
Aku sangat senang malam kemarin. Reihan mengajakku jalan-jalan menaiki bukit dan menikmati malam penuh bintang baik diatas kepala ataupun di bawah kakiku. Rasanya semua itu hal yang sangat langka untuk bisa ku nikmati. Jadinya pagi ini aku bangun dengan badan yang segar.
Membuka pintu kamar, aku mendapati Angga sedang dengan malas menggosok giginya di depan pintu dapur. Punggungnya nampak kesakitan karena sesekali dia terlihat mengeluhkan bagian punggungnya.
Apa karena di berjongkok semalaman di depan halaman rumah untuk menungguku pulang dari jalan-jalan bersama Reihan?
Aku tertunduk sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menyapanya.
"Pagi." sapaku.
"Ngg..." jawabnya menatapku dengan mata sembab. Nggak mungkin dia semalam menangis bukan? Dia itu laki-laki. "Gue nggak bisa tidur semalam, absenin gue dikelas hari ini yah?"
Aku mengangguk. Lalu setelah selesai berkumur, Angga berjalan melewati ku membawa ember beserta perlengkapan mandi miliknya. Berjalan menuju kamarnya, Angga lalu menutup pintu itu dengan tanpa suara.
20 menit setelah Angga mengatakan dia akan absen pagi ini di kelas, tahu-tahu dia sudah duduk diruang tamu dengan seragam rapi dan tengah memakan nasi dengan telur goreng diatasnya.
Aku lapar.
"Gue masak lebih." kata Angga. "Makan dulu baru berangkat." sambungnya lagi.
Aku mengangguk lalu bergegas ke meja makan. Menarik kursi di samping Angga, lalu menggesernya sedikit menjauh.
"Berhenti!" deliknya sembari menahan geseran kursiku dengan satu kakinya. "Makan disini." tatapnya tegas.
Mau tidak mau, aku makan di samping Angga. Sudah lama. Entah kapan terakhir kalinya aku bisa sarapan pagi setenang ini. Biasanya mereka yang menyebut diri mereka orang tuaku dan Angga, tidak pernah membiarkan ku untuk sarapan. Syukur-syukur setiap pagi bisa mengambil sedikit makanan sisa semalam. Kalau tidak, aku tidak akan sarapan sampai jam istirahat pertama disekolah. Ngomong-ngomong soal mereka, aku clingukan.
"Mereka pergi mengurus kepindahan rumah."
Aku mengangguk sembari melanjutkan makanku.
"Hari ini gue mungkin nggak pulang dan besok jadi absen. Lo jaga diri baik-baik yah. Kalau ada apa-apa, lo bisa telpon gue." pesan Angga sembari mencuci piring makannya.
Aku menoleh pada Angga. Angga yang kembali nampak merasakan kesakitan pada tubuhnya.
"Kalo udah selesai, gue tunggu di depan yah?!" ujar Angga selesai mengeringkan tangannya dengan mengibaskannya diatas wastafel keramik buatan laki-laki yang kami panggil ayah itu.
Tidak membutuhkan waktu sampai 10 menit setelahnya, aku sudah berhadap-hadapan dengan Angga sembari menyerahkan satu kotak koyo padanya. Aku merasa badannya mungkin pegal, dan berinisiatif memberinya koyo. Benar bukan?!
__ADS_1
Tanpa menjawab dan hanya mendapat tatapan aneh sejenak, Angga lalu melepas jas sekolahnya dan menarik kerah seragamnya ke belakang. Dia menepuk bagian pundaknya untum aku tempelkan koyo yang aku ingin berikan padanya. Sigap. Ku Tempel dua buah koyo pada kedua sisi bahunya. Lalu juga menempelkan dua di atas punggungnya.
Ada luka goresan panjang pada bagian pinggangnya. Bekas luka yang sudah begitu lama tapi tetap membekas dengan jelas. Aku termenung. Bukan hanya aku yang terluka. Dia juga pasti mempunyai banyak luka lain yang tidak pernah ia perlihatkan padaku.
