
Hari pertama festival bulan bahasa, aku dan teman seangkatan Osis mengecek ulang setiap kegiatan yang sudah mulai berjalan. Mulai dari pembukaannya, kesiapan stand-stand penerimaan tamu, dan mengecek kesiapan acara yang dibuat setiap kelas dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas. Aku membagi beberapa kelompok dan setiap kelompok dipimpin langsung oleh satu panitia festival.
"Eh, udah dengar belum..."
Gosip. Keluhku begitu sampai pada stand yang harus ku cek kesiapannya. Bukan tipe yang suka bergosip, tapi ketika mendengar nama Reihan disebut dalam percakapan itu, aku merasa ini menjadi tanggung jawabku untuk memulihkan nama Reihan. Tersangkanya kan aku dan kembarannya yang tidak lain Aray si ketua Osis.
"Katanya Reihan balikan sama Clara yang ternyata itu mantannya. Dan karena dicampakkan, Amy sampai sebarin vidio Reihan dan Clara pelukan di ruang UKS." ujar seorang siswi pada stand penerimaan tamu kloter kedua ini.
"Pendiam gitu ternyata picik juga yah!" celetuk siswi lain yang ada disana.
"Karena itu gue nggak setuju Reihan dekat dengan gadis model begitu. Menjijikkan."
Mendengar hal itu, aku langsung menatap ketiga siswa itu dengan tatapan tidak suka. Rasanya menyebalkan sekali. Aku tidak bisa berbuat apapun dan belum bisa mempertanggung jawabkan perbuatanku itu. Terlebih tiba-tiba harus menyeret Amy yang aku tahu tidak akan pernah punya niatan seburuk itu terhadap orang lain. Paling kalau pun punya, dia hanya akan memendamnya dalam diam. Lagian apa untungnya Amy melakukan hal itu pada Reihan. Kenapa aku merasa janggal dengan masalah yang ada disini.
"Kalian liat sendiri Amy yang rekam?" tanyaku akhirnya. Satu tatapan tidak suka dariku sudah membuat mereka bertiga mengkeret dan terdiam. Tapi satu diantara mereka bergumam kecil.
"Clara yang liat sendiri dan di ancam oleh Amy katanya."
"Apa?" sekali lagi, aku mendelik.
Buru-buru mereka melakukan tugas yang harusnya mereka jalankan dan aku langsung dibuat uring-uringan karena mendengar berita aneh bin nyeneleh seperti itu. Clara? Aku menghentikan langkahku saat melihat Clara tengah asyik mengobrol dengan beberapa siswa senior yang setingkat denganku.
"Apa yang dia bicarakan?"
Aku tanpa pikir panjang lagi langsung menelpon Aray dan Reihan di saat yang bersamaan.
"Kenapa?" tanya Aray.
"Tumben nih." Tanggap Reihan.
"Bolos yuk." ajak ku. "Di Warung belakang gedung kelas sepuluh."
"Gue udah disini." jawab Reihan.
"Perlu ajak Amy." balasku.
"Lagi sama gue." jawab Aray.
"Jaga ya, Ray! Awas lecet." ancam Reihan.
"Lima menit lagi gue sampai." ujarku melenggang santai meninggalkan area festival.
"Berempat aja?" sapaku begitu sampai ditempat yang aku sebutkan di telpon tdai.
"Berdelapan!!" jawab kompak Raka, Ditya, dan dua gadis lainnya dari meja di balik tempat Reihan dan Aray duduk.
Kedua gadis itu menyuarakan pembelaannya kepada Amy. Membuatku cukup merasa lebih baik karena ada temannya yang peduli pada permasalah yang Amy selain kami berlima.
"Gue juga." tambah Reihan sembari mencuri kesempatan untuk dekat-dekat dengan Amy. Tumben.
__ADS_1
Aku lalu menanyakan hal yang paling ingin ketahui dari kedua pasangan dihadapanku ini. Jangan tanya siapa. Sudah pasti Reihan dan Amy maksudnya.
Jawaban mereka saling bertautan. Menandakan Reihan mengetahui sesuatu dengan pasti. Sesuatu yang menyenangkan tentunya. Karena sepanjang pembicaraan yang kami lakukan, dia tersenyum dengan wajah yang begitu cerah padahal dia sedang menjadi tertuduh atas tindakan yang aku dan kembarannya lakukan.
"Bagaimana?" tanya Aray.
"Mau dengerin gosip dulu." jawabku tersenyum manis kepada Aray di depan ruang Osis.
"Dari siapa?"
"Fans club mu?" jawabku lagi mengerjap-ngerjapkan mataku ke arah Aray.
"Fans Club?"
Aku mengangguk. Menunjuk sekumpulan siswa seangkatan yang berdiri di sudut lorong kelas hanya untuk bisa memantau Aray pacarku. Kali-kali mereka berkesempatan mendekatinya. Jangan harap.
"Aku?" tanyanya padaku.
"Siapa lagi?" jawabku mendorong Aray. Masa iya, sang Ratu yang harus turun tangan. Bisa-bisa bukannya dapat berita, malah yang ada panggilan ke ruang BP atau ruang kepala sekolah part 2nya.
Untuk beberapa saat yang menenangkan, aku menikmati tehku di dalam ruangan Osis. Menyaksikan satu dua anggota lainnya yang masuk dengan tampang kelelahan dan lusuh.
"Habis ngegarap sawah pak!" sapaku pada salah satunya.
"Habis ngurusin anak kelas sepuluh tuh! Sodaranya si badai bikin ulah!"
"Bukan!" jawab yang satu. "Ceweknya."
"Ceweknya?" ulang ku.
"Siapa itu namanya..."ujar salah satu sembari merebahkan dirinya di atas kursi yang tersedia.
