Mirror!

Mirror!
Reihan : Aku menyukaimu, Amy.


__ADS_3

Setelah melihat bagaimana Amy siang ini bertindak karena di sudutkan Clara dan 2 senior yang lain, aku melompat kegirangan memasuki ruang latihan teater. Dimana Aray tengah menggantikan peranku bersanding dengan Jihan.


"Emang udah cocok dia yang maju!" sapaku pada Ditya.


"Apa bedanya kalo lo yang main bareng Jihan." sanggah Ditya. "Aray sekaku itu noh!"


"Padahal waktu itu...." aku membayangkan bagaimana Aray waktu itu menarik tangan Jihan dan membawa gadis itu dalam pelukan dengan santainya. Lalu kenapa aku harus harus melihat adegan sekaku hari ini.


"Gantiin gue!" sentak Aray yang langsung mengambil jasnya di kursi sebelah Ditya dan berjalan ke luar raung teater dengan tergesa-gesa.


"Dia lagi pms?" tanyaku pada Jihan dan gadis itu hanya menjawab cuek sembari mengangkat santai kedua bahunya.


"Nggak tahu tuh." jawab Jihan.


"Sikapnya agak aneh sejak pagi." balas Rio sembari menyerahkan beberapa paket makanan dari kedai tempatnya bekerja.


"Ngapain lo disini?" aku meliriknya aneh.


"Antar makanan." jawabnya.


"Oh!"


"Amy gimana?" tanyanya yang langsung mendapat lirikan tajam dariku.


"Maksud lo?"


"Bukannya kemarin dia dikeroyok!" jawab Rio. "Dia sekolah nggak? Gue pengen ketemu!"


"Lo tahu siapa pelakunya?" tanyaku reflek sembari menatapnya dengan penuh mengintimidasi.


"Dia nggak cerita ke elo?" Rio nampak hanya mengangguk seperti memahami sesuatu. "Gue duluan!"


Tidak terima dengan jawaban yang di berikan, aku menarik paksa kerah baju seniorku itu. Menatapnya dengan tajam sembari mengharapkan jawaban yang harusnya bisa yang ku dapatkan darinya.


"Siapa? Dan dimana?"


"Rei!" Jihan coba menurunkan cengkraman tanganku. Begitu pun Ditya yang sudah menepuk pundakku dengan santai.


"Kalo Amy nggak ngasih tahu elo, gue juga nggak!" jawab Rio santai melepas cengkraman tanganku dari tangannya.


"Siapa!" ujarku berang dengan sikapnya. Aku tahu Jihan dan Ditya berusaha menghentikan tindakanku yang terbawa emosi, tapi aku benci dengan cara Rio menatap ke arahku.


"Tanya Amy." jawabnya. "Bukannya lo pacarnya. Harusnya dia percaya sama elo, bukan!"


Sekali lagi, Rio menepis tanganku dengan santai dan melenggang pergi dengan banyak rasa puas terpancar dari wajahnya.

__ADS_1


"Amy nggak ngasih tahu elo?" tanya Jihan yang tiba-tiba menatapku dengan tatapan siap membanting tubuhku ke lantai bawah.


"Nggak!" jawabku kesal. Aku berbalik menatap panggung Teater lalu berharap hari kemarin aku tidak sampai membuat Amy mengalami hal yang tidak terpikirkan sebelumnya olehku.


Sudah kecolongan Amy di keroyok. Amy nggak mau bicara apapun soal itu. Lalu sekarang, aku harus mendengar seorang lain dari masa lalu Amy yang seolah mengetahui hal yang terjadi. Rasanya aku ingin menyeret Amy ke ruangan interogasi yang ada di samping ruang Osis lalu menanyainya sampai mengaku. Tapi aku nggak akan bisa melakukan itu. Bisa-bisa aku bonyok di keroyok dua sobat Amy, Jihan, Aray, dan dua sobatku yang lain. Aku hanya harus menangkap siapa pelakunya. Membuat sosok itu membayar perbuatannya, lalu meminta maaf dan memberi ganti rugi pada Amy.


"Amy itu keras kepala juga ya?!" ujar Jihan. "Padahal gue ngira awalnya dia penakut."


"Yah. Untuk beberapa alasan, dia memang takut akan sesuatu." jawab Raka menyuguhkan botol minum yang baru saja dia buka kepada Jihan.


"Angga!" jawab Ditya.


"Memangnya ada hubungan apa antara Amy dengan Angga?"


Semua mata langsung tertuju padaku. Aku yang dengan kesalnya menerima tatapan itu dari teman-teman Ditya dan Raka.


"Nggak mau tahu." jawabku.


"Nggak mau tahu, tapi muka lo udah kaya orang diare aja!" sanggah Jihan menertawakan sosokku yang kini dibuat semakin kikuk.


"Hayolah Rei! Mulai cemburu lo?!" celetuk Ditya dengan tawa puas dan tidak tertahankan.


