
Setelah drama menculik Amy dari pustaka kurang dari satu setengah jam, drama lain menyambut kepulanganku membawa Amy kembali ke Pustaka. Disambut oleh Aray, Raka, dan Ditya dengan wajah yang serius, aku meyakini ada hal lain yang telah terjadi. Hal yang kemungkinan menyangkut aku dan Amy.
Firasat buruk.
Begitu Aray menyerahkan sebuah vidio di ponselnya padaku, aku yang awalnya biasa saja karena mengenali itu Aray dan Jihan hanya bersikap biasa. Tapi begitu Raka menjelaskan tentang nama yang di tautkan dalam vidio itu, aku mengerti sekarang kenapa saudara kembar dan dua sobatku nampak begitu serius menanggapinya serta kenapa seminggu ini Amy menghindari ku. Amy yang sedari tadi melirik dan bahkan dengan terang-terangan menatap ke arah kami yang sedang membahas masalah ini diruang tamu. Kebetulan ruang tamu rumahku terbuka dan memiliki akses melihat langsung ke area dalam pustaka. Aku tersenyum puas dengan apa yang akhirnya mengganjal di pikiranku.
"Gampang ini mah." ujarku pada Aray dan dua sobatku.
"Lo punya pemecahan masalahnya?" Ditya nampak terkejut.
"Apa yang lo pikirkan?" Aray menguap santai di sofanya. Padahal dia pemeran dalam vidio pelukan dan ciuman kening itu.
"Udah baca file persetujuan Osis tentang Festival nggak?"
"Yang lo rubah di bagian akhirnya?!" keluh Aray yang tidak bisa mengelak dari kecolongan atas apa yang aku rubah dalam persetujuan Osis miliknya tersebut.
"Yap!" jawabku. "Yang ngusulin kan anggotanya Lo, masa gue nggak menyetujuinya." Sudah sangat lama aku tidak melakukan sesuatu yang mengasyikan seperti ini. Rasanya akan sangat menyenangkan bisa mempermainkan balik orang yang dengan sengaja memulai permainannya denganmu.
"Langkah pertama, jangan sampai Amy mengetahui hal ini?!"
"Kedua?" tanya Raka malas-malas. Tapi sosoknya lah sebenarnya yang paling semangat dalam melakukan hal-hal seperti ini.
"Gue butuh keahlian drama lo, Dit."
"Romeo and Juliet." jawab Ditya sembari memperagakan adegan terbaik dari cerita romansa Romeo dan Juliet yang terkenal itu.
"Lalu?" Aray bertanya dari seberang meja.
Tatap matanya memang santai. Tapi jangan salah sangka, langkah siap eksekusinya benar-benar akan menakutkan. Karena bagiku, Aray orang yang tidak pernah bisa di tebak caranya ketika menyelesaikan suatu masalah. Bahkan ketika 99% rencana yang sudah berjalan kacau pun, Aray bisa membalikkan keadaan dengan cara-cara yang terduga.
"Kan pemeran utamanya lo sama Jihan."
Panjang umur. Dering telpon di hp Aray berbunyi. Dan nama Jihan tertera di layar telp. Aku mengangkat alis sembari membalas senyum Aray akan panggilan itu. Senyuman yang siap melakukan perencanaan eksekusi besar-besaran. Otak kriminal dengan wajah sekalem dewa.
"Sudah. Iya. Aku tahu. Mau ke rumah?"
Kalian tahu kenapa aku setuju Aray pacaran dengan Jihan. Jihan di mataku adalah gadis yang sama sekali tidak bisa ditebak jalan pikirannya. Masalah sekacau apapun, asalkan Jihan campur tangan jadi masuk akal. Padahal dia hanya mempermainkan kata-kata saja. Memang sih pernah main tangan, dan aku bukan tipe yang suka melawan perempuan. Terutama Jihan. Aku sarankan tidak usah di lawan. Pasrah saja.
"Gimana?" tanyaku.
"Ok. Bisa dijalankan." jawab Aray.
"Ngomong-ngomong, siapa yang menjadi sasaran orang dibalik vidio ini?" Raka mulai menelisik.
"Kita akan tahu pada waktu yang seharusnya." jawabku.
"Menurut gue sih kalo nggak elo berdua, ya Si Amy. Orang yang akunnya di tautkan." celetuk Ditya.
"Hanya perlu periksa akun sosial medianya Amy." jawab Raka sembari menatapku dengan tatapan siap eksekusi.
