Mimpi Untuk Nyata

Mimpi Untuk Nyata
39


__ADS_3

Akhirnya Bela duduk kembali setelah Rendra membujuknya.


“Aku serius dengan ucapan aku, setelah ibu menasihati aku, aku sadar mungkin aku harus ikhlas dan bisa membuka hati, meski rasanya sangat sulit.” Rendra menunduk


Bela menghela nafasnya “Huff sebenarnya aku juga bingung bagaimana menjawab pertanyaan kamu, kalo kamu minta aku untuk menunggu agar hatimu yakin untuk bersamaku, aku tidak yakin menjawab iya. Bagaimana kalau hatimu juga tidak yakin nantinya? Lalu dengan penantianku bagaimana?” ujar Bela


Memang benar, kalau Rendra masih belum yakin dengan perasaannya bagaimana, tentu semua itu membuat Bela bimbang untuk menyetujui pertanyaan Rendra.


“Kamu benar, jika kamu tidak mau tidak apa-apa kok, aku ke sini hanya menyampaikan agar perasaanku tenang dan tidak terlalu memikirkan ini lagi. Aku siap menerima apa pun jawaban kamu” ujar Rendra tampak pasrah


“Sekarang biarkan aku bicara dan kamu dengarkan”


Rendra mengangguk dan siap mendengarkan jawaban Bela.


“Aku tidak tahu harus jawab apa, jika kamu memintaku untuk menunggu aku tidak yakin bisa menunggu apalagi dengan waktu yang tidak tahu kapan. Kamu benar, rasa cintamu pada istrimu memang besar dan kamu harus memberikan tempat khusus karena bagaimana pun aku meminta tempat di hatimu tidak akan bisa menggantikan posisi istrimu. Aku menyayangi Kayla, memang benar aku sempat menyesal karena aku terjebak dengan situasi ini, situasi yang tak pernah aku inginkan. Jika kamu memberitahuku sampai kapan aku harus menunggu agar hatimu yakin, karena aku tidak sanggup kalau harus menunggu tanpa kepastian darimu” ujar Bela


Rendra menatap Bela, ia melihat ada sedikit kecewa di matanya, apalagi ia harus menunggu Rendra.


“Apa kamu bisa memberiku keputusan untuk menunggumu sampai kapan?” sambung Bela


Rendra tampak berpikir, ia harus memberi waktu sampai kapan.


“Begini saja, aku ingin kita menjalin hubungan” ucapan Rendra membuat Bela terkejut


“Menjalin hubungan? Bagaimana bisa? Kamu saja tidak yakin denganku” jawab Bela


“Karena aku tidak yakin, kamu harus bisa meyakinkan perasaan aku, aku hanya butuh waktu untuk bisa dan terbiasa. Kamu mau ya” ujar Rendra memohon “Aku ingin kita menjalin hubungan selama sebulan, jika perasaanku masih biasa saja kamu boleh meninggalkan aku” sambungnya

__ADS_1


“Segitu mudahnya kamu bilang mas, lalu bagaimana dengan perasaan aku? Jika kamu tidak yakin lalu memintaku meninggalkan kamu, bagaimana dengan perasaan aku. Aku yakin kamu pasti tahu bagaimana rasanya menunggu tanpa kepastian, apa aku harus melakukannya” ucap Bela yang mulai menahan kesal dan marahnya


“Bukan begitu”


“Lalu apa, kamu mau aku untuk tetap ada buat kamu sedangkan kamu? Aku bingung harus apa mas” Bela memalingkan wajahnya yang terlihat menahan air matanya


“Beri aku waktu untuk memikirkan semua ini mas, jika kamu memintaku untuk menunggu kamu yakin, maka aku juga akan memintamu untuk menungguku yakin kalau nanti penantianku tidak akan menyakiti hatiku” sambung Bela


“Baik, jika itu memang mau kamu, aku akan menunggumu untuk menjawab pertanyaanku” jawab Rendra


“Saya mau pulang, sudah tidak ada lagi yang mau dibicarakan?” tanya Bela


“Biar saya antar”


“Tidak perlu, saya naik taksi”


“Sudah malam, karena aku yang mengajakmu aku akan mengantarkanmu” tegas Rendra


“Sudah sampai, aku turun” ucap Bela


“Aku pulang ya, aku memberimu waktu dua hari untuk memikirkan jawabanmu” ujar Rendra


Bela yang membuka pintu dan hendak turun mengurungkan niatnya dan mengatakan sesuatu pada Rendra.


