Mirror!

Mirror!
Reihan : Aku mulai menyukai semua tentangnya.


__ADS_3

Wajah Amy nampak sumbringah ketika mengangguk dengan pasti untuk memberi jawaban kepada Rahma, Siska, dan dua sobatku tentang nomer kontak yang Amy simpan pertama kali. Senyumnya sungguh cerah. Dengan jawaban yang begitu polos, Amy mengatakan dia menyimpan nomer itu karena memenuhi keinginan si penelpon. Memenuhi keinginanku.


"Giliran gue!" embatku ketika hp Amy itu kini berada ditangan Ditya.


"Sebentar!" tarik ulur Ditya tidak terima. Wajahnya menunjukan rasa penasaran. Penasaran dengan nomer di kontak itu. "Gue penasaran dengan nomer si number one nya Amy!"


"Nggak penting akh!" ujarku yang langsung merampas hp itu dengan tidak berperasaan. Enak aja mau tahu nomer orang. Lo kan udah simpan nomer gue. Gimana sih!


Segera aku menekan dial telpon pada hp Amy. Menyambungkan nomer telponnya ke nomer ku yang dia simpan dengan nama kontak #1#. Aku tersenyum puas menatap layar HP Amy itu.


Hp ku berdering. Menampilkan sebuah nomer dengan nomer belakang 089. Aku merasa sangat puas dengan itu. Lalu ku ganti nama kontak itu dengan namaku. Mengganti nomer dari kontak #1# itu dengan nomer lamaku yang sudah lama mati.


Dengan enteng aku mengembalikan hp itu pada pemiliknya. Dan akhirnya, dengan adanya pembahasan akun sosial media milik Amy, aku langsung terbebas dari tuntutan penjelasan mengenai Aray yang adalah saudaraku. Aray si ketua Osis.


"Darkside ini siapa?" tanya Siska memperlihatkan satu pertemanan milik Amy di akun sosial medianya. "Fotonya kok gelap-gelap gitu?!"


Ku lihat Amy mendongak melihat foto yang ditunjukan oleh Siska. Dia diam tidak menjawab. Hanya menatap lalu mengalihkan tindakannya ke hal lain.


Foto profil yang Siska tunjukan hanya menampakan seseorang yang berdiri di tengah kegelapan dibawah lampu sorot jalanan. Fotonya terlihat cukup keren bagi ku yang seorang laki-laki. Terlebih dalam status hubungan, akun sosial media itu mengaitkan Amy ke dalam hubungan khusus.


Sejenak aku langsung melirik pada Angga. Ya! Siswa baru itu. Yang padahal sudah enam bulan dia masuk sekolah, tetapi aku tetap tidak bisa menganggapnya teman. Angga yang kini tengah mendengarkan sesuatu dengan earphonenya.


"Boleh tahu akun sosial media mu?" tanya Amy menyerahkan hpnya lagi padaku. "Semua teman-teman sudah berteman denganku."


Aku mengambil hp itu, mengetik nama akun sosial media milikku, lalu mengeklik penambahan pertemanan. Satu notifikasi masuk ke dalam hp di dalam saku celanaku. Aku tidak langsung membukanya. Aku kembali terlarut dalam pikiranku. Baru kemarin Amy membeli hp, dan akun sosial medianya tiba-tiba sudah berteman dengan seorang yang aku pastikan itu akun sosial milik Angga.


Aku boleh menang di kontak, tapi kenapa harus Angga yang menjadi teman pertama Amy di akun sosial medianya. Aku kecolongan lagi.


"Amy, ingat hutang lo sama gue yah?!" ujar ku mengembalikan hp itu ke pemiliknya.


"Hutang apaan?" Rahma mencondongkan tubuhnya kepada Amy.


"Lo hutang berapa?" tanya Siska. "Sini biar gue bayarin dulu!"


Amy menggelengkan kepalanya sembari melambaikan tangannya dengan menyilang.


"Tidak! Tidak!" jawab Amy meminta Siska memasukan lagi uang itu ke dalam sakunya. Lalu Amy mengangguk pada ku.


"Bukan hutang uang kok!" jawab Amy pada Siska dan Rahma yang langsung mengeluarkan tatapan curiganya padaku. "Aku jelaskan nanti di pustaka, boleh?"

__ADS_1


"Ok!" jawabku.


Dan tatapan curiga lainnya mengarah kepadaku dari kedua sobatku yang kini langsung menunjukan wajah penasaran mereka. Bahkan Raka dan Ditya menatapku dengan wajah curiga dan was-was mereka.


Lo nggak mempermainkan anak orang, kan?!


Aku mengangkat bahu mengabaikan semua tatapan itu. Melanjutkan sisa jam pelajaran dengan santai dan tenang.


Tidak butuh waktu lama, bel tanda pulang sekolah berbunyi. Membuatku langsung bersemangat karena aku akhirnya bisa mendapatkan penjelasan dari Amy tentang kejadian malam itu dirumahnya. Aku tidak kepo, tapi aku benar-benar penasaran dibuatnya. Kenapa aku yang harus pergi, sementara Angga malah bisa tinggal.


"Jadi, gimana keadaan lo?"


Amy mengangguk. "Baik." jawabnya. Lalu Amy melihat ke arahku. "Tolong jangan ceritakan pada teman-teman ya?" pintanya.