"Sudah Mi?"
Aku mengangguk dengan semua pikiranku akan derita yang telah Angga alami. Baik dirumah ini atau setelah kepergiannya selama 3 tahun kemarin.
Kembali berangkat sekolah dengan di bonceng oleh Angga, aku mendapati tatapan tidak menyenangkan dari arah parkiran khusus pengurus Osis. Tentunya tatapan itu milik Reihan. Siapa lagi yang bisa menatapku dengan begitu menusuk kalau bukan dia. Tapi tumben dia bawa motor.
Aku berjalan menuju halaman sekolah setelah Angga melepas dan meletakkan helmku di atas spion motornya. Tapi tatapanku tidak bisa ku lepas sedikitpun dari sosok Reihan yang mengambil jalan berseberangan dengan jalanan yang aku lewati. Dia nampak begitu cerah dengan wajahnya yang begitu menarik perhatianku.
"Aduh!" ujarku kaget begitu mendapati Clara terduduk dengan posisi seperti orang habis jatuh karena menabrak sesuatu. "Kalau jalan, lihat-lihat dong!" hardiknya jengkel.
Aku menatapnya tidak mengerti.
"Kotor kan baju gue, lo tabrak gitu?!" celetuknya lagi.
Menabraknya? "Kapan?" tanyaku heran. Aku tidak merasa ada menabrak seseorang saat berjalan. Lagi pula Kapan dia ada disana dan kapan aku menabraknya?
"Rei...." teriak Clara yang langsung mengalihkan pandanganku pada sosok yang ia panggil. Sosok yang sedang berjalan ke arahku dan Clara. Atau tepatnya ke arah Clara yang sedang berusaha berdiri dari jatuhnya yang entah karena apa.
"Amy nggak sengaja nabrak gue." jawab Clara. "Entah kemana fokusnya dia. Gue perhatiin matanya ngeliatin si Angga terus!" katanya lagi.
Aku yang tidak mengerti akan semua kata-katanya hanya bisa menatap heran. Menabraknya? Fokus melihat Angga? Aku sedari tadi menatap Reihan kok. Ups! Semoga dia nggak tahu ini.
Aku pun menoleh pada sosok Reihan yang menatapku dengan santai.
"Lo nggak apa-apa Mi?" tanya Reihan padaku.
Aku menggeleng sangat pelan dan tidak kentara. Ya karena aku memang baik-baik saja dan tidak kenapa-kenapa. Tapi kenapa Clara mengatakan kalau aku menabraknya. Dan omongannya tentang Angga, kapan aku melirik Angga. Mengada-ada.
"Kaki gue sakit nih." ucap Clara. "Bisa papah gue ke UKS nggak?"
"Ok." jawab Reihan.
Dan jawaban yang Reihan berikan serta sikapnya kepada Clara cukup membuatku merasa sakit. Sakit yang sakit dengan tidak bisa ku jelaskan. Bukan demam atau batuk yah. Melainkan sakit yang membuatku merasa sangat membenci keberadaan Clara tapi juga berharap bisa mendapatkan perhatian yang sama seperti Clara dari sosok Reihan di saat yang bersamaan. Kalau bisa, aku ingin Reihan tidak memperdulikan Clara saat ini.
__ADS_1
Picik sekali rasanya perasaan yang ku miliki.terhadap Reihan. Padahal Clara adalah cinta pertamanya. Cinta pertama Reihan yang akhirnya kembali. Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan perasaan yang ku punya saat ini terhadapnya. Bisakah aku mengabaikan perasaan Reihan dan Clara hanya untuk bisa membuat Reihan hanya melihat dan peduli padaku? Aku benci dengan perasaan picik seperti ini. Tetapi aku juga tidak suka melihat Reihan peduli dengan perempuan lain sekalipun aku tahu itu cinta pertamanya.
