama atasannya itu. Bela bingung harus berbicara apa dengan Erik, ia terbiasa berbicara hanya tentang pekerjaan tidak lebih dari itu.


“Kamu ada hubungan apa sama pak Rendra” tanya Erik membuat Bela tersedak dengan minumannya sehingga Bela batuk-batuk “ Aduh kok sampai gitu, ayo minum lagi” Erik memberikan minuman pada Bela agar batuknya tidak parah


“Maksudnya bagaiman ya pak eh Erik” Ujar Bela


“Iya aku lihat waktu itu kalian gandengan sama anaknya pak Rendra”


“Oh itu, Kayla yang menggandeng aku jadi aku tidak mungkin menolaknya. Kalo hubungan hanya sebatas bos dan karyawan” jawab Bela


“Oh begitu, saya kira kamu pacaran sama pak Rendra”


“Ya tidak mungkin lah aku pacaran sama mas Rendra” ucap Bela


“Mas?” Erik mengernyitkan keningnya mendengarkan jawaban Bela


“Iya, jadi kalo di luar ia melarang untuk memanggil pak, sama seperti kamu ini jadi ya sudah aku panggil mas aja. Kalo aku panggil namanya jadi gak sopan” jelas Bela


Erik mengangguk paham dengan ucapan Bela, benar juga jika Bela memanggil nama pada bosnya tentu tidak sopan apalagi juga usianya tidak sepantaran dengan Bela berbeda dengan dirinya yang memang seumuran dengan Bela.


“Sudah malam, aku pulang dulu ya” ujar Bela


“Aku antar ya?”


“Tidak usah, aku naik taksi aja nanti malah merepotkan lagi”


“Tidak merepotkan kok, kan aku yang mengajak jadi biar aku tanggung jawab buat antar kamu” ujar Erik

__ADS_1


Bela tampak berpikir dengan tawaran Erik, namun belum menjawab ajakannya Erik menarik tangan Bela dan membawanya ke parkiran.


“Lepa tangan aku” Bela mencoba melepaskan tangannya


“Aku antar tidak ada penolakan oke” ujar Erik


Bela masuk ke dalam mobil dan duduk dengan pasrah, rasanya percuma jika berdebat dengannya. Sepanjang perjalanan Bela hanya diam, sedangkan Erik fokus menyetir sesekali ia melirik ke arah Bela.


“Kenapa diam saja” tanya Erik


“Gak apa-apa” jawab Bela


“Kamu marah?” Erik menatap ke arah Bela


“Marah? Untuk?” Bela balik bertanya


“Karena aku sudah paksa kamu buat antar kamu pulang” ujar Erik


“Enggak”


“Terus kenapa diam saja dari tadi?”


Erik sudah sampai di depan rumah Bela, ketika Bela hendak turun Erik menarik tangan Bela.


“Pertanyaan apa?”


“Kenapa kamu diam saja?”


“Lagi sari awan” ucap Bela asal agar ia bisa cepat masuk ke dalam rumahnya “Aku masuk ke dalam, terima kasih sudah antar aku pulang ya” ucap Bela


Bela pun langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa menawarkan Erik untuk mampir, Erik yang masih memperhatikan Bela sampai benar-benar tak terlihat lagi.


“Beda banget sifatnya kalo di luar kantor” ucap Erik menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum


Erik melajukan mobilnya dan pergi dari rumah Bela menuju rumahnya.


 


Keesokan harinya, Rendra sudah membereskan semua barang-barang dan pakaian Kayla, ia akan ke kantor dulu sebelum pulang ke Jakarta. Kayla memintanya untuk berpamitan terlebih dahulu pada Bela.


Di perjalanan Kayla tak banyak bicara, ia melihat ke luar jendela. Kayla senang setelah pulang ke rumahnya ia bisa main lagi dengan Rio dan membantunya berjualan. Tapi Kayla juga senang ada di Bandung, Kayla bisa main-main bersama papahnya dan juga ada Bela yang menemaninya.

