
Rendra yang belum bisa memejamkan matanya, mengingat-ingat kalau besok ia akan ke Bandung dan belum menghubungi Erik. Tapi biarlah Erik tak tahu, ia ke sana hanya sebentar saja, pikir Rendra. Rendra sudah mengatakan pada Mayang dan Kayla bahwa dirinya akan ke Bandung, Rendra tidak bilang kalau ke Bandung untuk menemui Bela, pasti Kayla akan ikut. Ia hanya bilang ada masalah di perusahaannya yang membuatnya harus segera ke Bandung.
Rendra sudah menyiapkan semua baju-bajunya, tidak lama ia di Bandung hanya 2 hari jika yang menurutnya masalah sudah selesai ia akan segera kembali ke Jakarta. Ia hanya ingin bertemu Bela dan berbicara langsung padanya, tak mungkin kalau ia hanya berbicara di telepon.
Keesokan harinya Rendra sudah bersiap untuk pergi ke Bandung, di meja makan sudah ada Mayang dan Kayla.
“Papah mau ke Bandung beneran?” tanya Kayla
“Iya sayang, papah harus ke Bandung karna perusahaan butuh papah” ucap Rendra memberi pengertian pada Kayla
“Kayla ingin ikut, tapi Kayla sekolah, Kayla mau ketemu sama tante Bela mau main dan jalan-jalan lagi” ucap Kayla
“Nanti kalau sudah liburan Kayla boleh ke Bandung, sekarang kan Kayla harus belajar kan sebentar lagi akan ujian kenaikan kelas” ucap Rendra
“Iya benar kata papah, Kayla harus belajar biar nanti lulus jadi pas liburan kita bisa rayakan untuk kelulusan Kayla” Mayang mencoba memberi pengertian
“Kayla, nanti kalo tante Bela tidak sibuk pasti main-main ke sini jadi Kayla jangan sedih ya” ujar Rendra
“Iya Kayla tidak sedih tapi papah janji ya kalau nanti bakalan ajak Kayla ke Bandung”
“Iya papah janji”
“Ayo kita makan, terus papah antar Kayla ke sekolah”
“Iya pah”
Mereka sarapan, Kayla paham kalau ia tak bisa ikut dengan Rendra. Ia harus belajar untuk ujian kenaikan kelas nanti. Lebih baik Kayla belajar dulu baru setelah liburan bisa menikmati hasilnya, kalau Kayla tidak fokus untuk belajar bisa-bisa ia tak dapat menjawab soal-soal ketika ujian.
Setelah mengantar Kayla, Rendra langsung ke Bandung agar ia segera sampai dan mempersiapkan semuanya untuk bertemu dengan Bela. Rendra belum tahu akan berbicara apa nantinya, tapi Rendra tak memiliki perasaan yang lebih pada Bela, entah karena perasaan pada Dewi masih begitu besar di hatinya.
“Sepertinya aku akan beristirahat di apartemen dulu” ucap Rendra
Rendra langsung ke apartemennya, ia perlu meregangkan otot-ototnya agar lebih segar. Rendra tak pergi ke kantornya karena memang hari ini ia mempersiapkan mentalnya untuk mengatakannya pada Bela. Memang ini bukan yang pertama kali untuk Rendra, tapi Rendra bukan menyatakan perasaannya, ia hanya ingin mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya sehingga membuat gelisah dan tak nyaman.
Malam harinya Rendra sedang memakai baju dan sudah siap akan berangkat, Rendra meminta Bela untuk datang ke sebuah tempat. Di sana Rendra sudah menyiapkan sesuatu yang tentunya akan membuatnya lebih nyaman untuk menyampaikan keinginannya.
__ADS_1
“Ke mana Bela kok belum datang juga, apa dia lupa aku sudah mengingatkannya tadi siang” ucap Rendra menunggu kedatangan Bela
Setelah menunggu hampir 15 menit, Bela datang juga.
“Maaf aku telat ya, kamu sudah menunggu dari tadi?” tanya Bela
Rendra tak menjawab, ia menatap Bela tanpa berkedip.
“Mas, mas” suara Bela membuyarkan lamunan Rendra
“Eh iya, kenapa?” tanya Rendra
“Kamu sudah menunggu dari tadi?”