"Gue aja." jawabku melenggang pergi ke arah Pustaka. Dimana Amy tengah bersiap-siap untuk pulang.
"Mi..." panggilku. Gadis itu langsung menoleh padaku.
__ADS_1
"Ya?"
"Pinjam Hp lo boleh?"
Tanpa pikir panjang, Amy menyerahkan hpnya padaku.
"Sandi bukanya?"
"089-089." jawabnya. Lalu aku tidak bisa menahan senyum sumringah ku lama-lama.
"Kenapa?" tanyaku iseng sembari membuka hp milik Amy. "Nomer spesial yah?"
Amy menggeleng santai.
Mengecek tautan sosial media milik Amy, aku tidak menemukan tautan itu di beranda ataupun pada arsip akunnya. Lalu mengecek pengaturan tautan dan ijin tautan telah dinonaktifkan sehingga siapapun yang menautkan akunnya pada hal apapun, Amy tidak akan melihat atau bahkan mengetahuinya. Maaf.
"Ini."
"Hmm." Amy mengangguk lalu menyerahkan kunci pustaka padaku.
"Mau gue antar?"
Amy menggeleng. "Angga sudah di depan." jawabnya kemudian.
Sialan.
"Oh. Ok." jawabku.
Abaikan dulu Amy yang di jemput Angga. Aku ada urusan lain yang harus di lakukan. Siapa pelaku di balik penyebaran vidio Aray dan Jihan yang sedang bertengkar di sudut ruang UKS.
"Aku pulang ya." kata Amy.
"Sebentar gue telp boleh?"
"Nggak!" jawab Angga.
"Gue nanya Amy, bukan lo!"
Amy tersenyum kemudian mengangguk.
Berlalu.
Hari berikutnya, aku dan Raka seperti biasa, kami mulai melakukan aksi kami. Ditya lagi sibuk nggak usah diajak. Mulai dari memantau cctv di sudut lorong dan mengecek siapa saja yang keluar masuk TKP selain aku, Aray, Jihan, dan Clara.
"Pengumuman! Kepada Reihan P. Diastara diharapkan menghadap ke ruang Kepala Sekolah."
Aku menghadap ruangan kepala sekolah? Ku hentikan aksiku lalu menoleh pada Raka yang tengah melihat ke arahku dengan penuh tanya.
"Ada apa?" tanyanya penasaran.
Aku hanya mengangkat bahu menjawab pertanyaan itu kemudian keluar dari ruang Osis dengan menggunakan akses milik Aray.
Menuju ruang kepala sekolah, Bapak Hendra guru BP lalu berjalan di hadapanku menuju ruangan yang sama.
__ADS_1
"Permisi." ujar Pak Hendra sembari melihat ke arah dalam ruangan. Dimana disana berdiri Ibu Kepala Sekolah, Aray, Jihan, Clara dan Amy???
"Masuklah." ucap Ibu Kepsek yang dari tatapan matanya saja sudah menyiratkan kalau Ibunya bukanlah seorang pemaaf. Bertubuh kecil dengan tatapan tajam.
"Permisi, bu! Saya Reihan." ujarku sebelum memasuki ruangan.
"Hmm." jawabnya.
Tanpa dipersilahkan masuk, aku nyelonong mencari tempat di dekat Aray. Bertanya pada kenapa pada Aray dengan memberi isyarat lalu melirik ke arah Amy yang tertunduk diam. Ibu kepala sekolah langsung memutar vidio berdurasi pendek dimana sosok Aray sedang menarik tangan Jihan, dah hal itu ditepis oleh Jihan. Bagian Aray terekspose jelas tapi bagian Jihan hanya nampak tangan dan kibasan rambut panjangnya yang biasanya dicaplok dengan jepit rambut.
"Bisa dijelaskan soal ini?!" ucapnya tegas. Matanya langsung mendelik ke arahku. "Berani sekali kamu melakukan hal semacam ini di sekolah!" tuduhnya. "Kamu tidak peduli dengan reputasi sekolah ini jika diketahui pihak luar?! Bagaimana juga kamu akan mempertanggungjawabkan ini kepada orang tua gadis ini!"
Ok. Ibu kepala sekolah menuding ke arah Clara. Ada apa ini? Kenapa dengan gadis ini? Aku melirik Clara dan gadis itu hanya tertunduk diam.
