
Melihat jam menunjukan pukul 9 malam membuatku cukup santai. Namun tidak begitu ketika melihat kegusaran di wajah Amy. Rahma baru saja menghubungi keluarganya, lalu berbalik kembali menghampiriku, Amy, dan teman-teman.
"Antar aku setelah Amy boleh?" kata Rahma.
"Bukannya rumah lo dekat sekolah!" protes Ditya.
"Iya, kenapa harus yang paling jauh dulu?!" Raka mengambil posisi untuk segera masuk ke belakang kemudi mobilnya. Ditya mengerutkan dahinya, dan dengan segera aku menyikut Raka.
"Antar dia duluan!" ujar ku menuding pada sosok Amy yang berada diantara aku dan Rahma.
"Kita antar dia pulang duluan aja!" ujar Rahma berbarengan dengan tudingan dan kata-kata ku juga.
Raka menatap ku dan Rahma dengan seksama untuk sesaat di saat kami saling pandang. Sementara Amy tertunduk dalam diam yang cukup lama. Diam yang tidak bisa ku tebak apakah dia merasa takut, gelisah, atau khawatir. Atau bahkan mungkin dia merasakan semuanya. Bahkan termasuk memikirkan keadaan kami juga yang pergi bersama-sama.
"Antar yang searah duluan aja, biar nanti nggak dua kali jalan." jawaban Amy itu membuat suara ku dan Rahma terkalahkan oleh jumlah pendukung terbanyak. Padahal aku mengkhawatirkannya. Melihat Rahma terus mendesak Raka, aku juga tahu kalau gadis ini juga mengkhawatirkan keadaan Amy.
Dan dari jawaban itu, aku sudah sangat mencemaskan jika mengantar Amy yang paling akhir. Waktunya mungkin akan lebih larut untuk sampai rumah. Walaupun akhirnya Raka tiba-tiba merubah keputusan dengan mengantar Amy terlebih dahulu, aku masih tidak bisa bersuara saat melihat sosok ayah Amy berdiri di depan pintu dengan wajah masam.
"Biar gue yang antar Amy turun!" Rahma hendak membuka pintu mobil saat Amy menahannya.
"Tidak apa-apa!" jawab Amy. "Terima kasih kalian sudah mengkhawatirkan ku!"
Seiring dengan kalimatnya itu, Amy turun dari dalam mobilnya. Berjalan perlahan menuju ke halaman rumahnya. Namun begitu sosok ayahnya mendekati Amy, bukan hanya aku, melainkan Rahma, Raka, dan Ditya pun turun lalu menyapa ayah Amy dan menyampaikan permohonan maaf karena mengantar pulang Amy terlalu larut.
Untuk waktu yang cukup lama, sosok ayah Amy diam dengan permintamaafan ku dan yang lain. Amy pun menyampaikan hal yang sama.
"Sampai kapan kalian mau berdiri disini! Memangnya kalian tidak bisa langsung pulang saja dengan malam yang sudah selarut ini." ujar sosok ayah Amy terdengar agak ketus.
Dia membuang muka lalu masuk ke dalam rumah. Dan sebelum menutup pintu rumah, sebuah kepala melengok dari dalam pintu.
"Lo nggak masuk, Mi!?"
Melihat sosok itu, lagi-lagi bukan hanya aku saja, bahkan Raka dan Ditya pun menatap dengan tidak percaya. Sosok pemilik suara itu menatap sejenak ke arah kami.
"Amy!!" panggilnya dengan suara yang sebenarnya menunjukan sepertinya hubungannya dengan Amy bukan hanya sebatas omongan atau bualannya saja. Dimana dia mengatakan dirinya adalah cinta pertama untuk Amy dan juga sebaliknya. Terkesan sangat akrab. Terlebih di jam selarut ini, sosok itu berada di rumah orang tua si gadis.
"Mata gue nggak salah lihat, kan?" ujar Ditya. "Itu Angga!" jelasnya menyuarakan apa yang memang kami lihat.
Raka langsung menyikut Ditya, menggantikan aku yang masih terpaku pada langkah Amy saat memasuki rumahnya. Ada percakapan kecil antara Amy dan Angga, sebelum gadis itu berbalik untuk mengucapkan terima kasih dan meminta kami untuk pulang.
__ADS_1
Di antara jeda yang ada, aku luput memperhatikan bagaimana Rahma menunjukan kediamannya. Diam yang benar-benar membuatku penasaran. Tatapannya ketika bertukar pandang dengan Angga dan apa yang dia gumamkan Rahma membuatku cukup penasaran. Sebenarnya apa yang Rahma ketahui tentang Amy dan Angga. Aku ingat, Rahma memang teman semasa SMP nya Amy. Tapi kenapa dia seolah tidak mengenal Angga di hari pertama kepindahan siswa baru itu ke sekolah kalau memang dia teman sekelas Amy di masa SMP.
//
"'Bocah plontos itu' katanya??!!" ujarku mengulang apa yang di bisikkan Rahma sesaat sebelum kami meninggalkan rumah Amy. Seakan menimbang dan mengingat sesuatu, Rahma masuk ke dalam mobil dan nampak begitu diam tidak seperti sebelumnya yang nampak jutek tapi ternyata suka banyak bicara. Atau hanya aku baru menyadari salah satu sifat asli teman dari circle pertemanan ku saja!
