Mirror!

Mirror!
Reihan : Apa kami salah mengenal Amy???


__ADS_3

Bagaimana bisa setelah tiba-tiba di peluk oleh Amy, aku langsung ngeblank dan semua amarahku langsung sirna dalam sekejap mata. Mana setelah pelukan itu, Amy malah memilih pulang ditemani Angga yang setelah seminggu, baru menampakan wajahnya lagi di halaman sekolah lagi.


Sial sekali bukan. Apapun soal Amy, aku selalu kecolongan. Bisa-bisanya dia tidak mau mengatakan siapa pelakunya. Malah dengan santai menjawab ingin melupakannya. Kenapa? Apa karena dia akan pindah sekolah? Jadi dia enggan memperpanjang masalah ini. Bukannya bagaimana, aku rasa justru karena dia akan pindah, aku tidak ingin dia memiliki kenangan buruk tentang sekolah ini. Terutama hal-hal yang berhubungan denganku.


"Bagaimana kalau aku tidak jadi pindah. Apa kamu akan senang dengan itu?" kalimat terakhir dari Amy saat mengigau itu, membuatku cukup berharap bahwa yang ia katakan itu adalah kebenaran. Dia tidak akab pindah kemanapun. Dia akan tetap tinggal dan bersekolah di kota ini. Aku ingin menanyakannya esok hari.


//


Bermaksud menanyakan maksud kalimat yang dikatakan ketiak Amy mengigau, aku pagi-pagi sudah berdiri di ujung jalanan utama menuju sekolahku. Satu-satunya akses jalan untuk Amy datang dari arah perumahannya.


5 menit pertama yang menyebalkan karena aku terlalu berharap. 10 menit berikutnya aku berpikir mungkin aku yang terlalu datang pagi-pagi. 15 menit berikutnya, aku mulai gusar. Berpikir mungkin dia tidak akan masuk sekolah atau langsung pindah sekolah setelah kejadian tadi. Sial. Kenapa aku tidak memikirkannya. Kenapa aku malah mengira dia mungkin akan datang pagi-pagi untuk menghindar dari pelaku penganiayaan dirinya itu.


"Aaaarg!" aku baru saja mengacak-acak rambutku ketika mendapati Amy berdiri mematung di sampingku.


"Apa apa, Reihan?" tanyanya. Dia yang menatapku dengan wajah masih menunjukan sedikit memar di bagian sudut bibirnya dan bagian dahi yang telah di plester tapi tertutup rapi oleh poni yang menutupi lukanya.


"Nggak ada." jawabku reflek. "Gue kira lo nggak bakalan sekolah?!"


"Tadinya sih begitu..." jawabnya. Pandangannya cukup lama menerawang ke arah sekolah. "Tapi ada hal penting yang harus aku sampaikan pada Siska dan Rahma."


"Hanya mereka?"


Tidak menjawab, Amy hanya melirikku sejenak kemudian mengangguk.


Berbeda. Amy yang ku lihat pagi ini sungguh berbeda dengan Amy dihari kemarin dan sebelumnya. Caranya menunduk pun bukan dengan gaya seperti sebelumnya. Tatapan selalu saja menerawang. Ada apa?


"Lo udah ingat siapa orangnya?"


"Aku masih melupakannya." jawab Amy santai sembari melempar senyum ke arahku.


Benar. Dia bukan Amy yang ku tinggalkan kemarin di dalam kelas. Juga bukan sosok Amy yang mendapatkan pukulan dari ibunya atau Amy yang ketakutan dengan sosok Angga. Dia Amy. Amy yang berbeda dari Amy yang biasanya aku kenali. Atau diriku yang belum benar-benar tahu bagaimana Amy yang sesungguhnya? Berapa banyak hal lain dari Amy yang tidak aku ketahui?


"Ok." jawabku.


