Mirror!

Mirror!
Amyra : Hari mengherankan.


__ADS_3

Pertanyaan Reihan pagi ini cukup menganggu pikiranku yang sejak awal sudah semberawut seperti benang kusut. Beberapa kali pun aku coba menyelesaikan setiap lilitan benang kusut yang ada di pikiranku, bukannya bertemu jalan keluar dan penyelesaian, aku malah harus terima bahwa beberapa hal dalam hidupku berakhir di jalan buntu. Tanpa pencerahan dan tanpa penyelesaian yang membuatku menemukan jalan keluar.


"Rasanya seperti terjebak pada labirin tanpa ujung..." gumamku menghela nafas dengan cukup dalam dan pelan. Membuat Raina melirik dan bahkan terang-terangan melihat ke arahku dengan tatapan matanya yang bulat besar dan dipenuhi rasa ingin tahu.


"Siapa yang terjebak pada labirin?" tanyanya dengan wajah super polos.


Aku kadang berpikir, seberapa seringnya aku merespon orang lain dengan wajah seperti itu. Wajah yang tidak tahu apa-apa. Sebuah wajah yang membuatku selalu mempertanyakan tentang diriku sendiri.


"Bukan siapa-siapa..." jawabku. "Aku hanya memikirkan satu buku yang sempat aku baca kemarin." tambah ku lagi.


"Tidak apa-apa kalau mau cerita..."


Kali ini Raina membenarkan posisi duduknya menghadap ke arahku. Dia menghentikan kegiatannya yang menyeruput sebungkus yogourt dalam bungkusan plastik.


"Gue ngerti abang Rei itu susah di tebak, tapi dia bukanlah orang yang sulit untuk di kenal kok." tambah Raina menjelaskan betapa kenalnya dia dengan sosok kakaknya itu. Walau bukan kakak satu-satunya, tapi aku rasa Raina memang sangat akrab dengan Reihan. Tapi tunggu,


"Kenapa dengan Reihan?" tanyaku. Apa hubungannya pertanyaan tadi itu dengan Reihan. Kenapa Raina lagi-lagi menjelaskan tentang Reihan seperti ini padaku.


Raina menatap heran. Sementara wajah lain yang tiba-tiba melengok dari balik meja kasir juga membuatku menatap heran.


"Iya, kenapa dengan gue?" tanyanya. "Kok nyebut-nyebut nama gue segala?"


"Iih! Ge er lo!" Raina membuang wajahnya. Tapi dari cekikikan yang terdengar, sepertinya dia hanya sedang menggoda kakaknya saja.


"Gue dengar dengan jelas kok!" jawab Reihan santai. Dia mengulurkan satu sachet yogourt yang sama seperti yang diminum Raina, padaku. "Dari ibu." tambahnya.


"Makasi."


"Dasar pasangan aneh!!" Raina langsung melengos pergi. Dia tersenyum simpul lalu menepuk bahu ku dengan santainya. "Enjoy your time!" dia melirik Reihan.


Aku menunduk sesaat. Aku mengerti maksudnya. Reihan sepertinya belum menjelaskan apa-apa kepada adiknya itu.


"Kamu belum kasi tahu Raina soal aku dan kamu yang sebenarnya nggak pacaran?"


"Udah!" jawab Reihan santai tanpa melihatku. Dia melihat ke arah luar Pustaka. Dimana cuaca sedang bersinar dengan panas-panasnya.


"Terus, kenapa dia tetap gitu?"


"Nggak percaya omongan gue!" jawab Reihan lagi. Kali ini dia berbalik lalu melihat ke arahku. Menatapku dengan seksama lalu kembali membuang pandangannya.


"Nunggu seseorang?"


Reihan mengangguk. Melihat seorang gadis masuk ke dalam pustaka, aku segera mengambil posisi untuk menyapa. Namun sosok gadis yang masuk itu langsung menghampiri Reihan untuk menyapanya.


"Hay, Rei! Lama nggak jumpa." sapanya.

__ADS_1


"Hay, Ras. Tumben juga lo datang ke sini lagi?"


"Iya nih! Kangen gue sama lo!"


"Hahahahha... bisa aja lo!! Mau cari referensi buku atau apa nih?!" balas Reihan dengan tawanya yang tumben-tumbennya terdengar begitu menyebalkan di telingaku.


"Mau pinjam dong." jawabnya. "Seru kali bisa baca buku yang udah nggak bisa gue jumpai di toko-toko buku."


"Bisa aja lo!" balas Reihan lagi. "Silahkan. Silahkan. Atau perlu gue antar?!"


"Nggak usah! Gue emang kangen, tapi nggak sekangen itu kok Rei!"


Gadis yang di panggil Ras itu kemudian berjalan ke bangku pojok. Berkeliling sebantar di bagian belakang novel-novel komedi romantis, gadis itu lalu terpaku pada satu buku bacaannya di sudut itu.


"Kenapa merhatiinnya gitu banget?" tanya Raina yang baru saja sampai di meja kasir. Dia sudah membawa satu sachet yogourt yang sama seperti yang di seruputnya tadi.


