
Melihat ayah berdiri di depan pintu rumah sudah membuat ku sangat ketakutan. Aku bukannya takut mendapatkan pukulan dari ayah. Karena luka dari pukulan akan hilang seiring berjalannya waktu. Aku hanya takut ketika aku harus mendapatkan kata-kata yang membuatku terus saja akan membenci diri ku sendiri. Tapi begitu sosok Angga juga menunjukan wajahnya di depan pintu rumah, aku langsung tidak bisa melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah dengan tenang.
Sekalipun aku tahu dengan adanya Angga di dalam rumah, ayah tidak akan meluapkan emosinya karena apa yang aku lakukan hari ini.
"Udah lo pakai voucher makannya?" tanya Angga padaku saat aku selesai menutup pintu rumah. Langsung paham dengan maksudnya, aku mengangguk perlahan.
Tatapan Angga padaku selalu terasa menusuk dan menakutkan. Karenanya, sekalipun aku tidak bertatapan langsung padanya, aku akan bisa merasakan saat dia menatapku.
"Duduklah!" perintah ayah padaku.
Aku berjalan sembari menunduk ke arah sofa. Memilih duduk di sofa yang berjarak cukup jauh dari ayah atau pun Angga.
Tadinya.
Mendapat lirikan tajam dari Angga yang menyuruhku duduk di dekatnya, aku bergeser cepat.
"Aku akan membawa ibu kalian ke sana lagi." ucap ayah dengan raut wajah yang nampak berat.
"Lakukan saja!" jawab Angga.
Sejenak tapi pasti, dia melirikku yang juga tengah meliriknya sambil menunduk dan tidak berani memberikan pendapat apapun.
"Bagaimana menurut lo, Mi?"
Mendengar dia bertanya demikian, aku pun hanya bisa semakin merunduk dan menggeleng pelan. Lalu suara teriakan dari dalam kamar itu membuat tubuhku langsung mengkeret dan serasa mengecil.
"Aku sudah mempertimbangkan semuanya." kata ayah lagi sembari menghela nafas yang cukup panjang. "Ibu kalian perlu penanganan khusus!"
"Baguslah kalau akhirnya bisa menyadari itu!"
Nada suara Angga masih terasa penuh emosi. Penuh permusuhan dan tidak adanya rasa hormat. Sama seperti dulu, kemarahannya terhadap ayah dan ibu memang tidak pernah berkurang sedikitpun. Bahkan setelah kepergiannya selama tiga tahun terakhir.
"Berhentilah bersikap begitu marah dengan ku!" ujar ayah dengan tatapan pasrah. Pasrah dengan keadaan yang membuatnya hanya bisa harus menerima keadaan yang kini terjadi di dalam keluarga ini. "Aku ini masih orang tua mu! Orang tua kalian!"
__ADS_1
"Masih bisa menyebut diri sebagai orang tua?!" Angga bersuara keras. "Peduli apa kamu selama ini terhadapku? Terhadap Amy!!"
Dengan semua keberanian yang ku punya, aku menahan tangan Angga yang mengepal dan bersiap meluapkan semua emosinya. Padahal aku sudah merasa tanganku gemetar ketika melakukannya.
"Dia sudah lelah..." kataku pelan.
Aku dan Angga tidak pernah bisa memanggil mereka dengan sebutan ayah ataupun ibu dengan baik. Baik itu dihadapan mereka ataupun ketika ada yang bertanya tentang mereka pada kami. Walau pun di dalam lubuk hati ku, aku hanya mempunyai mereka sebagai figur orang tua selama ini. Sesekali aku memang membandingkan mereka dengan orang tua dari anak-anak yang ku kenal. Tapi hanya sebatas bayangan jika mereka juga bisa seperti orang tua normal pada umumnya. Tidak lebih. Hanya sebatas itu.
Sama seperti Angga yang kehilangan rasa hormat terhadap mereka, aku pun sudah tidak bisa lagi memanggil mereka dengan sebutan itu. Selain karena tidak terbiasa, aku sudah terlalu biasa untuk tidak melihat sosok ayah atau pun ibu pada keduanya.
"Lelah menghabiskan waktunya untuk minum-minum?!" dengus Angga.
Tapi ku perhatikan, Angga jauh berbeda dari dia yang dulu. Dia yang dulu akan selalu penuh emosi dan meledak-ledak. Biasanya saat aku berusaha menahan amarahnya, dia akan langsung membentak atau pun memukulku dengan tanpa sengaja. Tapi kali ini, walau masih berselimut emosi, dia terlihat cukup tenang dan mampu menahan dirinya.
Lalu mengingat sepintas bagaimana semua tindakan Angga selama ini di sekolah setelah kepindahannya. Aku menyadari, dia memang tidak pernah menunjukan emosinya yang meledak-ledak itu lagi, namun tatapan matanya tetap membuat ku begitu ketakutan. Dan kalau dipikir-pikir kembali, semua yang berada di dalam keluarga ini adalah orang-orang yang paling menakutkan dalam hidupku.
