
Seharusnya aku tidak seegois itu tiga tahun yang lalu. Setelah meluapkan semua kekesalan dan kemarahan ku, aku pergi begitu saja dari tempat yang disebut dengan rumah. Aku pergi dengan meninggalkan dia yang selalu menjadi sasaran kemarahan mereka. Tapi waktu itu aku masih sangat labil. Remaja dengan usia 15 tahun yang sudah muak dengan masalah pertengkaran orang tua yang selalu bersikap lebih kekanak-kanakan dari usia dan tanggung jawab mereka yang seharusnya.
Muak dengan segala kekerasan fisik dan kekerasan secara verbal yang aku dan Amy dapatkan. Karena itulah aku pergi tanpa memikirkan hal apapun. Waktu itu yang terbesit hanyalah, bahwa aku hanya harus menjauhi orang-orang dalam rumah ini dengan mengabaikan bahwa ada seorang lain yang sepertiku tengah berada didalam sana. Mengabaikan dia dan semua penderitaan yang diperolehnya.
Hari ini, aku yang merasa menyesal telah meninggalkannya 3 tahun yang lalu, hanya bisa melihat akibat dari perbuatan yang pernah ku lakukan padanya. Tidak ku sangka dia akan begitu ketakutan setiap kali melihatku. Jadi karena hal itulah dia menghindar dariku. Bahkan hanya untuk sekedar bertatapan denganku.
Melewatinya kini, aku dengan sengaja membuang pandanganku. Bahkan tidak melirik sama sekali. Dia selalu saja menunduk kepalanya. Aku benci melihat dia ketakutan ketika aku menatapnya. Seperti terakhir kali aku bicara dengannya.
Aku masuk ke dalam kelas dengan langsung bertemu tatap dengan cowok tengik yang bernama Reihan. Cowok yang mengaku-ngaku pacaran dengan Amy.
"Siapa maksud lo, Rei!" ujar teman si bocah tengil yang mengaku-ngaku sebagai pacarnya Amy.
"Bukan siapa-siapa!" jawab bocah tengik itu sambil menatap langkahku menuju bangku belakang. Lama kami saling menatap, bocah tengik itu langsung berangsur berjalan ke arahku begitu ku abaikan dengan meletakkan tas ku pada kolong bangku.
"Gue perlu bicara?" ujarnya di hadapanku dengan santai.
"Sepertinya kita tidak saling ada urusan?"
"Seharusnya ada!" jawabnya.
Tanpa memberi tahu kelanjutannya melalui kata-kata, bocah tengik bernama Reihan langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk kelas. Dimana Amy, si ketua kelas, dan temannya memasuki kelas dengan bercerita.
"Siapa maksud lo?"
"Dia?!" jawabnya datar.
"Siapa??" aku bertanya. "Cinta pertama gue maksud lo?!"
Kami membahas siapa yang dimaksud tanpa menyebut nama, tapi aku tahu betul siapa yang dia maksud dan juga sebaliknya. Bocah tengik ini mengerti siapa yang tersirat dalam jawaban yang ku berikan.
"Cinta pertama atau bukan, hentikan tindakan bodoh lo yang selalu berakhir dengan menakutinya." Nadanya masih terdengar santai dan datar.
Mendengar kalimat itu, aku tidak bisa untuk menahan emosi atas perkataannya yang menyatakan kalau aku menakut-nakuti Amy. Dasar bocah tengik yang sok tahu!
__ADS_1
"Dia bukan takut dengan gue, tapi sengaja menghindar!"
"Apapun itu! Selama dia ketakutan setiap kali lo mendekatinya, gue nggak mau peduli. Jauh-jauh darinya." peringatan itu bernada cukup keras untuk nada bicaranya yang biasa terdengar santai bersama teman-temannya. Bukannya terlalu memperhatikan, tetapi apapun yang mereka bicarakan tentang Amy, aku tidak pernah tidak melewatkannya sekalipun.
"Tunggu!"
Sebelum bocah tengik itu berbalik dan kembali ke bangkunya, tanpa pikir panjang aku menarik dan meremas kerah bajunya kuta-kuat dengan penuh emosi.
"Jangan pernah coba menganggu urusan gue dengannya. Lo hanya orang baru di hidupnya!" ujarku penuh emosi.
Dari tindakan yang tiba-tiba aku lakukan, bukannya tidak mendapatkan reaksi apapun. Seisi kelas menoleh ke arah kami dengan tatapan takut-takut. Dua teman bocah tengik ini langsung berdiri dan menghampiri si bocah dengan sigap. Reflek bocah tengik ini mengangkat satu tangannya seolah menghentikan dua sobatnya yang siap melawan kalau aku melewati batasan ku terhadap teman mereka ini. Dan dari semua pemandangan yang bisa ku perhatikan, Amy terpekur dalam duduknya. Tali tas itu dipegangnya kuat-kuat. Dia menunduk dengan tubuh yang terlihat sedikit gemetar.
****!!
Aku melepas kasar cengkraman ku. Sementara si bocah tengik ini bahkan terlihat biasa-biasa saja dengan emosiku. Seperti tidak terpancing sama sekali. Aku sendiri, mendengar orang lain bicara padaku mengatasnamakan Amy, sudah membuatku begitu emosi.