Aku tidak akan memaksanya untuk mengatakan siapa orangnya. Siapa pelaku dibalik luka-luka yang Amy alami. Aku yakin, semua itu ada hubungannya dengan masalah vidio yang bertautan dengan akun sosial media miliknya. Aku hanya harus bersabar sebentar untuk menangkap si pelaku penyebar vidio itu dan mengungkap maksudnya menautkan vidio itu pada akun milik Amy.


"Kenapa diam saja?" tegur ku ketika menyadari gadis itu hanya berdiam diri di tempatnya berdiri tadi. Apa ada yang lewat? Aku melihat ke arah sekolah. Tidak ada siapapun kecuali sekumpulan siswa perempuan yang tidak jelas obrolannya.


"Tidak ada." jawab Amy yang langsung melangkah masuk ke dalam area sekolah seperti bisanya.


Lalu di siang yang nampak asing, aku, Raka, Ditya, dan dua sobat gadis itu berdiam diri di teras lantai 2 gedung sepuluh untuk melihat bagaimana Amy dengan semua kediamannya yang semakin tidak biasa. Kalau sebelum-sebelumnya, kami masih bisa menebak bagaimana Amy akan bertindak, berkata, ataupun bersikap akan sesuatu yang terjadi. Tapi seharian ini Nihil. Dia hanya diam, mengamati dan sesekali nampak menerawang.

__ADS_1


"Dia nampak aneh hari ini." keluh Siska sembari menganalisis Amy dari tempat kami mengamati.


"Katanya dia mau menyampaikan sesuatu pada kalian, sudahkah?"


"Apa?"


Pertanyaan Rahma itu mematahkan semangatku untuk menggali informasi tentang apa yang ingin Amy sampaikan pada keduanya.


"Tapi lo beneran nggak tau siapa yang buat Amy sampai luka-luka begitu?"


"Kalau gue tahu, lo pikir gue bakalan diam saja seperti sekarang?" keluhku. "Sudah gue bikin remuk tuh orang-orang."


"Kalo dia turun tangan, Amy emang nggak bakalan mendapat banyak luka begitu." Raka menimpali.


"Tadi pagi dia jawabnya karena terjatuh. Masa iya jatuhnya bisa di semua sisi wajah dan tangan kanannya." sambung Siska.


"Lo hitung lukanya?" Ditya nampak tidak percaya akan pernyataan Siska itu.


"Nggak sengaja pas gandeng tangannya tadi." jawab Siska. "Dia sempat meringis."


"Sialan!" gerutuku mendengar jawaban Siska itu.


"Mungkin juga." dukung Ditya menepuk tangannya seperti tengah mendapatkan jawaban yang pasti.


"Apa begitu?" Siska ikut merenung.


"Gue nggak paham soal perasaan cewek, tapi gue akui, Amy kali ini benar-benar aneh." pendapat Raka di sela-sela kegalauan kami mengamati sosok Amy yang duduk di pojokan kantin sembari menikmati teh kotak yang ia beli, membuatku berpaling ke arah mana Amy menatap.


Tidak lama setelah pendapat Raka itu keluar, aku melihat Angga mendekati Amy dan duduk santai di samping gadis itu. Tidak tahu, apa yang menjadi percakapan keduanya, hanya percakapan singkat, lalu Amy berjalan kembali menuju ke gedung kelas sepuluh.


"Memang Amy udah nggak takut sama Angga yah? Udah baikan mereka?"


"Nggak mau tahu." jawabku reflek karena kesal.


Kemarin-kemarin aku memang berharap dia menunjukan emosinya. Menunjukan kemarahan dan hal-hal yang ia pendam agar tidak menjadi penyakit untuknya ke depan. Tapi mendapati dia yang sekarang dengan kediaman yang bukan hanya membuatku penasaran tapi juga membuat teman-temannya begitu merasa aneh, aku tidak bisa untuk tidak mencari tahu lebih dalam lagi.


"Gue latihan teater dulu!" ucapku gusar dengan tujuan mencegat Amy di belokan gedung kelas ini. Ku percepat langkah dengan menuruni beberapa anak tangga dengan lompatan.


