
Aku baru saja melihat sosok Aray masuk ke dalam ruang ganti ini ketika aku selesai menyetel baju yang akan ku gunakan untuk pemotretan bersamanya juga dengan dua aktris lainnya.
Setiap kali melihat wajahnya, aku terkadang merasa jengkel. Jengkel karena dengan wajah yang sama, kembarannya Aray ini sering sekali membuat ulah di depanku. Terutama yang menyangkut Amy. Lagi pula, kenapa kembarannya Aray bisa sangat bertolak belakang dengan kembarannya itu sih! Selain mempunyai kepribadian yang bertolak belakang, pembawaannya juga sangat berbeda.
"Bengong aja lo, Ray!" sapa ku yang memang sudah terbiasa mengenal sosoknya saat bekerja. Terlebih setelah kejadian minggu lalu. Setidaknya aku bisa coba berbasa-basi padanya untuk bisa menyampaikan maksudku nantinya.
"Ah! Ya!"
Jawabannya terdengar kaku dari biasanya. Dia yang biasanya hanya mengangguk lalu balas tersenyum simpul, kini membalas dengan kaku seperti itu. Entahlah. Mungkin moodnya sedang baik untuk bicara.
15 menit setelah aku keluar, Aray menyusul dengan langkah setengah berlari. Tumben-tumbennya. Biasanya dia selalu berjalan dengan wibawa yang susah untuk di lawan. Tapi kali ini, langkahnya yang setengah berlari membuat fotografer yang akan mengambil foto kami berdecak dengan gembira.
"Bakalan pas nih sama tema!" ujarnya.
Aku mengalihkan pandangan ku pada Aray yang menyapa fotografer itu dengan gaya yang santai. Tidak seperti biasanya. Aray akan selalu membungkuk sopan kepada setiap kru yang berumur lebih tua darinya, tumben sekali. Toh itu bukan urusanku. Aku harus bekerja dengan lebih baik lagi.
Acara foto shot berjalan dengan tanpa hambatan. Hanya mengulang 3-4 kali untuk bagian foto ku dan Aray. Karena dari hasil foto, Aray menatapku penuh dengan penuh permusuhan. Seperti permusuhan alami yang tercipta di dalam dirinya yang memang tertuju padaku.
"Hari ini melelahkan yah?!" ujarku basa-basi ketika sedang mengganti pakaian yang kami gunakan.
Aku dan Aray berada di ruang ganti yang sama dengan sekat satu sama lain. Sembari membuka kancing kemeja brand foto kami hari ini, aku iseng menanyainya.
"Hmmm..." jawaban itu terdengar rada malas di telingaku.
"Beda banget lo hari ini dari biasanya?"
"Gue emang beda." jawabnya.
"Mengenai kejadian minggu lalu, jangan pernah kasih tahu Amy yah?!"
__ADS_1
Rasanya lega bisa mengucapkan ini. Karena pernah satu kali pemotretan dengan Aray, wanita datang dan berulah. Mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya dan mengancam akan melakukan hal yang buruk pada Amy kalau aku tidak menuruti keinginannya. Sial! Kenapa harus ada wanita seperti itu dalam hidupku. Kenapa harus dia yang menjadi bagian dari hidupku.
"Kejadian yang mana?!"
Aku langsung diam mendengar jawabannya itu. Dari pada memberi jawaban langsung, Aray memang selalu menanggapi dengan jawaban yang membuat ku harus mentelaahnya untuk beberapa saat. Pantas saja dia di panggil si remaja bijaksana. Di umurnya yang baru 17 tahun, dia bisa menjawab dengan cara seperti itu. Sangat jauh berbeda dengan kembarannya.
"Ngapain lo senyum nggak jelas gitu!"
Kalimat itu langsung membuatku menatap sosok bayangan pada kaca ruang ganti yang ku gunakan. Wajahnya nampak aneh. Dahinya mengkerut dengan menampilkan rasa penasaran yang tinggi.
"Emangnya kenapa kalau gue ngasih tahu Amy?"
Pertanyaannya ini langsung menghilangkan pandanganku yang mempercayai perkataan orang-orang tentang kebijaksanaan yang dimiliki oleh Aray.
"Ada baiknya Amy nggak tahu!" jawabku akhirnya, setelah melihatnya yang makin penasaran dengan kediamanku yang cukup lama. Dia tetap berdiri di belakangku dengan menatap langsung dari arah bayangan cermin.
Untuk sejenak yang terasa asing, aku merasa Aray memang bertingkah aneh sepanjang sore ini.
"Lanjutkan!" jawab Aray yang langsung berlalu begitu saja. Tangannya langsung menyelip pada saku celananya seperti biasa ketika dia akan pergi.