“Aku memintamu untuk menungguku untuk yakin kenapa kamu memberiku waktu” ucap Bela


“Ya aku ingin segera mengetahui jawabanmu, karena semakin cepat kamu menjawab pastinya semakin cepat juga aku bisa memutuskan apa yang sebenarnya aku rasakan”

__ADS_1


Mendengar jawaban Rendra, Bela menghela nafasnya.


“Aku akan tetap menunggumu selama dua hari, karena setelah itu aku akan kembali ke Jakarta” ucap Rendra


“Oke, aku akan menjawab pertanyaan kamu dua hari lagi, tapi apa pun keputusan aku kamu harus terima” ujar Bela


“Oke aku akan menerima semua keputusan kamu” jawab Rendra


Akhirnya Bela turun dari mobil Rendra dan Rendra langsung pergi ke apartemennya.


Bela merebahkan tubuhnya di atas kasur, dan ia teringat ucapan Rendra.


“Apa yang harus aku jawab nantinya, apa aku bisa menunggumu. Aku kira kamu akan menyatakan perasaanmu tapi, kamu malah belum yakin dengan perasaanmu” Bela memejamkan matanya


Sedangkan Rendra di apartemennya membersihkan badannya agar ia segar dan mendinginkan otaknya. Selesai mandi, ia duduk di atas kasur menatap ke arah jendela, tampak dari sana bahwa langit sedang ceria, ia bercanda dengan bintang-bintang yang berkelip. Rendra menatap langit dengan tatapan kosong.


“Apa aku salah memintanya untuk menunggu agar aku yakin, tapi kenapa malah jadi begini. Aku tidak mau gegabah untuk mengambil keputusan, cukup aku kehilangan Dewi aku tidak mau merasakan kehilangan yang lain, apalagi Kayla senang dekat dengan kamu, Bela.” Ujar Rendra kepada langit yang ia tatapnya


Memang kalau urusan hati sangat sensitif, bisa membuat sulit. Kalau saja hati bisa dikendalikan oleh otak, mungkin tak akan ada yang namanya sakit hati karna semua dipikirkan oleh akal. Tapi hati terkadang bertolak belakang dengan akal, orang yang sangat kita sayangi bisa membuat sakit tapi hati masih saja bertahan, serumit itu memang.


Rendra memilih untuk memejamkan matanya, ia gelisah karna menunggu jawaban Bela. Apa ia akan memberinya waktu untuk bisa meyakinkan perasaannya, atau dia malah akan pergi meninggalkannya. Wanita mana yang bisa menunggu tanpa kepastian, tak ada kabar pun sudah membuatnya gelisah. Tapi semua bergantung Bela, apa ia akan mempertahankan hatinya yang mulai ada rasa dengan Rendra, atau ia akan menggunakan akalnya agar ia tidak merasakan sakit pada anggota tubuhnya.


Rendra masih di Bandung, ia akan menunggu sampai Bela menjawab pertanyaannya. Rendra juga menghubungi Kayla dan Mayang, kalau ia akan kembali ke Jakarta lusa, setelah urusannya selesai. Kalau Bela menjawab iya, Rendra akan mengatakan pada ibunya meski belum memulai hubungan dengan Bela, Mayang pasti senang ia tak perlu mencari wanita untuk Rendra dan berusaha menjodohkan.


Keesokan harinya Rendra berangkat ke kantornya, ia sengaja tak menghubungi Bela untuk dua hari ke depan, ia memberi waktu untuk Bela memikirkan jawabannya. Meski Rendra ingin segera mengetahui jawabannya, tapi ia harus bersabar.


Di kantor ia melihat Bela yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, ia tak menyapanya dan melalui Bela. Bela yang sadar kalau Rendra tak menyapanya membuat ia kehilangan konsentrasi.

__ADS_1


“Tidak ada sapaan pagi ini, huh dasar” gerutu Bela


Rendra langsung masuk ke kantornya, Erik yang tidak tahu kalau Rendra ada di Bandung dan baru melihat tadi ketika Rendra melewati ruangannya, Erik langsung menuju ruangan Rendra untuk menyapa sang bos.


__ADS_2