
Bela memutuskan untuk memejamkan matanya, perasaan yang dirasakannya cukup membuatnya tersiksa, ia menaruh rasa pada seorang yang tak tahu suka atau tidak dengannya. Ia berharap perasaannya bisa hilang dengan sendirinya, apalagi Rendra sudah kembali ke Jakarta itu akan membuatnya mudah untuk bisa menghilangkan perasaannya.
Tapi Rendra selalu menghubungi, karena Kayla yang selalu meminta untuk video call dengannya, jadi mau tidak mau ia harus tetap berhubungan dengan Rendra. Bela berada dalam situasi yang sulit, jika ia meminta Kayla untuk tak menghubunginya lagi, apakah ia tega dan bisa melakukannya. Menyakiti hati anak kecil dan mementingkan perasaannya, semua itu belum bisa menemukan jalan keluarnya, Bela masih belum tahu harus bagaimana agar tidak berhubungan dengan Rendra lagi.
Pagi harinya Bela yang sudah bangun sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor, ia sudah memasak dan sarapan sebelum berangkat ke kantornya. Meski ia seorang sekretaris, ia memakai rok di bawah lutut, biasanya seorang sekretaris bos akan berpakaian seksi dan menarik, tapi semua itu tidak berlaku untuk Bela. Ia lebih memilih rok di bawah lutut, mungkin karena tidak biasa memakai pakaian seksi jadi membuatnya tidak enak jika memakainya.
“Selamat pagi pak” sapa Bela
“Selamat pagi Bela” ucap Erik
Bela berlalu memasuki ruangannya, ruangan Erik dengan Bela bersebelahan sama seperti lainnya, jika yang lain hanya dipisahkan dengan pembatas, maka ruangan Erik dan Bela hanya diberi pembatas kaca saja.
Bela merupakan lulusan bisnis management, oleh sebab itu ia bisa di terima di perusahaan. Untuk jabatan Eriklah yang menentukan Bela sebagai sekretarisnya. Sebenarnya Erik menyukai Bela sejak pertemuan pertamanya. Namun Bela seperti tak mengerti kalau Erik menyukainya, padahal Erik selalu perhatian padanya.
Bela seperti menghindari Erik, entah karena ia sungkan karena sebagai atasannya atau ia menghindari Erik karena tak suka padanya.
“Bela” Erik yang menghampiri di ruangannya
“Iya pak, ada apa?” tanya Bela
“Nanti makan siang bareng ya” ajak Erik
“Emm iya boleh pak, tapi di kantin saja ya” ucap Bela
“Ya sudah tidak masalah asal kita bisa makan siang bareng” ucap Erik
Erik hendak mengajak Bela ke sebuah Restoran, tapi setelah mendengar jawaban Bela ia urungkan niatnya, tidak apa-apa makan di kantin perusahaan yang penting Erik bisa makan siang bersama.
Setelah bergelut dengan dokumen-dokumen yang dibaca dan membuat jadwal untuk Erik, Bela hampir tak menyadari kalau sudah waktunya makan siang. Erik yang memperhatikan Bela dari ruangannya tersenyum melihat Bela yang sangat serius dan kaget, ia pikir Erik akan menunggunya di depan ruangannya, tapi ia tak melihat keberadaan Erik.
Setelah melihat ke ruangannya , Erik sedang melihat Bela. Bela yang menyadari bahwa Erik sedang memperhatikannya jadi salah tingkah, Bela langsung menghampiri Erik ke ruangannya.
“Pak” panggil Bela
“Apa sudah selesai?” tanya Erik
“Sudah pak, bapak menunggu saya ya? Kenapa bapak tidak memanggil saya?” ujar Bela
__ADS_1
“Saya melihat kamu sedang fokus jadi saya tidak mau mengganggu kamu” ucap Erik “Ya sudah ayo kita ke kantin” sambungnya
Erik dan Bela menuju kantin untuk makan siang bersama, hampir saja mereka tak mendapatkan tempat duduk karena karyawan yang sedang makan di kantin. Biasanya banyak yang makan siang di luar kantor, tapi hari ini banyak yang makan siang di kantin entah karena mereka malas pergi ke luar atau apa, Bela tak mau memikirkannya, yang penting sekarang ia hanya ingin makan karena perutnya sudah lapar.
Setelah makan siang, Bela, Erik dan semua karyawan kantor kembali ke ruangannya masing-masing.
Sore harinya Bela yang sudah pulang dari kantor dan sudah sampai di rumahnya, Hpnya berdering. Bela langsung mengambil dari dalam tasnya.
