
Mita memberikan kacang yang dipegangnya pada Rio.
"Ini, ayo makan” ucap Mita
"Kenapa dikasih ke Rio kak? Kan kakak beli jadi buat kakak aja" Tanya Rio
"Kamu makanlah biar kakak ada temannya, tidak enak loh makan sendirian biar mulut kamu olahraga juga" ucap Mita diselingi tawa
Rio mengambil kacang yang diberikan Mita dan ikut memakannya.
"Kakak tahu, kamu juga jarang kan makan kacang ini" ucapnya
"Iya kak, Rio bukan hanya jarang tapi tidak pernah makan kecuali kacangnya sudah lama tidak laku jadi terpaksa Rio makan takut tidak enak kalo dijual lagi, nanti malah tidak ada yang mau beli lagi” ucap Rio
"Kamu sudah ujian? Bagaimana hasilnya?" Tanya Mita
"Kok kakak tahu sih, padahal Rio belum cerita dan bilang apa-apa, jangan-jangan kakak peramal ya"
"Iya karna kakak juga punya adik seusia kamu jadi kakak tahu, kalau kakak peramal, kakak akan meramal kamu” ucap Mita bercanda
"Oh ya, jadi kakak punya adik, panta kakak tahu, aku sudah ujian dan alhamdulillah lulus kak dan dapat nilai terbaik"
"Wah bagus dong ayah kamu pasti bangga sama kamu, apalagi kamu dapat nilai terbaik, pasti kamu pintar ya bisa dapat nilai terbaik”
"Aku belum cerita sama ayah, makanya aku mau cepat-cepat pulang untuk cerita ke ayah pasti ayah senang kalau aku dapat beasiswa"
"Beasiswa?"
"Iya, di sekolah yang mendapat nilai terbaik pasti mendapat beasiswa jadi ayah tidak perlu memikirkan biaya sekolah aku dan ayah juga tidak perlu bekerja terlalu keras karna biaya sekolah, Rio tidak tega kalau lihat ayah pulang dan capek" ucap Rio tersenyum "Kak, Rio harus pulang, tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa dong, kakak juga mau pulang, ya sudah dadah"
"Hati-hati ya kak"
Mita mengangkat jempolnya, Rio pulang dengan perasaan bahagia karna ayahnya pasti senang mendengar ini semua. Do’anya terkabul, meski Kevin sempat meledeknya tapi Rio tak pernah memasukkan ke hati, baginya mendapat beasiswa bukanlah karna kasihan tapi semua itu sudah rezeki dan keberuntungan, juga usaha.
__ADS_1
Memang benar usaha tanpa do’a sia-sia dan sombong, sedang do’a tanpa usaha adalah malas. Jika Rio tidak usaha untuk belajar ketika ujian maka ia tidak akan mendapat nilai terbaik, ia juga berdo’a agar Allah mempermudah ujiannya. Takdir memang Allah yang menentukan tapi takdir bisa dirubah dengan usaha dan do’a.
Rio sudah sampai di rumahnya.
"Sepertinya ayah belum pulang" ujar Rio yang masuk ke dalam rumahnya untuk meletakkan keranjangnya dan mandi untuk menghilangkan sedikit lelah agar tubuhnya kembali segar.
"Assalamualaikum" Surya masuk ke dalam rumahnya
"Rio" panggil Surya
"Iya yah waalaikumsalam" jawab Rio yang baru keluar dari kamar mandi
"Maaf yah Rio tidak dengar baru selesai mandi, ayah sudah pulang ya”
"Iya tidak apa-apa"
"Ada yang mau Rio sampaikan yah, kita duduk dulu" ujar Rio
"Ada apa nak?"
