Mirror!

Mirror!
Reihan: Pilihanku


__ADS_3

Semenjak diberitahu Aray tentang luka lain yang dialami gadis itu, aku tidak bisa untuk tidak peduli padanya. Sudah ku bilang, aku tidak ingin peduli padanya. Tetapi dia memang memiliki hal lain yang membuatku mau tidak mau jadi terikat dengan hidupnya. Katakan saja begitu. Kalau tidak, mana mungkin dari banyaknya gadis yang ada di sekolahan ini, aku malah terus berurusan dengannya. Jelas saja aku mengesampingkan soal dia yang menjadi teman sebangku ku.


Setelah meninggalkannya di UKS, aku tidak langsung kembali ke kelas. Aku langsung mencari Aray si Ketua Osis alias kakakku sendiri. Berbicara tantang apa yang diketahui kakakku ini tantang Amy Rashita.


"Baca ini aja! Gue cape jelasinnya panjang lebar."


Aray susah menyodorkan sebuah angket padaku. Aku membaca semua isian pada angket itu. Tidak ada hal yang aneh. Semua isiannya sesuai dengan yang diminta. Daripada penasaran dengan keanehan angket itu, aku lebih ingin tahu, kenapa Aray bisa tahu kalau tubuh Amy penuh dengan luka? Kalau Amy menyembunyikan sesuatu, itu masih haknya sebagai warga negara bukan?!


"Gue nggak butuh ini bang!"Aku melempar angket itu padanya. "Yang gue mau cari tahu, dimana lo tahu dia mendapat banyak luka memar!!"


"Nggak sengaja liat tadi!" jawab Aray sekenannya.


"Tadi?!" aku menekankan pertanyaanku akan jawaban yang ku terima darinya. "Lo apain anak orang hah?!"


Reflek aku mendorong abangku itu. Gila aja, dia sengaja diam saat Amy membuka baju gitu maksud omongannya. Waaah! Nggak nyangka gue punya abang seperti ini. Sifat kami beda jauh ternyata.


"Mikir apaan lo?!" sergahnya. "Bukanya tadi lo ngajak in dia sampai hampir ketiban penyangga besi dihalaman belakang itu?!"


"Jangan mengalihkan pembicaraan deh, Ray!"


"Siapa yang mengalihakn omongan!" jawabnya. "Ya gue liatnya tadi, pas bantu kalian nopang itu penyangga dari arah belakang! Itupun sepintas dan tanpa sengaja!" tambahnya. "Masuk kelas sana! Gue masih banyak kerjaan!"


Aku perhatikan Aray lama memandangi angket yang tadi diserahkannya padaku. Dihalaman kedua angket itu. Aku tidak memeriksanya. Melihatnya tidak. Memangnya ada apa dalam angket itu? Bukanya halaman itu hanya berisi data dari orang tua saja ya?!


Mengabaikan apa yang setelahnya dilakukan Aray, aku berjalan santai memasuki kelas. Mendapati seorang siswa dengan wajah yang masih asing menduduki bangku ku disamping tempat duduk Amy. Caranya menatap Amy membuatku tidak suka. Aku berjalan santai dan mendekat ke arah bangku tepat saat siswa asing itu berdiri untuk berjalan ke bangku sudut.


Sejenak melirik, aku mengalihkan pandanganku pada Amy. Penasaran akan luka memar yang dikatakan Aray, membuatku memperhatikan semua gerak-geriknya sepanjang jam pelajaran berjalan. Bahkan pada hari-hari setelahnya. Aku terus memperhatikan setiap gerak geriknya.


Kali kedua setelah hari kemarin.

__ADS_1


Aku melihat Amy sangat tidak suka dengan keberadaan siswa asing yang menduduki bangku ku kemarin. Dengan sesumbar aku memperkenalkan diri dihadapan siswa itu kalau aku adalah pacar Amy. Jadi pagi inipun, melihat dia menatap Amy dengan cara yang menyebalkan, aku pun mau tidak mau harus melanjutkan apa yang sudah terlanjur aku katakan.


"Pagi?" sapa ku pada Amy yang langsung reflek menoleh padaku. Perhatiannya langsung terkunci penuh dengan sejuta rasa heran. Jelas saja. Kemarin dia sudah mengerti maksud tindakanku. Kali ini, aku hanya perlu memberikannya sedikit petunjuk agar dia mengerti.


"Untuk ini, gue juga minta traktiran yah?!" Dengan santai ku lingkarkan lenganku pada bahunya. Anggukan kecilnya sangat berarti bagiku karena mungkin melakukan sesuatu yang berada diluar ijinnya. Tidak ku sangka, tubuhnya sedikit mengkeret. Tapi aku tidak bisa mundur dengan itu. Aku sudah memilih ini sebagai sesuatu yang berlanjut, maka sekalian saja. Aku biarkan lebih banyak mata memandang ke arah kami. Lalu melepaskan lingkaran tanganku pada bahunya begitu memasuki halaman utama.


