Mirror!

Mirror!
Reihan : Observasi.


__ADS_3

"Hei, Rei! Abang lo nggak masuk hari ini?!"


Sapaan dan pertanyaan yang ku dapat pagi-pagi dari Angga sungguh membuatku sedikit takjub. Seolah dia tidak peduli dengan hal apapun yang sebelumnya terjadi antara kami. Ya. Mungkin aku saja yang merasa memiliki permusuhan dengan sosoknya. Padahal dari awal dia tidak memiliki salah apapun. Aku pernah benci melihat caranya mengintimidasi Amy di awal kepindahannya. Dan hal itu terbawa sampai ke semua titik pertemuan kami.


"Lagi sakit!" jawabku dengan sekenannya. Lalu kembali mengobrol dengan Raka dan Ditya yang tengah memandangi ku dengan penuh rasa heran.


"Aray bisa sakit juga?!" celetuk Ditya. Aku langsung menghadiahkan jontosan pada bahu sobatku itu.


"Dia kan juga manusia, Dit!" jawabku heran bercampur kesal dengan respon kedua sahabatku. Raka apa lagi.


"Tumben-tumbennya dia sakit!" timpal Raka.


Aku memandang kedua sobatku ini dengan rasa heran yang tidak di jelaskan. Memangnya mereka melihat Aray selama ini seperti apa sih? Dia sakit aja, mereka berdua bisa sampai keheranan seperti ini.


Di tengah rasa heran yang muncul, aku merasakan sebuah tangan mungil mencolek dari arah belakangku. Aku pun berpaling untuk melihat pemilik tangan mungil yang sudah dapat ku tebak siapa itu. Teman sebangkunya Ditya.


"Gue sering dengar, lo punya kembaran yang sekolah disini dan jadi seniornya kita, Rei." kalimat pertamanya. "Yang mana sih? Di kelas berapa?" Siska tiba-tiba masuk dalam obrolan kami.


"Katanya kalian juga kembar?!" Rahma nimbrung dengan membalik badannya menghadap ke arahku. Aku diam sejenak. Memandangi kedua sobatku yang hanya bisa menggidikkan bahunya. Lebih sedikit yang tahu tentang Aray kembaranku yang menjadi ketua Osis, lebih baik untukku tetap berulah di sekolah. Setidaknya embel-embel adik ketua Osis tidak perlu tersematkan dalam namaku. Lalu sekarang bagaimana aku harus menjawab agar mereka tidak penasaran.


"Apa mungkin dia pengurus Osis?!"


Kalimat itu membuatku reflek melihat ke arah samping dimana Amy tengah menatapku dengan cara yang tidak biasa. Hanya menatap, tapi seakan dia sudah mengetahui jawabannya. Tatapan matanya yang bulat besar itu membuat ku terdiam sesaat. Bagaimana caranya memberikan jawaban yang pasti pada Amy saat ini. Bukan hanya pada Amy. Rasa penasaran ke dua cewek di depan dan belakang punggung ku juga mulai mengusik.


"Benar pengurus Osis, Rei?" Siska langsung berangsur berdiri di sudut meja ku. Menggeser Ditya dari posisinya yang hampir dibuat jatuh terjungkal karena tindakannya itu.


"Osis?" Rahma ikut-ikutan membulatkan matanya yang sedikit sipit.


"Kepo banget lo pada!"

__ADS_1


Dengan jurus jitunya, Ditya langsung menengahi rasa penasaran semua gadis disekitar ku.


"Kembarannya Rei itu jarang bergaul. Jadi kalian nggak bakalan tahu kalau Reihan kasih tahu kalian!" tambah Ditya lagi. Tumben-tumbennya otaknya encer.


"Begitulah!" timpal Raka. "Lagian, kalau pun kalian melihat dia beberapa kali, kalian juga pasti ngira dia Reihan."


Dia langsung menepuk kepala Rahma dengan santai. Dengan satu tangan masuk ke dalam saku celananya, dia enatap mata gadis itu lalu memintanya untuk bergeser ke kursi di sampingnya.


"Begitu kah?"


Siska mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuk. Mengangguk kecil lalu kembali ke bangkunya begitu mendengar pintu kelas di buka oleh seseorang. Dia dan Ditya langsung menuju bangkunya di belakang punggungku. Duduk dengan tergesa-gesa karena wali kelas masuk untuk memberikan pembelajarannya.


Dan dari semua kejadian pagi ini, aku langsung terpaku pada Amy yang sudah nampak seperti biasanya. Mengikuti kegiatan belajar dengan serius. Atau hanya aku baru memperhatikan. Dia terlalu serius dalam belajar. Tapi wajah seriusnya itu nampak begitu menyenangkan untuk dilihat.


