Mimpi Untuk Nyata

Mimpi Untuk Nyata
34


__ADS_3

Rendra, Kayla dan Mayang sudah bersiap, mereka akan pulang sore ini. Perjalanan pada dan macet karena memang sudah jam pulang kantor, jadi mereka memakan waktu cukup lama di perjalanan.


Setelah sampai di rumah Rendra membawa Kayla masuk ke kamarnya untuk beristirahat, sedangkan Mayang membawa barang-barang miliknya. Rendra keluar dari kamar Kayla dan masuk ke kamarnya, ia membersihkan dirinya agar lebih segar sebelum nanti makan malam.


Sri menyiapkan makan malam di meja makan, Mayang yang selesai lebih dulu menunggu Kayla dan juga Rendra di meja makan.


“Kayla mana? Apa belum selesai mandinya?” tanya Mayang


“Sepertinya belum mah, mungkin masih pakai baju” jawab Rendra7


“Kita tunggu Kayla dulu” ujar Mayang


Rendra mengangguk, mereka menunggu Kayla, namun sudah lima menit lebih Kayla tidak muncul juga. Rendra merasa khawatir, takutnya Kayla terjadi apa-apa di kamarnya. Rendra menghampiri Kayla di kamarnya.


Tok tok tok


“Kayla, ayo makan. Nenek sudah menunggu” ucap Rendra


Beberapa kali mengetuk pintu tak ada jawaban, Rendra langsung membuka kamar Kayla.


Ceklek


Pintu terbuka dan Rendra langsung masuk menghampiri Kayla. Ternyata Kayla sudah tertidur, mungkin ia capek, setelah tidur langsung tidur tak sempat makan malam. Rendra membiarkan Kayla tidur, ia tak mau membangunkan Kayla karena kasihan, Rendra keluar dari kamar Kayla dan menutupnya kembali.


“Mana Kayla? Kok tidak ikut turun?” Tanya Mayang

__ADS_1


“Kayla sudah tidur bu, mungkin dia capek saya biarkan saja. Nanti biar bi Sri antar makanan takutnya nanti lapar biar tidak perlu keluar kamar” ucap Rendra


“Ya sudah kita makan saja” ajak Mayang


“Iya bu” jawab Rendra


Setelah selesai, Rendra pergi ke dapur untuk meminta bi Sri membawakan makan malam ke kamar Kayla, takutnya nanti tengah malam Kayla terbangun dan lapar.


“Bi, tolong bawakan makan malam ke kamar Kayla, tidak perlu membangunkan taruh saja di mejanya. Oh iya langsung masuk saja karena Kayla sudah tidur” ucap Rendra


“Baik tuan” jawab Sri


 


Rio yang sedang bersiap untuk pergi ke sekolah, memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Hari ini ajaran baru, Rio sudah kelas 6, ia harus rajin belajar karena di kelas 6 akan banyak sekali latihan soal untuk ujian kelulusan nanti.


Rio jarang berjualan saat istirahat, kecuali memang ada yang datang dan membeli jualannya, saat jam istirahat Rio hanya menunggu bel masuk tiba, kadang-kadang ia ke kantin dan belajar. Memang Rio tidak berniat berjualan di sekolah, tapi kalau ada yang membeli Rio tak bisa menolak. Makanya Rio jarang berjualan di sekolah, sesekali ia berkeliling di sekolah untuk menjual dagangannya, tapi sepertinya mereka tidak terlalu butuh kecuali tisu yang kadang mereka butuh kan.


Hari pertama di kelas enam, Rio bersemangat meski ia tak memakai seragam baru, tas baru dan juga sepatu baru, semua itu tak membuat semangatnya menurun. Rio tak mau memusingkan tentang barang-barang baru yang akan ia kenakan. Untuk makan saja pas-pasan apalagi membeli baju baru tentu Rio tidak mampu.


Seragam Rio masih bagus, jadi untuk apa membelinya hanya akan membuang-buang uang, pikir Rio begitu. Toh ia ke sekolah bukan untuk hal-hal yang aneh, ia hanya ingin belajar agar cita-citanya kelak tercapai dan bisa membuat ayah dan ibunya bangga. Meski ibunya telah tiada, ia berharap ibunya nanti bisa melihat kalau dirinya sudah sukses.


