Mimpi Untuk Nyata

Mimpi Untuk Nyata
13


__ADS_3

Surya mengayuh sepedanya, ia memutuskan untuk tidak bekerja karena Rio sepertinya memerlukan dia, kalau Ningsih sendirian di rumah khawatir akan kenapa-napa apalagi Rio yang tidak bisa menopang tubuhnya untuk berdiri karena demamnya.


“Bagaimana Rio yah” tanya Ningsih


“Rio tidak apa-apa hanya demam, ayah mau suapi Rio dulu, biar bisa minum obat” jawab Rendra


“Ibu bantu pak”


Surya membawa Rio ke dalam kamar dan merebahkan Rio. Surya pergi ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk Rio.


“Ayo makan dulu nak, buku mulutnya” ucap Surya


“Aaa” Ningsih yang duduk di samping Rio


Selesai makan Surya memberikan obat untuk diminumnya, setelah itu Rio tertidur Surya dan Ningsih keluar dari kamar Rio.


“Ayah tidak kerja?” tanya Ningsih


“Ayah libur dulu, aku tidak tega kalo meninggalkan Rio apalagi ibu kan juga harus istirahat”


“Ibu tidak apa-apa kok yah, kalo ayah mau kerja tidak apa-apa kok”


“Ayah istirahat dulu bu, Rio kemarin kasih uang 300.000 jadi ayah bisa istirahat hari ini”


“Uang? 300.000 yah?” Ningsih bertanya heran


“Iya kemarin itu Rio hampir tertabrak tapi untungnya orang itu langsung mengerem jadi Rio tidak apa-apa, dan orang itu kasih 300.000 tapi Rio menolak dan orang itu memaksa untuk diterima”


“Mungkin rezeki, dan sekarang Rio malah sakit”


“Tidak apa-apa bu, ini kan juga ujian dari Allah, agar kita lebih bersyukur lagi ketika masih sehat” nasehat Surya


“Iya yah”


Ningsih kembali ke kamarnya, sedangkan Surya pergi ke kebun belakang rumahnya untuk mengambil sayuran dan ubi untuk dimakan nanti siang. Rio masih tertidur pulas mungkin efek dari obat yang diminumnya, sehingga membuat Rio mengantuk.


Siang hari Surya memeriksa suhu badan Rio, panasnya sudah turun namun Rio terlihat lemas. Surya mengambilkan makanan untuk Rio. Rio memakan dan minum obat.


“Sudah istirahat lagi ya, biar cepat sembuh” ujar Surya


Rio mengangguk dan kembali merebahkan tubuhnya.


 


Kayla yang sudah pulang sekolah mengajak bi Sri ke taman, ia ingin membantu Rio sekalian Kayla ingin mengajaknya untuk makan siang. Bi Sri yang membuatkan makanan untuk dibawa Kayla ke taman. Namun sudah hampir satu jam Kayla menunggu Rio tak kunjung datang, Kayla terlihat sedih karena niatnya untuk makan bersama Rio gagal.


“Non, kita pulang saja ya sepertinya teman non tidak akan datang nanti neneknya non cari non” ajak bi Sri


“Tapi bi”


“Besok kita ke sini lagi non, hampir dua jam kita tunggu tapi tidak datang juga”


“Ya sudah”


Kayla dan bi Sri pergi dari taman dan pulang ke rumah.


“Sudah pulang sayang” sapa Rendra

__ADS_1


“Papah sudah pulang?”


“Iya, kamu dari mana?”


“Kayla sama bi Sri dari taman, niatnya Kayla mau ngajak teman Kayla makan tapi dia gak datang” ucap Kayla


“Ya sudah Kayla makan dulu ya, setelah itu Kayla ke kamar”


“Iya pah”


Kayla pergi ke ruang makan untuk makan, karena Kayla memang belum makan. Selesai makan Kayla langsung masuk ke kamarnya.


 


Rio yang sudah bisa berdiri meski badannya lemas, ia pergi ke kamar mandi.