"Cerita apa?" tanyaku pura-pura tidak mengerti.


"Tentang keluarga ku!" jawabnya takut-takut.


"Lo malu?"


Amy menggeleng. "Aku hanya tidak ingin dikasihani." jawabnya. "


Mendengar itu, aku terdiam. Kuat juga nih cewek. Masih bisa berkata begitu padahal semua luka ditubuhnya tidak bisa dibilang luka ringan yang biasa saja. Yang seperti itu tidak butuh dikasihani?


Amy kembali hanya menggeleng dalam menjawabku. Untuk jeda waktu yang cukup lama setelahnya, aku yang akhirnya memilih diam dan hanya mendengarkan apa yang Amy tiba-tiba lontarkan padaku.


"Aku sepertinya iri dengan keluargamu!" ujarnya.


Aku meliriknya dengan pemikiran aneh. Iri pada ku? Dari segi yang mana?


Kali ini, ada setitik air mata yang mencuat keluar dari ujung mata kanannya. Buru-buru dia mengusap lalu mengucek matanya. Apa dia barusan menangis?


"Aneh juga dengan omongan lo itu!" kataku yang tidak tahu harus menjawab apa. Iri katanya? Apa bagi orang lain, hidup keluarga kami itu nampak bahagia? Aku malah merasa banyak hal yang tidak adil yang terjadi di dalam rumahku. Tapi memang tidak seburuk keadaan keluarga Amy. Walau hanya dalam beberapa kunjungan tanpa sengaja, aku malah harus menyaksikan dia dibentak, tidak dihargai, dan malah yang terakhir kali di pukuli. Tunggu! Lebih tepatnya menggantikan orang menerima pukulan.


Aku mendahului Amy selangkah. Berhenti didepan Amy untuk menghentikan langkahnya lalu mengangkat wajahnya untuk ku biarkan mata ini saling bertatapan. Matanya memang sedikit merah.


"Apaan sih lo!"


Aku membuang muka.

__ADS_1


"Kalau mau nangis ya nangis aja! Jangan di tahan dan sok kuat! Lo itu manusia, Mi!" sentak ku seketika. Membuat gadis itu berjalan cepat begitu aku meninggikan nada suaraku. Apa? Kalian protes? Aku reflek.


Sampai di depan Pustaka, Amy bahkan tidak menoleh sedikitpun padaku. Dia langsung masuk begitu saja lalu melanjutkan apa yang menjadi pekerjaannya. Bahkan semakin ku perhatikan, siang ini, Amy benar-benar terlihat sibuk. Atau tengah berusaha menyibukkan diri.


Dari balik pintu kaca belakang Pustaka, aku dengan segelas es lemon tea buatan ku, melihat semua kegiatan yang Amy lakukan. Mulai dari menggaris buku, membersihkan serta merapikan meja, mengecek stock buku, memasukan data buku baru yang masuk, membersihkan debu pada masing-masing rak buku, dan menyapu hingga mengepel lantai.


"Cantik ya?" tanya sebuah suara yang familiar di telingaku.


"Iya..." jawabku. "Tapi menjengkelkan!"


"Menjengkelkan yang bagaimana?"


Suara lain bak malaikat pencabut nyawa langsung menyadarkan aku dengan dua sosok lain yang ternyata tengah memperhatikanku yang sedang memperhatikan Amy dari tempatku berdiri.


"Sibuk banget lo berdua!" jawabku menyeruput es lemon tea yang ku bawa.


"Lo kalau tertarik ya tertarik aja!" ujar Raina santai. "Bilang menjengkelkan tapi memperhatikan sampai segitunya!"


"Urusan gue dong! Anak kecil nggak usah ikut campur!"


"Emang lo sendiri udah gede?" ledek Raina. "Pacaran juga belum pernah!"


"Ribut lo!"


Aku bermaksud bercanda melempar sisa minuman dalam gelas ku ke Raina, tapi aku malah mengenai wajah Amy. Membuatnya berekspresi kaget lalu menunduk karena pakaian kerja yang digunakannya basah terkena es batu.


"Sorry! Sorry!" ujarku cepat.


"Amy!! Basah! Baju lo basah!"


Amy terlihat menggeleng. Dia menarik baju bagian depannya yang basah. Ada bekas pukulan juga pada bagian dadanya. Memikirkan itu, aku langsung terdiam dengan ekspresi Amy yang mengatakan tidak apa-apa.


"Ambil satu baju lengan panjang lo, Rain!" ujar Aray. "Biar dia pinjam baju lo dulu!"


"Nggak usah!" ucapku. "Pakai punya gue aja! Punya Rain mungkin terlalu kecil untuk dia pakai!"


Dan jadilah Amy menggunakan sweater kebanggaan dan sweater kesukaanku yang berwarna abu-abu.


"Terima kasih!" kata Amy setelah keluar dari kamar mandi. Tidak hanya berganti baju, Raina memberinya seperangkat alat mandi untuk Amy membersihkan dirinya sekalian.

__ADS_1


"Ok!" jawabku yang langsung melengos pergi melihat dia menggunakan sweater abu milikku. Tubuhnya sedikit tertelan oleh sweater itu, tapi terlihat manis sekali.


...***...


__ADS_2