
Baru kali ini aku benar-benar memegang yang namanya handphone atau biasa disingkat HP. Dari dulu aku tidak tertarik memilikinya, namun belakangan aku ingin memilikinya. Katanya melalui hp, kita bisa melihat apa kebiasaan seseorang, makanan kesukaan, tempat favorit, dan terlebih lagi bisa melihat foto dari seseorang tanpa diketahui orang tersebut.
Aku tidak tahu kenapa, belakangan aku sedang sangat ingin tahu tentang seseorang di hidupku. Seseorang yang belakangan membuatku merasa sakit perut juga mual ketika hanya membayangkannya saja. Bukan sakit perut yang sakit perut, entah bagaimana aku menjelaskannya. Rasanya nafasku tiba-tiba sesak, kepalaku berkunang-kunang, dan pandanganku hanya terfokus pada sosoknya. Hal itu membuatku mempertanyakan akan diriku saat ini.
Terlebih ketika aku harus menghadapinya untuk menyampaikan apa yang tidak bisa dan tidak akan pernah mungkin aku bagikan pada orang lain. Tetapi dia berkali-kali melihatnya. Berkali-kali menyaksikan hal yang membuatku merasa tidak pantas untuk memiliki rasa penasaran yang begitu tinggi terhadap sosoknya tersebut. Jadilah, melalui Hp ini, aku ingin cukup hanya bisa melihat keseharian atau postingan-postingannya. Aku tidak ingin terlalu membebani orang lain dengan masalah yang ku punya.
Kini, aku sedang berjalan di sampingnya. Dia Reihan. Yang entah sejak kapan dimulainya, aku memiliki rasa penasaran yang begitu tinggi terhadap kesehariannya. Terhadap dirinya dan segala tingkah lakunya. Aku sudah menghentikan diri untuk tidak mendalami perasaanku itu. Namun dengan dia selalu berada di dekatku, aku sedikit kesulitan mengatur semuanya.
"Jadi, gimana keadaan lo?"
Mendengar pertanyaannya itu saja sudah membuatku merasa benar-benar terpuruk. Dia sangat berbeda dari kesan pertamaku terhadapnya. Bahkan kalau aku ingat-ingat, aku menilainya jauh lebih buruk dari sosok laki-laki yang menamai dirinya ayah, yang kini sedang pergi bersama seorang wanita yang aku panggil dengan sebutan ibu. Aku pernah menilai setiap laki-laki itu kasar baik dari segi omongan dan tindakan. Terlebih pikirannya. Tindakan dan omongannya saja sudah menunjukan kalau mereka itu kasar. Tapi Reihan yang sejak awal aku nilai merupakan sosok yang arogan, ternyata benar-benar jauh dari dugaan ku. Dia tidak seburuk yang aku pikirkan.
Sejak punya pemikiran inilah, aku selalu merasa mual dan sakit perut yang tidak jelas ketika harus berhadapan dengan sosoknya.
Sebelumnya aku degdegan dengan apa yang mungkin akan ditanyakan Reihan tentang masalahku. Syukurlah, dia hanya menanyakan keadaanku.
"Baik." jawabku sembari melihat ke arah Reihan. "Tolong jangan ceritakan pada teman-teman ya?" pintaku penuh harap dengan sedikit pertimbangan.
"Cerita apa?"
"Tentang keluarga ku!" jawabku takut-takut.
"Lo malu?"
Mendengar caranya bertanya, aku pun menggeleng. "Aku hanya tidak ingin dikasihani."
Hening yang cukup lama bagiku setelahnya, Reihan hanya bersikap santai seolah yang aku katakan bukanlah hal yang harus dia pikirkan.
"Emang lo tahunya gue seember itu?!"
Aku kembali menggeleng dan suasana kembali hening untuk beberapa saat.
__ADS_1
"Aku sepertinya iri dengan keluargamu!" ujarku ketika aku membayangkan betapa menyenangkannya keluarga yang di miliki oleh Reihan. Aku merasa nyaman berada dilingkungan yang dimana keluarga Reihan tinggali. Andai keluargaku bisa seperti keluarga Reihan, pasti aku akan sangat merasa bersyukur saat ini dengan semua keadaan yang ku miliki.
"Aneh juga dengan omongan lo itu!" ujar Reihan mendahului langkahku. Menghentikan langkahku, lalu tangannya yang lembut mengangkat bagian dagu untuk membuatku mau tidak mau harus bertatapan dengan matanya yang menatap tajam.
"Apaan sih lo!" ujarnya tiba-tiba.
Dia membuang pandangannya seakan merasa jengkel. Mungkin karena tadi aku sempat hampir menangis dan dia menyadarinya. Buru-buru aku mempercepat langkah. Mengenyahkan segala pikiran yang tiba-tiba berkecamuk di dalam hati.
"Kalau mau nangis ya nangis aja! Jangan di tahan dan sok kuat! Lo itu manusia, Mi!"
Aku tidak menghiraukan lagi kata-katanya. Aku hanya memilih diam dan melanjutkan jalanku meninggalkannya beberapa langkah lebih dulu untuk segera melakukan semua pekerjaanku di Pustaka.
