Mirror!

Mirror!
Amyra : Lalu bagaimana dengan perasaanku?


__ADS_3

Setelah sore yang indah yang bersama Reihan, aku meyakini sesuatu yang serius mungkin telah terjadi. Saat Aray dan Raka menyambut kedatanganku dan Reihan, raut wajah keduanya nampak begitu serius. Walau sesekali nampak ada candaan dari percakapan yang mereka lakukan, rasanya ada hal yang mengganjal di pikiranku. Terlebih ketika Reihan selesai meminjam hp milikku. Ada apa? Tumben-tumbennya.


Besoknya tanpa tahu apa-apa, seorang siswa senior meminta datang menghadap ruang kepala sekolah. Setelah berjalan setengah jalan, aku mendengar nama Reihan di panggil melalui pengeras suara. Jadilah aku merasa ketakutan. Ada apa? Aku dipanggil ke ruang kepala sekolah begitu pun Reihan. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku sedang bersiap berbelok menuju lorong gedung utama, dan aku malah menabrak Jihan dan Aray. Merekapun sedang berjalan ke arah yang sama. Ruang Ibu kepala sekolah. Ada apa?


Di dalam ruang kepala sekolah tahu-tahu Clara datang beberapa saat setelah aku, Jihan, dan Aray memasuki ruangan itu. Di susul Pak Ali sebagai Guru BP dan Reihan yang dipanggil melalui pengeras suara. Aku yang sejak awal tidak mengerti dengan semua yang terjadi akhirnya memilih diam daripada ikut melakukan sesuatu yang tidak aku ketahui duduk permasalahannya. Tapi begitu vidio berdurasi singkat itu di putar oleh ibu kepala sekolah, aku akhirnya mengerti tentang masalah yang dibahas di ruangan ini. Juga kenapa Reihan kemarin meminjam hp milikku.


Dari semua hal yang aku mengerti, memang ada satu hal lain yang memang tidak bisa aku bantah. Itu adalah siapa sosok dalam vidio itu. Aku memang melihatnya secara langsung dengan mata kepalaku sendiri. Karena setelah melihat kejadian itu aku sampai memiliki perasaan yang begitu picik yang membuatku membenci diriku sendiri. Membuatku menjauhi Reihan dan membuatku harus mengabaikan perasaan apapun yang kumiliki saat ini terhadap Reihan. Aku hanya harus mengerti akan kenyataan yang aku miliki.


Jadilah setelah pertemuan kami di ruang ibu kepala sekolah, lagi-lagi aku punya niatan menghindari Reihan. Karena dekat denganku, Reihan sampai terkena masalah seperti sekarang. Untungnya ibu kepala sekolah menanyakan vidio yang ditautkan pada akun sosial media milikku, kalau sampai aku ditanyakan langsung soal kejadian hari itu, bisa-bisa aku membuat Reihan semakin banyak masalah. Apa yang harus ku jawab atas apa yang aku lihat hari itu. Hari dimana aku merasa harus menghentikan semua perasaanku yang tumbuh saat bersama dengan Reihan.


Entah apa yang sebenarnya terjadi, sebelum di ajak kembarannya Reihan untuk bolos, aku sedang di cegat oleh siswa senior yang tidak terima dengan keberadaanku yang mengusik hubungan antara Reihan dan Clara. Mendengar tuduhan yang mereka lontarkan, rasanya aku ingin menangis sambil berteriak. Padahal aku sudah mengenyahkan semua perasaan yang ku miliki. Setidaknya, aku sedang berusaha melakukan itu.


Reihan, Aray, Jihan, dan teman-temanya, tahu-tahu aku sudah di seret ke dalam percakapan yang tidak ku mengerti di warung luar halaman belakang gedung sepuluh. Untungnya sedang acara festival bulan bahasa dan aku tidak masuk hitungan apapun dalam kegiatan di kelasku kecuali bersih-bersih jam pulang nanti.


