
Aku sudah terlanjur mengatakannya dengan lantang. Aku adalah pacarnya Amy dihadapan Angga. Harusnya setelah itu semuanya selesai. Benar apa yang dikatakan Raka, aku terlalu menjebak diriku sendiri dengan menolongnya. Kenapa aku harus begitu peduli?
Rasanya tidak menyenangkan terjebak seperti ini. Sepertinya, aku memang harus mengikuti saran Raka. Menjauhi Amy mulai dari sekarang. Tapi setelah sesumbar dihadapan siswa baru itu? Gimana kalau tiba-tiba dia mengusik Amy lagi? Kenapa juga aku peduli saat Amy terganggu oleh kehadirannya? Sial!!
Entah sudah berapa kali aku mengacak-acak rambutku. Tumben sekali aku merasa kacau karena melakukan hal yang membuatku hanya ingin melakukannya. Aku jarang tergerak oleh sesuatu, tapi begitu ingin melakukan sesuatu, aku tidak pernah setengah-setengah dalam melakukannya.
Sekarang ini, aku tidak merasa terjebak, tapi ketika melibatkan seorang dan membuat orang itu malah masuk ke dalam masalah demi masalah, aku hanya tidak tahu sampai batas mana kemampuanku untuk tetap pada komitmenku. Sementara seorang itu, polosnya tidak ketulungan. Aku hanya harus membicarakan ini padanya.
Aku bergegas turun dari kamarku. Melewati Aray yang sedang sibuk dengan semua file kerjanya. Raina yang sedang menonton TV diruang tamu dan Ibu yang sedang memasak untuk makan malam.
"Keluar bentar, mah!" teriakku.
Segera ku ambil kunci motor yang ada diatas meja ruang tamu. Mengambil jaket Aray yang tergeletak begitu saja di sofa dan meluncur pergi tanpa mendengar jawaban ataupun tatapan orang-orang rumah dengan ke pergianku.
Waktu menunjukan pukul 7 malam saat aku baru saja sampai di daerah perumahan tempat Amy tinggal. Sebagai teman, aku bahkan tidak tahu nomer telp yang bisa dihubungi. Jadilah sekarang aku disini. Berdiam diri disudut perumahan dengan maksud berkunjung ke rumah Amy yang entah untuk apa.
Aku baru saja melangkahkan kaki begitu melihat siswa baru itu keluar dari halaman rumah Amy. Wajahnya nampak kesal. Dan dari dalam rumah, yang ada hanya sebuah kesunyian. Aku lupa. Amy seharusnya masih baru selesai menutup Pustaka jam segini. Jadilah aku terdiam lama diatas jok motorku. Sambil memikirkan lagi ada kepentingan apa siswa baru itu datang ke rumah Amy.
15 menit berlalu. Tidak ada tanda-tanda kalau ada orang dirumah Amy. Kalau begitu, bagaimana siswa baru itu bisa keluar dari sana? Apa dia juga mencari Amy tetapi tidak menemukannya?? Aku baru saja melengok ke dalam halaman rumah, saat suara itu memanggil dan terdengar menyeramkan.
"Reihan?" suara yang halus, lembut, tapi juga membuat bulu kuduk merinding seketika. Terkadang, langkah kakinya memang tidak terdengar sama sekali. Untungnya kaki itu menyentuh tanah.
Aku berbalik setelah menenangkan diri dengan pendengaran ku. Menyambut Amy dengan senyum yang semoga saja tidak kentara kalau aku sempat ketakutan karena panggilannya yang mirip suara hantu pada film-film.
"Hay!"
"Kamu disini?"
"Ya!" jawabku. Terasa kaku. Semoga tidak kentara. "Gue nungguin elo! Ada yang mau gue omongin soal disekolah pagi ini dan kemarin!"
"Tentang hal yang kamu lakukan untuk menolongku?"
"Iya..." jawabku sedikit takjub. Apa dia juga memikirkan hal ini sampai-sampai dia mengerti apa yang mau aku bicarakan tanpa menyebutkannya dengan pasti?!
"Kenapa?"