"Dimana?" tanyaku lagi tanpa harus memperdebatkan lagi siapa cewek yang dimaksud kedua temanku itu.
"Halaman belakang gedung sepuluh."
Oh ya, nama mereka Aldi dan Reyndi. Pentolan klub pustakawan sekolah dan andalan bidang atletik. Mereka cukup ganteng kok. Tapi kalah jauh sama pacarku.
"Palingan udah bubar, Ya!." jawab satunya begitu langkahku sudah meluncur kesana.
Fans clubnya Badai-Api itu isinya cewek-cewek garis keras semua. Tapi untungnya aku punya mental dan keberanian super, jadi tidak ada yang berani mengusikku sama sekali. Aku takut. Takut Amy yang menjadi sasarannya. Amy yang sedang berjuang dengan semua rasa takut yang dimilikinya.
Begitu sampai di TKP, aku hanya melihat seorang gadis yang berjongkok sembari membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Dari tampilannya, aku bisa langsung menebak siapa gadis dihadapanku ini.
"Aku lelah." gumamnya yang perlahan bangkit dengan bertumpu pada kedua kakinya. Begitu dia sudah berdiri dengan baik, Clara melihat ke arahku dengan tatapan tidak suka.
"Hai." sapa ku.
"Iya. Ini gue. Kenapa?" tanyanya dengan nada tidak suka.
__ADS_1
"Nggak." jawabku. "Gue kira ceweknya Reihan yang bikin ulah, ternyata elo!" ujarku.
"Gue pacarnya Reihan." sentaknya tidak terima.
"Emang udah di akui?"
"Mau di akui atau tidak, vidio yang beredar sudah menjelaskannya bukan?" jawabnya bangga.
"Oh!" tanggap ku lagi. Gadis ini sepertinya sedang tidak sadar dengan ucapannya. Pasti karena di gempur fans clubnya badai-api.
"Menjelaskan apaan?" tanyaku. "Kalau kalian balikan?!"
"Tentu saja." jawabnya lagi. "Kalo nggak dengan cara ini, Reihan mungkin nggak akan pernah kembali lagi ke sisi gue."
"Memang kapan kalian pernah pacaran?!"
"Hal itu tidak penting lagi." jawabnya. "Cukup dengan menyebarnya berita ini, apa yang bisa Reihan bantah."
"Jadi itu tujuan lo?"
"Gue pernah kalah sekali. Kali ini, gue pastikan Reihan tidak akan pergi dari sisi gue. Toh wajah keduanya mirip, apa bedanya."
"Jelas ada bedanya." sanggah ku yang sudah sangat ingin membejek-bejek wajah gadis di hadapanku ini. Tapi berhubung sesama perempuan dan wajah adalah aset utama selain attitude dan pengetahuan, aku memilih hanya menyimpan ini untuk diriku sendiri.
"Apa yang bisa lo lakukan sekarang?" tantangnya. "Vidio Nya tidak tersebar luas, tapi berita yang mengiringi vidio itu, sudah tersebar dengan sangat baik, bukan?" tanggapnya santai. "Sekarang gue cuma tinggal menunggu simpati penghuni sekolah terhadap diri gue sendiri. Membuat Amy menjauhi Reihan dengan suka rela dan di benci semua orang."
"Baru juga pindah sudah berulah?!" komentar ku santai. "Pakai tindakan sepicik ini pula!!"
"Jika ingin mendapatkan sesuatu, kita harus berusaha untuk hal itu." tanggapnya. "Gue agak heran kenapa Aray sampai milih elo saat itu. Tapi Amy, dia jauh di bawah gue. Dan dia nggak pantas mendapatkan perlakuan sebegitu istimewanya dari Reihan."
"Kalau Reihan sampai mengetahui ini, bukankah dia hanya akan membenci lo?! Apalagi lo mengusik Amy yang sudah terang-terangan di akui oleh Reihan didepan umum."
"Toh Amy bakalan pindah juga habis ini. Apa yang perlu dipedulikan."
Setidaknya dugaan ku tidak salah soal siapa si pengirim vidio dan yang menautkannya secara khusus pada akun sosial media milik Amy. Hanya saja masih kurang satu tindakan lagi. Satu tindakan lain untuk mematahkan semua rencana yang sudah di jalankan oleh gadis ini. Gadis yang dulu di sukai Reihan tanpa kami ketahui. adis yang pernah membuat Reihan mengamuk karena kami malah menjodohkan salah satu sahabat Reihan dengannya.
Dulu aku merasa menyesal telah membuat Reihan sampai sekecewa itu, tapi kini aku bersyukur Reihan tidak pernah pacaran dengan gadis ini. Aku ingat Joe pernah berkata gadis ini penuh dengan obsesi dan keegoisan. Ternyata ini maksudnya.
"Jangan ikut campur dalam masalah ini." kecamnya menepuk pundakku. "Atau lanjutan vidio nya akan gue sebarkan ke seluruh penghuni sekolah."
Mendengar itu, aku langsung mengernyitkan dahi. Apa jangan-jangan dia hanya punya rekaman vidio segitu saja. Kalau dia memang mempunyai rekaman vidio itu secara utuh, harusnya dia tahu sosok di vidio itu adalah aku dan Aray. Apa dia salah mengira dalam vidio itu adalah Reihan dan orang lain? Amy??!!
Aku berbalik menatap gadis itu dengan tatapan yang menggembirakan.
"Terserah bagaimana cara dan tujuan yang sudah lo lakukan. Tapi apa yang barusan lo akui ke gue sudah cukup untuk gue menyelesaikan semua permainan lo!" ujarku menoleh pada layar hp dimana Aray tengah menghubungi.
"Selesai acara festival, lo traktir gue yah!" ujarku menjawab telpon di seberang.
...***...
__ADS_1