
Sesampainya di apartemen, Rendra, Kayla dan juga Mayang langsung masuk untuk beristirahat sejenak, sebelum nanti sore akan bertemu dengan Bela Rendra belum mengabari Bela bahwa ibunya ingin bertemu dengannya. Rendra mengambil Hp dan menelepon Bela.
“Halo siapa ya?” tanya Bela
“Saya Rendra” jawab Rendra
“Oh pak Rendra, ada apa ya pak?”
“Nanti sore kamu sibuk?”
“Tidak pak, memang kenapa ya?” Bela memanggil pak karena ini masih jam kantor dan dirinya masih berada di kantor
“Kayal mau ketemu sama kamu, nanti kita ketemu di Restoran Giant ya” ujar Rendra
“Kayla sudah di Bandung pak? Iya pak”
“Iya kami sudah di Bandung, ya sudah kamu lanjut kerjanya”
“Iya pak”
Rendra mematikan sambungan teleponnya dan ia merebahkan tubuhnya.
Sore hari, Mayang bersiap-siap untuk bertemu dengan Bela, Kayla yang sudah siap dari tadi mengajak nenek dan papahnya berangkat, ia tak sabar bertemu dengan Bela.
“Nenek, papah ayo berangkat nanti telat” ucap Kayla
“Iya sebentar sayang nenek lagi siap-siap” jawab Mayang
“Sudah siap semua? Kalau sudah ayo kita berangkat” ajak Rendra
“Iya sudah ayo Rendra”
Mayang menggandeng Kayla menuju ke mobil. Setelah beberapa menit perjalanan dari apartemen ke Restoran mereka sudah sampai.
“Apa Bela sudah datang?” tanya Mayang pada Rendra
“Sepertinya belum bu, tapi ini sudah jam pulang kantor mungkin dia masih di jalan kita tunggu saja sambil pesan minum” ucap Rendra
Bela yang baru sampai di Restoran langsung mencari keberadaan Rendra dan Kayla. Rendra tidak bilang kalau ia juga membawa ibunya.
__ADS_1
“Maaf pak, tadi agak macet jadi telat” ucap Bela yang baru sampai
“Iya, duduk” ucap Rendra
“Hai Kayla” sapa Bela
“Mamah Kayla kangen banget sama mamah Bela, Kayla bawa nenek buat ketemu sama mamah” ucap Kayla
Bela yang belum menyadari bahwa yang duduk di dekat Rendra adalah ibu Rendra.
“Kenapa pak Rendra tidak bilang kalau membawa ibunya. Haduh kenapa jadi sulit begini, kalau tahu akan begini aku tidak akan menolong Kayla waktu itu” ucap Bela dalam hatinya karena gelisah
Rendra yang melihat Bela seperti itu ingin tertawa, ia sengaja tidak memberi tahu Bela kalau ia datang bersama ibunya. “Biar tahu rasa, siapa suruh waktu itu bilang sial ketemu aku. Aku buat kamu sial sungguhan” Rendra tertawa puas dalam hatinya
Bela melihat ke arah Rendra yang sedang menahan senyuman devil itu seketika kesal dan melotot ke Rendra, namun Rendra tak menggubrisnya ia malah senang melihat Bela seperti itu.
“Jadi kamu Bela yang diceritakan Kayla” ucap Mayang pada Bela
“Iya tante saya Bela” jawab Bela
“Panggil ibu saja, Rendra juga panggil ibu” ujar Mayang
“Apalagi ini, aku terjebak dengan keluarga ini” ucap Bela dalam hati, ia tak habis pikir akan seperti ini.
“Kamu sudah menikah atau sudah punya pacar?” tanya Mayang
“Ibu kok tanya seperti itu sih” protes Rendra
“Ada yang salah dengan pertanyaan ibu?” tanya Mayang “Ibu hanya bertanya, karena dia dekat dengan Kayla, kalau seandainya dia sudah menikah takutnya Kayla kecewa dan akan sedih”
“Saya belum menikah atau punya pacar bu” jawab Bela dengan sopan
“Bagus kalau begitu, Kayla sudah dekat denganmu apa kamu tidak ingin mendekati papahnya juga?” ucapan Mayang membuat Rendra kaget dan tersedak dengan minuman yang diminumnya
“Ibu” ucap Rendra
“Aku hanya bertanya” ucap Mayang dengan santai
“Lebih baik kita pesan makan dulu” ucap Rendra yang memanggil pelayan
__ADS_1
Rendra dan lainnya memesan makanan, setelah pesanan mereka datang, mereka langsung menyantapnya tanpa sepatah kata yang dilontarkan.
