
(Pov author)
Surya yang terbangun karena mendengar adzan langsung bergegas menuju kamar mandi dan menunaikan kewajibannya. Selesai sholat Surya membangunkan Rio untuk sholat subuh.
“Rio, ayo bangun sholat subuh dulu” ujar Surya menggoyangkan badan Rio
Rio bangun dan mengucek-ucek matanya sebelum duduk.
“Iya ayah” Jawab Rio
“Ya sudah ayah bantu ibu dulu di dapur ya” ucap Surya berdiri dari ranjang Rio dan keluar dari kamarnya
Rio langsung bangun untuk berwudhu dan sholat di kamarnya. Selesai sholat Rio membereskan buku-buku dan peralatan sekolahnya, agar nanti langsung berangkat.
Di dapur Surya dan Ningsih menyiapkan makanan untuk sarapan.
“Sudah masak semua bu?” tanya Surya
“Iya sudah, ayah mandi dulu nanti sarapan biar ibu saja yang membereskan semuanya” ujar Ningsih
“Ayah mandi ya, biar ayah panggil Rio dulu mungkin dia lagi beres-beres di kamarnya” ucap surya
Ningsih mengangguk dan melanjutkan membersih dapur yang sudah dibuat masak tadi.
“Rio, sudah selesai?” ucap Surya dari luar kamar
“Sudah yah, ini lagi menyiapkan buku-buku” jawab Rio
“Kalau sudah, ke dapur ya bantu ibu bawa makanan ke depan”
“Iya yah”
Surya masuk ke kamarnya untuk mengambil handuk dan membawanya ke kamar mandi. Sedangkan Rio membantu Ningsih membawa makanan untuk sarapan bersama di ruang tamu.
“Sudah siap semua ya?” tanya Surya yang baru keluar dari kamarnya
“Sudah ayo makan yah” ucap Ningsih
Surya, Ningsih dan Rio menyantap makanan yang sudah diambilnya, mereka sangat lahap memakannya. Meski makanannya sederhana tapi, semua akan nikmat bila disyukuri apalagi bersama keluarga.
“Rio, ayo tambah lagi ayah juga makannya yang banyak kalo habis ibu masak lagi nanti yang penting tenaga kalian terisi biar nanti pas kerjanya semangat dan kuat” ucap Ningsih
“Iya bu, ibu juga makan yang banyak” ucap Surya
“Iya yah, ibu kan hanya di rumah tidak ke mana-mana jadi makannya tidak terlalu banyak” ucap Ningsih
“Ya meski tidak ke mana-mana kalau tenaganya kuat bisa jalan dan melakukan aktivitas yang lain juga biar ibu sehat” ucap Surya
__ADS_1
“Iya yah, ayo habiskan makanannya nanti kesiangan yang berangkat”
Setelah menghabiskan makanannya Surya langsung berangkat, Rio masih membantu mencuci piring dan bersiap-siap terlebih dahulu.
“Bu Rio berangkat ya, ibu jangan terlalu capek tunggu Rio saja kalau mau ke mana-mana” ucap Rio
“Iya nak, kamu juga hati-hati ya kalo capek langsung pulang jangan dilanjut jualannya. Senin kamu juga ujian jadi harus belajar juga.”
“Iya bu, kan masih ada besok buat belajar, nanti malam juga Rio akan belajar, Rio berangkat bu Assalamualaikum” ujar Rio
“Waalaikumsalam”
Rio keluar dari rumahnya dan berangkat ke sekolah membawa barang-barang yang akan dijualnya nanti, agar ia tidak capek pulang lagi ke rumahnya. Rio menghemat tenaganya karena ujian kenaikan kelas akan dilaksanakan dan Rio butuh belajar jadi ia tidak mau terlalu capek dan harus giat belajar.
Di pangkalan becak Surya sedang menunggu penumpang sambil mengobrol dengan tukang becak yang lain.
“Pak, bisa antar saya?” tanya seorang perempuan yang membawa banyak belanjaan seperti sedang kerepotan
“Bisa bu, ayo naik saya antarkan” ucap Surya membantu meletakkan semua belanjaannya
Jarak dari pasar ke rumahnya cukup jauh hampir 15 menit, Surya tampak lelah mengayuh sepedanya.