Dia melirik lalu langsung menatap kedua mataku dengan seksama. Membuatku langsung melihat ke arah depan dengan gerakan kepala memutar perlahan seperti robot. Gila! Aku ketahuan menatapnya seperti itu. Apa yang mungkin dia pikirkan. Dia terkadang begitu polos, bodoh, dan tidak bisa di tebak. Sering kali dia seperti memiliki dunianya sendiri. Meskipun setiap manusia sama, tetapi membaca bagaimana gerakan ataupun kata-kata yang akan Amy keluarkan selanjutnya, rasanya begitu memberi kejutan. Seakan sebelum mengatakan sesuatu, dia mengobservasi omongannya terlebih dahulu.


"Jadi, apa jawabannya.... Amy... Amyra Rashita."


Jam pelajaran terasa membosankan beberapa bulan kemarin. Tapi begitu melihat sesuatu yang membuatku ingin tahu banyak tentangnya, rasanya akan menyenangkan kalau aku tetap mengikuti kelas dan mengurangi catatan BK. Juga menghilangkan sedikit keluhan Aray dirumah tentang laporan guru tentang ku yang sampai di telinganya.


Jam istirahat, aku, Raka, dan Ditya tidak langsung ke kantin. Kami berpencar dengan urusan kami masing-masing. Kami bukannya siswa yang kemana-mana harus selalu bergerombol. Kami punya privasi dan tidak pernah mau tahu tentang urusan yang menjadi privasi masing-masing.


Untunglah bukan hanya aku yang punya pemikiran seperti ini. Mereka pun juga. Karenanya persahabatan kami selalu berjalan damai apapun yang terjadi. Tidak ada istilah tidak setia kawan dalam kamus persahabatan kami. Karena kami masing-masing mempunyai batasan dalam mencampuri apapun yang menjadi permasalah satu sama lainnya.


Mengocehkan hal-hal tidak penting, membuatku kehilangan langkah. Aku sudah melewati tempat yang ingin ku tuju. Ruang kelas Jihan. Begitu membalik badan, aku sadari sekelompok siswa mengikuti ku. Bukan siswa laki-laki yang merasa tersaingi olehku, mereka segan pada Aray. Melainkan tiga siswa senior yang pernah ku ingat pernah menyudutkan Amy di pojok belakang gedung ruang Osis.


"Ada apa?" tanya ku datar melihat mereka seperti saling dorong untuk menghadapi ku.


"Kita mau minta maaf." kata salah satunya setelah perdebatan penuh decitan kecil beberapa langkah di hadapanku.

__ADS_1


"Soal apa?!"


"Soal perlakuan kami pada gadis yang ngaku-ngaku sebagai pacar lo itu!" jawab senior lainnya yang berambut panjang.


Bukannya apa-apa, masalah itu sudah berlalu cukup lama. Dan selama itu, mereka baru punya keberanian datang minta maaf padaku?! Atau karena aku yang tumben lewat sini dan lebih sering membolos ke warung belakang sekolah ketika jam istirahat?!


"Dimaafkan!" ucapku.


Jadilah jawabanku itu mendapat teriakan histeris dan langsung di tempeli oleh ke tiga senior itu dengan penuh semangat sembari mengucapkan terima kasih dan lain sebagainya yang mendekati kata-kata itu. Tindakan yang membuat ku cukup risih dengan yang namanya perempuan. Berkerubung dan menempel tanpa permisi. Aku tidak bermaksud menjelekkan sikap perempuan yang seperti ini, hanya aku tidak terlalu suka. Tidak menarik sama sekali.


Segera aku menarik diri dari ke tiganya. Bermaksud mundur untuk menghindar, aku malah mendapat tatapan aneh dari Jihan di balik kaca mata tipisnya. Lagian, sejak kapan Jihan ini menggunakan kaca mata?


"Lo mau gantiin Aray lagi?" tanyanya yang seolah dia tahu semua tindak tanduk kami ketika bertukar peran.


"Nggak!" jawabku memberikan kode pada Jihan untuk membantu mengurusi tiga siswa senior yang masih berusaha mendekat ke arahku.


Dengan hanya mendongakkan kepalanya ke arah belakangku, ketiga siswa senior itu berdecak kesal kemudian pergi begitu saja.


"Ada apa?"


"Titipan dari Aray!" aku menyerahkan sebungkus obat yang di berikan Aray padaku pagi ini.


"Kapan dia tahu Micky pulang?!" gumam Jihan yang tersenyum menerima obat itu. Memasukannya ke dalam saku bajunya, lalu pergi setelah mengucapkan terima kasih.


"Memang cuma seperti itu bukan!" gumamku juga yang sudah terbiasa menjadi perantara sesuatu saat keadaan berjalan seperti hari ini.


Lalu disudut itu, aku tiba-tiba melihatnya. Melihat Amy yang kembali berbincang dengan senior yang kemarin sempat menyapanya saat bersama Rahma.


"Banyak sekali yang ngaku jadi cinta pertamanya, Amy!!"

__ADS_1


Aku menatap datar.


...***...


__ADS_2