"Gue hanya berharap, lo nggak salah paham dengan itu!"
__ADS_1
Dia menggeleng.
"Aku mengerti!" jawabnya kemudian. "Kamu sudah menjelaskannya dari awal. Aku tidak akan salah paham sama sekali." jawabnya dengan yakin.
Tatapan matanya menunjukan kebenaran dari omongannya. Dia memang benar-benar polos dalam memberikan jawabannya. Gadis bodoh.
Aku kecewa mendengar jawabannya itu. Apa yang membuatku begitu kecewa, padahal tujuanku sudah tersampaikan dengan jelas. Dia pun sudah mengerti dengan hal itu. Tapi kenapa dia harus mengerti? Kenapa dia tidak seperti gadis-gadis lain yang dengan mudahnya bakalan salah paham mendengar kata-kata seperri itu??
Tunggu!!!!
Kenapa aku merasa benci saat tahu dia mengerti akan maksudku menolongnya? Kenapa aku ingin memprotesnya? Kenapa? Aku sedang tidak berharap agar dia akan salah paham bukan?!
Aku kembali memandangnya dengan penuh tanda tanya.
"Justru aku malah berterima kasih untuk itu." tambahnya lagi. "Dan terima kasih juga sudah membantu ku mendapatkan pekerjaan di Pustaka."
Pustaka? Kenapa berterima kasih padaku?! Kenapa susah sekali untuk fokus tentang satu hal saja ketika yang ku hadapi adalah Amy.
Malam kemarin berlalu begitu saja tanpa aku mengatakan sepatah katapun setelah mendengar jawabannya yang membuatku sedikit kecewa. Ya! Aku hanya sedikit kecewa. Karena itu, wajar saja kalau mulai dari hari ini, aku harus mulai menghindarinya. Menjauh darinya untuk mengurangi rasa kecewa dalam pikiranku.
Hari pertama terasa sedikit tidak enak. Karena bagaimanapun, aku harus tetap menjauhkannya dari siswa baru itu. Itu sudah menjadi komitmenku dalam menolong orang. Aku tidak suka melakukan sesuatu secara setengah-setengah. Sampai dia siap untuk menghadapi siswa baru itu, aku akan berusaha memberikannya ruang untuk dirinya sendiri, agar nanti dia siap menghadapinya dengan berani.
Hari ketiga, kami saling membelakangi. Dan sudah berjalan sampai hari ke enam. Aku sudah bisa menghindarinya dengan baik. Tanpa terasa, apa yang ku lakukan mampu meredam gosip kalau aku dan Amy berpacaran. Setidaknya, itu juga menjadi bagian aku menolongnya. Menjauhkannya dari perilaku bar-bar beberapa siswa senior yang sudah menyudutkan Amy kedua kalinya.
Siswa baru itupun nampak tidak lagi berusaha mendekati Amy. Hanya sesekali aku memperhatikan dia melihat Amy dengan tatapan yang tidak aku sukai. Sebisa mungkin aku ingin menutupi pandangannya dari Amy. Membuat Amy menjadi tidak terlihat oleh sosok siswa baru itu.
Sial! Lagi-lagi, yang ku lakukan adalah bentuk perhatianku pada sosoknya. Aku tidak boleh terus-terusan seperti ini. Percuma aku terus menghindari semua tempat yang dimana dia selalu ada, kalau aku terus saja peduli dengan hal-hal yang mengusik pandanganku tentang Amy.
Sudah seminggu lebih aku tidak datang ke Pustaka. Tidak pernah lagi menghabiskan waktu tidak jelas di bagian depan Pustaka. Sepulang sekolah aku langsung futsal sampai sore. Selesai futsal, pulang, mandi, makan lalu main.
Sudah dua minggu berlalu. Rasa kesal ini tumbuh subur setiap kali aku memikirkan tentang pengertian Amy terhadap pertolonganku.
Tidak bisakah dia melihatku sebagai pahlawan saja!!
Sial!
Pemikiran dangkal sekali!