"Jihan gimana?" tanya Aray yang sudah menarik satu kursi untuk ku duduki. Tapi Reihan langsung menarik tanganku untuk duduk disampingnya.


"Disini aja." ujar Reihan padaku yang langsung mengambil jarak dari posisi yang ia tawarkan. "Jihan datang." ucapnya kemudian.


"Berempat aja?" sapa Jihan begitu menemukan posisi kami duduk.


"Berdelapan!!" jawab kompak Siska, Rahma dan dua sobatnya Reihan. Raka dan Ditya.


"Urusan Amy, urusan kami juga. Jadi kami ikut." ujar Siska mengambil posisi duduk di sebelahku.


"Benar." tambah Rahma menggeser posisi Aray. "Gue muak dengar berita nggak jelas yang beredar diluar kelas kami."


"Jadi Amy. Lo nggak sendirian menghadapi ini. Ada kami." Rahma dan Siska kompak menepuk pundakku yang sedang mengkeret karena harus duduk sangat dekat dengan Reihan.


"Gue juga."

__ADS_1


Ucapan dan tindakan Reihan lebih membuatku mengkeret lagi. Terang-terangan ia menggenggam tanganku dihadapan semua yang berkumpul dimeja ini. Aku benar-benar merasa malu. Terlebih saat tahu-tahu, Reihan sudah mengusap-usap tanganku lalu tersenyum dengan ringannya. Ada apa dengannya saat ini? Padahal dia dalam masalah besar dan akan diskorsing soal vidio nya dengan Clara.


Tanpa banyak membahas hal-hal lain, Jihan langsung menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan waktu keberadaanku dan Reihan hari itu di sekitaran ruang UKS .


Mendengar jawaban Reihan yang mengakui kalau memang dirinya dan Clara berpelukan, apa yang bisa ku katakan lagi. Aku hanya merasa tiba-tiba sesak dan pengap berada disampingnya saat ini. Ingin rasanya aku pergi dari situasi yang menyesakkan sekaligus akan jadi memalukan jika tiba-tiba aku menangis karena jawaban yang Reihan berikan pada semuanya. Tiba giliranku menjawab, aku hanya bisa mengatakan kalau aku hanya sedang lewat tanpa menjelaskan lebih panjang lagi.


Tanpa mengucapkan apa-apa, Reihan lagi-lagi menepuk kepalaku dengan begitu lembut. Padahal dia tengah fokus menatap ke arah Jihan. Jihan yang tersenyum sembari berkata sesuatu yang sudah dia ketahui. Sudah ku bilang, Jihan ini memiliki kemampuan yang lebih dalam mengumpulkan informasi. Bisa ku tebak dia mendapatkan hal itu dari kemampuan mengupingnya.


"OK. Gue udah ketemu siapa yang berkepentingan dalam kasus ini." ujar Jihan.


"Cepat amat." protes Raka.


"Mau gimana lagi." jawab Jihan santai.


Dan dari sini, semua pembicaraan mereka membuatku benar-benar bingung. Tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ada apa dengan akun sosial mediaku, dan dari yang aku tangkap, kalau yang di dalam Vidio itu bukan Reihan, berarti? Aku menatap Aray, kembarannya Reihan dan melihat Aray memang nampak sangat serius kali ini.


Aku pasrah. Dilibatkan dalam hal dan masalah yang tidak ku ketahui apa, bagaimana, dan kenapa nya, aku hanya memilih menyetujui hal apapun yang akan ditugaskan padaku dalam hal ini. Pembicaraan yang tidak aku mengerti ini berjalan cukup lama karena dalam beberapa percakapan selalu ada saja candaan yang masuk. Entah itu dari Ditya, Jihan, Reihan, dan juga Aray. Aku tidak tahu kalau mereka bisa bercanda disaat membahasa hal-hal yang serius. Apa hanya aku saja yang belum memahami hal-hal seperti ini.


"Enak aja!" tarik Siska dan Rahma. "Kita kembali ke kelas, Mi."


