Mirror!

Mirror!
Reihan : Apa yang sebenarnya sedang dia pikirkan?!


__ADS_3

Begitu melihat Amy bengong di depan pintu pustaka, tentu saja aku tidak melewatkan kesempatan bagus yang ada. Jadilah aku memayungi sembari memberinya tawaran untuk mengantarnya pulang. Gila! Aku emang selalu dapat kesempatan emas kalau sudah di pustaka.


Tadinya...


Apa aku ada buat kesalahan lagi? Perasaan wajah Amy selalu nampak serius atau muram kalau aku sudah dekat dengan sosoknya! Aku sejenak diam melihat ekspresi wajahnya yang membeku.


"Gue bukannya nggak ada kerjaan," ujarku. "Kebetulan aja gue ada perlu beli makanan dekat daerah sana."


Dia menatapku lagi. Kali ini tatapannya sedikit terlihat kecewa. Why? Ini perempuan kenapa bisa berubah dalam hitungan detik gini sih!


"Baiklah." jawabnya setelah tiba-tiba memperlihatkan seutas senyum ke arahku. Dia? Tersenyum? Memang anaknya manis. Salah tingkah gue jadinya kan!! Sembari berjalan sambil memegangi payung besar yang sengaja ku pilih, kami berjalan menuju daerah perumahan Amy dengan menikmati suasana hujan yang ternyata lumayan juga.


"Si Rei lagi kesambet dewa asmara!"


"Perubahannya drastis mah!" Raina dengan gaya mengendap-endap memperhatikan dari kejauhan di atas balkon rumahnya.


"Belakangan juga jarang bikin onar!"


"Iya nih! Semoga nggak kaya yang dulu itu!" celoteh Raina. Mengingat sesuatu yang langsung membuat bulu kuduknya merinding.


"Hmm...."


"Ngomong-ngomong soal itu..." Aray menghentikan ucapannya. Menatap Raina dan mamanya dengan tatapan penuh makna.


Mata Raina mulai menatap dan mengerti. Sementara sang mama hanya bisa mengangkat kedua bahunya sembari berlalu.


"Dia harus mengenali perasaannya sendiri." ucap sang mama yang sudah menuruni anak tangga menuju lantai satu bangunan rumah itu.


"Kasian Rei waktu itu..." ujar Raina yang mengingat bagaimana kakaknya Reihan mengalami patah hati yang bertepuk sebelah tangan. Belum lagi, gadis yang bisa di bilang cinta pertamanya Reihan itu malah saling jatuh cinta pada sahabat Reihan sendiri. Cerita yang tidak pernah diceritakan oleh siapapun. Tentang bagaimana kecewanya Reihan pada saat itu. Bagaimana terlukanya dia ketika ia harus menyembunyikan perasaan yang ia pendam sejak kecil. Perasaan yang dimana ia menyayangi seorang untuk pertama kalinya dengan benar-benar tulus.


Sepanjang jalan itu, Reihan memasukan satu tangannya ke saku celananya dan tangan yang satu masih anteng memegangi payung untuk dirinya dan Amy.


"Kamu mau beli makanan dimana? Antar aku sampai ditempat makan itu aja." ujar Amy menghentikan langkahku.


Membuatku kesal saja. Dari tadi diam tanpa mengatakan hal apapun, lalu sekalinya keluar omongan, malah hanya untuk menghentikan langkahku mengantarnya sampai di depan rumahnya. Takut aku melihat kejadian seperti sebelum-sebelumnya yah!!


Aku menatap lekat-lekat ke arah Amy. Hampir ku pelototi dia saking gemasnya dengan ekspresi yang kini ia keluarkan. Seperti tidak mengerti maksudku sama sekali. Atau gadis di depanku ini memang begitu bodohnya.


"Gue...."


"Amy!" suara panggilan itu menghentikan tindakanku yang bermaksud mencandai Amy dengan mencondongkan tubuhku untuk benar-benar langsung berhadapan muka dengan gadis yang saat ini sudah memalingkan wajahnya dariku. Sialan!