Jam pembelajaran pagi, Reihan dan Clara sama sekali tidak kembali ke dalam kelas. Hal itu membuatku merasakan cemas dan khawatir yang aneh. Di Satu sisi aku ingin tahu keadaan Clara, di sisi lain aku memiliki harapan kalau Reihan harusnya bolos saja daripada menemani Clara di ruang UKS. Memikirkan itu saja sudah membuatku merasa mual.
Karena sudah tidak bisa menahan rasa penasaranku dengan keadaan Clara dan juga keberadaan Reihan, aku ijin ke toilet dan pergi ke gedung belakang ruang Osis menuju akses belakang ruang UKS.
Aku berjalan dengan pelan sembari melirik ke dalam bilik-bilik UKS. Bilik satu dan dua kosong. Itu artinya di bilik sudut. Bilik ke 3. Sampai di bilik ke 3 aku melihat dengan takut-takut.
Semoga mereka tidak sedang bersama di dalam bilik itu. Bhatinku.
Namun, doa ku berbanding terbalik dengan kenyataan yang tersaji didepan mataku. Aku melihat pemandangan yang membuat mataku tiba-tiba menitihkan air mata. Dadaku sesak dan sakit disaat yang bersamaan. Lalu aku mulai kehilangan semua semangatku dalam melewati waktu seharian ini. Aku kenapa??? Bhatinku dalam isak tangis itu.
10 menit yang terasa lama, aku hanya berjongkok di belakang ruang UKS sambil menangis. Tangisan yang tidak ku mengerti karena apa. Biasanya aku hanya akan menangis kalau di bentak dan dipukuli dirumah. Itupun aku menangis di dalam kamarku. Tapi ini... kenapa aku malah menangis disini.
"Amy..." sebuah suara tiba-tiba mengagetkanku. Sebuah suara yang langsung membuatku mengusap kasar air mataku. Aku bergegas bangkit dari posisiku dan berjalan cepat dengan maksud meninggalkan tempat ini dan menjauh dari orang yang memanggilku.
Aku tidak ingin melihat orang yang sekarang sedang memanggilku dan orang yang juga ikut berjalan cepat seraya menyusul langkahku. Aku tidak ingin dia melihatku yang seperti sekarang. Selain itu, aku juga membencinya. Aku tidak ingin melihatnya. Aku tidak tahan jika harus melihatnya saat ini. Aku tidak mau.
Tepat di ujung bangunan, tubuhku di tarik dengan cepat oleh seseorang. Seseorang yang pagi ini menatap padaku dengan cara yang tidak biasa.
"Angga." ujarku.
Aku tidak tahu Angga melihat kemana, yang pasti suara langkah di belakangku sudah tidak mengikuti atau lebih tepatnya berhenti mengikuti ku.
"Gue kira lo kenapa keluar dengan terburu-buru." ucap Angga sembari menepuk kepalaku. "Lo mau ke UKS?" tanyanya.
Mendengar kata UKS langsung membuat perutku sakit seperti ditonjok. Aku pun hanya bisa menggeleng. UKS terlalu menyakitkan untukku. Jika masuk ke dalamnya, aku akan mengingat dengan baik kejadian yang sempat ku lihat tadi. Aku tidak mau. Aku benci.
"Kembali ke kelas?" tanyanya lagi.
Aku gamang. Apakah aku bisa kembali ke dalam kelas dengan keadaan kacau seperti ini. Lalu apa yang mungkin Angga pikirkan setelah melihatku saat ini. Dia yang mendongakkan kepalaku untuk menatapnya. Aku takut. Takut kejadian dulu akan terulang lagi. Kejadian saat seniorku Rio dipukuli oleh Angga.
"Lo habis nangis?" tanya Angga dengan mata membelalak tidak percaya.
Lalu derap langkah yang cepat membalik badanku untuk menghadap ke arahnya.
"Lo nangis?" tanyanya.
__ADS_1
...***...