"Kalo gitu, gue juga ikut ke kelas." jawab Reihan. Hal itu membuatku merasa semakin aneh dan tidak menentu. Karena sepanjang jalan itu, aku merasa dari balik punggungku, kalau aku sedang benar-benar diperhatikan. Rasanya benar-benar tidak nyaman.


Aku berbalik ke belakang sebelum masuk ke dalam kelas, lalu Reihan mendahului langkahku.


"Gue boleh ngedate sama Clara nggak?" tanyanya tiba-tiba. Jelas aku langsung kehilangan semua kekuatan yang sudah ku kumpulkan untuk menahan semua perasaan yang semakin kesini semakin tidak bisa ku mengerti arahnya.


"Terserah kamu." jawabku. Jujur saja, aku masih menelaah semua pembicaraan yang mereka bahas di warung makan tadi. Sebenarnya ada satu pertanyaan yang ingin ku tanyakan, tapi aku urungkan niat itu karena takut membuatku malu sendiri ketahuan menangisi hal yang aku lihat.


"Ok. Kalo gitu, gue telepon Clara deh." ujarnya lagi. Apa dia coba mengusikku. Aku mengerutkan kening melihat sosok Reihan yang sedari awal kami bertemu, senyum dan wajahnya nampak sangat cerah. Yah, walaupun kadang ketika dia diam nampak sangat dingin dan menakutkan.

__ADS_1


"Reihan, soal kejadian minggu lalu...." ada keraguan dalam benakku ketika harus melanjutkan kalimatku. "Jadi itu bukannya kamu dan Clara?" tanya ku tiba-tiba. Hal itu membuat senyum diwajahnya nampak lebih cerah lagi.


"Emang kalo itu gue kenapa?"


Aku menggeleng. Tidak apa-apa.


"Mau ngejauhin gue lagi kaya kemarin-kemarin?!" ujarnya berjalan menyudutkan tiap langkah yang ku buat. Bahkan langkah ku sudah nemplok pada sudut kelas. Sudut kelas yang tidak ada penghuni kecuali hanya aku dan Reihan.


Tunggu! Tunggu? Kemana Rahma dan Siska? Aku berjinjit melihat ke arah belakang tubuh Reihan yang menghalangi pandanganku lalu menatap Reihan dengan debaran jantung yang rasanya mau copot saja dari tempatnya.


"Mau apa?!" sentak ku yang entah memiliki keberanian dari mana berani membentak Reihan yang bagiku galaknya minta ampun. Sebagai catatan saja, dia kalau marah membuatku benar-benar takut. Seperti dia akan mencaplok tubuhmu utuh-utuh atau membuatmu menciut seukuran liliput.


"Pengen mandang wajah lo aja!"


Aku tersudut. Benar-benar tersudut.


"Cepat beres-beres. Biar cepat pulang." Reihan tahu-tahu sudah berjalan ke mejanya setelah menyentil jidatku saat aku sempat memejamkan mata karena aksinya itu.


Aku sempat gamang sesaat, namun akhirnya aku mulai membereskan beberapa barang-barang yang sudah dan akan digunakan untuk acara festival bulan bahasa kelasku. Tidak banyak, hanya beberapa kartu tarot, bola kristal, dan topeng berwarna emas, hitam, dan putih.


"Aku sebentar lagi selesai," ujarku pada Reihan. "Pulanglah duluan."


"Nggak!" jawabnya. "Gue kan udah minta lo ngabisin waktu seminggu ini bareng gue." tambahnya sembari memainkan sesuatu pada hp miliknya.


"Tadi kan udah."


"Tadi beda, sekarang beda." jawabnya.


Reihan menatap dan lalu menghentikan kegiatannya. Dia menatapku lurus-lurus yang membuatku singkuh lalu bergerak dengan lebih cepat lagi.

__ADS_1


"Pulang." kata Reihan menarik tanganku setelah aku mematung disampingnya untuk mengambil tasku di bawah kolong meja.


***


__ADS_2