
Pagi-pagi aku sudah di samperin oleh Aray dengan wajah serius. Pasti menyangkut vidio close up wajah Aray yang menarik tangan ku diruang UKS, pada pagi menjelang siang seminggu kemarin tepat dimana rapat Osis sedang berlangsung. Kenapa aku langsung menebak hari itu, ada alasan khususnya.
"Kita dipanggil oleh Bu Shanti." kata Aray.
"Secepat itu?" tanggap ku.
"Sepertinya memang ada yang mau mengusik ku ataupun si api." ujar Aray lagi sembari menyamai derap langkahku.
"Yah! Sudah tentu begitu bukan!" celetukku kesal. Begitu berbelok aku malah menabrak Amy yang berjalan cepat sendirian menuju arah yang sama.
Ruang kepala sekolah.
"Lo nggak apa-apa, Mi?!"
Mendapat pertanyaan itu, Amy hanya menatapku dengan wajah tegang. Mungkin kaget karena tidak mengetahui apa-apa, tiba-tiba mendapat panggilan untuk menghadap kepala sekolah.
"Apa lo diminta datang ke ruang Kepala sekolah?" tanya Aray tiba-tiba.
Gadis itu mengangguk cepat.
"Kami juga." balasku. "Barengan yuk!" aku menggandeng tangannya. Dan coba kalian tebak, saking takutnya gadis di sampingku ini, tangan Amy sampai terasa begitu dingin.
Aku melirik ke arah Aray yang mengangguk kecil karena semalam kami sudah membicarakan ini via telpon. Padahal harusnya Amy tidak perlu mengetahui hal ini karena Amy tidak ada sangkut pautnya sama sekali. Tapi kini, mau tidak mau kami harus melibatkan gadis ini dalam penyidikan kecil kami akan masalah yang dengan terang-terangan mengincar pacarku atau kembaran pacarku, Reihan.
"Permisi." ucapku mengetuk pintu ruang kepala sekolah.
"Hmm." balas Bu Shanti sembari meminta kami masuk. Sejenak melirik kami, Bu Shanti menaruh perhatian lebih pada Amy dan meliriknya dari atas sampai bawah. Lalu ketukan pintu berikutnya, Clara muncul dengan tampang santai.
"Masuklah." ucap Ibu Kepsek dari balik meja kerjanya.
"Selamat siang bu, ada apa ibu memanggil kami kemari?" tanyaku santai karena mengetahui betul maksud kami di undang kesini.
"Saya masih harus menunggu seorang lagi." jawab Bu Shanti dengan nada yang selalu nampak tegas untuk menunjukan kewibawaannya. "Si pemeran utama." tatapan mata Bu Shanti langsung memicing tajam.
"Maaf, saya dipanggil ke sini karena hal apa ya?" tanya Clara. Pertanyaan dari orang yang tidak mengetahui apapun. Tadinya,
"Kami mendapatkan laporan yang berkaitan dengan kamu dan seorang teman sekelas mu!"
"Maksud ibu?"
"Kamu!" panggil Ibu Shanti kepada Amy. Amy terkesiap dan menatap Ibu Kepala Sekolah takut-takut. "Kamu Amyra Rashita?"
Amy mengangguk cepat. Masih tidak mengetahui maksud dirinya di panggil, Amy terus saja tertunduk dengan tetap berdiri di sampingku.
"Ada yang mengirimkan vidio ini ke ibu pagi ini." kata Bu Shanti yang lalu memperlihatkan vidio berdurasi pendek dimana sebenarnya itu adalah sosok Aray yang sedang menarik tangan seorang perempuan yang tidak lain adalah diriku sendiri., Bagian wajah Aray terekspose jelas tapi bagianku hanya nampak tangan dan kibasan rambutku yang terurai waktu itu. Kenapa dengan vidio ini memangnya? Toh kelanjutan dari vidio ini hanya sebuah pelukan dan tepukan di kepala.
"Ini!" Clara berkomentar. "Ups"
__ADS_1
"Kamu mengenali vidio ini?" tanya Bu Shanti dengan tatapan menyelidik.
Daripada menjawabnya, Clara malah tertunduk diam.
"Tidak mungkin itu..." dia melirik Amy. "Aku melihatmu diluar waktu itu. Apa yang kamu lakukan di luar ruang UKS waktu itu?" tudingnya pada Amy.