__ADS_1
Aku sedang berjalan pulang begitu menyadari aku berdiri dititik yang sama. Titik dimana aku mengobrol dengan Amy dua minggu lalu.
Langkahku sampai membawaku kesini. Konyol sekali!
Aku hendak berbalik untuk pulang begitu mendengar suara sebuah teriakan yang dibarengi dengan suara pecahan benda dari dalam rumah tersebut. Suara itu berasal dari dalam rumah yang ditempati Amy. Rumah yang belum pernah aku kunjungi, tetapi sudah membuatku penasaran dengan bagaimana kondisi rumah itu sebenarnya!
Aku sudah berlari sampai ke halaman depan lalu dengan bertindak seolah tidak mendengarkan hal apapun sebelumnya, aku menyapa penghuni rumah dengan suara yang sedikit aku keraskan volumenya.
"Selamat malam! Amy!! Apa lo dirumah?!"
Aku mencoba melihat bayangan pergerakan dari dalam rumah itu. Sementara beberapa tetangga dirumah sebelah, menoleh ke arahku dengan rasa penasaran dan heran.
Tidak ku hiraukan semuanya. Saat ini, aku hanya ingin memastikan Amy baik-baik didalam rumahnya. Rumah yang baru saja menyuarakan sebuah teriakan dan suara bantingan benda kaca yang pecah dengan suara nyaring.
"Amy! Gue mau pinjam catatan lo yang untuk tugas kelompok besok!"
Aku masih mencoba clingukan untuk memastikan akan ada yang menyambut kedatanganku dihalaman rumah tersebut. Aku memperhatikan beberapa tetangga rumah Amy ada yang menggeleng pasrah. Mungkin mereka sudah menebak, kalau tindakan nekat yang ku lakukan tidak akan ada hasilnya. Tapi mereka salah.
Suara pintu yang terbuka membuat beberapa kepala yang sudah sempat masuk ke dalam rumah, tiba-tiba melengok lagi. Melihat dan menunggu siapa yang akan keluar dari balik pintu tersebut. Seorang perempuan paruh baya. Tidak terlihat tua, tetapi wajah kusam dan mata lelahnya membuatnya nampak 10 tahun terlihat lebih tua dari ibuku.
"Malam tante, Amy`nya ada?"
Tidak menjawab, ibu itu membuka pintu rumahnya lebar-lebar, lalu dia berjalan masuk untuk mengambil bantal pada sofa yang berada dilantai. Langkah kaki ini sudah membawaku masuk ke dalam rumah itu. Sementara Amy baru saja kembali dari sebuah ruang dengan kompor dan kulkas berada di ruangan itu. Dapur.
"Gue mau ambil catatan untuk tugas kelompok besok!" sapa ku pada Amy yang menatapku dengan tidak biasa.
Setiap harinya dia memang mempunyai tatapan yang membuat penasaran. Tapi tatapannya kali ini berbeda. Ada sesuatu yang membuat dia tidak mampu menyambutku bahkan dengan sedikit senyum pura-pura sekalipun.
"Sebentar, aku ambilkan!" jawabnya yang berjalan menuju lorong yang ada diruang tamu ini.
Tentu saja tidak ada yang mempersilahkanku untuk duduk, karena sampai Amy kembali setelah beberapa saat, aku masih berdiri di tempat yang sama dengan santai. Bukannya tidak mau untuk duduk karena tidak ada yang menyuruhnya, tetapi bertindak semaunya pada rumah yang pertama kali kita kunjungi itu, rasanya kurang sopan. Terlebih ketika tuan rumahnya memandangmu dengan penuh rasa kesal.
Aku tidak peduli dengan ibunya, tapi melihat Amy dan bekas luka memar pada lengannya yang untuk pertama kalinya aku lihat menggunakan kaos lengan pendek, aku tidak bisa untuk tidak peduli.
Sumpah! Tidak banyak hal yang bisa aku pikirkan selain menyadari kenapa Amy selalu menggunakan seragam lengan panjangnya walaupun udara sedang panas-panasnya. Apa untuk menyembunyikan semua luka memar itu?!
Sekali lagi! Sial
__ADS_1
...***...