
Aku tidak tahu dan tidak mengerti, kenapa aku selalu reflek menjawab tentang hal yang dibahas orang lain. Terlebih ketika aku mengetahui hal itu. Bukan untuk sok pintar. Kembali lagi aku tegaskan, kalau aku ini bodoh dalam bidang pelajaran. Yang ku maksud disini adalah saat aku menjawab nama teman sebangku dari temannya teman sebangku ku. Repot bukan menyebutnya seperti itu.
Kalaupun aku tahu namanya, rasanya tidak sopan bagiku menyebut nama orang yang bahkan kami belum berkenalan sama sekali. Dan lagi, aku tidak akan berani berkenalan dengan orang seperti dia. Dia terlalu berandalan. Kelihatan dari rambut merah bata dan dua tindikan pada telinganya. Aku tidak pernah berpikir akan sebangku dengan murid tipe seperti itu. Tipe laki-laki yang akan memberikan rasa sakit. Suka dengan kekerasan dan suka memukul.
Bayangan dua laki-laki lain yang memukulku sewaktu kecil, terlintas lagi dalam benakku. Yang satu bayangan bocah berambut plontos dengan kaos oblong putih dan celana seragam pramuka sekolah SD. Sosok yang berteriak lantang seperti suara yang kini menggema dari dalam dapur rumahku. Lalu satu lagi bayangan seorang laki-laki dewasa yang terbakar oleh emosinya. Suara pecahan piring, gelas, dan jatuhnya beberapa peralatan dapur memenuhi ruang telingaku. Sama seperti keadaan yang terjadi saat ini didalam rumahku.
Takut! Aku benar-benar takut.
Aku seperti tidak punya pilihan selain membiarkan diriku mendengar semua keributan yang tercipta di rumahku sendiri. Entah bisa ku sebut rumah atau tidak, yang pasti didalam benakku, dimana tempat aku kembali pulang setelah semua aktivitas sekolahku, tempat itu adalah rumah. Tempat satu-satunya yang ku punya untuk melewati sisa hariku.
Setiap harinya, dengan alasan aku mengajar lukis pada anak-anak, aku selalu pulang terlambat dari jam sekolah seharusnya. Dan selama waktu luang itu, aku dengan sengaja mengikuti kelas lukis disebuah tempat lukis yang dekat dengan sekolahku. Hanya pada waktu-waktu itu saja aku merasakan tenang. Tenang yang hanya sesaat, sebelum akhirnya aku kembali mendengar keributan dan kegaduhan dari orang-orang di rumah.
"Kalau terus seperti ini, aku tidak akan pernah bisa menikmati masa tenang dalam hidupku...." isakku. Entah kapan air mataku menetes. Rasanya sesak mendengar semua keributan yang ada. Tapi juga menakutkan kalau aku harus keluar untuk menghadapi kemarahan kedua orang tua ku yang tengah bertengkar di ruang tamu.
"Aku lelah..."
Tubuhku sudah meringkuk dibawah selimut. Air mataku sudah mengalir tanpa bisa ku hentikan. Sakit. Rasanya benar-benar menyakitkan. Hanya itu yang kurasakan sepanjang malam di setiap harinya. Semua karenanya. Karena kepergiannya.
Aku terduduk disudut kamar. Meringkuk dengan membenamkan wajahku antara bagian dada dan lututku. Aku menangis terisak tanpa suara. Bayangan dua mahkluk menyeramkan memenuhi ruang kamar tidurku. Lalu seorang bocah dengan kepala plontos menggunakan kaos putih oblong dan celana pramuka, berjalan kesudut ruangan dengan matanya yang merah.
Aku terus meringkuk tanpa bisa melakukan hal apapun melihat sosok berambut plontos itu semakin mendekat dengan membawa sebilah penggaris besi. Tangannya penuh warna merah darah. Tangan yang berusaha menyentuh ke bagian rambutku.
"Tidak! Jangan!"
Aku terperanjat dari tempatku tidur. Ayam tetanggaku berkokok keras. Matahari bersinar cukup terang pagi ini.
__ADS_1
"Gawat! Aku terlambat!!"
Segera bangkit dari tempat tidur, aku berjalan keluar dari kamar. Baru selangkah keluar, kakiku sudah menginjak sesuatu yang membuat kakiku terasa perih. Ku lihat keadaan ruang tamu yang hancur lebur. Banyak pecahan piring dan gelas berserakan dilantai. Remote tv yang hancur. Lampu dinding yang tergantung terbalik ditempatnya. Gorden jendela yang berglayutan pada satu sisi. Sopa dalam posisi miring, meja ruang tamu yang penuh dengan berbagai sampah.
Aku berjongkok dan menunduk perlahan mencabut pecahan kaca yang ku injak. Segera ku ambil sapu dan serok setelah aku menempel bagian kaki ku yang terluka. Aku bereskan semua kekacauan yang ada. Melihat kedalam kamar orang tua ku yang masih tertidur lelap di ranjang, aku menghela nafas. Tidak tahu harus senang atau sedih, mengetahui mereka baik-baik saja setelah bertengkar dengan begitu hebatnya malam kemarin. Menyisakan kekacauan yang mungkin akan melukai mereka nantinya.
