Mimpi Untuk Nyata

Mimpi Untuk Nyata
32


__ADS_3

Pada malam harinya, Restoran yang dipesan Rendra sudah menyiapkan semuanya dengan spesial. Ya, semua itu permintaan Mayang, harapan Mayang agar nanti malam menjadi malam yang spesial untuk dirinya dan juga Kayla, Mayang berharap Rendra juga bisa merasakan bahwa ia menyukai Bela.


Sebenarnya Mayang yakin, bahwa Rendra mulai menyukai Bela, karena selama seminggu lebih sudah banyak waktu yang ia habiskan dengan Bela. Mungkin Rendra gengsi atau ia sengaja membuang perasaan itu, Mayang juga tidak bisa menjawabnya. Malam ini ia akan membuktikan bahwa Rendra sudah menyukai Bela, dan sebaliknya Bela juga menyukai Rendra.


Perempuan mana yang tidak menyukai, jika pria itu selalu memperhatikan dan juga ada di dekatnya meski bukan setiap saat tapi cukup ering menghabiskan waktu dengannya. Jika hal itu tidak terjadi mungkin hati mereka benar-benar kuat dan mati rasa, itu hanya mungkin loh.


Rendra, Mayang dan juga Kayla sudah sampai di Restoran, tak lama menunggu Bela pun juga sampai di Restoran itu.


“Maaf, membuat menunggu” ucap Bela pada Rendra, Mayang dan Kayla


Malam ini Bela berbeda ia memakai baju panjangnya selutut dengan warna pink, dengan polesan make up yang sederhana tapi tak bisa dibohongi bahwa Bela sangat cantik malam ini. Mayang yang melihat Rendra sedari tadi melirik ke arah Bela langsung tersenyum.


“Sudah ku duga bahwa kamu menyukainya Rendra, kamu hanya belum jujur pada dirimu sendiri” ucap Mayang dalam hati.


“Kami juga baru sampai, ayo duduklah kita nikmati semua hidangan malam ini” ucap Mayang mempersilahkan Bela duduk


“Iya bu” Bela tersenyum. Ia beruntung bertemu dengan Mayang, ia selalu bersikap ramah pada Bela Mayang juga memperlakukan Bela dengan baik, walau Bela hanya karyawan Rendra


“Mamah Bela cantik ya, Kayla jadi pangling lihatnya, ya kan pah” ucap Kayla pada Rendra


“Heh iya Kayla” Rendra sontak kaget mendengar ucapan Kayla yang ditujukan pada dirinya


“Kamu kenapa Rendra?” tanya Mayang


“Tidak apa-apa bu, ayo kita makan saja” ucap Rendra membuat suasana tidak canggung lagi


Mereka berempat menikmati makanan yang telah disajikan, suasana hening ketika mereka makan. Mayang membuka pembicaraan.


“Saya senang melihat kamu dekat dengan anak saya, Kayla juga sangat senang dekat dengan kamu, saya tidak akan ikut campur dengan hubungan kalian berdua, kalian sama-sama dewasa jadi saya harap kalian bisa memperjelas hubungan kalian.” Ujar Mayang


“Sebelumnya mohon maaf bu aku dan mas Rendra belum memikirkan, saya senang bisa dekat dengan kalian, saya merasa memiliki keluarga. Saya juga merasa memiliki seorang ibu yang selalu perhatian dengan saya, jika seumpama nantinya Tuhan berkehendak lain tentang hubungan kami, aku harap aku masih bisa dekat dan bertemu dengan Kayla.” Ucap Bela membuat haru

__ADS_1


“Saya mengerti perasaanmu Bela, karena memang seharusnya yang memulai bukan kamu tapi Rendra. Malam ini ibu akan memberikan kesempatan untuk Rendra jika ingin menyatakan perasaannya padamu.”


Ucapan Mayang membuat Rendra tersedak.


“Uhuk uhuk” Rendra langsung minum


“Kamu tidak apa-apa mas?” ucap Bela


Semenjak Mayang ikut ke Bandung, hubungan Rendra dengan Bela membaik, awalnya mereka yang selalu bertengkar kini mulai luluh dan dekat, mereka terlihat akur.


