
“Permisi pak, boleh masuk?” tanya Erik
“Iya, silakan masuk Rik” jawab Rendra
Erik pun masuk ke dalam ruangan Rendra.
“Bapak tidak mengabari saya kalau hari ini akan ke kantor, apakah ada sesuatu pak?” tanya Erik
Pikir Erik yang memang tak biasanya Rendra ke Bandung tanpa mengabarinya, biasanya Erik yang akan meminta Rendra ke Bandung karena ada sesuatu yang terjadi di kantor, tapi Rendra juga akan mengabarinya jika hanya sekedar berkunjung ke Bandung. Tapi hari ini ia tak mengabari Erik, wajar Erik merasa ada sesuatu.
“Tidak Rik, aku hanya lupa untuk mengabari kamu, saya hanya ingin mengecek perusahaan saja, tidak ada masalah” jawab Rendra
“Saya kira ada apa bapak sampai datang kemari, kalau begitu saya permisi ke ruangan saya pak”
“Iya silakan”
Erik keluar dari ruangan Rendra dan kembali ke ruangannya. Sekilas Erik melirik ke ruangan Bela melihat apa yang sedang dilakukan olehnya. Bela masih fokus dengan pekerjaannya, sehingga ia tak sadar kalau Erik melihat ke arahnya, tapi memang begitulah Bela yang cuek dengan sekitarnya.
Sudah jam makan siang, Rendra belum keluar dari ruangannya. Bela yang melihat ke ruangan Rendra berharap pria itu keluar dan mengajaknya untuk makan siang, tapi Bela sudah menunggu hampir 10 menit Rendra tak juga keluar, akhirnya Bela memutuskan untuk pergi ke kantin daripada ia menunggu yang tidak jelas bisa-bisa waktu makan siangnya habis dan ia tidak makan siang.
“Boleh duduk di sini” ucap Erik
“Boleh pak, silakan” jawab Bela
Bela dan Erik makan siang bersama, tanpa disadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya, ia melihat kalau Bela dan Erik sedang makan siang dan mengobrol.
“Apa ini alasan kamu memintaku untuk memberi waktu” ucap Rendra
Rendra sedang melihat mereka berdua, setelah Bela pergi ke kantin Rendra juga keluar dari ruangannya ia berniat mengajak Bela makan siang bersama di kantin. Namun setelah melihat ke ruangannya ternyata Bela sudah tidak ada di sana. Rendra terpaksa berjalan sendirian ke kantin dan tanpa diduga ia melihat Bela sedang makan siang berdua dengan Erik.
__ADS_1
Rendra yang tak tahu kebenaran itu memutuskan untuk memperhatikan, bahkan ia melihat kalau Bela mengobrol dengan Erik tanpa canggung, mereka terlihat sangat dekat, begitu yang dilihat Rendra. Padahal Bela hanya mengobrol biasa dengan Erik, hanya untuk suasana agar Bela dan Erik tidak canggung, makanya mereka mengobrol. Tapi Rendra menganggap kalau Bela dekat dengan Erik dan semua itu membuat Rendra menjadi tidak yakin kalau Bela akan menyetujui permintaannya
Setelah selesai makan Bela tak sengaja melihat ke arah Rendra, ia melihat kalau Rendra sedang memperhatikannya dengan Erik. Bela merasa tidak enak, tapi ia juga kesal karena sudah ditunggu tapi tak mengajak untuk makan siang.
“Apa coba lihat-lihat, apa jangan-jangan dia cemburu lihat aku sama Erik ya” Bela tersenyum karena dilihat dari wajahnya Rendra sedang tak nyaman dan tak suka melihat Bela dekat dengan Erik
“Kamu kenapa senyum-senyum Bela?” tanya Erik
“Tidak pak, saya tidak senyum kok” Ucap Bela
“Sudah dua kali aku melihat kamu senyum-senyum seperti ini loh, apa kamu lagi bahagia ya?” tebak Erik
“Tidak kok pak, saya tidak lagi bahagia saya juga hanya senyum karena sudah kenyang, jadi perut kenyang hati pun senang” ucap Bela tertawa
“Kamu ada-ada saja Bela Bela” ujar Erik yang juga ikut tertawa
Bela hanya bisa tertawa setelah mendengar Erik berbicara seperti itu, ia juga tidak tahu mengapa menjawab seperti itu. Rendra yang melihat itu semakin tidak suka, ia memilih pergi dari kantin itu dan kembali ke ruangannya.
