Mirror!

Mirror!
Amyra: Minggu cerah


__ADS_3

Ini hari minggu. Hari dimana aku hanya harus berdiam diri dirumah. Masih belum ada yang menerimaku untuk bekerja part time saat ini. Karena itu, aku hanya bisa memastikan kalau aku hanya akan berada dirumah selama seharian. Ibu sepertinya sudah berangkat bekerja pagi-pagi buta. Ayah, seperti biasa, dia tidak pulang setelah kerja shift malamnya. Dapat ku pastikan ayah pasti telah mabuk-mabukan lagi bersama teman-teman kantornya.


Aku keluar dari kamar sembari menengok kanan dan kiri. Kali aja aku salah mengira bahwa ayahku tidak pulang, tahu-tahu sudah tertidur pulas di sofa depan. Rumahku adalah rumah sederhana satu lantai. Dengan 3 ruang tidur, satu ruang tamu yang berada dibagian depan, satu ruang dapur, dan dua kamar mandi yang satu ada dibagian kamar belakang, disebelah kamarku. Satunya lagi berada disamping dapur rumah kedua orang tua ku ini.


Aku melihat keadaan rumah yang sedikit rapi. Lalu berbalik kembali kedalam kamar dan mendapati pemandangan sekotak obat pereda nyeri yang diberikan Reihan padaku siang kemarin. Siang setelah dimana sebuah kesalahpahaman terjadi padaku. Menjadi korban salah sasaran dari sebuah klub penggemar.


Daripada lama-lama memikirkan hal yang tidak jelas, aku memilih memanfaatkan obat luka yang diberikan Reihan padaku. Aku merasa seolah Reihan mengetahui luka memar pada sekujur tubuhku ini. Bukan hanya luka memar dari pergelangan tanganku yang dilihatnya siang kemarin. Sudahlah! Reihan sudah bilang kalau dia tidak tahu kalau salep luka ini bisa dibeli per bijinya. Terima kasih.


"Rasanya menyenangkan!" gumam ku sembari menikmati langkah keluar dari daerah perumahanku. Aku sudah memastikan semua colokan listrik tercabut, kecuali colokan almari es. Memastikan semua keran air sudah tertutup rapat dan memastikan semua bagian kamar sudah terkunci dengan baik. Aku memainkan kunci rumahku. Rasanya untuk pertama kalinya aku merasa berani untuk keluar menikmati hari liburku yang berharga. Setelah mengambil uang yang ku simpan dari hasil mengajar lukis pada anak-anak SD, aku berjalan-jalan diseputaran kota.


Bukan sekedar berjalan-jalan. Aku juga sedang mencari tempat untukku bisa bekerja paruh waktu mulai dari pulang sekolah sampai jam 7 atau jam 8 malam setiap harinya. Jam sebelum orang tuaku pulang dari tempat mereka bekerja. Semenjak ibuku bekerja beberapa bulan lalu, aku mulai mendapat sedikit ruang dalam melakukan aktivitasku.


Bukannya selama ini aku terkekang, tapi ibuku tidak pernah mengijinkan ku untuk kemana-mana. Pulang sekolah langsung pulang ke rumah, kalau terlambat sedikit saja, aku akan mendapatkan pukulan. Dan ini berlangsung semenjak siang itu. Siang yang ingin ku lupakan. Siang yang mengingatkanku lagi tentang dia. Angga Rasyaputra.


Aku tengadah ke langit hanya sebentar, tapi hal itu malah membuatku menabrak seorang yang membuatku tersenyum penuh rasa terima kasih pagi ini.


"Lo nggak apa-apa?!"


Aku menggeleng kecil. Kenapa bisa bertemu Reihan disini? Aku kira dia pasti tengah bermain futsal. Karena seperti itulah percakapannya dengan Raka dan Ditya didalam kelas kemarin.


"Kamu disini?" tanyaku dengan maksud basa basi.


"Ya!" jawabnya.


Jawaban yang langsung menghentikan niatku untuk berbasa-basi. Bukan Reihan yang seperti biasanya. Jadi aku memutuskan untuk mengucapkan terima kasih sekali lagi dan bermaksud pergi dari jalanan itu.


"Lo mau kemana?" tanyanya yang langsung membuatku terheran-heran dengan nada bicaranya. "Ada urusan mendesak ya?"


"Aa..Aku hanya mau jalan-jalan!" jawabku kelimpungan. Kenapa aku harus bersikap sekaku ini padanya. Kenapa juga aku merasa sedikit asing dengan Reihan pagi ini. Bukan hanya kali ini. Sebelumnya disekolah juga sama.


"Bagaimana lukanya?"


"Baik!" jawabku. "Terima kasih untuk obatnya kemarin."


"Tidak masalah!" jawabnya lagi. "Lo hanya sekedar jalan atau ada mencari sesuatu?!"