"Nggak apa-apa." jawabku. "Yang di pojok sana, sering ke sini ya?"


Melihat lurus mengikuti arah tudingan tanganku, Raina melihat sejenak.


"Dia?!" ujarnya kesal. "Lo tahu dia siapa?!" kalimatnya terdengar penuh emosi juga antusias. Tapi tidak ku sangka ada rasa kesal dibalik sikap yang ditunjukannya itu padaku.


Aku menggeleng.


"Dia orang yang selalu nguberin Aray kemana pun sewaktu SMP." kalimat Raina terdengar begitu emosi. "Tapi begitu di tolak Ray, dia malah ngejar yang di sono! Mentang-mentang wajahnya mereka sama!"


"Ooo.. gitu!" jawabku mengiyakan penjelasan Raina. Pandanganku lagi-lagi terarah pada gadis itu. "Aku sepertinya pernah melihatnya."


"Siapa?" tanya Raina mengikuti arah pandanganku. "Rasti maksudnya?"


Aku mengangguk. Aku termenung untuk waktu yang lama sebelum akhirnya menyadari hal yang cukup lama membuatku penasaran.


"Ngomong-ngomong soal kakak kalian, kenapa aku tidak pernah melihatnya?"


Raina sedikit nampak bingung dengan pertanyaan yang ku ajukan. "Lo belum dikasi tahu Reihan soal abang Aray?"


Aku menggeleng. "Aku hanya penasaran. Padahal satu sekolah dan aku bekerja disini, tapi aku hanya selalu bertemu kalian berdua saja." jelas ku kaku.


"Hmmm..." Raina manggut-manggut kecil sembari menimang-nimbang jawaban yang mungkin akan dikeluarkannya. "Nanti juga lo liat, Mi!! Atau lo boleh tanya langsung dia noh!"


"Tanya Reihan?"


"Ya iya..." jawab Raina mengangguk.


"Nanti aku tanyakan!"

__ADS_1


Sebelum sempat bereaksi, aku sudah melihat Reihan menatap ke arah meja kasir dan saling bertukar pandang dan bertukar kode ke arahku. Atau lebih tepatnya ke arah belakangku. Dimana Raina dengan santainya meminta Reihan masuk dan langsung mempersilahkan ku untuk bertanya pada Reihan.


"Ada yang mau Amy tanyain ke elo?"


"Tanya apaan?"


Aku menggeleng.


"Apaan sih, Rain?"


"Ranah yang gue nggak bisa jawab!" Raina memperlihatkan cermin di belakangnya. Menunjuk bayangan wajah Reihan lalu mengangguk kecil.


"Oooo..." Reihan menelisik menatapku. "Nanti juga lo tahu, Mi!" jawab Reihan tanpa mendengar pertanyaan ku.


"Emang kamu tahu aku mau tanya apaan?"


"Tahu! Tahu!" jawabnya sembarangan. "Nanti gue kasi tahu deh!"


"Aku nggak pingin tahu!" jawabku. "Aku cuma penasaran!"


"Emang apa bedanya?!" Reihan mendelik tidak percaya.


"Kalo ingin tahu, biasanya berkembang secara terus menerus!" jawabku lambat-lambat.


"Trus?" kali ini Raina yang menatapku.


"Kalau penasaran, setelah tahu tidak akan mencari tahu lagi."


"Itu beda ya?!"


"Sepertinya berbeda."


Aku mengangguk. Giliran Reihan yang geleng-geleng tidak jelas.


"Lama-lama ngobrol sama lo, gue bisa jadi gila!!" ujarnya yang menjauh dengan gaya yang tidak habis pikir. Memang salah yah?! Aku punya pendapat sendiri dengan sudut pandang ku mengenai rasa ingin tahu dan penasaran itu.


Aku menghela nafas perlahan. Memikirkan lagi tentang diri sendiri yang mungkin memang tidak normal dimata orang lain.


"Jangan dipikirkan!" ujar Raina menatapku iba. "Reihan emang kaya gitu, tapi nggak ada maksud apapun kok dari omongannya itu."


Aku mengangguk. Tahu kalau Raina sedang berusaha menghiburku yang tengah terlarut dalam pikiran akan diriku sendiri.


Aku rasa di dunia ini, setiap manusia pasti merasakan seperti apa yang ku rasakan? Ataukah hanya aku sendiri yang mengalami hal seperti sekarang? Meragukan keyakinan akan diriku sendiri. Benarkah aku anak yang tidak normal seperti yang di katakan kedua orang tua ku? Benarkah aku hanya anak pembawa sial? Benarkah aku hanya sosok anak yang terlahir dan membuat kedua orang tuanya menderita? Benarkah semuanya adalah kesalahanku?


Pertanyaan-pertanyaan itu sering menghantui malam ku. Sampai terkadang membuatku merasa takut untuk melewati malam. Berharap pagi cepat datang dan membuatku kembali sibuk ke rutinitas ku baik disekolah ataupun di tempatku bekerja saat ini.

__ADS_1


Pustaka.


...***...


__ADS_2