Mirror!

Mirror!
Reihan : Amyra.


__ADS_3

Setelah marah-marah tidak jelas saat jalan pulang bareng Amy, aku menyesali setiap kata-kata yang keluar dari mulutku. Menyesal yang benar-benar menyesal kenapa aku malah membentaknya. Membuat dia kembali ketakutan. Terlebih Amy ketakutan karena diriku sendiri.


Sedari tadi aku mondar mandir memperhatikan bagaimana keadaan Amy di dalam pustaka. Berharap Rain mau menghibur atau menghilangkan ekspresi murung dari wajah Amy yang seharusnya begitu lembut.


"Aakh!" aku mengacak-acak rambut sembari berangsur ke area dapur. Melihat beberapa butir buah lemon yang tergeletak, aku jadi berpikir untuk membuatkan Amy ice lemon tea kebanggaanku.


"Ok. Gue buatkan itu saja sebagai tanda permintaan maaf gue ke Amy." celotehku sendiri.


Jadilah dengan santai aku membuat es teh lemon itu. Membuatnya hanya satu gelas. Rain. Lupakan. Dia bisa membuatnya sendiri kalau mau.


"Rain." tegur Aray yang baru saja pulang dari kegiatan Osisnya. Memangnya aku harus peduli. Mau dia tidak pulang juga tidak berpengaruh apapun.


"Ups!" Raina langsung menatap.Amy dengan getir. "Maaf, Amy."


Melihat Amy menggeleng menjawab Rain, aku malah merasa menjadi kambing congek diantara mereka bertiga. Terlebih dengan posisiku yang datang dengan membawa segelas ice lemon tea kebanggaanku.


Raina tersenyum kuda saat menyadari keberadaan ku. Aray langsung menguap serta mengusap belakang kepalanya sembari melirik tidak jelas ke arahku.


"Gue capek. Istirahat duluan yah!" ujarnya melewati ku begitu saja.


"Gue ada urusan!" ujar Raina yang juga ikut berangsur pergi dari depan meja kasir Pustaka. Menyisakan aku dan Amy yang saling menatap canggung. Entah apa yang harus aku ucapkan sekarang. Rasa canggungnya benar-benar membuat ku kikuk berhadapan langsung dengannya.


"Ini!" ucapku akhirnya setelah kami berdiam diri cukup lama. Aku menyodorkan ice lemon tea yang ku bawa untuknya. "Minumlah sebelum esnya mencair semua."


"Terima kasih." jawab Amy tanpa melihat padaku.


"Nggak perlu. "Harusnya gue meminta maaf karena nggak sadar udah ngebentak lo tadi." ucapku akhirnya.


Amy menunduk begitu mendengar ucapanku itu. Dia yang sudah trauma, malah ku bentak dengan emosi. Bagaimana tidak takut saat melihatku.


"Tatap gue coba!" pintaku setelah Amy terlihat mengangguk pelan menjawab permintaan maafku.


Dengan menguatkan dirinya, aku melihat Amy yang mencoba memandangku. Menatap langsung bola mataku yang membuat sedikit salah tingkah.


"Maaf yah!" ucapku menepuk kepala Amy dengan gemas. Tapi ku tahan semua rasa gemas yang muncul agar tidak lagi membuat sosoknya takut padaku. "Jangan lupa minum esnya. Buatanku sendiri lo." tambahku berujar bangga.


Amy mengangguk. Rasanya sangat senang melihat Amy yang sudah mulai tenang dengan semuanya.

__ADS_1


"Enjoy yah!" ucapku sebelum benar-benar pergi dari hadapan Amy. Amy yang sudah terlihat tidak murung lagi. Sepertinya aku sudah bisa di maafkan olehnya.


Asyik dengan semua hal yang sudah aku lakukan, tiba-tiba suara itu menyapaku lagi dengan riang. Clara.


"Hei, Rei."


"Clara." sapaku balik.


"Maaf yah, nggak ngabarin mau berkunjung ke rumah. Kan udah biasa." ucapnya tertawa seperti biasa.


"Nggak masalah." jawabku dari atas sofa. "Ayo duduk."


Sembari menemani Clara yang tiba-tiba datang berkunjung, dari kejauhan beberapa kali aku melirik ke arah depan. Berharap sosok Amy mencuri pandang untuk melirik melalui pintu kaca pustaka. Harapan yang benar-benar aku ingin pastikan. Memastikan kalau Amy memiliki perasaan yang sama terhadapku. Perasaan cemburu karena ada perempuan lain yang coba mendekatiku.


Sekali. Dua kali. Lima kali. Aku terdiam karena tidak melihat sosok Amy yang biasanya lalu lalang di depan pintu Pustaka. Baik itu hanya untuk sekedar mengambil kemoceng yang ada di balik pintu.


"... Iya kan Rei?" Clara menepuk lututku yang entah kenapa aku sepertinya melewatkan apa yang dia ceritakan padaku.


