Mirror!

Mirror!
Amyra : Bukannya itu dia?


__ADS_3

Untuk kedua kalinya aku terlambat ke sekolah karena melewati malam yang sama. Aku sedang memandangi gerbang sekolah yang sudah tertutup dengan rapat dan di balik pos jaga, satpam sekolah tengah asyik mengobrol via vidio call yang mungkin itu dengan sanak keluarganya. Setahu ku, pak Darmo selalu siaga 24 jam disekolah. Baik pagi, siang, ataupun malam hari. Beliau memang berganti tugas dengan satpam yang disiang hari, tetapi aku menyadari setiap harinya pak Darmo selalu berada dilingkungan sekolah termasuk malam hari.


Untuk hal ini, akan ku ceritakan nanti kenapa aku mengenal pak Darmo dan tahu kebiasaanya beliau. Saat ini, aku harus berpikir mencari jalan masuk lain menuju sekolah. Aku sedang tidak ingin pulang kerumah ataupun memiliki tujuan lain saat ini. Setidaknya berada didalam kelas bersama dua orang yang menyebutku sebagai temannya, jauh lebih baik daripada tidak mempunyai tempat tujuan sama sekali.


Aku melanjutkan langkahku ke arah samping area sekolah. Mengingat jalan yang pernah ku lalui ketika dibantu Reihan teman sebangku ku untuk melewati jalan pintas dihari kedua ku di SMA Kenanga ini.


Baru mendekati areal luar gedung sekolah, sebuah tangan menarikku dan menuntun langkahku untuk mengikutinya seperti hal pertama kali yang dilakukannya. Baru saja aku mengingatnya, kejadian yang sama terulang kedua kalinya dengan kejadian dan orang yang sama.


Aku mengikutinya dengan langkah yang sama lebarnya seperti langkahnya kini. Pada ujung perjalanan, kami berhenti di sebuah rumah tua. Yang dimana dibagian belakang garasi rumah itu, terdapat jalan masuk yang terhubung dengan halaman belakang gedung kelas sepuluh.


Begitu dia akan memintaku memasuki jalan itu, aku mendahuluinya. Melangkah dengan perlahan, aku mendapati pemandangan yang membuatku langsung berhenti melangkah. Sembari membungkuk, aku hendak mundur selangkah untuk menghalangi pandangan dari sosok ketua Osis yang ku kenali dari jas yang digunakan olehnya.


Gawat!


Belum selesai rasa takutku melihat sesosok guru dan ketua Osis berdiri kurang dari 2 meter dihadapan ku, suara roboh terdengar jelas olehku. Penyangga diatas kepala ku yang ditumbuhi banyak dedaunan merambat, roboh seketika begitu aku menyadari Reihan tengah berdiri disamping ku. Merasakan kejanggalan, dia sedikit melangkah mundur dan langsung menahan penyangga yang hampir saja mengubur kami berdua hidup-hidup.


Tanpa ragu dan sigap, tanganku reflek untuk ikut menahan penyangga yang berada diatas kepalaku bersama dengan Reihan.


"Ada pak Hendra dan ketua osis didepan!" ucapku pelan agar tidak terdengar karena jarak dengar yang ada, memungkinkan suaraku terdengar dengan jelas oleh dua sosok yang menghentikan langkahku tepat 2 meter dari jalanan yang sudah roboh ini.


Melihat ekspresinya yang mengerutkan kening, aku kira dia akan paham untuk tidak membuat kami ketahuan. Tetapi dia malah berteriak dengan suara lantang.


"Badai!" teriaknya.


Aku sudah tidak mampu menahan perasaan tegang yang menjalar di sekucur tubuhku. Bukankah percuma melewati jalan pintas kalau pada akhirnya ketahuan oleh Ketua Osis sekolah. Aku yang tegang semakin merasa kesakitan pada kedua bahuku. Aku sempat lupa telah mendapatkan beberapa pukulan pada lenganku kemarin malam. Sekarang, kedua tanganku sudah ikut menopang penyangga besi lengkap dengan semua tanaman merambat diatasnya yang membuat lenganku terasa ngilu. Dan memar pada luka pukulan itu menyisakan perih ketika keringat mengalir melewati luka itu. Adakah yang lebih buruk lagi dari semua hal ini?!


Begitu kembali terfokus pada keadaan yang sekarang, aku mendapati jarak antara aku dan Reihan cukup dekat. Rasanya menegangkan. Terlebih ketika Reihan memintaku berjalan kembali secara perlahan ke arah belakang untuk kami kembali ke jalan awal, tiba-tiba penopang diatas kami terasa semakin berat saja.

__ADS_1


Reihan belum benar-benar membalikkan badannya, aku mendengar sebuah suara yang familiar. Suara yang sama seperti suara Reihan yang masih sama-sama menopang penyangga besi ini bersamaku.


"Ngapain lo, Rei?!"


