Mirror!

Mirror!
Angga Putra: Dia gadisku!


__ADS_3

Aku benar-benar tidak bisa mengatakan apapun tentangnya kecuali memperhatikan sosoknya yang merintih kesakitan hanya dengan satu tindakan kecil dari bocah tengik yang mengusap pelan kepalanya seolah dia sosok yang begitu rapuh. Dan sialnya, dia malah harus menangis karena tindakan kecil itu. Aku membencinya. Membenci air matanya.


Dari sudut pintu lainnya, aku melihat hal menyebalkan itu. Hal yang dimana seharusnya aku lah yang harusnya berada diposisi itu. Akulah yang harusnya menempati posisi sebagai penolongnya untuk mengobati luka pada sekujur tubuhnya. Namun aku jugalah yang harusnya bertanggung jawab dengan keadaannya saat ini.


Tanpa disadari, tanganku sudah menggedor kusen pintu dengan keras. Membuatnya cepat-cepat menyeka air mata itu dan melihat ke arahku dengan panik. Awalnya memang panik, tetapi pandangan mata itu berubah menjadi ketakutan. Entah hal apa yang melintas pada pikirannya kini. Melihatku, dia langsung berdiri dari duduknya dan mundur dengan langkah siaga.


Aku yang sebenarnya bermaksud untuk menghampiri sosoknya malah memilih menghentikan langkahku sendiri. Menahan segala hal yang baru saja memaksaku untuk menghampirinya yang tengah merasakan kesakitan.


"Apa yang sudah lo alami selama ini?!" tanyaku dengan nada suara yang ku tahan sedatar mungkin. "Perlakuan seperti apa yang lo dapat dari mereka?!"


Dengan jarak ini, harusnya dia dapat mendengarku dengan jelas. Melihat reaksi yang tiba-tiba dikeluarkan olehnya, aku tahu, dia hanya sedang berusaha menghindar dari ku. Dia segera keluar dari ruang UKS dengan terburu-buru. Berjalan cepat menuju arah yang berlawanan dari gedung kelas sepuluh tanpa menoleh kebelakang, dimana aku hanya mampu menatap kepergiannya.


Tidak ku biarkan langkah ini mengejarnya. Toh aku akan terus berurusan dengannya nanti. Sekarang, aku hanya harus kembali ke ruang guru. Untuk diantarkan ke dalam kelas yang sama dengan kelasnya.


Flash back ke pagi ini. Pagi dimana aku baru saja memasuki gerbang sekolah dengan semua kelengkapan data pribadiku sebagai siswa pindahan dari sebuah sekolah negeri dipinggiran kota. Rasanya cukup melegakan untuk pindah ke sekolah swasta yang memberikan kebebasan pada siswanya dalam mengekspresikan dirinya. Sebelumnya aku harus terikat peraturan yang menghambat sepak terjang ku sebagai seorang siswa yang memiliki pekerjaan. Ya! Aku seorang pekerja juga pelajar. Ikuti cerita ku, maka kalian akan tahu alasan dibaliknya tentang ini.


Aku baru akan memasuki ruang guru begitu melihat bayangannya. Bayangan dari gadis yang diam-diam aku awasi selama tiga tahun terakhir ini. Gadis yang aku ikuti secara diam-diam karena aku begitu mengenalnya dan aku mempunyai sesuatu yang tidak akan bisa termaafkan pada gadis itu di masa lalunya.


Langkah ini tanpa sadar sudah berjalan mengikuti lari kecil yang dilakukannya. Dia berjalan menuju ruang kesehatan sekolah ini. Masuk ke dalam lalu mengobrol dengan seorang siswa lain secara singkat. Ku perhatikan semua itu dari kejauhan.


Aku sempat bermaksud berbalik untuk kembali ke dalam ruang guru, sampai seorang siswa lain berlari dengan langkah yang tidak terlalu kentara ketika melewati ku.


"Aray!" teriaknya ketika melewati ku.

__ADS_1


Sosok yang dipanggil olehnya berbalik ketika keluar dari dalam ruang kesehatan. Aku terdiam dengan pandanganku karena merasa seperti melihat bayangan cermin dari orang yang baru saja melewati ku.


Seorang yang melewati membelakangi ku, dan yang ku lihat dan ku perhatikan hanyalah sosok siswa lain yang keluar dari dalam ruang kesehatan. Dari perbincangan yang dilakukan, aku mengurungkan niatku untuk kembali ke dalam ruang guru karena ucapan siswa yang masih membelakangi punggungku itu.


"Luka seperti apa, bang?"


"Terlalu banyak memar pada lengannya!!"


Dia menahan bahu siswa yang membelakangi ku itu. Manahan langkahnya dengan sangat kentara.


"Sebaiknya, lo jangan langsung menanyakan soal ini padanya. Dia seperti ingin menyembunyikan masalahnya ini."


Siswa itu mengangguk. Dan aku terpaku dengan sejenak saling bertemu tatap dengan sosok siswa itu. Kharismanya memang terpancar jelas. Wibawa yang dibawa olehnya pun terasa saat tatapan kami bertemu sejenak. Dan tidak ku sangka, pertemuan singkat antara aku dan kedua siswa itu akan berlanjut pada setiap lini hidupku dan juga perjalanan dari dia. Sosok gadis yang akhirnya bisa ku dekati kembali dengan perlahan. Gadisku. Amy Rashita.


