
“Rio, tolong antar ini” ujar Leon memberikan nampan berisi makanan dan minuman
“Meja nomor berapa?” tanya Rio
“Meja nomor 17” jawab Leon
Rio membawa nampan ke meja nomor 17.
“Selamat menikmati kak” ucap Rio ramah
“Terima kasih” ucapnya
Rio kembali ke dapur dan meletakkan nampan di atas meja. Semakin malam banyak yang datang ke Cafe, ada yang mengerjakan tugas kuliah, ada juga yang hanya sekedar nongkrong saja.
Hari sudah larut, Cafe pun tutup Rio berganti pakaian dan pulang ke rumahnya. Biasanya Surya akan menunggu sampai Rio pulang, tapi jika ia sangat lelah maka akan tidur lebih dulu.
“Assalamualaikum” ujar Rio membuka pintu
Tak ada jawaban dari Surya, mungkin ia terlelap karna menunggu Rio sampai tak dengar kalau Rio sudah pulang.
“Mungkin ayah sudah tidur, lebih baik aku mandi dulu terus langsung tidur” ujar Rio masuk ke dalam kamarnya
Keesokan harinya, Rio berangkat ke kampus dengan motornya. Di jalan ia membawa motor dengan pelan karna memang hari ini ia masuk siang, hampir saja dirinya bertabrakan dengan mobil yang melaju cepat.
Tiiit tiiiiit
Bunyi klakson mobil membuat Rio kaget dan meminggirkan motornya.
“Masnya bisa pakai motor tidak? Kalau mau pelan bisa kepinggiran jangan di tengah-tengah” ujar orang yang mengemudi mobil
“Maaf bak, saya kira tidak ada kendaraan jadi saya pelan bawa motornya” ucap Rio
“Saya buru-buru” ucapnya masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya
“Ada-ada saja” Rio mengelus dadanya
Rio melanjutkan perjalanannya ke kampus.
__ADS_1
Sesampainya di kampus, ia harus dihadapkan manusia seperti Anggi dan Denis, entah bagaimana bisa tidak bertemu dengan mereka. Selain sabar tak ada yang bisa dilakukan Rio. Rio ingin membuat usaha tapi ia belum ada modal untuk memulai usahanya. Rio harus menyisihkan uang dari gajinya agar bisa membuka usaha sendiri, merintis dari nol dengan segala ujian yang akan dihadapkannya.
“Bro, kenapa bengong saja” ujar Bram
Bram adalah teman Rio, mereka tidak satu kelas tapi bisa menyempatkan bertemu kalau salah satunya ada masalah.
“Lagi bingung nih” jawab Rio
“Bingung kenapa? Mau cari pacar” ujar Bram meledek
“Mana ke pikiran buat pacaran, ingin buka usaha tapi belum ada modal. Biar tidak kerja ke orang terus” ujar Rio
“Memang mau buka usaha apa?” tanya Bram
“Entahlah, aku juga masih bingung mau buka usaha apa, kalau bisa sih kayal Cafe kan aku juga pernah kerja di Cafe, jadi ya adalah pengalamannya” jawab Rio
“Memang butuh modal berapa?” tanya Bram lagi.
“Nah itu aku juga kurang tahu, harus sewa tempat kalo bangun kayaknya tidak mungkin karna belum ada uang” Rio menghela nafasnya
“Kalo aku bantu buat modalnya bagaimana, biar tidak pusing kamu. Kamu bisa bayar setelah Cafenya sudah buka” tawar Bram
“Kayak belum tahu aku saja, nanti aku bilang papi. Pasti papi kasih, kan kamu juga sudah kenal dengan papi”
“Iya sih, tapi” belum sempat Rio melanjutkan Bram sudah memotong ucapannya
“Gampang itu sudahlah, nanti selesai kuliah kita ketemu dulu di kantin atau di mana, aku ke kelas dulu ya” Bram meninggalkan Rio yang masih duduk
Bram adalah teman Rio, Bram merupakan anak pengusaha jadi baginya mudah jika itu menyangkut uang. Rio juga sudah kenal dengan papinya, papinya baik dan ramah tak memandang Rio dari golongan orang mampu atau tidak, yang penting Bram bisa berteman dengan baik dan teman yang positif.