"Bocah plontos?!" ujar Raina yang tiba-tiba sudah merebahkan tubuhnya di sampingku. "Lo jangan seenaknya ngatain orang, Rei!!"
Aku melirik kesal padanya.
"Siapa yang niat ngatain orang!"
Terkadang ada rasa kesal yang menumpuk ketika sesuatu yang sangat berbeda dilakukan oleh orang terdekat kita terhadap diri kita sendiri. Contohnya sikap Raina yang ini, dia selalu memanggil Aray dengan panggilan 'kakak' tapi begitu bicara denganku, rasa hormatnya seakan menghilang dan memanggilku hanya dengan sebutan nama saja.
"Lantas?!"
Enggan menjawab, aku lebih ingin menunjukan protes pada tingkahnya kali ini.
"Masuk kamar gue, ketuk pintu dulu kek!"
"Pintunya ke buka lebar gitu juga.." jawabnya tak mau kalah.
Aku melirik pintu kamarku sendiri. Melihat bayangan diriku dengan versi berbeda tengah berdiri di depan pintu. Sementara Raina berbaring dengan hpnya di sebelahku, aku memilih mengabaikan ke dua saudaraku yang terkadang mereka berdua bisa sangat menyebalkan untukku.
"Kalo lo peduli dengan privasi gue, tutupin pintunya, bang!"
Rasa kesal muncul lagi di pikiranku. Kenapa harus ingat kalau harus panggil dia kakak?!
"Ada yang mau gue tanyain." ujarnya.
Aray berjalan masuk.
"Lo ada bahas soal apa sama Angga kemarin?"
Dia memilih berjalan ke meja belajar disebelah tempat tidurku, Aray berdiam lalu memperhatikan beberapa buku yang berbaris rapi ditempatnya. Matanya berjalan menyusuri tumpukan buku itu sembari jari tangannya bergerak untuk mengambil satu buku yang mungkin baginya menarik untuk dia ambil.
"Nggak ada!" jawabku cuek. "Cuma gantiin lo pemotretan doang!"
Melihat Aray sedang membaca satu buku tulis yang sangat asing membuatku melihat dengan heran. Sebuah buku yang di ambilnya dari satu barisan buku di meja belajarku. Ketika aku berusaha untuk melihat buku itu, Aray tiba-tiba menutup buku itu dan menyembunyikannya di belakang punggungnya.
__ADS_1
"Cuma itu?!" tanyanya meyakinkan.
Tapi tidak ku hiraukan kata-katanya itu. Aku tiba-tiba penasaran dan sudah melirik ke belakang punggung Aray, tempatnya menyembunyikan buku yang barusan di bacanya.
"Jangan ambil buku gue sembarangan!"
"Buku lo??"
Kalah cepat denganku, Raina sudah berhasil mengambil buku itu dari tangan Aray lalu membuka isinya karena sama penasarannya denganku.
"Widih!!" ujar Raina membuka halaman demi halaman buku itu dengan mata terbelalak lebar. "Rapih bener!" Dia melihat ke arahku. "Punya siapa, Rei?!"
"Punya siapa gimana maksud lo?!"
Aku berusaha meraih buku itu namun langsung di halangi oleh Aray. Sial! Rasanya aku melihat bayanganku sendiri sedang menghalangi apa yang membuatku begitu penasaran. Dengan menampik tubuh Aray, aku mencoba meraih buku ditangan Raina, tapi Aray lagi-lagi menghalangi langkahku. Membuat Raina makin bersemangat untuk mengerjai ku bersama Aray.
"Kalian!!" hentak ku. Membuat Raina tertawa dengan senang karena reaksi ku. Mendapatkan reaksi itu, Aray langsung membukakan jalan tapi memindahkan buku itu ke dalam tangannya.
"Balikin buku gue, bang!"
"Sejak kapan buku lo ada gambar-gambar bunganya??" ledek Raina yang kembali merebahkan diri ke atas tempat tidurku. Dia tersenyum tidak jelas lalu langsung terduduk dengan mata berbinar-binar.
"Balikin ke orangnya. Jangan tahan buku cewek lo lama-lama."
Aray menjejalkan buku itu padaku. Membuatku melihat catatan itu dengan tatapan aneh. Halaman demi halaman buku itu, aku hanya melihat gambar bunga dan lukisan-lukisan lain dari pencil yang di arsir dengan sangat baik.
"Buku siapa?" gumamku memikirkan siapa pemilik dari buku yang kini ku baca. Ada beberapa kalimat yang tidak ku mengerti maksudnya. Tulisannya terlalu klise.
"Ya mana gue tahu..."
"Gue nggak nanya kalian berdua!"
Begitu jawaban itu keluar, sebuah nama terukir di halaman terakhir buku itu.
Amyra Rashita.
Raina dan Aray yang menahan senyum di wajahnya membuat ku tidak bisa mengatakan hal apapun lagi. Hanya memikirkan, sejak kapan buku ini ada disini?!
...***...
__ADS_1