Tunggu?? Aku menoleh pada Amy. Apa dia salah mengira dan melaporkan bahwa yang dia lihat seminggu lalu itu adalah aku dan Clara? Aku yang paginya mengantar Clara ke UKS karena drama yang di buat Clara didepan Amy.
Sial.
Aku memperhatikan ulang vidio yang diputar. Hanya bagian dari wajah Aray saja yang tidak menggunakan kacamatanya. Rambut acak-acakan tanda Aray telah melewati puncak amarahnya, dan tanpa menggunakan jas kebesaran karena saat itu jasnya di gunakan oleh ku. Dan satu point penting lagi yang kemarin terlewat olehku..
"Ini!" ibu kepala sekolah melempar jas sekolah dengan namaku di depan meja tempat kami berdiri. "Bagaimana kamu bisa punya pikiran seburuk itu sebagai anak sekolahan. Baru kelas sepuluh pula!"
Ok. Aku memang tidak bisa mengelak kalau semua tuduhan dan bukti tengah mengarah kepadaku. Aku terjebak. Terjebak situasi karena menggantikan Aray rapat Osis tepat di jam itu. Dan Pak Hendra si Guru BP adalah saksi rapat itu bersama anggota Osis lainnya.
"Dan kamu!" sentak ibu kepala Sekolah kepada Amy. Tentu gadis itu mengkeret tidak karuan. "Benar kamu tidak tahu siapa yang menautkan akunmu pada vidio ini?!"
Dalam ketakutan Amy terlihat berusaha menatap ibu kepala sekolah sembari mengangguk kecil.
"Anak muda jaman sekarang. Terlalu pintar untuk berbohong. Mana mungkin di jaman sekarang ada yang tidak mengerti dengan hal-hal seperti itu!" sentaknya lagi.
"Saya yang menjamin soal tautan pada akunnya bu, dia sama tidak mengetahuinya!" jawabku atas tuduhan yang di berikan kepada Amy. Amy yang baru juga sebulan ini memiliki hp itu. Dan baru 1kali melakukan vidio call denganku. Amy yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.
"Kamu memang harus menjaminnya!" balas Ibu kepala sekolah. "Ini menyangkut nama sekolah dan reputasi Osis." ujarnya lagi. "Kalau bukan karena kalian kembar, aku sudah pasti tidak akan ambil pusing dengan hal ini dan memberikan skorsing padamu."
Benar. Ini bukan hanya menyangkut nama sekolah saja. Nama Aray sebagai ketua Osis dan Jihan sebagai Wakil ketua Osis dipertaruhkan disini.
Toh Clara mengambil bagian sebagai perempuan dalam vidio itu. Padahal hanya kelihatan bagian tangan dan rambutnya yang dikibaskan. Sementara aku mempunyai misi menangkap si penyebar vidio untuk mencari tahu tujuan dan sasarannya. Juga kenapa si penyebar vidio menautkannya ke akun sosial media milik Amy.
"Memang dalam vidio itu apa yang saya lakukan bu?" tanyaku menerima semua tuduhan dan tidak berusaha membela diri.
"Bagaimana kamu memandang hal seperti ini?" tanya Ibu kepala sekolah. "Harusnya kamu bisa lebih menjaga emosi sesaatmu."
"Tapi dalam vidio ini hanya ada adegan dia menarik tangan yang kemungkinan temannya bu. Itupun hanya sebatas itu dan tidak ada hal lebih." ucap Pak Hendra. Aku tidak tahu beliau coba membelaku atau akan menyudutkan ku.
"Justru karena itu." hardik ibu kepala sekolah. "Vidio yang di sebar sengaja sependek itu agar bisa memicu pikiran negatif orang-orang terhadap kelanjutan dari adegan dalam vidio ini. Bagaimana sih bapak ini!"
"Sebentar bu!" sela Aray. Dia melirik ke arahku dengan yakin. "Karena dua siswa ini tidak tahu apa-apa, ada baiknya mereka kembali ke dalam kelas saja. Bagaimana menurut ibu?" saran Aray yang bagiku terdengar sedikit aneh.
Mengerti maksud yang Aray siratkan sebagai ketua Osis, Bu Shanti mengangguk sedikit sembari menaikan dagunya tanda menyetujui saran Aray tersebut.
"Tapi Ray..." bantahnya berwajah simpati dan getir.
"Tidak apa-apa." ucap Jihan yang fokus menatap ke arahku. Lalu tersenyum ramah menatap Clara.
__ADS_1
Senyum ramah.
...***...