"Mencari sesuatu juga..." jawabku ragu. Hal yang ku cari bukanlah hal yang pasti. Tapi aku memang mencarinya sampai saat ini.


"Cari apaan? Boleh gue ikut?"

__ADS_1


Aku mengangguk kecil. Senyum kaku keluar dari wajahku. Mengisyaratkan kalau aku kebingungan untuk menjelaskan maksud dari hal yang ku cari.


"Mencari dimana?"


Setelah kesunyian beberapa saat, akhirnya Reihan lah yang memulai percakapan kembali.


"Aku sebenarnya sedang mencari tempat kerja." jawabku akhirnya.


"Lo mau kerja?"


"Iya! Mau cari kerjaan paruh waktu, Rei!" Aku mencoba tersenyum dengan santai.


"Mau kerja yang gimana?" Entah itu pertanyaan atau pernyataan, Reihan langsung menyambungnya lagi. "Mau jaga toko penyewaan buku tidak? Soal waktu kerja bisa dibicarakan kok! Waktu jaga juga sampai jam 7 malam paling petang. Bagaimana?"


Aku mengangguk setuju begitu saja. Dan jadilah, aku langsung berada di sebuah toko penyewaan buku yang pernah ku kunjungi beberapa bulan yang lalu dengan tujuan yang sama. Menanyakan lowongan kerja paruh waktu.


"Siang!" sapanya pada seorang gadis dengan wajah oriental tetapi dengan mata yang bulat besar. Rambutnya pendek sebahu, kacamata tipis melingkar dikedua mata bulatnya itu. Hidung mancung dengan bibir mungil yang merah merekah.


"Hay, Ray!" gadis itu langsung menyapa manis. Bermain mata dengan sosok Reihan yang nampak sangat akrab dengannya, lalu keluar dari balik meja toko untuk menanyakan maksud kedatangannya.


"Bawa siapa?!"


"Raina!"


"Amy!"


Mendengar jawabanku, Gadis bernama Raina ini langsung tersenyum cerah.


"Ray! Ibu udah tahu belum?" dia berjingkrak-jingkrak menghampiri Reihan yang berjalan ke arah belakang toko.


"Ini mau kasi tahu ibu!" jawabnya. "Minta dia tungguin dulu!"


"Okay!"


Lagi. Gadis bernama Raina itu menghampiriku.


"Kenal abangku berapa lama?"


"Ya?"

__ADS_1


"Iiish!" dia mendesis. Menggiring langkahku untuk duduk di sampingku lalu menghela nafas pelan. "Kenal Reihan berapa lama?"


"Empat bulan." jawabku. Dia hanya manggut-manggut kecil. "Tapi kenapa datangnya sama bang Aray? Reihan kemana?"


"Itu Reihan..." jawabku menuding dengan heran. Gadis bernama Raina ini tersenyum seakan mengerti sesuatu.


"Jahil lo, Ray!"


Reihan datang bersama seorang yang nampak masih begitu muda untuk seorang yang telah memiliki putra berusia 17 tahun. Rasanya benar-benar tidak mungkin kalau dia seorang ibu.


"Kerjanya mulai besok gimana?" tawar ibu yang bersama Reihan begitu duduk di hadapanku.


"Ya?"


Melihat Reihan dan Raina saling bertukar pandang geli, aku jadi makin tidak mengerti dengan keadaan yang tiba-tiba harus ku hadapi.


"Tadi dia sudah menjelaskan semuanya. Katanya mau kerja paruh waktu?"


"Iya!" jawabku sembari mengangguk.


"Mulai besok kamu boleh kerja disini. Gajinya tidak mengecewakan kok! Gimana?"


"Benarkah bu? Saya boleh bekerja disini?"


"Ya!" jawabnya. "Hari sekolah, kerja dari jam 2 siang sampai jam 7 malam. Dan liburan sekolah kerja dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore."


"Baik. Terima kasih bu!!"


"Terima kasihnya sama Aray saja! Bukan sama ibu!" jawab sang ibu santai.


"Aray siapa bu?"


Jadilah tatapan ibu pemilik toko penyewaan buku ini melekat padaku dengan rasa heran. Hanya sesaat. Karena begitu dia mengalihkan pandangan pada Reihan dan Raina, dia mengangguk mengerti.


"Padanya maksud ibu!" Sang ibu menepuk lengan Reihan dengan santai. Raina menyambut ku dengan pelukan.


"Akhirnya ada teman buat jaga toko!!" Raina langsung menggoyangkan tubuhku ke kanan dan ke kiri dengan gemas.


Melihat dari caranya memelukku, sepertinya gadis bernama Raina ini sangat baik dan bisa ku jadikan teman sama seperti Rahma dan Siska. Aku membalas senyum padanya. Juga tidak lupa mengucapkan terima kasih pada Reihan karena memberikan ku tempat kerja paruh waktu yang membuatku memiliki banyak cara untuk bisa berkomunikasi dengan baik.

__ADS_1


...***...


__ADS_2