Aku sudah berdiri didepan kelasnya. Setelah melirik sedikit kehebohan yang terjadi di belakang gedung kelas sepuluh ini, akhirnya ibu guru wali kelas, mengenalkan ku pada seisi kelas. Kelas cukup heboh untuk beberapa waktu. Maaf, bukan maksud menyombongkan diri disini. Tetapi aku seorang aktor remaja yang tengah bermain peran dalam sinetron striping yang ratingnya sedang naik. Sinetron itu pun banyak disukai oleh anak-anak seusiaku. Jadilah kelas heboh untuk beberapa saat.


Teriakan histeris para siswi menyambut salam perkenalanku. Para siswa nampak acuh tak acuh. Tapi ada satu dua siswa menatapku dengan berapi-api. Rasanya mereka bisa menjadi anak buah yang menjanjikan untuk masa SMA ku. Begitu selesai memperkenalkan diri, bu Hera memintaku untuk mengambil posisi tempat duduk disudut belakang. Hanya itu tempat yang tersisa.


Awalnya aku akan mengikuti permintaan wali kelasku itu, namun melihat bangku disebelah gadis kesayanganku itu kosong, dengan reflek aku meletakkan tas dan duduk dengan santai disana.


"Hei!!" sapa suara disamping ku dengan nada tidak suka. "Bangku ini ada pemiliknya!"


"Benarkah?!"

__ADS_1


"Duduklah ditempat yang sudah diminta oleh Bu Hera!" kata siswa lain yang duduk dihadapan ku. Aku merasa yang duduk disamping Amy adalah seorang gadis yang sangat disukai oleh kedua siswa ini. Tapi begitu aku bangkit dari kursi itu menuju bangku sudut, aku melihat siswa di ruang kesehatan duduk disana dengan santainya. Dia yang melukai tangannya dengan gunting yang ada diruang kesehatan lalu meminta Amy untuk merawat lukanya. Dia juga yang bertindak seenaknya pada Amy sampai Amy tiba-tiba haris menangis dan merasa kesakitan. ****!!


Dari semenjak pelajaran dimulai sampai berakhirnya jam sekolah, aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari sosoknya. Dari Amy yang terus menundukkan kepalanya sekalipun dia sudah membuka buku pelajaran yang dibawanya. Bahkan selama beberapa jam ini, dia sama sekali tidak berani melihat ke arah belakang. Padahal posisi ku sangat jauh dari posisinya. Kalaupun dia berbalik ketika dipanggil oleh teman dibelakangnya, harusnya dia tidak akan melihatku.


Apa benar dia setakut itu pada ku?


Tanpa ku sadari lagi, aku sudah menggedor meja di hadapanku. Mengalihkan perhatian beberapa siswa yang bersiap keluar kelas tertuju ke arahku.


"Maaf!" ucapku berusaha menunjukan kalau apa yang kulakukan adalah hal yang tanpa sengaja. Memang sebuah ketidaksengajaan tepatnya. Aku mengabaikan mereka pada akhirnya, namun kembali fokus menatap punggungnya yang memasukan buku pelajarannya ke dalam tas yang dibawanya.


Tiga siswa lain tengah mengobrol asyik disekitarnya dan aku tidak memperdulikan itu. Aku menyeruak diantara ketiganya lalu mengulurkan tanganku untuk disambut oleh Amy. Dia menunduk diam. Hal itu membuatku langsung merasa kesal. Bukan kesal kepadanya. Tetapi kesal pada hal yang merubahnya sampai ke titik ini.


"Apa lo sebenci itu sama gue?"


Mendengar pertanyaan itu membuatnya terlihat semakin mengkeret saja. ****! Gue nggak nyiksa lo, ya?! Setidaknya aku sudah tidak melakukannya. Mengertilah kalau saat itu aku masih sangat labil. Seorang remaja laki-laki yang masih labil. Nggak seharusnya lo membenci tindakan gue itu selama bertahun-tahun. Ayolah! Rasanya gejolak dalam diriku meronta dengan kediaman yang terus ditunjukannya.


"Sudah selesai, Mi? Ayo pulang!" kalimat itu keluar dari siswa diruang kesehatan pagi tadi. Dia tidak mengindahkan keberadaan ku dihadapan Amy yang sudah menarik uluran tanganku, tetapi Amy malah menerima uluran tangan darinya untuk berdiri dan keluar dari bangkunya setelah siswa itu memberikan akses jalan pada Amy.


"Gue Reihan!" ujarnya mengenalkan diri padaku. "Pacarnya!"


****!


"Oh!" tanggap ku. Sementara aku dan yang namanya Reihan ini saling menatap tidak suka, dua temannya malah tercengang dengan perkataan temannya itu. Dan Amy sendiri, untuk pertama kalinya dalam sehari ini, dia mengangkat kepalanya. Melihat pemuda bernama Reihan itu dengan tatapan tidak percaya.

__ADS_1


Pembohong!


...***...


__ADS_2