"Cepat pulang! Mereka menunggu." ujar Angga yang tiba-tiba sudah berdiri diantara kami.


Tanpa mengindahkan keberadaan ku, Angga langsung menarik tangan Amy dan gadis itu malah mengikutinya dengan tanpa paksaan sama sekali. Lagi-lagi dia. Mereka itu sebenarnya apaan sih! Termenung melihat kepergian Amy yang begitu saja, membuatku sedikit merasa tidak enak. Bukan kecewa, bukan juga sakit. Semacam tidak terima. Apalagi perginya ditarik oleh cowok lain. Cih!


"Sampai jumpa besok disekolah." kalimat itu terlontar dari Amy. Amy yang sedikit jauh tetapi tetap berbalik kemudian melambai ke arahku. "Terima kasih."

__ADS_1


Membungkuk?! Aku tersenyum dengan tindakannya itu. Dia memang terlalu sopan. Rasanya cukup menyenangkan ketika melihat dia pergi setelah mengatakan 'sampai jumpa besok'-itu padaku.


Lalu sepanjang jalan, aku mengingat lagi bagaimana Amy ketika berhadapan dengan beberapa orang yang mampir di ingatanku. Dengan perasaan senang karena berhasil mendapatkan kesempatan untuk bersama dengan Amy sepanjang jalan pulang, aku berbalik santai dan berjalan pulang tanpa membawa makanan apapun.


"Kedai makanannya udah tutup. Gimana gue bisa beli!" kilahku yang kelupaan akan keinginanku membeli makanan untuk ku jadikan alasan supaya bisa sekalian mengantar Amy pulang.


"Lo kan bisa telpon dan cariin makanan lain." keluh Raina. "Gue malah udah nolak masakan mama lho!"


"Yah. Bukan urusan gue lah." kilahku lagi.


"Tanggung jawab!" ucap Aray menghentikan langkahku sembari menyodorkan hpnya. "Bayarin ini."


Melihat jumlah makanan yang diorder dan jenis makanannya, aku hanya menatap Aray dengan sedikit rasa canggung.


"Gue yang tungguin didepan deh." jawabku atas tampilan layar HP yang Aray tunjukan padaku. Sial.


Jadilah aku duduk santai di area halaman pustaka sembari menunggu kurir makanan datang membawa pesanan Aray.


Iseng-iseng membuka akun sosial media, aku melihat sesuatu yang begitu menyenangkan untuk ku pandangi. Postingan si Siska bersama dengan gadis yang membuatku cukup senang hanya dengan bisa memandangi gambarnya saja.


"Ngomong-ngomong, ini kapan? Dimana?" keluhku karena tidak bisa mengenali tempat dimana lokasi postingan foto dari Siska itu.


Belum selesai rasa penasaranku akan tempat postingan itu, satu notif masuk dari Amy.


"Amy!!" aku terperanjat sambil memperhatikan lagi layar hp ku untuk meyakinkan diri kalau notif yang masuk memang dari Amy. Semoga tidak ada yang melihat tingkahku saat ini.


Dengan perasaan senang yang membuatku ingin melompat-lompat seperti anak kecil, aku membuka notif itu.


Sejak membawa hp, ini pertama kalinya dia mengirim pesan padaku. Pesan yang terkesan begitu kaku dan baku. Ah.... gadis yang benar-benar bodoh! Dari caranya menulis pesan saja, dia bukan hanya kelihatan bodoh tapi juga benar-benar polos. Amyra.


"Permisi! Pesanan atas nama Amyra!"


"Eh! Ya!" Aku tercengang dengan nama yang disebutkan oleh abang-abang kurir yang sudah berdiri dibalik pagar rumahku.


"Totalnya seratus tujuh puluh lima ribu."


"Ya!" jawabku. "Bayar dengan ini bisa?!" aku menunjukan barcode pembayaran kepada kurir pengantar makanan itu. Melakukan pembayaran lalu masuk ke dalam rumah setelah kedua pesanan Aray datang.