“Ayo, sebentar lagi sudah selesai jam makan siangnya. Bela, oh Bela malah melamun kamu ini” Erik membuat Bepa terkejut dan langsung bangun dari kursinya
“Iya pak, ayo”
Erik dan Bela meninggalkan kantin dan kembali ke ruangannya masing-masing.
Rendra yang tak suka melihat Bela dekat dengan Erik, ia perlu membicarakannya dengan Bela. Ia pun meminta Erik untuk menyuruh Bela ke ruangannya.
“Permisi pak” ucap Bela
“Masuk” jawab Rendra
__ADS_1
“Ada apa ya pak? Apa mau bertanya jadwal? Hari ini bapak tidak ada jadwal untuk meeting” ucap Bela
“Saya mau bicara serius” ucap Rendra membuat Bela menatapnya
“Bicara apa ya pak?” tanya Bela
“Kenapa kamu dekat-dekat dengan Erik? Apa kamu menyukainya?” tanya Rendra
“Jadi bapak memanggil saya hanya untuk menanyakan itu?”
“Jawab saja Bela” ucap Rendra yang mulai tak sabar
“Kalau pun saya menyukai pak Erik memang kenapa pak?” ucap Bela
“Setidaknya saya tidak perlu menunggu dua hari, karna saya tahu jawabannya” ucap Rendra memalingkan wajahnya
“Apa bapak akan mengambil keputusan dengan melihat saya sedang makan siang dengan pak Erik? Bapak tetap harus menunggu dua hari itu salah satu hari lagi, karna besok saya akan memberi jawaban itu” ucap Bela dengan tegas
“Untuk apa saya menunggu jawaban itu, jika saya sudah tahu jawabannya” ucap Rendra
“Bapak belum tahu jawabannya jadi bapak tetap harus menunggu jawaban saya besok malam, saya kira permasalahan ini tidak baik bila dibicarakan di kantor, saya permisi ke ruangan saya pak”
Bela keluar dari ruangan Rendra tanpa persetujuan Rendra.
Rendra menghela nafasnya, ia ingin memutar waktu kembali, pertemuan dengan Bela dan pertemuan Kayla dengan Bela. Rasanya ia tak mau jika harapannya patah, Rendra tak mau kalau Kayla nanti tahu. Ia harus menunggu besok, semoga saja hasilnya tidak membuatnya kecewa.
Rendra kembali berpikir, mengapa ia bisa menaruh hati pada Bela, padahal pertemuan pertamanya dengan Bela sangat tidak mengasikkan, tapi memang tak ada yang tahu tentang takdir. Memang benar, jangan terlalu membenci seseorang karena kita tidak akan tahu ke depannya akan seperti apa. Seperti Rendra yang tidak suka dengan Bela, tapi hatinya bisa luluh karena kebiasaan yang ia lewati bersama Bela.
Pikiran Rendra sedang kacau, ia takut nantinya Bela akan menolaknya dan tak mau menunggunya, apa sebaiknya ia meminta Bela untuk menjadi kekasihnya? Atau ia langsung melamar Bela? Bagaimana bisa, Rendra saja belum yakin kalau perasaannya pada Bela adalah rasa suka, bisa jadi itu hanya rasa nyaman karena terbiasa melewati hari bersamanya. Tapi bukankan rasa suka itu hadir karna rasa nyaman dan terbiasa.
__ADS_1
Banyak sekali hubungan jarak jauh yang gagal karena adanya orang yang membuat nyaman dan terbiasa dengan kehadirannya. Tapi itu hanya orang-orang yang belum serius saja dengan hubungannya (itu menurut author ya hehehe).