“Mau ke mana nak” Tanya Ningsih


“Rio mau ke kamar mandi bu” jawab Rio dengan suara pelan


“Sini ibu bantu” Ningsih memegang tangan Rio agar tidak terjatuh


“Sudah bu, Rio bisa. Ibu tunggu di luar saja ya”


“Ya sudah, kalo ada apa-apa panggil ibu ya”


“Iya bu”


Rio masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Ningsih menunggu Rio di depan kamar mandi, khawatir terjadi sesuatu pada Rio karena tubuhnya belum begitu sehat dan tenaganya belum pulih.


“Kamu istirahat dulu ya” ujar Ningsih


“Rio sudah sehat kok bu, besok Rio mau sekolah ya” ucapnya


“Jangan dulu, lusa kalo kamu benar-benar sembuh baru kamu boleh sekolah nanti kamu pingsan di jalan, apalagi kamu harus jalan kaki ke sekolah.”


“Tapi bu” belum selesai Rio berbicara Ningsih langsung memotongnya


“Sudah kamu istirahat dulu, jangan mikir yang lain yang penting kamu sehat”


“Iya bu”


“Ibu keluar dulu ya, kamu tiduran saja”


“Iya bu”


Ningsih keluar dari kamar Rio dan membiarkan Rio untuk beristirahat. Keadaan Rio membaik tapi Ningsih khawatir jika ia harus pergi ke sekolah dengan berjalan kaki.


“Ibu dari mana?” tanya Surya yang baru keluar dari kamarnya


“Ibu dari kamar Rio yah, tadi Rio ke kamar mandi jadi ibu antar takut jatuh karena badannya masih lemas” jawab Ningsih


“Oh, bu sini duduk”


“Ada apa yah?”


“Bagaimana kalo ibu periksa ke rumah sakit, agar kita tahu penyakit ibu”

__ADS_1


“Memang ayah punya uang?”


“Iya, ayah ada kalau hanya sekedar untuk periksa ada”


“Terserah ayah saja, tapi kita tunggu Rio sembuh dulu ya baru kita periksa”


“Iya bu”


 


Rendra yang sedang duduk bersantai di belakang rumah ditemani dengan kopi hitam sebagai teman dan penghilang kepenatan. Rendra mengenang masa-masa indah bersama istrinya sewaktu masih hidup. Tak ada yang ingin dipisahkan, tapi ketika Tuhan lebih menyayangi orang yang kita cintai tak ada yang bisa menahannya. Perpisahan ini sangat berat bagi Rendra, meski sudah hampir 10 tahun ia berpisah dengan istrinya tapi, rasa di hatinya tak pernah berubah.


Dreeetttt dreettt


Hp Rendra bergetar, ada yang meneleponnya.


“Halo”


“Halo pak, perusahaan sedang ada sedikit masalah”


“Besok sana ke sana” Rendra mengakhiri teleponnya


“Baru saja bersantai, sudah ada masalah di perusahaan” ujarnya Rendra menghela nafasnya.


“Ada apa Rendra?” tanya sang ibu yang sedang berjalan menghampirinya


“Ada masalah di perusahaan bu” Rendra memijit pelipisnya


“Masalah apa?”


“Rendra belum tahu bu, besok Rendra harus ke Bandung untuk mengeceknya”


“Ya sudah, kamu jangan terlalu memikirkannya nanti kamu sakit, ini ibu buat camilan dimakan” menyodorkan camilan yang dibuatnya


“Terima kasih bu”


“Kayla mana?”


“Sepertinya di kamar, setelah makan langsung ke kamar tadi”


“Mungkin dia tidur”


“Iya mungkin”


Rendra dan ibunya berbicara dan menanyakan tentang perkembangan perusahaan yang dikelolanya di beberapa kota.


“Rendra ke kamar dulu ya bu”


“Iya, kamu istirahat jangan terlalu banyak pikiran” nasehat ibunya


“Iya bu, Rendra mau mandi biar badan segar dan kepala juga dingin” ucapnya


Rendra meninggalkan ibunya yang masih duduk di halaman belakang rumah.


“Kamu pasti bangga mas, Rendra sudah berhasil mengembangkan perusahaan bahkan sudah memiliki cabang di beberapa kota” ucapnya sendu


Ayah Rendra meninggal ketika Rendra masih SMA karena kecelakaan. Rendra harus belajar mengurus perusahaan sejak di bangku SMA, ibunya yang mengajari agar nanti Rendra yang meneruskan ketika dirinya sudah tua.

__ADS_1


__ADS_2