“Halo, iya mas” ucap Bela
Yang menelepon Bela adalah Rendra, memang Rendra terkadang menghubunginya untuk memenuhi permintaan Kayla.
“Sedang apa Bel?” tanya Rendra
“Ini lagi beres-beres pak, em Kaylanya mana ya mas?” tanya Bela karena ia tak menemukan Kayla di dekat Rendra
“Kayla ada di kamarnya” jawab Rendra
“Tumben, biasanya Kayla ada di sampingnya” ucap Bela
“Iya saya sendiri yang berniat untuk menghubungi kamu” ucap Rendra
“Aku kangen kamu” ucap Rendra pelan namun terdengar oleh Bela
“Apa?” tanya Bela memastikan bahwa dirinya tak salah dengar
“Aku kangen sama kamu” ucap Rendra sedikit berteriak
“Kamu yakin? Tidak lagi bohong atau prank kan?” tanya Bela
“Kamu kira aku lagi bikin konten, dibilang prank segala” ucap Rendra kesal
“Ya habis kamu bilang begitu, aneh kedengarannya” ucap Bela pura-pura kesal padahal ia senang mendengar Rendra berkata seperti itu
“Ya sudah aku tarik lagi ucapanku tadi”
“Memang bisa kalo ucapan ditarik? Ada-ada saja”
__ADS_1
“Ya bisalah, aku tarik ucapan aku yang tadi” ujar Rendra
“Terserahlah, jadi kamu telepon cuma mau berantem, aku matikan saja”
“Eh tunggu-tunggu, jangan dimatikan jadi kamu tidak mau kalo aku tarik ucapan aku tadi, jangan-jangan kamu senang lagi aku bilang begitu” goda Rendra
“Apaan sih, mana ada aku senang, kenapa sekarang kamu jadi kayak abg sih.”
“Abg? Kok bisa?” tanya Rendra
“Iya suka gombal” cetus Bela
“Saya tidak pernah gombal, saya bicara apa adanya” Rendra tak mau dibilang kalau dirinya hanya gombal
“Terus?” tanya Bela
“Terus apa? Tidak ada keterusannya”
“Jadi cowok tidak peka, bilang suka atau apa malah tanya” gerutu Bela dalam hati
“Ya sudah aku mau masak, mending kamu mandi gih” ucap Bela
“Perhatian banget sih” Rendra menggoda Bela
“Siapa yang perhatian, biasa saja. Ya sudah kalo kamu mau masak, aku matikan ya” ucap Rendra
Belum Rendra mematikan sambungan teleponnya, Bela sudah lebih dulu mematikannya.
Bela menuju dapur untuk memasak, ia terbiasa sendiri setelah kedua orang tuanya tiada. Kesepian? Sudah pasti, tapi Bela mencoba membuat dirinya tak merasa kesepian, ia melakukan hal-hal yang bisa membuat terhibur.
Selesai masak ia makan malam sendiri, pekerjaan di kantornya cukup membuat lelah pikiran dan juga tubuhnya, Bela langsung beristirahat sambil memainkan ponselnya. Bermain ponsel bisa mengurangi bosan dan menghilangkan sedikit beban di pikirannya, tapi Bela tak mau kecanduan dengan benda berbentuk kotak itu, sebab bisa membuatnya bisa lupa segala hal.
Merasa bosan dengan Hpnya, Bela memutuskan untuk tidur, hari sudah mulai larut malam. Bela tak mau kesiangan besok, jadi ia langsung tertidur. Jam menunjukkan pukul 9 malam, kalau Bela keluar untuk sekedar menikmati malam ia tak akan tidur jam segini. Tapi Bela jarang keluar kecuali memang sudah benar-benar bosan di rumah.
Sedangkan di rumah Mayang, Rendra masih belum bisa tertidur ia berniat menghubungi Bela lagi, tapi ia takut mengganggunya.
__ADS_1
“Apa aku menyatakan perasaan aku, tapi aku belum yakin dengannya, tapi kalau jauh darinya aku merasa kangen, tapi apa dia juga punya perasaan yang sama, tapi aarrgghhh” Rendra mengacak-acak rambutnya, ia bingung dengan perasaannya, ia takut nantinya menyakiti Bela kalau dia memberi harapan, namun Rendra juga tak bisa bohong kalau dirinya juga ada rasa dengannya. Rendra memutuskan untuk tidur, daripada ia bertengkar dengan pikirannya sendiri.