
Butuh waktu seminggu untukku terbiasa memanggil nama teman sebangku ku ini. Setiap kali ingin memanggilnya, entah kenapa ada rasa enggan yang tidak akan bisa ku jelaskan pada siapapun. Aku punya privasi tertentu tentang hal ini. Jadilah setiap kali ingin memanggilnya, yang keluar dari mulutku hanya kata 'eh' atau 'hei'.
Sial.
Seperti kali ini, baru saja aku akan memanggil namanya dengan santai, keadaan pagi dirumah yang penuh drama membuatku enggan untuk memanggilnya. Padahal aku tahu, kami sama-sama terlambat. Kebetulan aku tahu jalan masuk lain yang coba ku telusuri setelah abang ku dengan baik hati mengajak ku dan dua temanku melintasi gang di balik area sekolahku.
Di gedung belakang bangunan sekolah, terdapat rumah tua dengan garasinya yang terhubung dengan pintu pagar dibelakang ruang osis. Dari belakang ruang osis langsung tembus dihalaman lorong ruang kelas ku. Itulah jalan yang digunakan abang ku pada hari pertamaku, Jalan yang digunakan abang Aray untuk tiba-tiba terlihat mengobrol santai dengan bu Hera pada hari itu. Misteri yang akhirnya terpecahkan dengan kemunculannya yang mendadak setelah memberiku jalan masuk yang lebih jauh lagi. Memang menyebalkan tu abang satu.
Sial. Saat ini, bukan saatnya mengungkit kekesalanku pada Aray. Aku harus masuk ke dalam sekolah sebelum ketahuan terlambat di kelas. Dan itupun, aku harus mengajaknya. Teman sebangku ku. Semenjak dia menyebutkan namanya, susah untukku mengabaikannya. Ada sesuatu dari namanya yang tidak bisa aku bantah.
"Pssst!!" desis ku dengan suara yang cukup keras.
Harusnya suara itu didengarkan olehnya. Susah memang menjangkau pendengaran dengan jarak sejauh ini, dengan keadaan yang cukup ramai pula. Tanpa ragu aku keluar dari balik tembok, segera menarik tangannya yang berjalan dengan sedikit yakin mendekat ke arah jalanan ini. Aku ragu dia mengetahui jalan pintas itu sebelumnya. Karena ketika aku menarik tangannya, dia hanya diam dan mengikuti langkahku. Bahkan sampai terasa dia menghafal jalan yang kami lalui dengan baik.
Sampai pada saat membuka pagar dibalik garasi rumah tua itu, aku benar-benar menyadari kalau dia memang mengetahui jalanan ini. Sial sekali lagi. Aku malah bersimpati padanya dengan bermaksud membantunya. Tetapi langkahnya malah lebih baik lagi dalam melewati semak belukar dihadapannya.
Aku terus bergumam jengkel karena berpikir telah menolongnya. Tetapi kenyataannya, dia mungkin bermaksud masuk kedalam sekolah melalui jalan yang kami lalui sekarang ini. Aku menghentikan langkah begitu dia tiba-tiba berhenti dengan memegang erat tali tas yang digunakannya. Lama berdiri mematung, aku menyamai posisi kami dan membuat tempat yang harusnya hanya bisa dilewati setidaknya satu setengah dari tubuh kami itu, tiba-tiba roboh.
Pagar besi yang menyangga semua semak belukar dari jalanan itu rubuh dan menimpa kami. Alih-alih berteriak takut ataupun kaget, dia malah ikut menahan potongan besi yang sudah berhasil ku pegangi. Dari dekat, dapat ku lihat dia benar-benar memiliki kesiapan dengan sesuatu yang diluar perkiraannya. Yang tiba-tiba membuatku yang awalnya penasaran, membuatku memiliki nilai tersendiri untukku.
Penyangga besi yang kami tahan, semakin lama semakin terasa berat. Sepertinya ini akibat terlepasnya semua pegangan pada penyangga didepan kami. Semakin berat dan membuatku mau tidak mau, mengambil bagian untuk menukar posisi ku dengannya. Dia memegang bagian dalam yang paling berat pastinya dengan keadaan yang tiba-tiba ini. Awalnya berniat merubah posisi, tetapi pada akhirnya posisi kami menjadi sangat dekat saat ini. Aku bahkan bisa merasakan nafasnya. Sial..
Penyangga ini kembali jatuh dengan suara yang tidak biasa. Dia sedikit meringis ketika penyangga itu tiba-tiba bergejolak dan bertambah berat saja.
"Ami! Lo nggak apa-apa, kan!?"
Matanya menyiratkan ketakutan dan rasa sakit. Tetapi bertindak dengan kuat dan berani untuk menopang penyangga besi ini bersamaku. Padahal harusnya dia mempercayakan masalah perlindungan ini pada laki-laki. Dalam hal ini, maksudnya adalah dia harusnya percaya pada kekuatanku untuk bisa menahan penyangga besi yang rubuh ini. Bodoh amat. Ternyata semakin ditahan, semakin berat saja penyangga yang telah ditumbuhi semak belukar ini.