Amy? Aku melihat ekspresi gadis itu. Amy yang makin tertunduk dan semakin terlihat murung.
"Maksudmu?" tanya Ibu Shanti menatap tajam ke arah Clara.
"Waktu itu.... Saya.... saya..." Clara menunduk. Seakan enggan menjelaskan sesuatu, Clara memilih diam begitu mendengar suara ketukan pintu dari arah luar.
"Permisi, bu! Saya Reihan." ujar Reihan yang datang bersamaan dengan Pak Ali si Guru BP. Guru langganan catatan disiplin dari Reihan.
"Hmm." jawab Bu Shanti.
Tanpa dipersilahkan masuk, Reihan nyelonong mencari tempat di dekat Aray lalu menaikan kedua alisnya sebentar untuk menanyakan hal apa yang terjadi pada Aray.
"Semua sudah disini?" ujarnya. "Saya tidak akan membuang waktu lagi."
Vidio yang sama di putar ulang dihadapan kami.
"Bisa dijelaskan soal ini?!" tegas Bu Shanti. Matanya langsung mendelik ke arah Reihan. "Berani sekali kamu melakukan hal semacam ini di sekolah!" tuduh Bu Shanti yang langsung mengarah kepada Reihan. "Kamu tidak peduli dengan reputasi sekolah ini jika diketahui pihak luar?! Bagaimana juga kamu akan mempertanggungjawabkan ini kepada orang tua gadis ini!"
Ibu Shanti menuding ke arah Clara. Gadis itu hanya menunduk. Tapi dari ekspresinya, dia seakan tidak peduli dengan hal yang ditudingkan oleh Bu Shanti padanya. Berbeda dengan ekspresi yang Amy tunjukan sejak awal dia melihat vidio itu. Amy nampak murung dan sedih. Lalu aku beralih melirik Reihan yang juga melihat ke arah Amy dengan rasa tidak percaya bercampur rasa ingin tahu. Ada apa ini?
Ok. Aku mulai melihat semuanya dengan jelas. Aku melirik Aray yang juga mengobservasi sesuatu. Tuduhan semua mengarah pada Reihan tanpa ia bisa mengelak. Alibi keberadaan Aray valid karena Reihan waktu itu tengah menggantikannya untuk rapat Osis. Sedangkan posisi vidio ini memang paling bisa menyudutkan Reihan. Selain itu, waktu itu Reihan juga sempat berada di ruang UKS bersama Clara tepat sebelum pertengkaran yang ku lakuksn dengan Aray.
Lalu kapan Clara melihat Amy? Kenapa aku tidak tahu kalau Amy ada melewati ruang UKS? Untuk apa juga Amy melewati ruang UKS di jam pelajaran yang masih berjalan? Akan ku tanyakan langsung hal ini pada Aray dan Reihan. Sepertinya ada hal yang terlewat olehku.
"Dan kamu!" sentak ibu Shanti kepada Amy. "Benar kamu tidak tahu siapa yang menautkan akunmu pada vidio ini?!"
Dalam ketakutannya, Amy terlihat berusaha menatap ibu Shanti sembari mengangguk kecil untuk memberikan jawabannya.
"Anak muda jaman sekarang. Terlalu pintar untuk berbohong. Mana mungkin di jaman sekarang ada yang tidak mengerti dengan hal-hal seperti itu!" sentaknya lagi.
"Saya yang menjamin mengenai hal ini, Bu. Dia sama tidak mengetahuinya!" jawab Reihan atas tuduhan yang di berikan Bu Shanti kepada Amy.
"Kamu memang harus menjaminnya!" balas Ibu kepala sekolah. "Ini menyangkut nama sekolah dan reputasi Osis." ujarnya lagi. "Kalau bukan karena kalian kembar, aku sudah pasti tidak akan ambil pusing dengan hal ini dan langsung memberikan skorsing padamu."
Benar. Ini bukan hanya menyangkut nama sekolah saja. Nama Aray sebagai ketua Osis, Reihan sebagai sasarannya, dan Amy yang tidak tahu apa-apa juga dilibatkannya. Amy? Untuk apa harus akun milik Amy?
"Memang dalam vidio itu apa yang saya lakukan bu?" tanya Reihan yang menerima semua tuduhan dan tidak berusaha membela diri atas vidio itu.
