
Aku terbangun dengan perasaan tidak karuan ketika melihat keadaan kamar yang tidak ku kenali sama sekali. Untuk beberapa waktu, aku mencoba mengingat hal apa yang membuatku berakhir di kamar ini. Kamar yang nampak indah dan rapi. Siapapun yang mempunyai kamar ini, pastinya akan sangat merasa bahagia dengan dekor kamar ini.
Dengan keadaan kepala sedikit berat, aku duduk diatas kasur. Meraba dan merasakan betapa lembut dan hangatnya kasur yang ku tiduri kini. Aku ingat, harusnya aku ada di Pustaka. Menjaga meja kasir lalu sebuah bentakan tepatnya sebuah teriakan mengalihkan pandanganku. Itu cuma keisengan Reihan. Akh! Bukan. Itu ulah saudaranya Reihan. Entahlah! Aku pusing memikirkan hal itu. Terlalu banyak hal yang aku pikirkan belakangan ini.
Begitu turun dari kasur dan bersiap berjalan menuju pintu dari kamar itu, aku mendengar dua suara yang sedang berdebat di depan pintu. Rupanya aku ada di rumah Reihan. Apa yang sudah terjadi sebenarnya?!
Pintu kamar itu terbuka, dan aku kembali mendapati pemandangan yang sempat membuatku jatuh terperosok di pustaka beberapa saat yang lalu sebelum aku melupakan kejadian yang membuatku berakhir di kamar ini. Hanya bedanya, kini keduanya menggunakan warna baju baju yang berbeda dari siang tadi. Rambut yang sama-sama acak-acakan mungkin karena habis mandi. Jadi aku masih harus memperhatikan keduanya untuk tahu yang mana Reihan dan yang mana kembarannya.
"Lo udah sadar?!" suara yang terdengar sedikit girang itu milik Reihan.
"Lo jangan banyak gerak dulu!" suara yang lebih tertahan dan kalem itu milik kembarannya Reihan.
Untuk kedua pertanyaan itu, aku hanya bisa mengangguk untuk menjawabnya. Baik wajah, tinggi, dan postur tubuh keduanya sungguh-sungguh mirip. Tidak ada bedanya sama sekali. Tegapnya, caranya bicara, dan cara keduanya baik dalam berjalan dan bersikap. Aku harus jeli untuk membedakan mereka berdua agar tidak bingung lagi.
"Lo butuh istirahat!" ucap kembaran Reihan. "Tiduran aja dulu disini! Nanti satu diantara kami akan antar lo pulang."
"Terima kasih!"
"Maaf.... Terima kasih!" gerutu Reihan. "Bosen gue denger lo ngomongnya gitu terus! Kalau sakit, seenggaknya bisa ngomong kek!? Kan nggak ngerepotin orang jadinya!"
Ucapan Reihan terdengar begitu menyakitkan untukku. Tumben sekali dia bicara tidak memikirkan perasaan orang yang mendengarkan omongannya.
"Apaan sih lo!!" sanggah kembarannya. Nada suara terdengar tidak sependapat dengan ucapan yang Reihan lontarkan.
"Tidak apa-apa!" jawabku. "Aku memang merepotkan kalian hari ini!"
"Itu lo sadar!"
"Bisa jaga omongan lo dikit nggak!" sentak kembaran Reihan dengan nada tidak suka.
"Suka-suka gue dong!!!" kilahnya.
Sejenak aku melirik Reihan dengan takut. Kenapa dia tiba-tiba seperti berubah kepribadian seperti itu. Apa yang selama ini bersamaku dikelas itu, bukan Reihan tapi kembarannya?!
Bukan! Bukan! Aku segera mengenyahkan semua pikiranku tentang dua pemuda bak pinang di belah dua yang kini berdiri di hadapanku.
__ADS_1
Reihan ya Reihan. Kembarannya ya kembarannya. Mereka jauh berbeda meskipun wajah mereka sama persis dan tidak ada bedanya. Yang selalu di kelas denganku sudah pasti Reihan. Hanya ada satu atau dua diantara kejadian yang ku lewati bersama Reihan, ternyata adalah hari yang ku lewati bersama kembarannya.
"Aku ada salah ya, Reihan??" tanyaku sembari menatap Reihan. Dia langsung celingukan tidak jelas kearah sampingnya. Meyakinkan diri kalau pertanyaanku memang aku tujukan untuk dirinya.
"Gue??" Reihan menunjuk dirinya sendiri. "Gue siapa?" tantangnya.
Tumben sekali Reihan seperti salah tingkah dengan dirinya sendiri. Aku baru pertama kali melihatnya yang seperti ini.
"Reihan!" tuding ku. "Dan dia kembaranmu!" Untuk kembarannya, aku tidak berani menuding. Takut kalau aku ada berbuat atau berkata yang salah selama aku mengira kalau dirinya Reihan.
"Bukan! Gue bukan Reihan!" jawab Reihan acuh.
Sementara kembarannya tersenyum dengan sikap Reihan itu. Senyum itu langsung mengingatkanku pada tiga kejadian yang berbeda baik di lingkungan sekolah ataupun pada hari dimana aku mendapatkan pekerjaanku. Jadi disaat aku merasa Reihan berbeda, saat itulah aku tengah melewatkan hari ku bersama kembarannya.
