Mirror!

Mirror!
Reihan: Aku menemukannya!


__ADS_3

Mendengar Amy langsung bisa mengenaliku dihadapan Aray dan ibu, membuat jantungku melompat dengan girang. Aku tidak menyangka, si pendiam yang selalu menunduk dan tidak banyak bicara ini, bisa mengenaliku dalam sekali bertemu tatap bersama Aray.


"Lo itu punya gue!" ucapku lantang di jalanan yang sedikit lengang ini. "Gue nggak akan serahin lo ke cinta pertama lo itu, apapun yang terjadi!!"


Aku melirik arah spion. Melihat kebelakang dimana Angga tengah terduduk santai di atas motornya sembari menyalakan pemantik. Dia perokok? Aku akan membuktikan kalau aku jauh lebih baik dari si Angga itu.


Jadilah aku menghentikan laju motor ini di tempat makan terdekat. Bukan tempat makan yang mewah, tapi cukup memberi kami makanan yang mengenyangkan.


"Gue lupa ngajak lo makan di rumah tadi...." ujarku sembari tertawa geli. Gila! Saking senangnya, aku sampai lupa kalau Amy belum makan malam karena tidak sadarkan diri dari tadi sore.


Amy mengangguk. Di saat yang bersamaan, bunyi keroncongan dari perutnya membuatku semakin merasa gemas dengan gadis di hadapanku ini. Gadis yang memegangi perutnya sembari menunduk. Sepertinya dia terlihat sangat malu dengan keadaan yang di alaminya.


"Ayo!"


Ku tarik tangan Amy untuk segera mengambil satu meja yang kosong. Segera aku memesan beberapa makanan yang ku suka. Memesan dua jus nanas kesukaanku, lalu mengambil beberapa cemilan kecil yang tersedia di depan counter pesanan untuk mengganjal perut kami selagi menunggu makanan dihidangkan.


"Lo nggak suka makan disini?!"


Ok! Melihat Amy yang terus menunduk, pikiranku tiba-tiba menjadi tidak menentu. Apakah dia tidak suka tempat ini atau tidak suka menu makanan dan minum yang ku pesan? Kebetulan, aku tidak menanyakan makanan yang ingin Amy pesan tadi. Tapi langsung memesan dua porsi nasi goreng spesial, satu porsi martabak telur, dan dua gelas jus nanas yang tahu-tahu sudah tersaji di atas meja.


Amy menggeleng. Dia perlahan mengangkat wajahnya. Menatapku dengan matanya yang penuh dengan kecemasan.


"Ada yang ingin ku tanyakan..."


"Apa? Lo takut karena diantar pulang sama gue?"


Amy menggeleng dan diam untuk beberapa saat.


Aku mulai jengkel dengan kediaman Amy ini. Apa karena dia mengingat Angga, dia jadi kelihatan begitu khawatir. Aku sudah bertekad untuk merebutnya dari Angga, jadi aku tidak akan mundur untuk itu.


"Atau karena lo pingin pulangnya sama Angga??


Amy mendelik sembari menggeleng.


"Apa aku benar-benar merepotkanmu?"


Mendengar itu, tentu aku mendelik. Kemana sih pikiran nih cewek! Dia memegangi perutnya, tapi mempertanyakan hal yang tidak jelas.

__ADS_1


"Toilet ada di belakang sana!" tunjuk ku.


"Maaf, aku tiba-tiba merasa tidak enak karena harus merepotkan mu sekali lagi."


Skak matt! Dia benar-benar tahu cara membuatmu mati kutu. Kenapa dia harus memikirkan kata-kataku itu sih!


"Itu lo megangin perut kenapa?"


"Terasa sakit!" jawabnya dengan wajah super polosnya. "Tapi juga tidak sakit."


"Lo lagi ketakutan?" tanyaku lagi membenarkan posisi dudukku. Memikirkan bagian mana dari diri ku yang bisa membuatnya ketakutan sampai perutnya begitu sakit. "Karena lapar yah?!"


Amy menggeleng pelan. Lalu mengangguk cepat. Dasar cewek plinplan! Karena itu dia bisa kembali dengan mudahnya pada Angga. Padahal Angga sudah membuatnya begitu ketakutan di awal. Sampai hari ini pun, dia masih terlihat ketakutan pada sosok pemuda itu. Aku sebenarnya penasaran dengan bagaimana hubungan keduanya berjalan.


Tapi aku tidak mau tahu. Akan ku menangkan hati Amy untuk membuat Amy hanya menyukai ku saja. Aku yang sudah hampir tidak pernah bisa dikenali sebagai Reihan oleh cewek-cewek yang mengaku menyukai ku, akhirnya bertemu Amy. Ketika cewek-cewek lain salah mengira Aray adalah aku, mereka malah langsung berpaling dan mengatakan Aray pun tidak apa-apa karena wajah kami sama. Apaan yang seperti itu. Sementara Amy bisa langsung mengenali ku hanya dalam dua kali pertemuan bersama Aray. Itu hal yang luar biasa bagi ku.


"Emang gue semenakutkan itu?"


"Bukan kamu!" jawabnya.


Ku perhatikan Amy belum menghabiskan makannya. Sesekali dia memainkan sendok pada makanannya.