"Ada pak Hendra dan ketua osis didepan!" ucapnya perlahan.
__ADS_1
Ketua Osis? Aray maksudnya??!! Aku tidak pikir panjang lagi. Sebelum penyangga ini benar-benar roboh menimpa kami, aku lebih baik mengandalkan Aray daripada tidak sama sekali.
"Badai!" teriakku.
Untuk pertama kalinya aku melihatnya mendelik dengan kekagetan dan ketakutan yang luar biasa. Dari yang samar-samar ku dengar, sebuah langkah kaki mendekat dengan nada suara yang sedikit ngebass.
Sial.
Dia sudah mengatakan kalau ada guru juga. Kenapa aku malah fokus mendengar panggilan ketua osis saja. Dia segera memintaku berjalan kembali secara perlahan ke arah belakang. Dengan kami tetap menopang penyangga dan pelan-pelan membiarkan ujung penyangga itu jatuh kebagian bawahnya.
Belum benar-benar kami berbalik, aku mendengar sebuah suara yang familiar. Itu suara Aray, kakakku.
"Ngapain lo, Rei?!" sapanya terdengar begitu santai.
"Hey, bang! Kami lagi main petak umpet." aku terkekeh.
Tangan lain terlihat membantu menyangga jatuhnya penyangga besi yang kami tahan. Aku berbalik kaku dan mendapati Aray nampak mengerutkan keningnya dengan keberadaan kami yang ingin berbalik pergi. Melihat Amy yang sebegitu tegangnya dengan keberadaan Aray dibelakangnya, membuatku harus berpikir mencari cara yang lain untuk bisa masuk ke dalam sekolah.
"Gimana caranya bang?!" aku hopelles. Secara kedua tanganku masih harus menopang penyangga besi yang rubuh ini.
"Trus lo berdua sekarang mau ngapain emangnya?"
"Mau balik!"
"Kamu keluar duluan!" kata Aray untuk dia yang berwajah tegang dan kesakitan. Aku mengisyaratkan Amy untuk berjalan keluar terlebih dahulu.
"Ami, lo keluar dulu!" pekikku yang merasa kalau penyangga besi ini audah tidak bisa ditahan lagi. Ami segera melepas pegangan tangannya, berjalan melewati ku seraya merunduk lalu berjalan agak menjauh dari perkiraan penyangga ini akan ku jatuhkan bersama Aray.
"Pada hitungan ketiga, lempar ke kirimu!" perintah Aray.
__ADS_1
Aku mengangguk setuju. Hitungan ketiga, suara geruduk mengagetkan beberapa kelas dibaliknya. Membuat beberapa siswa pada satu dua kelas, keluar untuk mencari tahu suara apa yang mereka dengar. Beberapa guru dari kelas yang dekat dengan lokasi pun datang untuk melihat kegaduhan yang terjadi.
Sementara, aku sudah menarik Ami untuk bersembunyi ke balik bangunan rumah tua tersebut. Tidak tahu, apa yang terjadi dengan Aray dan kehebohan yang ada dibalik tindakanku dan Aray. Yang aku percaya dari Aray adalah saat dia meminta untukku melakukan sesuatu, dia memastikan keselamatan untuk semua termasuk dirinya sendiri.
"Kita kebelakang." ajakku sembari menepuk bahu Ami. Teman sebangku yang ketika pertama kali aku bisa menyebut namanya, kecelakaan hampir membuat kami terluka parah.
"Ketus Osis bagaimana?" dia berdiri dengan kaku ditempatnya. Dengan memeluk erat tasnya, wajahnya masih menampilkan ekspresi yang sama. Tegang dan ketakutan. Kalau melihatnya sekarang, aku jadi bertanya-tanya, dimana dia mendapat keberanian dan kekuatan untuk menopang penyangga yang rubuh tadi?
"Dia selamat!" jawabku sekenannya. "Dia sudah menunggu dipagar belakang. Ayo!"
Aku menarik tangannya dengan santai. Mengabaikan kekhawatiran berlebih yang ditunjukannya.
"Darimana lo tau jalan tadi?" tanyaku basa basi. "Biasa lewat sana ya?!"
"Ya?"
Ku hentikan langkah mendengar jawabannya. Aku yakin ekspresinya saat ini menunjukan hal yang sama seperti biasanya. Dia bukannya tidak bisa mendengar, bukan?!
"Lo nggak tuli, kan?!"
Dia menggeleng sembari tertunduk.
Aku menatapnya. Meyakini kalau dia akan benar-benar menjawab ku dengan benar kali ini.
"Lo tau jalan itu sejak kapan? Sering lewat sana?!"
"Ya?"
Ekspresi yang sama. Heran, kebingungan dan penuh tanda tanya. Kenapa rasanya dia seperti mempermainkan ku dengan respon yang diberikannya. Tetapi dia seakan tidak menyadari apa yang baru saja ditanggapinya.
__ADS_1
Sial!
......***......