"Ngobrol sama Rain bentar yah. Gue ke depan dulu." ujar ku yang langsung turun dari sofa lalu berjalan menyeberangi halaman menuju pintu belakang Pustaka. Saat melewati Rain, aku melihat dia tersenyum lalu menyodorkan sepiring kue untukku bawa. Dia mengerti maksudku. Lalu mengajak Clara mengobrol tentang hal-hal yang berbau pernak-pernik atau manik-manik dan sebagainya.


Dengan santai aku masuk ke pustaka dan melihat Amy seperti tengah bergulat dengan pemikirannya. Jadi ingin menggodanya lagi. Namun, semua hal itu sirna saat aku mendengar dia malah mengucapkan kalimat menyebalkan yang sialnya sangat sulit untuk aku lupakan.


Tepat saat selesai mengatakan hal itu, Amy mendongak dan menatap dengan kaget. Entah kaget karena melihatku, atau kaget karena kue yang ku bawa.


"Kenapa?" tanyanya kaget bercampur takut melihat ke arahku.


"Apa lo ingin mengakhiri hubungan pacaran yang kita jalani karena sudah memiliki Angga di hidup lo?" tanpa sadar, nada suaraku terdengar begitu dingin, ketus, dan juga tegas. Mendengar itu, Laras menggeleng cepat. Membuatku cukup merasa kesal tapi juga tidak berdaya disaat yang bersamaan.


Aku akhirnya meletakkan kue itu diatas meja kasir tanpa mengatakan hal apapun lagi. Bermaksud memberikan waktu yang tenang kepada Amy, gadis itu tiba-tiba menahan langkahku dengan menarik lengan bajuku.


"Jangan kesana lagi!" ucapnya dengan pikiran yang cukup gamang. Entah keceplosan atau apa. Tapi aku benar-benar puas dengan tindakannya kali ini. Ok. Aku maafkan soal Amy yang menyebut nama laki-laki lain di hidupnya.


"Kenapa?" tanyaku. Ingin mengetahui alasannya pasti. Aku terlalu senang. Saking senangnya dengan tindakan Amy ini, aku takut akan tersenyum begitu saja karena malu.


Tidak memberikan jawaban apapun dalam waktu yang membuatku merasa canggung, aku kembali berbalik dan menepis perlahan tangan Amy yang menahan ku. Ekspresinya langsung berubah murung dan nampak kecewa. Namun hal itu tersembunyi di balik sikapnya yang biasa dia tunjukan kepada siapapun.


"Maaf!" ucap Amy yang langsung terduduk diam setelahnya. Menggemaskan.

__ADS_1


"Gue nggak lama kok!" ucapku akhirnya sembari mengelus bagian rambutnya. Aku tidak tahan untuk tidak berhenti menggodanya. Tapi membiarkan dia terlarut dalam pikirannya bukanlah misiku saat ini.


Ada perasaan lega yang langsung menjalar di seluruh tubuhku setelah melihat Amy akhirnya tersenyum kecil. Aku sangat senang melihat hal itu.


Setelah ku putuskan untuk kembali, Clara tiba-tiba sudah menyambut ku dengan jarak yang begitu dekat tepat dibelakang pintu kaca Pustaka.


"Apa lo senang gue udah balik?" tanya Clara dengan senyumnya yang tidak biasa. Sejenak matanya ku perhatikan melirik ke arah dalam Pustaka. Tepatnya melirik orang yang sama. Amy.


Aku mengangguk sembari memperlebar jarak antara kami. Lalu kembali ke ruang tamu lalu menyapa Aray yang kedatangan Jihan sebagai pacarnya.


"Kapan lo datang, Jia?" sapaku.


"Barusan." jawab Jihan santai. "Hai, Clara." sapa Jihan.


Tidak ada jawaban dari arah belakangku, berarti Clara menjawab Jihan hanya dengan senyum dan sebagainya. Bukan urusanku.


"Minum, Ia?" tawar Aray yang sudah menyuguhkan segelas ice lemon tea pada Jihan.


"Ikut-ikutan lo!" ledekku.


"Curi juruslah." jawab Aray cuek.


"Kekanak-kanakan" keluh Rain. "Gue temani Amy ajah di depan." berangsur pergi, Jihan menahan langkah Rain.


"Biar aku aja, Rain. Mau bicara urusan perempuan." Jihan tersenyum kecil lalu mendahului langkah Raina menuju pustaka.


"Lo temani abang disini gih!" pinta Aray.


"Kagak." bantah Rain yang langsung bergelayut pada lenganku. "Mending ama Rei aja."


"Masih suka nempel sama Rei yah!" ujar Clara tertawa kecil.


"Rei baik sih." ujar Rain.


"Emang Aray kagak?" ledekku.


"Nggak!!" jawab Raina. Tapi aku mengerti kenapa Raina menjadi semanja ini padaku. Yang mereka bicarakan di pustaka tadi, pasti soal aku yang sedang emosi. Di tengah semua pikiran itu, aku berharap mereka tidak bicara yang bukan-bukan saja. Kalau soal Amy, aku percaya pemikirannya tidaklah buruk.

__ADS_1


...***...


__ADS_2