Kali ini kami bertatapan lama penuh pertentangan. Aku tidak menyangka kalau sosoknya akan berbicara mewakili sikap Amy terhadapku. Dan bukannya tidak mengetahui ketakutan yang Amy tunjukan, aku hanya tidak menyangka kalau bocah tengik ini begitu menunjukan maksud baiknya kepada Amy. Bisa diperhitungkan.
Dengan melambai-lambai kepada seisi kelas seolah yang barusan terjadi hanyalah sebuah becandaan, bocah tengik itu berjalan dengan tawa renyah menuju bangkunya sembari melempar senyum sengak penuh kemenangan.
Aku yang sempat terbawa emosi memilih mengabaikan keadaan yang terjadi. Memang apa yang sudah terjadi adalah hal kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan. Tetapi menatap punggung yang mengkeret dengan wajah tertunduk itu, membuatku cukup merasakan kesal untuk melewati satu hari ini. Hari yang harusnya bisa ku lewati dengan tenang karena bisa melihat dia.
Aku benamkan wajah pada buku di hadapanku. Entah sudah berapa lama, kelas yang tadinya terdengar berisik namun menyenangkan ini tiba-tiba terasa sepi. Sepi yang tanpa suara. Hanya terdengar satu dua langkah yang tidak berarti. Sepertinya mendekat! Aku membuka mata tepat saat si pemilik langkah itu berhenti dengan gerakan kaku di hadapanku.
"Gue kira lo belum bangun!" ujarnya dengan seringai wajah yang ketakutan. Wajah yang tadi pagi juga menunjukan ekspresi yang sama. Tanganku reflek mengusap telinga kanan. Kebiasaan yang susah hilang. Lalu menoleh ke sekeliling kelas.
"Gue ketinggalan sesuatu, dan kebetulan melihat lo masih tidur.." jelasnya dengan gerakan yang masih terlihat kaku. Salah tingkah?! Canggung?! Apa-apaan anak kecil ini!?
Aku tanpa pikir panjang langsung bangkit dari posisi tidurku. Dan anak kecil di hadapanku ini langsung bergerak reflek memberiku jalan untuk lewat. Tubuhnya bersandar pada bagian meja dibelakangnya. Tangannya mengepal kuat-kuat. Terlintas dalam benakku, kalau dia bermaksud memukulku dari belakang ketika aku lengah, jadilah, baru beberapa langkah, aku menoleh ke belakang dan mendapati dia sudah menunjukan senyum kaku dengan memperlihatkan bagian gigi depannya beberapa kali.
"Sepertinya aku terlalu terbawa peran yang ku mainkan..." tanpa sadar juga tangan ini kembali mengusap-usap telinga dengan geram. Melanjutkan langkah tanpa menoleh lagi ke arah belakang. Tidak peduli ketika anak kecil itu tiba-tiba menemplok menabrak punggungku.
"Ma, maaf!!" ucapnya cepat. "Apa lo dengan suara barusan?!"
__ADS_1
Kali ini terlihat wajahnya nampak begitu pucat dengan melihat ke arah belakangnya. Kearah dimana pintu kelas berada. Kelas yang baru saja aku tinggalkan. Tangan anak kecil ini sudah meremas lenganku dengan kuat. Apa dia tidak menyadari tindakannya ini.
"Mendengar apa!!"
Dengan tidak bermaksud kasar, aku melepas tangan itu. Namun pegangannya menjadi semakin kuat.
"Gue takut!" ucapnya getir. Nada suaranya tidak bisa bohong. "Tadi gue dengar ada yang manggil nama gue dengan nada yang begitu menyeramkan, tapi nggak ada siapa-siapa di dalam selain gue..." Dia semakin menempel pada ku. Hal itu membuatku cukup merasakan sesak. Sial. Apa-apaan anak kecil ini.
"Gue yang manggil lo tadi!" ucapku kesal dengan tingkahnya. Ya kali, di jaman seperti sekarang ada hantu iseng yang gangguin siswa dalam kelas.
Bukannya lega, aku mendapatkan tatapan tidak percaya dari sosok anak kecil ini.
"Emang nama gue siapa?" tanyanya dengan wajah rada polos dan penasaran.
"Anggap aja gue salah tadi manggil nama lo!"
"Lo beneran tahu nama gue?!"
Menurut rumor didalam kelas, seharusnya anak kecil di depanku ini adalah siswa jutek, sadis, dan tanpa ampun. Apapun tentangnya selalu saja terdengar begitu egois dan tidak masuk akal. Tapi melihatnya seperti ini, aku ragu sebutan nona tanpa ampun itu hanyalah isapan jempol belaka.
"Penting?!"
Dia menggeleng. Kembali mata itu membulat dengan penuh harap.
"Bener lo yang panggil gue tadi kan?!"
Jengkel mendengar dia meyakinkan berkali-kali, aku menatap jengkel.
"Bukan!" jawabku. "Emang ada setan tadi dikelas."
Aku benci jawaban yang ku keluarkan. Karena jawaban itu, aku kini terjebak dengan gadis yang nampak kaku, dingin, dan tidak tahu apa-apa ini. Aku memang tidak tahu siapa yang memanggilnya setelah aku keluar, bagiku, dia mungkin hanya berhalusinasi. Dan dengan maksud membuatnya tenang, aku berbohong dengan mengatakan aku yang memanggilnya, dan jawaban terakhirku karena kejengkelan dengan pertanyaan berulangnya, membuatku membenci hari ini.
...***...
__ADS_1