Aku terlalu memperhatikan hal yang melewati di waktu senggang. Bahkan memperhatikan hal-hal sekecil itu dari orang yang harusnya ku jadikan saingan dan kembarannya menjadikanku pengganggu untuk seorang yang harusnya ku lindungi. Terkadang kehidupan itu memang memberikan alur pertemuan yang tidak disangka-sangka.
Keluar dari ruang ganti, aku langsung menggunakan topiku. Berlalu dari para kru yang sudah bersiap-siap untuk menyelesaikan kegiatan mereka. Mengambil pakaian serba hitam dengan topi hitam sudah menjadi kebiasaan setiap aktor remaja, tapi bagiku hal itu adalah untuk membuatku yakin akan jalan gelap yang telah aku lewati. Gelap yang bukan bermakna negatif. Gelap yang dimana terlalu banyak celah dan rasa sakit yang menekan pikiranku setelah semua kesibukan yang ku lewati.
Aku bekerja dengan giat untuk bisa menjalani hidupku dengan normal seperti anak remaja seusia ku. Tapi terkadang, aku melupakan lingkungan sosialku sehingga aku selalu sendirian ketika semua kesibukan telah selesai aku jalani. Aku yang sendirian di dalam rumah sewaan yang ku dapatkan dengan harga yang murah. Rumah di ujung sebuah perumahan tua yang terasa begitu jauh dari keramaian.
Aku tidak membenci keramaian, hanya saja rasanya lebih baik aku menepi ditempat dimana tidak akan ada orang yang bisa melihat sisi diriku yang seperti sekarang ini.
Di dalam salah satu kamar, aku meringkuk dengan meja kayu disamping kasur yang hanya berisi sebuah jam weker. Handphone ku juga ku letakkan disampingnya. Hp dengan wallpaper kelam. Foto dua anak kecil bernuansa putih abu-abu yang berdiri dengan senyum cerah di sudut sebuah kamar. Fotoku dan Amy di masa kecil.
__ADS_1
Malam yang panjang ku lewati dengan perasaan tidak mengenakkan. Sepertinya aku terlalu larut memikirkan hal yang tidak jelas setelah perkataan Aray kemarin. Jadilah pagi ini aku berangkat lebih pagi ke sekolah untuk membicarakannya sekali lagi. Untuk mempertegas kepada Aray agar tidak mengatakan hal apapun yang dia lihat dan dengar kepada Amy. Aku tidak ingin Amy terluka lagi karena sosok ku.
Sampai bel masuk berbunyi, aku sama sekali belum melihat Aray datang. Sedangkan kembarannya malah menatapku dengan cara yang menyebalkan. Kalau aku tidak harus menjaga reputasi ku, sudah ku ajak ke sudut bocah tengik itu untuk ku pukuli. Tapi aku perlu tahu kenapa Aray tidak sekolah hari ini. Urusan yang ingin ku bicarakan adalah hal yang penting baik untukku ataupun hidup Amy. Kalau pun karena pekerjaan, aku bisa menghampirinya ke lokasi.
"Hei, Rei!" sapa ku. "Abang lo nggak masuk hari ini?!"
Mendapat sapaan pagi dari ku, ku pikir dia akan kaget atau bagaimana, bocah tengik itu malah hanya menatapku dengan tampang mengobservasi.
"Lagi sakit!" jawaban itu keluar dengan sekenannya. Lalu dia kembali mengobrol dengan teman-temannya.
"Aray bisa sakit juga?!" celetuk Ditya.
"Dia kan manusia, Dit!" Reihan langsung menjontos bahu temannya itu.
"Tumben-tumbennya dia sakit!" timpal Raka.
"Gue sering dengar lo punya kembaran yang sekolah disini dan jadi seniornya kita, Rei... Di kelas berapa sih?" Siska tiba-tiba masuk dalam obrolan.
"Katanya kalian kembar?!" Rahma nimbrung.
Jadi mereka tidak tahu siapa kembaran bocah tengik itu. Aku pun hanya diam mendengarkan dari sudut bangku. Sedangkan mata ku melihat ke arahnya. Dia yang kini terlihat penasaran dengan obrolan yang terjadi di sekelilingnya. Wajahnya menatap bocah tengik itu lekat-lekat lalu berpikir sejenak. Melakukan hal yang sampai lebih dari dua kali.
"Apa mungkin dia pengurus Osis?!"
Kalimat itu membuat si bocah tengik melihat ke arahnya. Tatapan mata Amy yang bulat besar penuh dengan rasa penasaran membuat si bocah tengik terdiam sesaat. Dari kejauhan, bisa ku lihat bocah itu tidak memberikan jawaban yang pasti pada Amy.
Awas saja jika sampai lo mempermainkan Amy bersama kembaran lo itu!!
...***...
__ADS_1