Sesampainya di sekolah, Rio memilih bangku paling depan untuk duduk. Kalau biasanya anak-anak enggan duduk di depan, Rio ingin duduk di depan agar ia bisa mendengar penjelasan guru lebih jelas dan bisa lebih fokus lagi dalam belajar.


Bel masuk sudah berbunyi, para guru memasuki kelasnya masing-masing untuk mengajar, siswa-siswa pun langsung masuk ke dalam kelasnya untuk memulai pelajaran.

__ADS_1


“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” ucap guru yang baru masuk ke dalam kelas Rio


“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh” jawab semua murid bersamaan


“Bagaimana kabarnya anak-anak? Sehat semua?” tanyanya


“Sehat bu”


“Bagus, karena ini adalah tahun ajaran baru dan kalian sudah kelas 6 dan sebentar lagi akan lulus, jadi ibu berharap kalian tetap semangat belajarnya karena kalian akan menghadapi ujian kelulusan jangan terlalu banyak main Games, ingat bahwa proses yang kalian jalani akan menentukan hasilnya jadi lalui proses itu, paham semua?”


“Paham bu”


“Kalau begitu, ibu akan menjelaskan materi hari ini, kalian dengarkan baik-baik jangan ada yang mengobrol dengan temannya, agar ketika saya memberi soal kalian bisa mengerjakan dan tidak menyontek”


Semua murid mendengar penjelasan guru yang ada di depan.


Setelah satu jam lebih menyampaikan materi, bel istirahat pun sudah berbunyi. Ia mengakhiri materi dan menyuruh murid untuk keluar kelas dan istirahat. Kecuali Rio, ia masih duduk di kursinya dan tidak keluar dari kelas.


Menunggu setengah jam istirahat, bel masuk kembali berbunyi yang tandanya jam istirahat sudah selesai, semua murid kembali ke kelasnya masing-masing. Rio yang sedang membaca buku, menghentikan dan mendengarkan guru untuk jam pelajaran selanjutnya.


Tiba waktunya jam pulang sekolah, orang tua yang menjemput sudah menunggu di depan gerbang. Rio hanya melihat pemandangan itu, ia bisa saja meminta jemput kepada ayahnya, tapi Rio sadar ayahnya juga sibuk dan pasti lelah kalau harus menjemputnya. Ia tak merasa iri melihat teman-temannya dijemput dengan mobil atau motor, ia terkadang ingin orang tuanya menjemput tapi Rio juga harus paham dengan keadaannya.


Rio berjalan menyusuri jalanan yang ramai, ia terus berjalan menuju taman untuk berjualan. Rio sudah memberikan uang yang kemarin ia dapat dari Mita kepada ayahnya, ayahnya menyimpan uang itu sebagai simpanan. Takutnya nanti ada keperluan yang tak di duga-duga, karena itu kita harus pandai mengatur uang, meski hanya sedikit siapa tahu nanti membutuhkan.


Surya sengaja menyimpan uang, ia tak mau terlalu boros apalagi Rio nantinya akan bersekolah tentu ia butuh uang untuk biaya sekolah Rio.  Meski pun ia berharap Rio bisa mendapat beasiswa agar bisa mengurangi pengeluarannya. Surya makan seadanya asal itu bisa membuat dirinya dan juga Rio kenyang itu sudah cukup. Jika nanti uang yang disimpannya memang sudah cukup ia pasti akan membelikan Rio makanan yang enak, jarang Surya makan makanan enak, karena Rio pun juga paham tentang itu. Kalau ayahnya harus menyisikan uang untuk keperluan nantinya.

__ADS_1


Seperti saat Ningsih meninggal, meski ia dapat santunan dari tetangga biaya rumah sakit juga harus Surya yang menanggung, karena orang yang menabraknya sudah kabur dan tidak bertanggung jawab. Untung Surya masih punya simpanan, dengan digabung uang santunan dari tetangga, cukup untuk membayar biaya rumah sakit.


__ADS_2