Sejenak pikiran untuk bisa pergi dari rumah ini terpintas dalam benakku. Hanya sesaat. Aku tidak punya sanak saudara lain. Aku tidak mengenal siapapun selama ini. Yang ku kenali hanya kedua orang tuaku dan dia. Dalam hidupku, hanya mereka yang dekat tapi juga menyakiti. Dan hanya tempat ini yang menjadi rumah, tempatku pulang apapun keadaannya.
Segera ku bersihkan sisa lainnya dibagian ruang tamu yang sudah mulai rapi. Ku lihat jam dinding rumahku yang kacanya sudah pecah namun masih berfungsi untum menunjukan waktu.
Aku bergegas mandi. Dan, dalam waktu kurang dari 30 menit, aku sudah berada didepan gerbang sekolahku. Aku menatapnya dengan kecewa. Pintu sudah tertutup dan digembok dari bagian dalam.
"Aku terlambat."
Aku berbalik dengan perasaan campur aduk. Padahal ini hari keduaku. Tapi aku malah terlambat. Padahal disekolah ini, aku mempunyai waktu tenang untuk mengenal berbagai hal baru. Tapi aku malah harus terlambat. Rasanya kecewa sekali. Terlebih setelah apa yang semalam aku alami, setidaknya aku berharap bisa menikmati masa tenangku didalam sekolah. Kalau aku kembali pulang, aku pasti akan dipukuli lagi.
Tiba-tiba sebuah tangan menarikku. Menarikku ke dalam sebuah gang kecil yang berada disebelah bangunan gedung sekolah. Aku tidak sempat melawan. Namun melihat seragam sekolah yang dipakainya, aku yakin dia juga terlambat sepertiku.
"Gerbang sudah tutup. Ayo lewat jalan pintas." katanya.
Langkahku terseret saking cepatnya dia melangkah. Rasanya nyeri dibagian luka kaki ku pagi ini. Awalnya aku menurut saja, namun kini, rasa sakitnya sudah tidak mampu aku tahan lagi.
"Ma, maaf!" kataku yang langsung berhenti dengan menghempaskan tangannya. Aku menunduk, mengusap-usap kakiku yang terasa nyeri. Sementara dia yang menyeretku, berbalik memandangku dengan rasa tidak percaya.
"Lo kenapa?" tanyanya.
__ADS_1
Sembari menunduk, aku melihat kearah suara itu. Mataku berkedip beberapa kali untuk memastikan siapa yang menarikku ke dalam gang disamping sekolah ini. Siapa yang ingin mengajakku masuk ke dalam sekolah melalui jalan pintas.
Tatapan kami bertemu, dan aku hanya bisa tertegun melihat penampilannya. Benarkah dia sosok yang sama dengan dia yang kemarin didalam kelas?! Perubahan yang dilakukannya besar sekali. Mengecat rambutnya berwarna hitam alami. Melepas tindikan pada telinganya yang ternyata tidak mempunyai lubang tindikan. Dan menggunakan seragam sekolah dengan rapi. Benarkah dia bisa berubah sedrastis itu?
"Lo terluka?" tanyanya lagi. Nada suara yang sama.
"Tidak!" jawabku masih terkesima dengan perubahannya. "Aku baik-baik saja."
"Baguslah! Ayo jalan lagi!" ajaknya. "Sebelum ketahuan guru kelas." lagi-lagi dia menarikku. Tapi kini langkahnya jauh lebih pelan dari langkahnya tadi.
Disebuah rumah tua, dia menghentikan langkahnya. Satu-satunya rumah dibalik pemukiman dan gedung belakang sekolah.
"Tunggu sebentar disini." Ujarnya memasuki bagian garasi rumah tua itu. Terdengar suara pagar yang digeser paksa, lalu dia kembali untuk memintaku mengikutinya. Sebenarnya aku ragu-ragu, tetapi begitu melihat halaman kecil didepan kelas, aku segera mengikutinya. Dia memintaku untuk berjalan duluan. Menunduk untuk memasuki celah jalan pintas itu.
Aku keluar dari jalan pintas yang ditunjukan dengan memegang erat tali tas dengan kedua tanganku. Saat aku bisa berdiri dengan leluasa, aku merasa lega karena siswa lain masih berlalu lalang untuk masuk kedalam kelas. Aku segera menyusul dan berbaur sama seperti yang dilakukan teman sebangku ku.
Aku mempercepat langkah menuju ruang kelas, membuka pintu belakang kelas dan mendapati sosok teman sebangku ku menabrakku hingga terjatuh.
Aku tertegun. Penampilannya mendadak berubah serampangan. Tindikan itu masih ada disana dengan warna rambut yang hitam alami. Jas sekolah tidak ia gunakan, melainkan berada pada kursi sebelah bangku ku.
Seingat ku, dia tadi harusnya berjalan dibelakangku. Setelah menunjukan jalan, dia memintaku jalan duluan lalu dia menyusul setelah aku bermaksud berbaur dengan siswa lainnya yang masih lalu lalang.
"Sorry! Sorry!!" ujarnya mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. "Lo nggak apa-apa kan?!"
Aku terdiam sejenak lalu menggeleng pelan.
__ADS_1
Seorang guru masuk, dan semua siswa langsung berhamburan untuk kembali duduk pada bangku mereka.
...***...