
Pagi ini begitu bangun, aku mendapati Aray mengobrak abrik kamarku. Mengeluarkan isi almari pakaian dan rak buku dekat tempat ku tidur.
"Ngapain lo pagi-pagi gini!!"
"Lo taruh tiketnya dimana?"
"Tiket apaan?"
"Tiket yang gue kasih lo dua hari yang lalu!"
"Dalam tas!"
Aku menunjuk ke dalam tas lalu kembali membalut diriku dengan selimut. Rasanya seluruh tubuhku sedikit pegar karena semua kejadian kemarin. Benar-benar hari yang sibuk dengan jadwal yang tidak teratur. Aku berguling lemas lalu tersentak saat Aray menarik kakiku hingga aku jatuh dari atas kasur.
"Apa-apaan sih lo!!" bentak ku.
"Cepat bangun! Lo mau ke telat sekolah lagi?!"
"Kapan gue ada telat masuk!" gerutuku akan ocehan Aray. Terkadang Aray jauh lebih cerewet dari ibuku sendiri. Dan pagi ini, Raina juga nampak berbeda.
"Ada apaan pagi-pagi gini neng?"
"Lo sama Amy sebenarnya gimana sih?"
"Gimana apanya?"
"Lo pacaran sama cewek yang udah punya pacar!?" tuduhnya penuh emosi dan pertanyaan.
Aish! Aku langsung mentoyor jidat Raina dengan santai. Aku kira hal penting apaan, pagi-pagi sudah disatroni ke dalam kamar oleh nih anak.
"Sekolah sana!" sentak ku. "Anak kecil mau tahu urusan orang aja!!"
"Emang lo udah dewasa?!"
"Skak mat!" balas Raina penuh kemenangan. Raina menunjukan adegan dimana dia memotong lehernya dengan telapak tangan seraya mendukung perkataan Aray itu.
"Dasar lo!!" gerutu ku yang berlalu begitu saja dari hadapan Raina. Menyusul langkah Aray yang sudah bersiap dengan tas punggung yang dia gantung di bahu kanannya.
"Nanti pulang sekolah jelasin sama gue yah!"
"Tanya orangnya langsung." jawabku sembari memagut selembar roti tawar dalam mulut, lalu memasukan kakiku dengan santai ke sepatu kananku. Yang kiri sudah ok.
"Hari ini pustaka libur." jawab Raina rada malas. "Karena itu, jangan buat gue penasaran!! Gue udah ngediemin Amy seharian kemarin lo!"
"Itu ya urusan lo?!"
"Gue gitu kan ngebelain elo!" sanggahnya penuh penyesalan. "Bisa-bisanya bukan elo yang diperhatiin Amy..."
"Suka sama Amy ya?" tanya Aray sebelum kami berpisah di belokan. "Tumben-tumbennya!"
Mendengar itu, Raina termenung tidak berani menjawab Aray. Maklumlah, Raina kurang akrab dengan Jihan, pacarnya Aray. Bahkan ada permusuhan di awal karena Jihan menyukai orang yang disukai bocah ini. Padahal itu hanya emosi sesaat dan Jihan jelas-jelas menolak laki-laki itu karena yang disukainya itu abang ku ini. Tapi kalau dipikir-pikir, apa bagusnya abang ku ini?
"Tumben lo mau berangkat samaan gue?!"
__ADS_1
"Salah siapa bangunin orang!"
Setelah itu ada hening yang cukup lama diantara kami. Ya, memang begitulah hubungan kami. Kami hanya bicara disaat perlu. Tidak terlalu ada timbal balik apapun. Menurutku, itu karena kami sudah saling paham akan satu sama lain sebagai keluarga.
Aray berjalan santai dengan memasang headset dikedua di telinganya setelah itu. Sementara aku berjalan dibelakangnya dengan acuh tak acuh. Tidak berharap ada percakapan apapun lagi selain tiba-tiba aku melihat sosok Amy dari kejauhan di jalanan utama. Amy tidak boleh melihat Aray!! Itu yang terpikir di benakku begitu menyadari tatapan gadis itu nampak begitu aneh memandang kami.