“Tidak, tapi cukup membuat kaki pegal” ucap Rendra
“Maaf, tadi masih ada urusan jadi telat ke sininya”
“Tidak masalah yang penting kamu sudah ada di sini”
“Sebelum saya bicara ini, aku harap kamu tidak marah dan mengerti”
“Saya usahakan tidak marah, asal kamu jangan mengajak yang macam-macam” ucap Bela menyipitkan matanya
“Dengarkan ya, dan jangan memotong ucapan aku” ucap Rendra serius membuat Bela langsung mengangguk
“Bela, sebelumnya aku minta maaf aku tidak berniat membuat perasaanmu sakit atau bagaimana. Aku pernah mengatakan kalau aku belum menyukaimu, tapi aku tidak tahu kenapa perasaan ini tiba-tiba datang, ada alasan mengapa aku tidak berani membuka hati pada seseorang, tentu kamu sudah tahu kalau aku sudah memiliki Kayla, dan itu adalah alasan mengapa aku tidak mau membuka hati. Aku masih mencintai mamahnya Kayla meski pun ia sudah lama meninggalkan aku dan Kayla untuk selama-lamanya” sebelum melanjutkan Rendra menarik nafasnya
“Aku harap kamu mau menunggu aku, aku harap kamu bisa merubah perasaan aku, selain karena Kayla yang sudah dekat denganmu, sejak kita sering jalan bersama di situlah ada yang aneh dengan perasaanku. Aku berusaha bersikap biasa saja dan mencoba menghilangkan perasaanku, tapi bukan malah hilang perasaan itu malah terus bertambah.”
Rendra menghentikan ucapannya.
“Lalu maksud mas apa?” tanya Bela karena Rendra tiba-tiba menghentikan kata-katanya
“Aku mau kamu menungguku untuk meyakinkan perasaanku kalau aku memang benar-benar menyukaimu” ucap Rendra tertunduk
__ADS_1
“Untuk apa aku menunggu mas, kalau kamu memang menyukaiku aku tidak perlu menunggu” ucap Bela merasa heran dengan ucapan Rendra
“Kamu belum paham juga?”
Bela menggelengkan kepalanya, ia memang belum paham apa maksud Rendra memintanya untuk menunggu.
“Aku memintamu menunggu untuk meyakinkan aku kalau aku benar-benar menyukaimu, dan aku bisa menerima kalau perasaanku dengan almarhum istriku mempunyai tempat khusus dan sekarang aku ingin merubah semuanya, aku harap kamu mengerti” Rendra menatap Bela
Bela menunjukkan wajahnya tanpa ekspresi, ia tak tahu harus bagaimana, bersaing dengan orang yang telah tiada itu sangat tidak mungkin, dan Bela pasti tidak akan menang. Bela sadar kalau dirinya juga menyukainya, tapi apa Bela bisa bersabar menunggunya.
Rendra masih menatap Bela, berharap jawaban yang bisa membuat hatinya tenang dan tak gelisah lagi. Namun Bela masih belum membuka suaranya, ia seperti memikirkan sesuatu, terlihat dari wajahnya kalau ia terkejut dengan pernyataan Rendra. Bela pikir Rendra akan menyatakan perasaannya, bukan memintanya untuk menunggu untuk meyakinkan hatinya.
“Kenapa diam Bela? Apa kamu tidak mau atau kamu sudah punya pasangan. Maaf kalau aku mengganggu hubunganmu” Belum sempat Rendra melanjutkan bicaranya Bela sudah memotongnya.
“Saya belum punya pacar, saya hanya ragu untuk menjawab” ucap Bela memalingkan wajahnya
“Apa kamu tidak menyukaiku, padahal aku keren aku juga tidak jelek, malahan banyak yang menyukaiku” ucap Rendra sombong
Bela mendengar ucapan Rendra melotot. “Bisa-bisanya dia memuji dirinya sendiri” ucap Bela dalam hati
“Aku tahu kamu juga memujiku dalam hati, tak usah malu mengatakannya”
“Aku heran denganmu, jika memang banyak yang menyukaimu, kamu sama mereka saja kenapa mesti denganku, dan aku harus menunggu sampai kamu yakin dengan perasaanmu. Aneh kamu” ucap Bela kesal
“Kamu cemburu karena aku berbicara seperti itu” ucap Rendra menggoda Bela
“Cemburu? Mana mungkin”
“Kamu tidak perlu mengelak, terlihat dari matamu kalau kamu cemburu aku berkata seperti itu” ucap Rendra
“Saya tidak cemburu apalagi dengan fans-fansmu itu” ucap Bela
“Mana mungkin maling mau mengaku”
“Jadi kamu bilang aku maling? Kalau hanya mau bilang begitu lebih baik aku pulang saja percuma berbicara denganmu buang-buang waktu saja” Bela berdiri dari duduknya, ia hendak melangkahkan kakinya namun Rendra menahannya.
__ADS_1
“Kok marah sih, aku kan hanya bercanda, ayo duduk lagi. Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, aku minta maaf kalau membuat kamu kesal” ucap Rendra tulus