"Kenakan-kanakan lo!" celetuk kembarannya.
"Kalau bukan Reihan, lalu kamu siapa?" tegur ibu mereka dari balik pintu yang terbuka lebar. Datangnya ibu Reihan langsung membuatku memandang dengan perasaan tidak enak.
"Bu .." kembaran Reihan mengambil posisi ke sebelah pintu. Dia bersandar di kusen pintu, sementara Reihan bergaya santai dengan menyender pada meja dibelakangnya.
"Orang baru sadar sudah di kerjai seperti ini!"
"Tidak apa!" jawab santai ibu Reihan.
Rasanya tidak enak sama sekali karena keadaan yang aku alami sekarang. Sudah memotong waktu kerja dan masih harus merepotkan Reihan dan keluarganya karena aku sempat tidak sadarkan diri ditempat kerja.
"Kalau udah baikan, bisa minta Rei buat antar pulang yah! Dia udah bilang tadi!" ujar sang ibu.
Aku mengangguk. "Baik, bu! Terima kasih!"
"Siapa yang ngomong gitu! Bukan aku!" dengusnya. Dia melirik ke arah kembarannya.
Aku terdiam. Apa dia tidak mau mengakui kalau dirinya itu Reihan?! Padahal ibunya sudah ngomong langsung ke dia.
"Gue nggak ikut-ikutan yah!" kembarannya Reihan langsung berjalan mundur lalu menahan langkah Raina yang berjalan dengan membawa dua kotak minuman menuju ke arah kamar ini.
__ADS_1
"Yah, Rei?! Anterin Amy pulang." sang ibu melihat Reihan dengan tatapan yang sedikit jahil. Ibu yang benar-benar mengenal anak-anaknya. Andai ibu ku bisa seperti ibunya Reihan. Andai aku mempunyai keluarga seperti keluarga Reihan. "Apa lo pantas untuk itu? Orang seperti lo apa pantas untuk bahagia?" Kalimat Angga itu langsung menyadarkanku. Segera aku mengenyahkan semua pikiranku tentang keluarga bahagia ini.
"Tidak usah bu, saya sudah bisa pulang sendiri!" jawabku untuk menghentikan Reihan yang sepertinya sedikit merajuk dengan permintaan ibunya itu.
"Jangan seperti itu!" Ibunya langsung merangkul bahuku lalu berbisik, "Kamu pemenangnya! Dia sedang malu karena langsung dikenali olehmu!"
"Ya?"
Mendengar ucapan ibunya, aku benar-benar tidak percaya. Reihan sedang malu? Kenapa dia merasa malu? Bukankah dia sedang jengkel karena merasa direpotkan oleh ku? Aku langsung melirik Reihan. Lalu cepat-cepat menunduk saat tatapan matanya mulai menajam.
"Lucu sekali pacarmu ini, Rei!." Lalu ibunya langsung mencubit pipiku dengan gemas.
"Kami nggak pacaran!!" jawabku dan Reihan bersamaan.
Ibunya Reihan tertawa mendengar respon kami. Bahkan geleng-geleng kepala sembari keluar dari kamar ini.
"Gini-gini, ibu pernah muda juga lho?!"
"Maaf, bu!" ujarku setengah berteriak. "Reihan sebenarnya hanya menolong saya dengan mengakui saya sebagai pacarnya, bu! Kami beneran nggak pa...caran!"
Aku melihat ke arah Reihan. Reihan yang kini menutup wajahnya sembari tertawa kecil. Tawa yang membuat wajahnya terlihat makin ceria. Tawa yang tanpa beban. Tawa yang membuat dia terlihat begitu menarik. Tidak akan bosan jika aku terus melihatnya seperti ini. Untuk sesaat saja, aku harap waktu berhenti agar aku bisa melihat tawa itu lebih lama lagi.
"Nggak usah di jelaskan! Gue antar lo pulang aja! Kalah gue kalau berdebat sama ibu!" Reihan langsung menarik tanganku keluar dari kamar itu.
Tidak banyak bicara, aku mengikuti langkah Reihan menuju garasi rumahnya. Naik ke atas motor yang dikeluarkannya, lalu terdiam saat Angga mendadak sudah berhenti di samping kami.
"Nggak usah repot anterin, Amy!" kata Angga. "Dia bisa pulang bareng gue!"
Tanpa merespon ucapan Angga, Reihan hanya melirik sejenak lalu berfokus pada motornya. Sudah ku duga tatapan Reihan memang nampak tidak suka dan penuh perselisihan pada Angga. Kali ini aku tidak mungkin salah.
"Pegangan!" ucap Reihan menarik tanganku untuk berpegangan padanya. "Kalau nggak pegangan, nanti takut jatuh!"
Seakan tidak mendengar ucapan Angga, Reihan langsung menyalakan mesin motornya dan melajukan motor ini ke jalanan. Meninggalkan Angga yang nampak begitu santai melihat ku pulang di antar oleh Reihan.
"Lo itu punya gue!" ucap Reihan samar-samar. "Gue nggak akan serahin lo ke cinta pertama lo itu, apapun yang terjadi!!"
__ADS_1
Mendengar kalimat itu samar-samar, aku langsung di hujani oleh banyak hal yang tidak menentu. Terutama tentang pantas atau tidaknya aku untuk seorang seperti Reihan.
...***...