"Bang! Buruan lu ke sekolah!!" dorongku dengan tenaga penuh.
"Apaan sih lo, Rei!" Aray melepas headset pada telinganya lalu berpaling sesaat padaku dengan jengkel.
"Jangan banyak bacot!!" desakku. "Ini menyangkut hidup dan mati gue!!"
Tidak lagi melawan, Aray melirik ke arah mana aku menatap dengan getir.
"Traktir gue nasgor jam istirahat yah!!"
Selesai mengatakan itu, Aray berlalu sembari melambaikan tangannya.
"Perhitungan lo!!" gerutuku setengah berteriak. Dengan berusaha terlihat seakan tidak pernah terjadi dan tidak pernah mengetahui apa-apa, aku menunggu Amy di persimpangan jalan.
"Pagi." sapa ku yang sejujurnya sedang berusaha terlihat begitu normal dihadapannya. Aku hanya tidak ingin Amy merasa canggung setelah kejadian kemarin. Lebih tepatnya setelah aku tahu bagaimana keadaan keluarganya kemarin.
"Pagi.." balas Amy sedikit kaku. Wajahnya kembali tertunduk.
"Gue kira lo nggak bakalan sekolah?!"
Dia menggeleng pelan.
"Bagus deh!" ujar ku. "Jadi gue nggak usah bolos hari ini! Dan lo nggak akan duduk sendirian nanti dikelas!"
Aku terdiam kaku. Oke. Dia menang. Aku emang sering bolos. Jadi karena aku dan Amy adalah teman sebangku, jadi dapat aku pastikan dia menang menjawab ocehan ku.
"Yaah! Gue kan jarang bolos belakangan!" jawabku sekenannya.
Dia hanya mengangguk. Menarik tali tasnya, lalu berlalu begitu dari hadapanku.
"Hey, Amy! Tungguin gue!!"
Reflek, dia berbalik menatapku. Sepintas. Hanya sepintas dan rasanya wajahnya memang benar-benar cantik. Bukan yang sekedar cantik karena polesan seperti gadis kebanyakan.
"Ada apa?!" tanyanya. Mungkin menyadari aku yang sedang memandangnya dan bukannya menyusul langkah kakinya atau apa.
Aku hanya mengangkat bahu ketika dia memutar badannya dan langsung membelakangi ku. Langkahnya cepat sembari sedikit tertunduk.
"Hey! Lo kenapa!" aku menghentak bahunya tanpa sadar. Membuat dia terdiam kaku lalu mengusap bahunya sembari melanjutkan langkahnya.
"Mungkin karena ngeliat gue..." jawab Angga yang sudah berdiri di sampingku. Tatapannya pasti ke arah Amy berjalan menuju gerbang sekolah. Dan hal itu benar-benar mulai menganggu buat ku.
Meskipun itu cinta pertamanya atau cinta ke berapa, kenapa Amy harus takut pada cowok kurus kering begini?! Dibandingkan denganku, apa bagusnya cowok ini sampai Amy harus menjadikannya cinta pertama. Sial! Kenapa bukan gue saja yang ketemu Amy duluan dan bukan dia. Pasti nggak bakalan ada hal seperti sekarang. Amy pasti nggak bakalan ngerasa ketakutan kalau ketemu anak baru ini. Pastinya dibawah bimbingan gue, Amy akan menjadi gadis yang tidak akan lemah jika digertak orang. Sekali lagi! Sial.
Aku akhirnya memutuskan untuk memutar haluan ke area luar sekolah. Tepatnya ke gang arah pemukiman di belakang gedung kelas sepuluh. Aku tidak ingin membututi langkah siswa baru itu. Bolos rasanya akan lebih baik.