Sejak dari pembicaraan tadi, aku tahu Reihan terus memperhatikanku. Buktinya, sejak berganti seragam, sudah berkali-kali Reihan terlihat bolak-balik di bagian belakang Pustaka. Sesekali aku juga tidak sengaja bertatapan dengan matanya.
Membuatku semakin kebingungan dengan apa yang harus aku lakukan untuk menghindari perasaanku yang kebingungan ini.
Jadilah aku mengerjakan semua pekerjaan yang sekiranya bisa aku lakukan di dalam pustaka. Mulai dari menggaris buku, mengecek stok, bahkan sampai menyapu dan mengepel lantai, semua aku lakukan hanya untuk menghindari Reihan. Reihan yang dengan santainya tengah berbincang-bincang dengan saudaranya. Setidaknya, aku bebas untuk sementara waktu. Sampai aku yang bermaksud membuang sampah debu ke bagian belakang pintu kaca Pustaka, tersiram air es yang sedari tadi di bawa oleh Reihan.
"Sorry! Sorry!"
"Amy!! Basah! Baju lo basah!" Melihat ketiga kakak beradik dihadapan ku ini sedikit panik, aku langsung menggelengkan kepalaku. Berharap semua tidak terlalu memperhatikanku dengan keadaanku yang sekarang.
"Ambil satu baju lengan panjang lo, Rain!" ujar Aray. "Biar dia pinjam baju lo dulu!"
"Nggak usah!" jawab Reihan "Pakai punya gue aja! Punya Rain mungkin terlalu kecil untuk dia pakai!"
Dan setelah perdebatan kecil yang terjadi, jadilah aku menggunakan sweater abu-abu milik Reihan. Pakaian yang diberikan Rain bagus, tapi memang terlalu menempel di kulit ku. Beberapa bagian tubuhku masih ada sedikit rasa sakit.
"Terima kasih!" ucapku.
"Ok!" jawab Reihan yang langsung melengos pergi begitu saja. Membuatku merasa tidak nyaman dengan keadaan yang ada.
__ADS_1
"Sudah. Sudah. Ayo kita lanjut bekerja!" ajak Rain yang langsung merangkul bahuku untuk masuk kembali ke dalam Pustaka.
Begitu memasuki Pustaka, Aray langsung melihat ke arahku dengan tatapan yang menurutku cukup membuatku banyak berpikir. Ada apa? Apa ada hal yang salah?! Apa pilihanku untuk meminjam sweaternya Reihan ini salah.
Sepanjang hari setelahnya, aku melakukan semua kegiatan di Pustaka seperti biasa. Hanya saja, Reihan sejak memberikan sweaternya untukku, dia tidak terlihat lagi di berada di rumah. Tidak seperti biasanya, Reihan selalu nampak sekali dua kali dalam satu dua jam, namun setelah insiden aku tersiram es teh yang di bawa, Reihan hanya menyapaku setelah aku selesai mengganti pakaianku dengan sweater miliknya.
"Kenapa Amy?" tanya Raina yang sudah bengong dihadapanku dengan es kiko dikedua tangannya.
Aku menggeleng. Berniat kembali melanjutkan pekerjaanku, Reihan lalu masuk ke dalam pustaka dari arah pintu depan.
"Sialan." umpat Reihan. Dia seperti tengah dikejar sesuatu dengan keadaan yang sedikit basah kuyup. "Gue kehujanan!" ucap Reihan setelah melihat tatapanku dan Raina yang keheranan dengan tingkahnya.
"Emang lagi hujan ya?!" Raina membuka pintu pustaka, lalu hujan langsung turun dengan derasnya dihalaman depan pustaka. "Bawa sial aja lo, Rei!! Pakai seret-seret hujan kesini segala."
"Dasar! Emang lu pikir gue pawang hujan."
"Bukannya pawang hujan tugasnya bikin nggak hujan yah." bantah Raina penuh sindiran.
"Tau akh! Bodoh." ujarnya lagi. Sekali lagi, Reihan melihat ke arahku dan Raina. Lalu aku terdiam cukup lama ketika yang terjadi antara khayalan atau kenyataan, Reihan menatapku cukup lama sebelum akhirnya tersenyum dengan cara yang begitu membuat jantungku berdebar dengan kencangnya.
Sepertinya, aku sedang tidak enak badan. Batinku sembari memegangi bagian dada sebelah kiri setelah Reihan berangsur masuk kedalam halaman rumahnya melalui pintu belakang pustaka.
"Lo kenapa, Mi?" tanya Raina tiba-tiba.
Aku kembali menggeleng. Menarik nafas panjang lalu melanjutkan pekerjaanku yang tinggal satu jam lagi.
"Hujan..." gumamku memandang keluar Pustaka. Berharap hujan ini bisa mengacaukan semua pikiranku yang saat ini hanya tertuju pada satu orang.
"Gue antar pulang yah." tawar orang itu.
Deg.
__ADS_1
...***...