Sebelum bekerja di Cafe, Rio sering berkunjung ke rumah Bram. Memang Bram tak pernah memperlakukannya dengan tidak baik, karna menurut Bram teman-temannya yang lain hanya ingin berteman dengannya karna dirinya anak orang kaya. Mereka kadang mengajak Bram makan dan meminta traktir dengan terang-terangan tanpa malu, dari situ Bram sadar kalau pertemanannya sudah tidak sehat, meski mereka bukan golongan kelas bawah tapi mereka hanya memanfaatkan Bram.
Selesai kuliah, Bram menunggu Rio di taman untuk membicarakan modal dan juga usaha yang akan dijalani oleh Rio.
“Bro” panggil Bram “Bagaimana sudah dipikirkan?” tanya Bram
“Apa yakin kalo papi kamu akan memberikan pinjaman?” tanya Rio tampak ragu karna yang akan dipinjamnya lumayan banyak dan itu tidak mungkin ia kembalikan dalam beberapa bulan saja, kalau Cafenya rame kalau tidak, ya harus menunggu bertahun-tahun.
__ADS_1
“Tenang saja, tadi aku sudah tanya papi dan dia akan membantu, tapi tetap harus dikembalikan meski dalam waktu yang tidak sebentar” jelas Rio
“Kalo itu pasti, tapi aku masih bingung mau buka usaha di mana” ujar Rio
“Kebanyakan bingung, jadi tidak bisa berpikir deh. Kalo mau jadi pengusaha itu harus kuat bro, selain kuat tenaga juga harus kuat mental” nasehat Bram
Bram membantu mengurus perusahaan papinya, jadi ia sedikit tahu bagaimana rasanya menjadi pengusaha, apalagi Rio baru akan memulai pasti akan ada rintangan, mulai dari harus mencari pelanggan dan juga membuat Cafe yang menarik di tempat strategis agar banyak peminatnya.
“Iya kalo itu aku siap bro tapi mau sewa tempat di mana ya, tempat yang strategis” ujar Rio
“Kalao di dekat kampus bagaimana? Pasti banyak yang ke Cafe entah untuk mengerjakan tugas kuliah atau sekedar nongkrong, itu bisa buat Cafe jadi rame” ujar Bram
“Iya boleh juga, tapi di sini ada tempat sewanya?” tanya Rio
“Kalau tidak salah ya, di situ ada kayaknya disewakan kita coba lihat ke sana saja” Bram menunjuk di samping kampus yang memang sangat dekat dengan kampus
“Aku izin dulu, setelah itu kita lihat-lihat siapa tahu cocok” Rio mengambil Hpnya dan mengirim pesan pada manajernya untuk tidak masuk kerja karna ada perlu
“Ayo, aku sudah izin dan dibolehin” ujar Rio
“Lets go” ucap Bram bersemangat
“Semangat banget bang, kayaknya yang mau buka Cafe biasa saja” ujar Rio bercanda
“Nah itu kamu tidak tahu, apa-apa itu harus semangat biar hasilnya itu sesuai dengan prosesnya” ujar Bram sok bijak
“Halah kamu sok bijak, kamu saja tidak ada proses tuh” ujar Rio meledek
“Hehehe aku ada proses bro cuma prosesnya itu dipercepat jadi ya hasilnya juga cepat” mereka berdua tertawa
Mereka melihat ruko yang akan disewakan, tak masalah meski pun tidak besar yang penting usaha ini bisa berkembang dan maju agar Rio bisa mengembalikan modal yang dipinjamnya pada Bram.
“Kita hubungi nomor ini buat tanya-tanya harga sewanya berapa” ujar Bram
“Tunggu aku ambil Hp dulu” Rio mengambil Hpnya dan menghubungi nomor yang ditempelkan di depan rukonya.
“Halo pak, apa benar ini pemilik ruko di samping kampus yang akan disewakan?” tanya Rio
__ADS_1
“Iya benar” jawabnya
“Berapa harga sewanya ya pak? Kalau cocok saya ingin menyewa ruko ini” ujar Rio