Aku sedikit tersentak dengan itu. Bukan kali pertama dia nekat seperti ini untuk melindungi Aray. Sebelumnya pun sama. Dia bahkan sampai harus dibenci oleh teman-temannya hanya karena menjaga nama baik Aray sebagai seorang model remaja kala itu. Padahal hal yang terjadi itu adalah ulah orang-orang yang ingin menjatuhkan Aray.
"Bagaimana kamu memandang hal seperti ini?" Sentak Ibu Shanti. "Harusnya kamu bisa lebih menjaga emosi sesaatmu."
__ADS_1
"Maaf sebelumnya bu, dalam vidio ini hanya ada adegan dia menarik tangan yang kemungkinan temannya bu. Itupun hanya sebatas itu dan tidak ada hal lebih. Paling hanya bercanda saja. Iya kan Rei?" ucap Pak Ali yang mencoba mencoba mengarahkan pandangan Bu Shanti yang sepertinya berpikiran ke arah lain tentang vidio yang di kirimkan seseorang kepadanya.
"Justru karena itu." hardik ibu kepala sekolah. "Vidio yang di sebar sengaja sependek itu agar bisa memicu pikiran negatif orang-orang terhadap kelanjutan dari adegan dalam vidio ini. Bagaimana sih bapak ini!"
"Itu juga benar bu." balas pak Ali. "Tapi bukankah baiknya kita selidiki lagi masalah ini?"
"Sebentar bu!" sela Aray mengambil alih percakapan. Dia melirik ke arah Reihan sejenak. "Karena dua siswa ini tidak tahu apa-apa, ada baiknya mereka kembali ke dalam kelas saja. Bagaimana menurut ibu?" saran Aray yang bagiku terdengar sedikit aneh.
Mengerti maksud yang Aray siratkan sebagai ketua Osis, Bu Shanti mengangguk sedikit sembari menaikan dagunya tanda menyetujui saran Aray tersebut.
"Tapi Ray..." bantah Clara berwajah simpati dan getir.
"Tidak apa-apa." timpal ku atas bantahan yang ingin Clara sampaikan kepada pernyataan Aray.
Bu Shanti hanya menatap kami secara bergantian tanpa mengatakan hal apapun lagi dan membiarkanku dan Aray mengarahkan Clara dan Amy untuk keluar dari ruangan tersebut.
30 menit setelah Clara dan Amy keluar dari ruangan, aku, Aray, Reihan, dan Pak Ali keluar bersamaan.
"Ray..." ujar Pak Ali begitu kami sudah berbelok di lorong bangunan utama. "Harusnya catatan ini masuk di buku mu bukan?"
Pak Ali menatap kami bertiga dengan tatapan yang mungkin mengingatkan beliau tentang masa mudanya.
"Kami sedang mengurusnya pak." jawab Aray. "Sorry Rei." ucap Aray kepada Reihan yang hanya tersenyum dengan kalimat Pak Ali itu.
"Sadar sejak kapan pak?" canda Reihan dengan senyum cengengesannya.
Bisa-bisanya Reihan bersikap sesantai itu. Padahal dia tersudutkan tanpa bisa membela diri karena ulahku dan Aray. Lagi.
"Lakukan yang terbaik. Bapak jadi backingan rencana kalian." ujar Pak Ali melambai sembari melewati kami bertiga.
"Punya backingan guru BP nih." ucap Reihan bangga.
"Kenapa senang gitu sih?!" ujarku yang benar-benar merasa bersalah atas hal yang terjadi pada Reihan saat ini. Memikirkan Reihan, aku langsung menanyakan soal Amy padanya.
"Kenapa Amy ada disana waktu itu?"
"Karena gue dong." jawab Reihan tersenyum senang. "Sebenarnya gue bingung sekarang harus berterima kasih atau harus marah pada kalian dengan apa yang kalian lakukan waktu itu?!"
"Kekanak-kanakan." keluh Aray.
Sekalipun berkata demikian, Aray sebenarnya sangat merasa tertekan dengan masalah yang kembali harus ditanggung oleh Reihan karena ulah kami. Masalah yang selalu membuat posisi Aray valid dalam bidangnya, padahal Reihan yang mengantikan posisinya saat itu.
"Santai lah, bang." ujar Reihan. "Kita kan sudah siap dengan itu."
"Tapi perlu ada sedikit perubahan." ujarku.
...***...
__ADS_1