"Makanan datang!" teriakku di meja dapur. Ku letakkan makanan itu diatas meja, lalu kembali fokus pada layar ponselku sampai aku tidak menyadari baik Aray, Raina, ibu dan bahkan ayah melewati ku sembari menatap ke arahku.


"Senyum-senyum gitu! Dapat notif dari siapa sih?!" ledek Raina yang langsung membuatku kepentok sekat antara ruang tamu dan jalan menuju kamarku.


Sontak kejadian itu menjadikanku bahan tertawaan keluargaku. Membuatku merasa marah dan malu disaat yang bersamaan.


"Cieeeh! Yang lagi kasmaran..." ledek ibuku. Sementara ayah menatapku dengan sangat tegas. Begitu juga Aray yang terlihat menatapku dengan tidak biasa. Hanya Raina yang bahagia dengan komentar ibuku.


"Apaan sih mah!" ujarku membalik badan lalu bergegas masuk ke dalam kamar sembari menggenggam ponselku dengan erat.

__ADS_1


Menutup pintu dengan cepat, aku segera melihat ke dalam cermin. Memperhatikan dahiku yang merah membentuk palang sekat pembatas ruangan. Ahk! Sial!


Aku segera melihat layar ponselku. Bermaksud mengetik ulang pesan yang akan ku balas ke Amy, aku langsung terdiam kaku saat pesan yang ku ketik tengah terkirim kepada Amy.


To Amy: Ini siapa? Tahu nomerku dari mana?


Bermaksud langsung menghapus pesan, sebuah balasan langsung ku terima dari Amy.


Amy : Maaf. Sepertinya aku salah mengirim pesan.


Membaca balasannya itu, aku langsung menekan tombol telpon vidio. Tidak lama, panggilan vidio itu diangkat oleh Amy. Amy yang matanya nampak begitu sembab.


"Lo kenapa?" tanyaku seketika.


Amy menggeleng. "Ini benar nomer mu?"


"Iya... tadi gue maunya ngerjain lo!"


Amy tersenyum. Tapi senyumnya tidak mampu menyembunyikan raut wajahnya yang nampak tidak biasa.


"Lo disakiti siapa? Dia? tanyaku yang tidak bisa menyembunyikan kekesalanku melihat Amy yang baru saja ku antarkan pulang bisa berwajah sembab seperti itu dalam waktu satu jam. Dengan wajah bodohnya, Amy mengedipkan matanya diseberang. Seakan mempertanyakan maksud pertanyaanku.


"Lo habis nangis?"


Amy menggeleng. Lalu mengangguk kecil.


"Gue perlu kesana?"


Amy menggeleng.


"Mi, kalau mau cerita, lo bisa cerita masalah lo ke gue."


Lagi-lagi menggeleng. Aku merasa kesal, tapi juga tidak mampu berbuat apa-apa saat ini.


"Terima kasih sudah meneleponku." ujarnya tersenyum. "Ini pertama kalinya aku menerima telepon dari mu."


"Apa ini ngebuat lo senang?"


Amy mengangguk kecil.


Mungkin perasaannya yang memang sedang kacau, Amy rasanya jadi lebih terbuka padaku. Beda dari hari biasanya yang lebih banyak memilih diam.


"Lain kali, kalau lo butuh bantuan, lo boleh hubungi gue."


Lagi-lagi mengangguk kecil.


"Sudah malam, lo sebaiknya tidur." ujarku. Amy mengangguk. "Tapi jangan matikan teleponnya. Boleh?"

__ADS_1


Lama tertegun, Amy akhirnya mengangguk. Dia merebahkan dirinya diatas kasur. Ku perhatikan bagian kamarnya yang terlihat berwarna suram. Sementara sosoknya cukup terlihat bersinar dibawah cahaya lampu kamarnya yang sepertinya tidak begitu terang.


...***...


__ADS_2