__ADS_1


“Ayo turun sayang, kita sudah sampai katanya mau pamit” ujar Rendra


Kayla turun dari mobil digandeng Rendra menuju ke ruangannya, di sana ada Erik yang sengaja menunggunya karena sebelum berangkat tadi Rendra sudah menghubunginya untuk menunggu di ruangannya.


“Selamat pagi pak” sapa Erik


“Selamat pagi Erik, tolong panggilkan Bela ya”


“Baik pak”


Erik keluar dari ruangan Rendra dan segera memanggil Bela di ruangannya untuk mengikutinya ke ruangan Rendra.


“Kamu boleh keluar Erik” ujar Rendra pada Rendra


“Baik pak, saya permisi ke luar” Erik keluar dari ruangan Rendra dan hanya ada Rendra, Kayla dan Bela


“Ada apa ya pak?” tanya Bela


“Mamah Bela, Kayla sama papah mau pulang, mamah Bela main-main ke rumah Kayla nanti ya” ujar Kayla


“Jadi Kayla hari ini mau pulang ya, nanti pasti main-main ke rumah Kayla ya” ujar Bela


Kayla memeluk Bela, seakan tak rela berpisah dengannya. Rendra sedari tadi hanya diam dan memperhatikan mereka berdua, Rendra memang tak pernah membawa wanita ke rumahnya atau sengaja mempertemukan dengan Kayla. Kayla pernah ikut Rendra ke kantornya di Jakarta, tapi tidak sampai seperti ini, bahkan Kayla tidak mau lama-lama di sana. Entah dengan Bela mengapa Kayla bisa langsung akrab, apa firasat seorang anak-anak itu benar. Pikiran Rendra ke mana-mana dengan sikap Kayla yang seperti ini.


Setelah puas mengobrol juga berpamitan pada Bela, Rendra mengajak Kayla untuk pulang takutnya keburu siang dan akan macet di jalan karena waktu makan siang.


“Ayo pulang Kayla” ajak Rendra


“Iya pah” jawab Kayla


Rendra, Kayla dan juga Bela keluar bersama-sama dari ruangan Bela. Bela sengaja ingin mengantarkannya sampai di parkiran. Seperti biasa, karyawan yang lain bisik-bisik karena Bela terlihat akrab dengan Kayla, apalagi Bela sampai digandeng oleh Kayla. Bela yang menyadari bahwa para karyawan sedang membicarakannya merasa malu dan menundukkan wajahnya.


Rendra acuh pada omongan karyawan yang sedang membicarakannya, tidak keras suaranya namun sedikit terdengar oleh Rendra. Ia tak mungkin membentak atau memarahi para karyawan itu karena ada Kayla di sampingnya. Rendra tak mau membuat Kayla kaget dan ketakutan karena dirinya bersuara keras.


“Erik” panggil Rendra


“Iya pak, ada apa?” jawab Erik


“ kamu urus semua karyawan itu, jika mereka hanya ingin mengobrol tidak perlu datang ke sini lagi besok” ucap Rendra


“Baik pak”

__ADS_1


Erik menghampiri karyawan yang sempat berbisik-bisik tadi, setelah Erik menyampaikan apa yang telah dikatakan Rendra semua karyawan diam dan melanjutkan pekerjaannya. Bela yang melihat bahwa orang-orang sudah tak membicarakannya barulah ia mengangkat wajahnya kembali.


 Bela malu jika harus dibicarakan seperti itu, pasti orang-orang itu berpikir kalo ia hanya ingin memanfaatkan bosnya, mendekati anaknya supaya dekat dengan papahnya. Gosip seperti itu biasa ia dengar, jika ada seseorang yang sedang bersama dengan Erik, tapi Bela tak peduli dengan gosip itu dan memilih diam saja.


__ADS_2