"Dia sudah tidak memperhatikan lagi."


"Ya!" dia mengangguk. Tumben kali ini dia merespon dengan benar. Walaupun posisi tubuhnya masih nampak begitu kaku.


"Sorry!"


"Aku paham!" ucapku cepat.


Tidak ingin membuatku salah paham dengan pemikirannya, Amy mencoba menenangkan dirinya. Tapi aku menyadari satu hal, apa yang ku lakukan pada Amy telah membuat salah paham seluruh sekolah. Membuat kami menjadi bahan omongan sepanjang hari dan menambahkan satu masalah yang tidak pernah bisa ku bayangkan. Ternyata perempuan itu bisa bersikap sekasar itu pada perempuan lain terhadap hal yang tidak mereka mengerti.


Aku baru saja akan melompat dari tembok pembatas dibelakang ruang Osis saat mendapati Amy disudutkan hampir oleh 5-7 siswi sekolah. Awalnya ku kira itu hanya perbincangan biasa saja, tapi begitu salah satunya berteriak histeris dengan menyebut namaku, aku jadi menahan diri untuk bergabung bersama Raka dan Ditya untuk membolos.


"Siapa sih lo!! Seenaknya mengambil adik ketus osis dari kami?!"


"Asal lo tahu, yah! Dia itu milik kami! Jangan main tikung seenaknya!!"


"Mentang-mentang lo dekat! Bukan berarti lo bisa mengaku-ngaku sebagai pacarnya ya!!"


Aku melihat gadis yang paling terlihat menyeramkan diantara 1,2,3,4,-7 siswa itu langsung mendorong tubuh Amy sampai membentur tembok. Membuat Amy sejenak memekik sakit lalu berjongkok dengan mengusap-usap bahunya.


Tepat dari atas, aku melihat apa yang telah dilihat oleh Aray. Luka memanjang berwarna biru keunguan dibelakang lehernya. Sepertinya memang bukan hanya pada bagian itu saja. Sial!


Aku melompat turun dengan memperkirakan posisi tumpuan kakiku. Untunnya masih ada toleransi ketinggian sekitar 20cm dari atas permukaan, jadi aman-aman saja ketika aku mendarat dengan menghadapi 7 perempuan bar-bar yang langsung sok manis di depanku.

__ADS_1


"Reihan!!" ucap salah satunya dengan santai. "Ini nggak seperti yang lo lihat!" jelasnya menyelipkan rambut ke belakang telinganya.


Tatapannya dibuat kemayu dengan garis mata yang dibuat terlalu tebal. Aku tidak terlalu suka melihat wanita dengan riasan tebal seperti itu. Apalagi untuk kalangan remaja seperti ini. Terlalu tidak menyayangi anugerah yang Tuhan berikan.


"Emangnya gue lihat apaan?" aku masih menunjukan wajah santai.


"Akh! Tidak! Tidak ada apa-apa!!" jawabnya lagi.


"Kami pergi dulu!" ucap salah satunya yang sudah saling memberikan kode berupa anggukan kecil, main mata, dan cubitan dari arah belakang. Dengan segera mereka semua pergi dari tempat ini. Meninggalkan Amy yang sudah berdiri dengan memegangi bagian pergelangan tangannya.


"Lo nggak apa-apa, kan?!"


Dia mengangguk kecil. Dari tatapan matanya, dia nampak kebingungan.


"Sepertinya mereka salah paham!" jelasnya buru-buru sebelum aku sempat mengatakan sesuatu padanya.


"Salah paham? Tentu mereka salah paham." Salah paham tentang gosip pacaran yang sudah terlanjur beredar.


"Sejak kapan aku dekat adiknya ketua Osis!" gerutunya. "Kenal juga tidak!!"


Serta merta ocehan Amy itu mengundang tawa kedua sahabatku yang sudah duduk santai diatas tembok tempatku berdiri barusan.


"Gila! Ngelawak nya kebangetan..Bwahahahaha.."


Ditya turun dengan langsung memegangi bagian perutnya. Turun yang tidak bergaya karena hampir menyeruduk tembok bangunan ruang Osis yang ada dihadapannya. Raka sendiri malah kehilangan keseimbangannya begitu menyentuh bagian tanah dibawahnya.


"Lo beneran nggak kenal adiknya ketua Osis?!"


Pertanyaan Raka itu tentu mendapat gelengan kepala dari Amy. Sudah berapa bulan gadis ini bersekolah disini? Dia memang tidak pernah mau tahu gosip sekolah atau dia memang tidak peduli dengan hal semacam itu. Rasanya aku pun ingin ikut tertawa dibuatnya. Dia yang menggeleng dengan begitu polosnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2