"Lo masih berani datang ke sekolah?!" terdengar suara seorang tersudut ke tembok di bagian bawah tangga di mana kakiku baru saja menapak.


"Jangan coba-coba mendekati Reihan kalau lo nggak mau vidio di ruang UKS itu gue sebarin full ke seisi sekolah."

__ADS_1


Suara.... Clara?! Aku gamang melihat Clara di temani 2 senior lain menyudutkan Amy. Amy yang hanya berdiam diri disudut dengan tatapan tidak jelas.


"Lo tahu kan bagaimana kalau sampai hal itu terjadi?" sembari mengeluarkan ancamannya, dengan lembut Clara coba mengusap wajah Amy. Tapi melihat Amy yang biasanya ketakutan di bawah nada berbau ancaman, kini nampak begitu tenang dan tidak biasa, aku jadi menikmati beberapa bagian drama yang telah berjalan.


Aku yang sempat hendak bertindak begitu Clara coba menekan pipi Amy dengan amarah, langsung terdiam begitu Amy dengan senyum santainya meremas pergelangan tangan Clara dengan cara pelan tapi menyakitkan. Terlihat dari bagaimana gadis itu meringis karena tindakan Amy. Ouch. Sial. Benarkah dia Amy?


"Lakukan!" jawab Amy. "Kalo emang kamu yang menjadi penyebar vidio itu, lakukan saja!" tatapan Amy nampak begitu yakin. Itu artinya, dia mengetahui betul apa yang ia lakukan dan apa yang mungkin telah terjadi. Tapi hal itu bisa merugikan Jihan nantinya kalau vidio itu benar di sebar secara full. Bodoh sekali lo, Amy.


"Lo nantangin gue?!" ujar Clara gusar sembari berusaha melepas pegangan tangan Amy. Dari mana gadis ini mendapat semua keberanian itu. Aku lebih kaget lagi ketika Amy melihat ke arahku dengan tatapan penuh. Tatapan yang dimana membuat Clara juga ikut berbalik melihat ke arahku juga dua senior di belakangnya.


"Rei..Reihan." ujar ketiganya.


Amy menghempaskan tangan Clara begitu saja dan berjalan menuju anak tangga. Aku tidak memperdulikan Clara dan dua senior lainnya, melainkan memperhatikan Amy melewatiku dengan cara yang kelewat santai dan terasa tidak biasa.


"Hey!" teriakku. "Lo masih Amy bukan?"


Dia berhenti sejenak lalu menoleh, "Menurutmu?" Tatapan matanya masih sama.


Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya itu. Bukannya menjawab, Amy malah mempertanyakan balik hal yang aku tanyakan padanya. Mulai berani ini gadis.


"Gue latihan drama dulu yah?!"


Amy mengangguk lalu berlalu. Dari apa yang bisa ku dengar, Rahma dan Siska menyambutnya dengan banyak ocehan yang mulai Siska lontarkan.


"Reihan.... ini nggak seperti yang lo dengar." Clara mencegah langkahku di bawah tangga. Gue lupa ada mereka.


"Emang gue dengar apaan?" jawabku bodoh.


"Jadi lo nggak dengar pembicaraan kami tadi?!"


"Dia. Gadis tadi mengancam Clara, pacar lo?" cecar senior yang satu.


"Pacar gue ngancam dia?" ujarku bangga. "Keren juga pacar gue itu."


"Pacar lo bukannya Clara?" tanya senior lainnya.


"Rei..." Clara menatapku dengan tidak suka. "Yang ada di vidio itu, kita Rei..." ujar Clara. "Kenapa lo akui dia yang pacar lo?!"


"Amy emang pacar gue. Dan vidio apapun yang beredar saat ini, tidak akan bisa menggantikan posisi Amy menjadi pacar gue. Paham?" ujarku langsung menepis tangan Clara dan berjalan pongah menuju klub drama.


...***...

__ADS_1


__ADS_2