“Saya tidak apa-apa” jawab Rendra


Mereka kembali hening, Mayang melihat ke arah Rendra. Mayang tak habis pikir mengapa anaknya tidak paham-paham juga, ia sama sekali tidak menyatakan hubungannya. Padahal Mayang berharap malam ini Rendra akan jujur kepada Bela dan mengungkapkannya perasaannya, tapi Rendra malah diam saja, mungkin karena terlalu lama sendiri membuat Rendra tak peka dengan suasana.


“Rendra ada yang mau disampaikan?” ucap Mayang


Rendra menoleh ke Mayang dan menghentikan makannya. Sebelum berbicara Rendra menarik nafasnya dan menghembuskannya.


Mayang paham dengan maksud ucapan Rendra, Rendra hanya butuh waktu untuk bisa meyakinkan perasaannya terhadap Bela. Tapi ia tak yakin kalau Bela bisa menunggu Rendra lebih lama lagi.


“Ya sudah, intinya setelah ini ibu berharap kalian masih berhubungan baik, sebenarnya ibu tak mau ikut campur urusan kalian , biarlah kalian yang menjalani ibu yakin kalian tahu yang terbaik” ujar Mayang menasihati Rendra dan Bela


Kayla dari tadi hanya mendengarkan mereka mengobrol, ia juga terlihat sangat menikmati hidangan yang dimakannya.


“Iya bu, terima kasih” ucap Bela


“Lain kali, main ke Jakarta ya. Ibu menunggumu di sana, Kayla juga pasti senang kalau kamu main ke rumah kami ya kan Kayla?” ucap Mayang


“Iya nek, Kayla senang banget jika mamah Bela main ke rumah apalagi bisa tinggal bareng di sana” ucap Kayla dengan polos


“Mamah Bela kan punya rumah di sini, jadi tidak mungkin kalo tinggal bersama di rumah Kayla” ucap Bela

__ADS_1


“Oh iya ya, tapi kalo main ke rumah tidak apa-apa kan Kayla ada temannya kalo nanti mamah Bela ke rumah” ujar Kayla


“Pasti mamah Bela main ke rumah Kayla, nanti mamah Bela akan menghubungi Kayla kalo sudah mau main ke sana ya” ucap Bela


“Sepertinya sudah malam, Rendra kamu antar Bela kasihan kalo harus pulang sendirian biar ibu dan Kayla naik taksi” ucap Mayang


“Tapi bu” belum sempat Rendra meneruskan ucapannya Mayang langsung memotongnya


“Tidak apa-apa Rendra kasihan Bela, di depan juga ada taksi biar ibu naik taksi saja” ucap Mayang


“Ya sudah kalo itu mau ibu” ucap Kayla


Mereka semua keluar dari restoran, Rendra dan Bela menuju mobil mereka, sedangkan Mayang dan Kayla menaiki taksi. Di perjalanan Rendra tak berbicara begitu pun Bela, namun Bela diam-diam melirik Rendra yang fokus menyetir.


“Em pak, eh mas terima kasih ya” ucap Bela


“Terima kasih untuk apa?” tanya Rendra


“Terima kasih sudah mengajak aku makan malam” ucap Bela


“Seharusnya aku yang berterima kasih, kamu mau diajak makan malam bersama malam ini. Lupakan ucapan ibu tadi ya, ibu memang seperti itu”


“Seperti itu bagaimana?” tanya Bela


“Iya ibu selalu menyuruhku untuk mencari pasangan tapi aku belum siap untuk memulai hubungan dengan orang lain” jawab Rendra


“Apa yang membuat kamu belum siap?” tanya Bela lagi


“Aku belum bisa melupakan almarhum istriku, entah sampai kapan aku bisa melupakannya”


“Memang kenapa kamu belum bisa lupa? Apa memulai hubungan baru harus melupakan? Kalo menurutku sih tidak perlu melupakan apalagi istri kamu sudah meninggal tentu istri kamu punya tempat khusus di hati kamu, dan kamu tidak perlu melupakannya” ucap Bela

__ADS_1


Mendengar jawaban Bela, membuat Rendra melihat ke arahnya, tatapan mereka bertemu dan mereka akhirnya saling tatap. Namun Rendra kembali fokus menyetir, karena bisa membahayakan dirinya dan juga Bela.


__ADS_2