“Kalau begitu saya pamit, terima kasih atas undangannya” Bela berdiri dan menyalami Mayang dan juga mengelus rambut Kayla
“Ya sudah kita pulang sama-sana, di mana rumah kamu?” tanya Mayang
“Rumah saya di Jalan Girya bu” jawab Bela “Saya bisa naik taksi, saya juga ada perlu sebentar” sambungnya
“Biar saja bu, dia juga ada urusan” ucap Rendra
“Ya sudah kalau begitu”
Bela akhirnya bisa pulang dengan naik taksi, sebenarnya Bela hanya berbohong kalo dirinya ada urusan, agar ia tidak perlu diantar. Pasti suasana akan canggung dan dirinya merasa tidak nyaman, bukan karena tidak nyaman bersama dengan Kayla, Bela tidak nyaman kalau harus ditanyai mendalam tentang hal-hal lain, apalagi hubungannya dengan Rendra sebatas karyawan dan bos.
Bela tidak siap jika harus berhubungan dengan laki-laki, ia pernah pacaran tapi sayangnya sang pacar malah meninggalkannya tanpa alasan dan pergi begitu saja. Padahal hubungannya sudah sangat serius, kejadian itu membuat Bela hancur. Ketika orang tuanya sudah tiada, pacarnya selalu ada dan menguatkan, entah alasan apa ia bisa pergi begitu saja meninggalkan Bela tanpa kepastian.
Hal itu membuat Bela tak mudah percaya pada laki-laki lain, sampai sekarang ia menjaga jarak dengan laki-laki. Ia tak mau terjebak dalam hubungan yang menyakitkan, cukup sekali saja ia sakit hati. Jika nanti ada yang serius dengannya mungkin Bela akan menimbangkannya terlebih dahulu.
Malam hari Ningsih sedang menyiapkan peralatan dan juga bahan-bahan untuk membuat gorengan, mulai besok Ningsih akan berjualan lagi, Ningsih tidak jualan keliling kampung, ia akan berjualan di depan rumahnya saja. Surya melarang Ningsih untuk berjualan keliling kampung, nanti Ningsih capek dan penyakitnya akan kambuh lagi.
Setelah semua peralatan dan bahan-bahannya sudah siap, Ningsih masuk ke dalam kamarnya untuk tidur, Surya baru saja memejamkan matanya karena ia baru datang dari masjid bersama Rio. Surya sudah menghampiri Ningsih di dapur dan bilang akan tidur lebih dulu karena ia merasa sangat lelah dan badannya terasa sakit. Surya tidak membantu Ningsih, Ningsih pun melarangnya karena kasihan suaminya kelelahan jadi Ningsih menyuruhnya untuk tidur saja.
Pagi harinya Ningsih yang bangun terlebih dahulu menyiapkan makanan dan langsung membuat gorengan untuk dijualnya nanti.
“Bangun dari tadi bu, kok tidak bangunkan ayah kan bisa bantu” ujar Surya
“Tidak kok, ini baru selesai masak dan mau buat gorengan, siapa tahu ada yang beli nanti buat di bawa kerja atau buat camilan” ucap Ningsih yang sibuk dengan sutilnya
“Rio sudah sholat bu?” tanya Surya
“Sepertinya sudah yah, karena libur jadi Rio mau jualan dari pagi mungkin lagi siap-siap” jawab Ningsih
“Ayah bawa ke luar ya makanannya, nanti ibu ke luar kita makan bareng” ujar Surya
“Iya, ibu selesaikan ini dulu” ucap Ningsih
Surya membawa piring-piring dan makanan ke ruang keluarga, yang bisa dijadikan ruang tamu atau tempat bersantai. Rumah Surya hanya ada dua kamar di belakang ada dapur dan kamar mandi, tidak terlalu besar tapi mereka bersyukur masih ada tempat tinggal untuk melindungi mereka dari panas dan juga hujan.
__ADS_1