“Pasti bapak capek ya, istirahat dulu pak biar saya ambilkan minum dulu” ucapnya
“Iya bu terima kasih ya” ujar Surya
“Iya bu sama-sama, tapi ini kebanyakan bu”
“Tidak apa-apa pak, rezeki buat bapak”
“Ya sudah kalau begitu saya permisi ya bu, terima kasih minumnya”
“Iya pak sama-sama”
Surya keluar dari halaman rumah dan mengayuh becaknya ke tempat pangkalan lagi.
“Kok lama pak Surya? Jauh ya rumahnya” tanya tukang becak yang sedang menunggu penumpang
“Iya pak, rumahnya ada jauh jadi lama” jawab surya
Mereka menunggu penumpang dan menikmati gorengan yang diberi oleh penumpang tadi.
Di kantor Rendra sedang fokus membaca dokumen yang akan dibawa meeting nanti siang. Rendra memang terkenal sebagai pengusaha yang profesional, selain ia yang tegas Rendra juga tak pernah memandang rendah pada kliennya, meski pun perusahaannya tidak berjaya seperti Rendra, ia tetap menghargainya. Dulu Rendra juga seperti itu, ia ingat ketika masih membantu ibunya, semuanya berhasil berkat kerja keras yang dilakukan Rendra.
Sampai sekarang Rendra tetap rendah hati, tapi jika ada seseorang yang berkhianat darinya maka Rendra tak akan tinggal diam, apalagi menyangkut keluarganya.
__ADS_1
“Permisi pak, ini ada dokumen yang harus ditanda tangani” ucap sekretaris Rendra
Rendra langsung mengambil dokumen itu dan menandatanganinya, ketika Rendra selesai menandatangani dan memberikan dokumen itu sekretaris Rendra malah bengong.
“Ini dokumennya” ucap Rendra
“Eh iya pak” Ucapnya
“Apa ada lagi yang harus ditanda tangani?” tanya Rendra
“Tidak pak”
“Terus kenapa masih berdiri di situ”
“Saya permisi keluar pak” ucapnya berlalu ke luar
Rendra hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat sekretarisnya seperti itu. Mungkin ia terpesona dengan Rendra sehingga membuat para gadis tak berkedip menatapnya.
“Rendra” Sapa seorang yang baru masuk ke ruangannya
“Ibu, tumben ibu ke sini?” ucap Rendra
“Iya tadi ibu ke temu sama teman ibu karena tempatnya dekat dengan kantormu jadi ibu sekalian mampir” ucap Mayang “Oh ya Rendra, itu yang di depan sekretarismu?” tanya Mayang
“Iya bu” jawab Rendra
“Kok aneh ya”
“Aneh bagaimana bu?”
“Iya tadi sebelum masuk ke sini dia menyapa ibu dan salaman sama ibu, sok akrab padahal ibu tidak mengenalnya”
“Ya mungkin karena ibu itu orang tuaku jadi dia sopan, biarkan saja bu yang penting dia tidak kurang ajar sama ibu” ucap Rendra
“Iya juga sih”
Mayang dan Rendra mengobrol tentang perkembangan perusahaan, Mayang sempat mengajak Rendra makan siang. Tapi Rendra ada meeting terpaksa Mayang pulang dan makan siang di rumahnya. Mayang malas jika makan sendirian, karena tak ada teman mengobrol.
“Ya sudah kalo kamu ada meeting, ibu pulang saja nanti ibu makan siang di rumah saja. Biar bi Sri masak nanti” ucap Mayang
“Iya, ibu hati-hati ya. Mau Rendra antar bu?”
“Tidak perlu, kamu lanjutkan saja kerjanya. Ibu sama sopir” jawab Mayang
“Ya sudah, kalau ada apa-apa kabari aku ya bu”
“Iya, ibu pulang ya jangan lupa untuk makan” Mayang keluar dari ruangan Rendra dan menuju parkiran. Mayang diantar sopir, tapi kadang-kadang ia menyetir mobil sendiri. Tapi Rendra melarang demi keamanannya, ia takut terjadi sesuatu pada ibunya.
__ADS_1