"Kalo lo nggak suka, seharusnya tadi lo ngomong!" sentak ku. "Lo kan jadi bisa pesan makanan yang lain!"


Amy mengangkat wajahnya. Menatapku dengan wajah takut-takut yang kali ini membuatku sangat jengkel.


"Mau pesan yang lain?!"


Amy menggeleng. Lagi. Aku memperhatikan Amy bulat-bulat. Tidak sopan memang memperhatikan orang yang sedang makan seperti ini. Toh Amy tidak melanjutkan makannya. Malah meletakkan sendok dan garpunya itu begitu saja. Menatap balik padaku yang langsung membuatku salah tingkah. Ini cewek gampang sekali merubah mimik wajahnya. Atau memang aku yang terlalu gampang tersentuh dengan semua tindakan tidak terduganya.


"Kenapa?" Tanpa sadar tubuh ini menegang dan siaga. Tatapan matanya benar-benar membuatku tidak bisa berkutik.


"Apa aku sebegitu merepotkannya??"


Untuk sesaat ketegangan yang ku rasakan langsung hilang begitu saja. Berganti dengan rasa gemas yang membuatku langsung menepuk kepala Amy.


"Maaf soal ucapan gue dirumah tadi...." ujarku. "Gue nggak bermaksud kok!"

__ADS_1


Aku akhirnya merasa lega. Karena setelah mendengar jawabanku, Amy sempat mengangguk sebentar lalu melanjutkan makannya. Bahkan aku melihat wajahnya sudah tidak nampak cemas atau pun tertekan lagi. Heran sebenarnya, hanya karena hal seperti itu, dia sampai harus begitu tertekan. Dan begitu mampu menyampaikan maksudnya, dia langsung tenang dan tanpa beban. Semakin unik dan menarik.


"Terima kasih!" ucap Amy begitu motor ini sudah berhenti di depan halaman rumahnya.


Aku memperhatikan Amy sekali lagi. lalu beralih ke halaman rumahnya. Di depan teras rumah, ku lihat sebuah motor terparkir rapi. Motor yang tadi di gunakan oleh Angga. Aku bersiap turun, saat seorang wanita paruh baya keluar dari rumah sambil menyeret-nyeret Angga keluar dari rumah ini sembari memukuli dengan kedua tangannya. Dia berteriak histeris dan membuat tubuh Amy langsung mengkeret di hadapanku. Ada apa?


"Pulanglah, Reihan!" ujar Amy takut-takut. "Sekali lagi, terima kasih untuk hari ini!"


Amy langsung berangsur berlari masuk ke halaman rumahnya. Berjalan cepat, Amy langsung memeluk wanita paruh baya yang ku kenali pernah beberapa kali mengunjungi Angga di tempatnya bekerja. Wanita itu kini balik memukul tubuh Amy dengan tangannya. Aku langsung berlari ke halaman rumah, namun Angga mendorong tubuhku dengan wajah memar di pelipis kanannya.


"Amy akan segera menenangkannya!" ucap Angga. Aku terpekur. Hanya bisa diam menyaksikan hal yang tidak manusiawi. Melihat bagaimana Amy menerima pukulan dan jambakan tanpa ada yang menolongnya.


"Ibu! Ini Amy! Ini Amy!!" teriak Amy. "Angga sudah pulang! Dia tidak akan pergi lagi, bu!!" ujarnya cepat tanpa mempedulikan pukulan bertubi-tubi yang diterimanya.


Hitungan detik setelahnya, ibu paruh baya itu langsung tenang. Berganti dengan wajah lelah yang menyedihkan. Sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya di lokasi pemotretan sewaktu menggantikan Aray.


Wanita paruh baya itu terkulai lemas dan masih di peluk oleh Amy. Amy yang duduk dalam diam dan menahan banyak emosi dan kesedihan dari ekspresi wajahnya.


"Amy...lo nggak apa-apa?" tanyaku mendekati Amy bersama Angga.


Amy menoleh padaku dengan tatapan yang tidak bisa ke jelaskan. Wajahnya masih berusaha menampakan kalau dia baik-baik saja. Tetapi tidak dengan tubuhnya. Tubuh itu gemetar. Keringat di kening menunjukan betapa takutnya Amy saat ini.


"Ayah..." tanya Amy. "Ayah dimana?" Dia mengalihkan tatapannya pada Angga.


Angga menggeleng. "Gue hanya bertemu ibu begitu sampai di rumah!"


Amy mengangguk takut-takut. Tangan itu masih harus menahan sakit karena genggaman kuat dari sang ibu yang nampak linglung dan takut.


"Ada obat di laci ruang tamu..." ucapnya.


Angga kembali menggeleng. Dan tepat saat suasana sunyi yang ada, suara pagar dibuka membuat kami menoleh ke belakang dengan kaget. Sosok pria paruh baya yang ku kenali sebagai ayah Amy datang dengan membawa satu kantong plastik berisi obat-obatan.


"Apa yang sudah terjadi?!" sentaknya yang langsung mendorong tubuhku karena mungkin menghalangi jalannya.


Dan pandangan ku langsung beralih pada kejadian penuh kejutan di teras rumah milik Amy ini.


...***...

__ADS_1


__ADS_2