Terdengar sebuah suara yang mirip dengan suara Reihan yang kembali membalikkan badannya dengan susah payah untuk menyahut pemilik suara dibelakangku.


"Hey, bang! Kami lagi main petak umpet." jawabnya terkekeh. Oh God! Main petak umpet dari mana??!! Aku menenangkan hati dan pikiranku dengan keadaan yang mengapit ku. Ditambah dengan rasa sakit yang mulai terasa ketika kembali tekanan penyangga yang roboh ini, jatuh pada kedua pegangan tanganku.


Aku meringis sejenak. Perih, sakit, dan tanganku sudah mulai lemas.


"Keluar dari sini!" ucap suara dibelakang telingaku. "Gue akan buka gerbang di barat!"


"Gimana caranya bang?!" Reihan nampak menatap dengan getir. Secara kedua tangannya masih harus menopang penyangga besi yang rubuh ini bersamaku.


"Trus lo berdua sekarang mau ngapain emangnya?"


"Mau balik!"


"Ami, lo keluar dulu!"


Aku segera melepas pegangan tanganku. Berjalan melewati Reihan seraya merunduk lalu berdiei agak menjauh dari perkiraan penyangga ini akan dibiarkan roboh.


Kurang dari lima menit, penyangga besi itu ambruk kebagian kiri yang mengarah ke tempat aku berdiri. Suara geruduk yang keras, mengagetkan beberapa kelas didalam sekolah. Membuat beberapa siswa pada kelas yang dekat dengan gedung itu, keluar berhamburan untuk mencari tahu suara apa yang mereka dengar. Beberapa guru dari kelas yang dekat dengan lokasi pun datang untuk melihat kegaduhan yang terjadi.


Tetapi aku yang sedikit terkejut dan reflek langsung menjauhi reruntuhan itu, namun tetap mencari dua sosok yang barusan menyangganya bersamaku. Kekhawatiran akan cidera yang mungkin dialami oleh Reihan dan sosok dibalik punggungku itu menjadi hal pertama yang kupikirkan. Aku takut, sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Kalau bukan karena kamu, aku tidak akan dipukuli oleh ayah!! Kamu pembawa sial!!" teriakan seorang bocah dengan rambut plostonya kembali melintas di benakku.

__ADS_1


Aku segera mengenyahkan pikiran itu dalam benakku ketika aku melihat Reihan menarik tanganku untuk bersembunyi di balik bangunan utama rumah tua itu.


"Kita kebelakang." ajaknya sembari menepuk bahuku. Seakan mengetahui kalau semua baik-baik saja, dia kembali menarik tanganku dengan santainya.


"Ketus Osis bagaimana?"


Dengan memeluk erat tas yang ku bawa, aku berusaha melihat kearah reruntuhan penyangga itu.


"Dia selamat!" jawab Reihan yang terkesan sekenannya. "Dia sudah menunggu dipagar belakang. Ayo!"


Reihan menarik tanganku kembali dengan santai. Mengabaikan kekhawatiran berlebih yang ku tunjukan untuknya dan keadaan yang terjadi. Bagiamana mungkin dia bisa percaya seperti itu pada ketua Osis? Kenapa dia bisa tahu ketua Osis tidak mengalami cidera apapun??! Bukankah posisi ketua Osis tadi cukup berada ditengah-tengah penyangga itu?! Bergutat dengan semua kemungkinan tentang keadaan ketua Osis yang belum aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, aku tiba-tiba menyadari kalau Reihan tengah menanyakan sesuatu yang tengah aku lewatkan pertanyaannya.


"Ya?"


Reihan hentikan langkahnya mendengar jawabanku. Dia menatapku dengan rasa geram yang tidak bisa aku jelaskan. Yang pasti, dia nampak kesal.


"Lo nggak tuli, kan?!"


Aku menggeleng sembari tertunduk. Apa yang sebenarnya telah aku lewatkan dari pertanyaannya?? Ya Tuhan, boleh minta dia mengulangi pertanyaannya padaku??


"Lo tau jalan itu sejak kapan? Sering lewat sana?!"


"Ya?"


Mendengar dia menanyakan hal seaneh itu, aku hanya bisa menatapnya dengan kebingungan dan penuh tanda tanya. Bukannya dia yang mengenalkan ku pada jalan pintas itu dihari kedua ketika aku dan dia sama-sama terlambat? Kenapa dia bertanya aku tahu jalan itu sejak kapan?? Apa dia lupa pernah menolongku dengan mengajakku masuk ke dalam sekolah dengan melewati jalanan itu sebelumnya???


"Aaakh!! Sudahlah!" geramnya mengacak-acak rambutnya. "Bingung gue sama lo! Ayo!!"

__ADS_1


Melihat ekspresinya, sepertinya aku harus mengkonfirmasikan jawabanku dengan baik padanya. Mungkin dia telah lupa pernah menolongku pada hari kedua tahun ajaran ini.


...***...


__ADS_2