"Iya nak, ayo sampaikan bagaimana hasilnya?" Tanya Surya yang tampak tidak sabar mendengarkan
"Ayah jangan marah ya" Rio menunduk
"Kenapa ayah mesti marah, kalau Rio nakal dan mencuri baru ayah akan marah, ayo sampaikan hasilnya apa pun hasilnya ayah tidak akan marah dan ayah juga tidak akan kecewa karna ayah tahu Rio pasti sudah berusaha semaksimal mungkin, jadi ayah akan menerima apa pun hasilnya" ucap Surya
"Rio, Rio lulus yah" ucap Rio bersemangat
"Wah benarkah, selamat ya anak ayah lulus" ujar Surya yang juga senang mendengarnya
"Tapi" Rio menghentikan ucapannya
"Tapi kenapa?" Tanya Surya
"Tapi Rio dapat beasiswa" ucap Rio yang menunjukkan seragam dan juga surat yang menandakan dirinya mendapat beasiswa
__ADS_1
"Kamu pandai berakting ya, ayah kira kamu kenapa, jadi kamu dapat beasiswa itu, selamat ya nak ayah bangga sama kamu, usaha kamu membuahkan hasil" ucap Surya mengelus rambut Rio tak sadar Surya meneteskan air matanya
"Ayah kenapa nangis? Apa karna Rio akting tadi, maaf yah Rio tidak bermaksud buat ayah sedih” ucap Rio khawatir karna ayahnya menangis dan akan memarahi Rio
"Ayah tidak sedih karna itu, ayah terharu mendengar kamu mendapatkan beasiswa itu" ucap Surya
"Ayah senang tidak kalau Rio dapat beasiswa itu?" Tanya Rio
"Sudah pasti senang ayah senang kamu dapat beasiswa, jadi kamu harus rajin belajar ya, kalau ibu masih ada pasti ibu akan senang dan bangga sama kamu” ucap Surya mengingat Ningsih
"Iya yah, pasti Rio akan semangat belajar, dan lebih giat lagi belajarnya"
“Kamu sekolahnya di mana?” tanya Surya
“Di SMP Abadi yah, lumayan dekat jadi Rio bisa jalan kaki berangkatnya, hanya butuh waktu setengah jam atau kurang” ujar Rio
“Naik angkot saja, nanti kamu capek, memang lumayan dekat tapi kalo jalan kaki kamu nanti terlalu capek, kan jaraknya lebih jauh dari sekolah SD kamu”
“Tidak yah, kan Rio sudah biasa jalan kaki jadi ayah jangan khawatir” ujar Rio
“Tapi kalo kamu capek naik angkot ya, kalo kamu tidak ada uang minta sama ayah, kan ayah tugasnya menafkahi kamu, jadi jangan sampai nanti kamu capek lalu sakit”
“Iya pasti, Rio akan ingat pesan ayah” Rio tersenyum pada ayahnya
"Ayah masak dulu ya kamu istirahat saja"
"Rio bantu ya"
"Ya sudah ayo"
Rio dan Surya pergi ke dapur dan mereka memasak. Menikmati masa-masa bersama orang yang paling berharga dalam hidup adalah hal yang paling menyenangkan, apalagi ia selalu berada di dekat kita. Seperti yang dirasakan Rio, meski dirinya tak bisa bermain dengan teman-temannya, ia tak pernah merasa kesepian, cukup ketika sedang istirahat di sekolah saja ia bisa bermain, di taman ia bisa bermain sambil berjualan jika ada teman atau orang yang mengajaknya, seperti saat ada Kayla yang membantunya, tapi sekarang harus kembali seperti awal sebelum Rio bertemu Kayla.
Rio yakin jika suatu saat bisa bertemu dengan Kayla, ia akan mengucapkan terima kasih karna sudah memberikan oleh-oleh, entah itu kapan yang pasti Rio sangat berharap bisa bertemu dengannya. Rio senang bisa mempunyai teman seperti Kayla yang selalu berbagi, jika orang lain berpikir kalau Rio berteman dengan Kayla hanya karna dia kaya, semua itu tidaklah benar. Meski Kayla kaya, Rio tak pernah meminta uang pada Kayla. Memang usia Rio hanya belasan tahun, tapi ia bisa menentukan mana yang baik dan tidak untuknya, apalagi sampai merugikan orang lain.
Karena Rio sudah mendapatkan seragam ia tak perlu membeli lagi, hanya tinggal membeli buku-buku untuk pelajaran, karna ia sudah tak punya sisa-sisa buku tulis. Rio berniat membeli buku dengan hasil jualan tadi, uang yang diberikan Mita, ia tak perlu meminta pada ayahnya. Kalaupun nanti harus meminta pada ayahnya, hanya kebutuhan sekolah seperti buku paket dan sebagainya. Beruntung jarak dari rumah ke sekolahnya tidak terlalu jauh, jadi ia bisa berjalan kaki.
__ADS_1