
Keesokan harinya Surya menjalankan aktivitasnya kembali seperti semula, ia bangun pagi untuk melaksanakan sholat subuh, kemudian ia masak untuk sarapannya dengan Rio. Rio juga ikut membantu Surya memasak, semua yang dilakukan Ningsih mereka lakukan berdua, Surya dan Rio memang terbiasa dengan pekerjaan rumah jadi mereka tidak kaget kalau harus melakukannya.
“Rio, kamu lanjutkan goreng ikannya ya. Ayah mau cari ubi dan sayur di kebun buat nanti siang, takutnya kamu juga lapar tapi belum masak jadi nanti masih ada ubi untuk pengganjal sebelum makan nasi.” ucap Surya
“Iya yah” jawab Rio
Surya pergi ke kebun, jarak dari rumah ke kebunnya tidak terlalu jauh hanya jarak persawahan satu petak. Kebun milik Surya tidak terlalu besar, hanya cukup untuk menanam ubi-ubian dan sedikit sayuran .
Setelah selesai memasak dan menyiapkan makanan, Surya dan juga Rio sarapan sebelum berangkat.
“Makan yang banyak ya, kamu kurusan nak, jadi tambah lagi nasinya” ujar Surya
“Iya yah, Rio sudah kenyang mungkin karena capek jadi kurusan deh, ayah juga makan yang banyak. Kemarin-kemarin ayah kurang istirahat, ayah jangan kerja dulu istirahat saja yah” ucap Rio
“Ayah tidak apa-apa kok, mungkin nanti pulangnya lebih cepat biar bisa istirahat kamu juga kalau capek langsung pulang ya”
“Iya yah, sebelum sore nanti Rio pulang”
Surya dan Rio menyelesaikan sarapannya dan membereskan semua alat-alat yang dipakai untuk makan. Surya langsung berangkat, sedangkan Rio masih di rumah karena masih terlalu pagi.
DI Bandung Mayang baru saja bangun, ia langsung menyiapkan makanan untuk sarapan. Kayla masih belum bangun, sepertinya ia kelelahan karena tadi malam sempat jalan-jalan bersama Rendra dan Bela. Rendra yang baru selesai mandi langsung bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya.
“Mau berangkat Dra?” tanya Mayang
“Iya bu, Rendra ke kantor Kayla belum bangun mungkin kelelahan” jawab Rendra
“Ya sudah biarkan saja, kamu sarapan dulu ibu sudah masak. Kayla biar sarapan dengan ibu nanti” ucap Mayang
“Iya bu”
Rendra duduk dan mengambil makanan yang sudah dihidangkan oleh Mayang. Selama mereka di Bandung, Kayla selalu meminta untuk bertemu dengan Bela. Rendra merasa tak enak pada Bela karena selalu meminta waktunya, apalagi Mayang yang mendukung jika Rendra menjalin hubungan dengan Bela.
__ADS_1
Besok Rendra, Mayang dan Kayla akan kembali ke Jakarta karena mereka sudah cukup lama di Bandung dan sebentar lagi Kayla akan masuk sekolah dan liburannya akan berakhir. Sampai saat ini tak ada kemajuan dari perasaan yang dirasakan oleh Rendra, ia hanya menganggap Bela sebagai karyawannya tidak lebih. Entah sampai kapan perasaan itu akan bertahan, meski sebenarnya tak bisa dibohongi kalau Bela sepertinya mulai terbawa perasaan dengan semua perlakuan yang diberikan oleh Rendra kepadanya. Mulai dari perhatian sewaktu di Mal dan tatapan-tatapan mereka yang tak sengaja itu.
“Bagaimana?” tanya Mayang
“Bagaimana apanya bu?” Rendra bertanya balik karena tidak paham arah pembicaraan ibunya
“Bagaimana kelanjutan hubunganmu”
“Hubungan apa bu?”
