Mimpi Untuk Nyata

Mimpi Untuk Nyata
29


__ADS_3

“Rio, ayo makan nak” panggil Surya


“Iya ayah” jawab Rio


Rio keluar dari kamarnya dan duduk di dekat ayahnya.


“Ibu ke mana yah?” tanya Rio


“Ibu lagi buat gorengan, coba kamu lihat apa masih lama” ujar Surya


Rio berdiri dari duduknya dan pergi ke dapur untuk melihat ibunya, apakah sudah selesai atau belum.


“Belum selesai bu?” tanya Rio


“Ini sudah selesai, tinggal beresin ini saja, ayo kita makan ayah pasti menunggu ya” ujar Ningsih


“Iya ayah ada di depan” ucap Rio


Ningsih dan Rio keluar dari dapur dan menikmati makanannya.


Rio dan Surya sudah berangkat, di rumah hanya Ningsih sendirian. Ia membereskan semua alat-alat yang digunakan untuk memasak tadi.


Ningsih sudah berada di depan rumahnya, dari tadi belum ada yang membeli gorengannya, mungkin orang-orang belum tahu kalau ia berjualan kembali. Ningsih berniat untuk berkeliling di sekitar rumahnya karena sepi. Surya tidak akan marah, karena ia berjualan yang dekat-dekat saja.


Benar saja baru berjalan sebentar sudah ada yang membeli gorengannya. Ningsih semakin semangat, ia tak sadar kalau sudah keluar dari gang rumahnya dan berjualan di jalan raya.


“Bu beli gorengannya” ucap tukang ojek yang ada di seberang jalan


“Iya pak tunggu saya ke situ” ucap Ningsih


Ningsih yang langsung menyeberang, ia tidak melihat kalau ada mobil yang melaju kencang.


Tiiit tiiit tiiiit


Naasnya Ningsih tak bisa menghindar dari mobil itu, tubuh Ningsih terpental karena mobil melaju sangat kencang. Bukannya membantu Ningsih pengendara mobil itu malah kabur.

__ADS_1


“Woy jangan lari kamu” ucap warga yang langsung menghampiri Ningsih


Ningsih di bawa ambulans dan polisi masih menyelidiki siapa yang menabrak Ningsih.


Warga di sana mengenal Ningsih, ia segera memberi tahu suaminya untuk segera menyusul Ningsih yang sudah dibawa ambulans ke rumah sakit.


“Pak Surya, pak Surya” panggil seorang dengan nafas yang tidak teratur orang itu  yang tadi ada di lokasi kecelakaan


“Ada apa ya pak, kok tumben bapak ke sini” jawab Surya


“Itu, istri bapak “ ia menghirup nafas dulu karena sudah berlari dan membuat nafasnya terengah-engah


“Kenapa istri saya pak” Surya yang tidak sabar menunggu jawaban darinya


“Istri bapak kecelakaan, sekarang dibawa ke rumah sakit”


“Astagfirullah, kok bisa pak” Surya yang panik langsung mengayuh sepedanya “Bapak ikut dengan saya ya, nanti jelaskan di jalan” imbuh Surya


“Iya pak Surya, ayo cepat pak”


Surya mengayuh sepedanya dengan cepat, lelah yang dirasakan sudah tidak terasa. Ia ingin segera melihat istrinya dan ingin tahu keadaannya.


“Iya pak, bapak yang sabar ya” ucapnya menenangkan Surya yang terlihat sangat cemas


Sesampainya di rumah sakit Surya langsung bertanya pada suster yang ada di sana.


“Permisi sus, tadi ada pasien kecelakaan atas nama Ningsih?” tanya Surya


“Apa bapak suaminya?” tanya suster itu


“Iya saya suaminya di mana istri saya suster?”


“Mari saya antar pak” Suster itu membawa Surya ke ruangan di mana Ningsih sedang ditangani dokter


“Ini ruangannya pak, dokter sedang menangani istri bapak di dalam. Silakan bapak tunggu di luar” ucap suster

__ADS_1


“Terima kasih sus”


Setelah hampir setengah jam Surya menunggu dokter keluar.