"Cemburu?!" Raka menatapku dengan tampang lempeng sembari menurunkan telp yang masuk ke hp miliknya. Paling pacarnya yang ke sekian. "Hebat banget Amy, bisa buat lo cemburu?!"


"Udah!" Jihan menengahi. "Si pemeran utama datang tuh!" Dengan menaikkan kedua alisnya, Jihan mengarahkan pandanganku ke arah pintu masuk ruang teater, dimana Amy berjalan dengan biasa menuju ke arahku dan yang lain.


"Hay dik, nyasar ya?" sapa seorang anggota teater kelas sebelah yang memasang tampang sok coolnya dihadapan Amy.


Gadis itu menggeleng kecil dengan senyuman kaku yang tidak biasa.


"Mau cari gue yah?!" sapa sosok lainnya.


Sial. Isi orang-orang di klub teater ini lulusan mana sih? Nggak bisa liat cewek dikit langsung tebar pesona seenaknya. Amy juga kenapa tiba-tiba datang. Padahal kemarin-kemarin, aku minta datang dia nggak pernah mau. Atau jangan-jangan...


Aku memandangi Amy dengan seksama. Lalu menatap ke arah belakang, dimana ada beberapa senior yang sama yang mengobrol di pagar depan halaman sekolah beberapa hari lalu saat aku menunggu Amy datang. Sekilas yang nampak jelas, di antara senior itu, ada Clara yang langsung meluncur pergi begitu aku melirik ke arahnya.


"Mau gabung klub drama yah? Sini kakak kasih formulirnya." seorang lain menarik tangan Amy, dan hal itu lebih menjadi perhatian untukku.


"Punya gue!" ucapku dengan suara yang cukup memenuhi seisi ruangan.


Aku menatap senior yang sok-sok an ramah itu dengan tatapan siap memelintir tangannya yang masih bengong dengan memegang pergelangan tangan Amy.


"Lepas!" ujarku melepas pegangan tangan itu dan menarik tubuh Amy sehingga dia berdiri di belakang punggungku. "Pacar gue ke sini buat liat gue yah kakak!" sindirku jengkel.


"Oh! Sorry Rei! Sorry." ucapnya. "Gue kira pacar lo Clara yang ada di vidio itu!" tambahnya lagi.

__ADS_1


Aku tidak membalas ucapannya, tetapi hanya menatapnya dengan heran. Vidio itu? Clara? Sebuah cerita yang belum jelas diketahui kebenarannya memang cepat sekali penyebarannya.


"Yah! Gitu berita yang gue dengar belakangan." kilahnya membalikkan badan dengan maksud meninggalkan ruangan itu. "Tuh, dia lagi ngintip di depan." jawabnya lagi.


Aku mengabaikannya dan tetap fokus pada Amy. Amy yang nampak sedikit tertunduk sembari menatap dengan menerawang.


"Ada apa?" aku memegang bahunya dan membuat Amy menatap ke arahku.


"Aku perlu bicara."


"Lo akhirnya mau ngasi tau gue siapa pelakunya?"


"Bukan!" jawab Amy seakan mengerti arti dari pertanyaanku.


"Kalo gitu gue nggak ngomong!"


"Ini penting." ucap Amy dengan wajah yang nyaris serius. Mata sedikit membelalak dengan semu wajah tidak percaya. Intinya, aku baru pertama kali melihat dia seperti ini. Cukup manis untuk dipandangi lama-lama.


"Yakin?!" tanyaku menggodanya.


Amy lalu menggeleng. Seakan mengurungkan niatnya untuk membicarakan apa yang mau dia bicarakan, aku menahan langkah Amy dengan gengsi yang cukup tinggi lantaran semua mata benar-benar tertuju ke arah kami saat ini.


"Aku mau tahu!" ujarku tertahan. Menahan antara ingin membentak orang-orang sekelilingku tapi juga menahan itu karena Amy pasti langsung ciut dibuatnya.


"Wajahmu menakutkan!" ujar Amy pelan. Wajahnya nampak takut-takut. Padahal aku segini gantengnya, masa menakutkan sih!?


Aku lalu melepas tanganku dari bahunya. Menghela nafas pelan lalu menarik gadis itu ke pojokan.


"Bicara disini saja!"


Melirik ke arah belakangku, Amy lalu menatap mataku lekat-lekat. Entah hanya perasaanku saja atau dia memang sedang menahan sesuatu, ku perhatikan dia menghela nafas beberapa kali sebelum akhirnya dia angkat bicara.


"Aku tidak jadi pindah!" ujarnya.


Mendengar itu, aku sempat diam sejenak. Dia tidak jadi pindah katanya. Mendengar itu rasanya ada banyak hal lagi yang akan bisa aku lewati bersamanya.


"Lo udah kasi tau siapa aja soal ini?"


Amy menggeleng.


"Kalau gitu, gue berhenti bolos!"


"Hah?" responnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2