“Haduh Rendra masa ibu harus menjelaskan sih” Mayang yang mulai frustasi melihat Rendra yang tak paham dengan ucapannya “Hubunganmu dengan Bela” ucap Mayang agar Rendra segera mengerti
“Oh” Rendra tak menjawab dan melanjutkan sarapannya
“Hanya itu, mana jawabannya Rendra. Oh itu bukan jawaban” ucap Mayang menggelengkan kepalanya
“Ya bagaimana bu, memang seperti biasa lagian Bela kan karyawan aku jadi ya hubungan kami hanya sebatas bos dan karyawan” ucap Rendra
“Apa tidak ada perkembangan selama seminggu ini Rendra, apalagi kalian sering jalan bersama” ucap Mayang
Mayang menghela nafasnya
“Aku berangkat dulu ya bu, kalau Kayla sudah bangun bilang saja aku sudah berangkat, oh iya aku sudah memesan Restoran untuk kita makan malam nanti malam” ucap Rendra
“Iya, nanti ibu sampaikan”
Rendra berangkat ke kantornya dan Mayang membereskan apartemennya menunggu Kayla bangun. Ketika sedang mencuci piring, Kayla menghampiri Mayang.
“Sudah bangun sayang” ujar Mayang
“Sudah nek, papah ke mana nek?” tanya Kayla
“Papah sudah berangkat sayang, tadi Kayla belum bangun jadi papahnya berangkat pasti Kayla capek ya tadi malam habis jalan-jalan sampai kesiangan bangunnya”
__ADS_1
“Iya nek, padahal tadi malam cuma main-main saja”
“Kayla mandi dulu ya, baru nanti kita makan nenek siapkan dulu”
“Iya nek”
Di kantor, Rendra yang sudah ada di ruangannya memanggil Bela untuk memberitahukan bahwa ibunya mengajak untuk makan malam, karena besok mereka akan kembali ke Jakarta.
“Bapak memanggil saya?” ujar Bela yang membuka pintu dan masuk ke ruangan Rendra
“Iya, masuklah” jawab Rendra
“Ada yang bisa saya bantu pak?” tanya Bela
“Begini Bela, besok saya dan keluarga akan kembali ke Jakarta, ibu mengajak kamu makan malam nanti, tempatnya akan saya kirim ke kamu, apakah kamu bisa datang?” tanya Rendra
“Bisa pak, saya akan datang” jawab Bela
“Hanya itu yang ingin saya sampaikan, sebelumnya saya mohon maaf karena selama di Bandung banyak merepotkan dan Kayla juga sering meminta waktumu, saya juga berterima kasih banyak karena kamu sudah mau menemani Kayla selama di sini” ucap Rendra
“Iya pak, kalau begitu saya permisi”
“Iya”
Bela keluar dari ruangan Rendra, tak dapat dibohongi bahwa Bela mulai ada rasa dengan Rendra. Tapi ia tak tahu perasaan Rendra seperti apa padanya. Setelah mendengar kalau besok Rendra dan keluarganya akan kembali ke Jakarta Bela akan kesepian lagi. Bela senang jika ia bisa jalan-jalan dan bermain bersama Kayla, meski awal pertemuannya dengan Kayla tidak diinginkan tapi Bela tetap menikmati semua waktu yang dilewati bersama Kayla.
Mayang juga bersikap baik padanya, ia merasa beruntung bisa kenal dengan Kayla dan juga neneknya, Bela bisa merasakan kebersamaan keluarga yang sempat hilang dalam hidupnya. Sikap Mayang yang membuat Bela merasa nyaman ada di tengah-tengah keluarga mereka, Mayang memperlakukan Bela dengan sangat baik, bahkan ia sudah menganggap Bela seperti anaknya sendiri. Semua itu dilakukan Mayang karena Kayla yang sudah dekat dengannya, Mayang melihat kalau Bela bisa menjaga Kayla dan menyayanginya seperti anaknya sendiri.
“Kenapa rasanya sedih ya, pak Rendra dan keluarganya akan kembali ke Jakarta, jangan bilang kalo aku sudah ada rasa, tidak boleh jadi kalo begini” Bela menepuk-nepuk keningnya
Melihat Bela yang seperti menyiksa diri sendiri, Erik langsung menghampirinya.
__ADS_1
“Kamu kenapa Bela?” tanya Erik
“Hah eh pak Erik, saya tidak apa-apa pak, kalau begitu saya ke ruangan saya dulu pak. Permisi” Bela berlari kecil dan masuk ke dalam ruangannya, ia malu karena sudah melakukan hal bodoh di hadapan Erik, meski sebenarnya Erik tak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Bela.