"Sudahlah!" ujar ayah yang berdiri dengan bertumpu pada kedua kakinya. "Aku akan berangkat besok membawa ibu kalian. Jadi bersiaplah!"
"Aku tidak mengantar!" jawab Angga.
Braakkkk!!
Suara pintu kamar tertutup dengan penuh emosi, terdengar cukup keras di belakang telinga ku. Membuatku menoleh ke arah belakangku. Dimana ada sebuah kamar yang memang diperuntukan untuk Angga diami ketika suatu saat dia pulang ke rumah ini. Rumah yang tidak bisa di sebut rumah karena orang-orang di dalamnya. Tetapi selalu menjadi tujuan pulang ketika selesai menjalani rutinitas sebagai mahkluk sosial.
"Lain kali jangan pulang selarut ini!" ujar ayah yang tidak melihat ke arahku. Sehingga aku tidak dapat menebak apakah dia marah atau tidak dalam mengucapkan kalimatnya itu. Atau itu hanya sekedar kalimat yang tidak berarti untuk dia keluarkan padaku.
Tidak menyahut, aku langsung masuk ke dalam kamarku. Kamarku yang kosong. Hanya ada satu tempat tidur ukuran satu orang di sudut ruangan. Di sebelahnya meja kecil dengan lampu tidur yang ku dapat dari hadiah lomba lukis yang ku ikuti pertama kali di masa SD. Satu karpet tua berwarna hijau tua yang menjadi alas lantai, aku meletakkan tas ku pada sebuah meja kayu tua yang ku jadikan sebagai meja untukku belajar. Satu almari tua disudut lain, dan sebuah jendela yang nampak begitu tua untuk bangunan yang bisa di bilang perumahan sederhana ini.
Aku baru saja merebahkan diriku pada kasur di sudut kamar ketika pintu itu dibuka lebar-lebar oleh Angga.
"Lo sudah mau tidur?" tanyanya.
Reflek duduk, aku menggeleng menjawab pertanyaan itu.
__ADS_1
"Lo masih mau bicara sama gue?"
Aku menatapnya. Ini pertama kalinya aku mendengar kalimatnya begitu santai dan datar saat bicara denganku. Di tambah tatapannya yang terasa begitu berbeda dari percakapan terakhir kami beberapa tahun yang lalu.
Aku mengangguk ragu-ragu.
Angga menggerakkan sedikit kepalanya menunjuk ke arah tempat yang sejak kepergiannya tidak pernah aku kunjungi. Tempat itu masih di dalam rumah ini. Menyatu dan seharusnya menjadi bagian terbaik dari rumah setengah jadi yang akhirnya di benahi perlahan-lahan oleh ayah di sela-sela waktunya.
"Sudah berapa lama lo nggak naik ke sini?"
Aku sudah berjalan di belakangnya, menatap punggungnya yang kini nampak begitu tegap. Dulu punggung itu begitu bungkuk dengan tengkuk yang selalu tunduk. Lengan dan tubuh kurus yang sama tidak terurusnya seperti ku.
"Lama."
Aku menaiki anak tangga itu satu per satu. Mengingat banyaknya tanaman yang dulu kami pajang di sepanjang anak tangga untuk menjadi penghias rumah ini. Dulu kami anak-anak yang begitu menyukai sesuatu yang nampak indah. Walau selalu dihancurkan oleh kata-kata orang tua kami sendiri, kami terus dan terus saja berusaha menjadikan rumah ini layak karena kepolosan kami. Tapi satu kejadian merubah semuanya. Dimana aku dan Angga kehilangan semua kebebasan kami. Kehilangan kehidupan kami sebagai anak kecil. Keadaan memaksa ku untuk mengerti setiap situasi. Dan memaksa Angga menjadi seorang remaja pemberontak yang memilih kabur dari rumah ini tiga tahun yang lalu.
"Seharusnya malam ini cerah yah?!" gumam Angga menatap langit di atas kepala kami.
Aku menghentikan langkahku diujung anak tangga. Menyadari betapa lamanya aku dan Angga tidak pernah bicara dengan begini santainya. Tanpa sadar air mata menetes. Memberi ku rasa sakit yang terasa begitu mencekat dibagian dada.
Aku mengangguk pelan. Tetap menunduk untuk bisa menghentikan tetes air mata yang terus saja membendung dan membuat panas kelopak mata.
"Tidak bisakah semuanya kembali seperti dulu?" isakku.
"Yang lalu sudah berlalu..." jawab Angga.
Dia tidak bergeming dari posisinya. Hanya membenarkan posisi duduknya lalu melirik ke bawahnya sebentar.
"Tidak bisakah kamu memaafkan mereka?"
"Apa lo bisa?"
Pertanyaan itu membungkam ku seketika. Jawabannya tidak tahu. Tanpa alasan yang jelas, aku terlalu banyak mengukir rasa sakit dengan semua keadaanku selama ini. Tapi aku juga menyadari, mereka juga mempunyai rasa sakit mereka sendiri.
__ADS_1
...***...