“Bagaimana keadaan istri saya dok?” tanya Surya yang sudah tak sabar mengetahui kondisi istrinya


“Sabar pak Surya, kita dengarkan dokter dulu” ucap pak Anton yang dari tadi menemani Surya


Anton adalah tetangga Surya, ia kebetulan lewat di sana dan melihat kalau yang kecelakaan adalah Ningsih, istri Surya sekaligus tetangganya. Ia langsung menyusul Surya di tempat biasa ia mangkal.


“Iya pak, saya hanya takut dia kenapa-napa” jawab Surya yang sudah sedikit tenang


“Sebelumnya saya mohon maaf pak, saya tidak bisa menyelamatkan istri bapak” ucap dokter “Terjadi benturan yang cukup keras di kepalanya  dan juga tangannya yang terpental membuat patah dan kami tidak bisa menolong istri bapak, karena darahnya sudah masuk ke otaknya” sambungnya


“Jadi istri saya” belum sempat Surya melanjutkan kata-katanya ia menjatuhkan tubuhnya dilantai dengan sigap Anton menangkap dan mencoba menenangkan Surya


“Yang sabar pak, semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, bapak harus ikhlas mungkin ini yang terbaik” ucap Anton


“Saya ingin melihat istri saya dok” Ucap Surya berdiri


“Silakan pak”


Surya dan juga Anton masuk ke dalam, Surya yang melihat istrinya terbaring tidak bergerak sama sekali langsung menangis.


“Ibu, kenapa ibu harus pergi. Aku hanya berdua dengan Rio, Rio masih butuh ibu” ucap Surya menangis sejadi-jadinya


“Sabar pak, bapak harus kuat Rio pasti akan merasa sangat sedih kalau bapak seperti ini. Siapa yang menguatkan Rio nanti” Anton mengelus pundak Surya


“Saya tidak menyangka pak, kalau istri saya harus pergi secepat ini. Padahal sudah melarangnya untuk jualan apalagi sampai keliling, tapi dia malah nekat. Seandainya saya melarang untuk berjualan pasti semua ini tidak akan terjadi pak” Ucap Surya menyesal mengapa ia mengizinkan istrinya untuk berjualan


“Semua sudah kehendak Tuhan pak, kita tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Sebagai ciptaan-Nya kita hanya bisa berusaha dan juga berdo’a, Tuhan lebih sayang dengan istri bapak, pasti istri bapak sudah tenang dan tidak tersiksa dengan penyakitnya lagi” ujar Anton


Surya berusaha tegar, pasti Rio sudah menunggu di rumah. Betapa kagetnya ia, bahwa ibunya sudah tiada, Surya harus bisa kuat agar Rio tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Mau bagaimana pun hidupnya dan Rio harus tetap berlanjut meski Ningsih sudah tidak ada.


Ningsih pasti sudah di tempat yang indah, ia tidak perlu mengeluh karena kadang sakit di dadanya, ia juga tidak perlu susah payah untuk memikirkan hidupnya lagi yang terlalu banyak merepotkan Surya dan Rio. Biar lah semua berjalan dengan rencana-Nya, pasti ada hal indah yang menanti Rio dan Surya nantinya. Surya harus semangat menjalani hidup untuk Rio, kini harapannya hanya Rio.

__ADS_1


Surya membawa becaknya sedangkan Anton ikut ambulans yang mengantar Ningsih ke rumahnya. Sepertinya Rio belum mengetahui jika ibunya kecelakaan, jika ia tahu pasti ia akan langsung menyusul ke rumah sakit. Di perjalanan tatapan Surya kosong, ia ingin segera sampai di rumahnya dan memakamkan istrinya dengan layak. Ia mengayuh sepedanya, lelahnya tak seberapa dengan kesedihan yang sedang ia rasakan. Surya ingin berteriak, tapi pasti semua orang akan menganggapnya gila.


Tidak ada yang siap kehilangan orang yang dicintainya, apalagi kehilangan untuk selama-lamanya. Perpisahan yang sudah ditakdirkan oleh sang Kuasa tetap harus diterima, sekuat apa pun kita melawan takdir jika kehendak-Nya sudah tidak ditakdirkan bersama akan tetap kehilangan.


__ADS_2