Tadinya....
__ADS_1
"Rei! Gantiin gue sebentar di rapat Osis yah!" sambut Aray di hadapanku.
Seperti sudah tahu aku akan mengambil jalanan ini, Aray sudah menyambut ketika aku baru saja berniat berbelok di persimpangan kecil menuju sebuah tempat tongkrongan yang asyik di ujung jalanan ini.
"Lo!" tuding ku jengkel.
"Cuma sejam aja!" tambahnya lagi. "Dan lo nggak usah ngapa-ngapain. Cukup menyetujui semua yang ada di catatan ini aja!"
"Terus absen kelas gue gimana!!" Teriakku.
"Bukannya lo berencana absen pagi ini!"
Tanpa peduli akan responku, Aray langsung pergi dengan setengah berlari. Melambai seperti yang dia lakukan di jalanan depan tadi.
"Sialan!" gerutu ku.
Inilah kelebihan sebagai kembar identik. Sekali lo ingin bertukar tempat, itu adalah hal yang mungkin bisa lo lakukan. Dan bagiku dan Aray, ini semacam rutinitas yang kadang-kadang kami lakukan disaat kami merasa bosan.
Tanpa berpikir panjang, aku mengganti jas sekolahku dengan jas Osis yang telah dijejalkan Aray padaku. Masuk ke dalam sekolah dengan akses pintu masuk tanpa di berhentikan oleh satpam sekolah yang kebingungan melihatku masuk sebagai Aray.
Melihat dua sobatku yang kebingungan dihalaman sekolah, aku langsung menghampiri mereka.
"Kalian!" sapaku.
Sontak kedua sobatku gelagapan.
"Mana Reihan!" tanyaku penuh wibawa seperti yang biasa Aray lakukan.
"Sudah dikelas bang!" jawab Ditya terkekeh. "Ya, kan?"
Ditya menyenggol Raka dengan santai dan dijawab anggukan dengan senyum dibuat-buat. Dan dalam hati aku bersorak penuh kemenangan. Mereka memang patuh menjadi sahabatku selama 10 tahun terakhir.
"Baiklah. Gue duluan!"
Berjalan menyusuri lorong kelas sebelas, aku melewati beberapa kelas dan mendapati banyak pandangan terkagum-kagum tertuju ke arahku. Apakah karena pesonanya Aray memang berbeda atau karena jas Osis yang aku gunakan. Yang pasti sampai dia kembali, aku hanya harus menjadi Aray selama sejam ini.
Seperti yang sudah disampaikan. Begitu bel berbunyi, aku langsung menuju ruang rapat Osis. Mengikuti acara rapat dan menyetujui beberapa file yang sudah ada dalam catatan itu dan sisanya aku pilih menurut pandanganku sendiri. Usai rapat, aku tidak langsung kembali ke kelas melainkan masih duduk di kursi rapat dengan santai sembari mengirim pesan pada abang ku tercinta.
"Aray mana?" tanya Jihan tiba-tiba. Dia sudah di berdiri di hadapanku dengan beberapa map file pada tangannya. Kami memang kembar identik. Tapi sampai detik ini, selain keluarga kami, hanya Jihan yang bisa mengenali Aray dengan sangat baik.
"Nggak tahu!" jawabku. "Emang dia nggak ngasi tahu lo?!"
Dia merogoh kantong roknya lalu membuka sesuatu pada ponselnya.
"Udah!" jawabnya memperlihatkan balasan pesannya padaku.
Aray sialan. Giliran mengabari Jihan, pacarnya, dia punya waktu. Balas pesan gue, malah nggak. Dibaca juga nggak. Abang sialan.
"Lo nggak balik ke kelas!"
"Nggak! Gue mau jadi abang sehari!" jawabku.
Jihan mengangkat bahunya. Dan jadilah seharian aku mengikuti kelas Aray di kelas sebelas IPA 1.
__ADS_1
...***...