Mirror!

Mirror!
Reihan : Aku ingin bersamanya.


__ADS_3

Sepanjang hari yang dimana begitu banyak kejutan yang ku terima, setelah tanpa sadar membentak Amy dan akhirnya berhasil meminta maaf dengan cara yang begitu aneh, kedatangan Clara yang membuat Amy menunjukan rasa cemburunya, dan kedatangan Angga yang memancing emosiku karena sekali lag mencuri kesempatan untuk mendekati Amy, akhirnya aku memutuskan mengajak Amy berjalan-jalan sebelum dia memutuskan untuk pindah bersama kedua orang tuanya. Sebenarnya kalau boleh berharap, aku ingin dia tetap tinggal daripada harus pindah ke tempat baru.


"Jangan hiraukan omongan mereka." ucapku pada Amy karena di goda oleh Raina yang mengerti akan maksudku mengantar Amy pulang. Padahal setengah jam lalu dia tahu aku sedang berada di puncak emosiku, tapi sudah berani mengganggu ku lagi. Dasar.


"Helm ini?" Amy menatapku tidak percaya. Masih percaya dengan omonganku soal motor curian kemarin?! Dasar Amy. Bhatinku menghela nafas sejenak.


"Hmm..." jawabku rada malas. "Helm curian yang kemarin."


Melihat ekpsresi Amy yang mungkin ingin tertawa, membuatku ingin menjahilinya. Jadilah aku memasang wajah serius. Bukan serius-serius amat. Hanya aku tidak menyangka pikirannya masih memikirkan hal-ha seperti itu.


"Kita nggak langsung pulang yah?" ujarku tanpa menghiraukan jawaban apapun yang mungkin ku dapat dari Amy.  Aku angsung mengegas laju motor ini memasuki jalanan utama.


Sepanjang jalan itu, Amy hanya terdiam sembari sesekali melirik ke arah spion. Mungkin sempat berpikir arah jalan yang ku ambil dari jalan pulang kerumahnya sangat berbeda. Asal dia tidak tiba-tiba berteriak kalau dia di culik saja karena tindakanku ini.


"Kita mau kemana?" tanya Amy begitu kami berhenti di sebuah lampu merah.


"Jalan-jalan sebentar nggak apa kan? Gue yang tanggung jawab nanti soal jam pulangnya lo." jawabku santai yang masih fokus ke arah depanku. Berharap lampu merah segera berganti hijau dan kami sampai di tujuan dengan lebih cepat.


"Iya." Amy mengangguk. "Aku kabari kakakku dulu ya." sambung Amy sembari mengeluarkan hpnya. Awalnya aku kira dia akan mengetik apa, tapi ternyata dia.... "Aku keluar jalan-jalan sama Reihan." ucapnya menggunakan voice note.


Seketika kau berbalik menghadap ke arah Amy.  Menatap gadis itu dengan tidak percaya dan dibuyarkan oleh menyalanya lampu hijau yang membuatku harus melajukan kembali motorku ini. Motor ini kembali melaju ke bagian pinggiran kota. Tepatnya ke sebuah perbukitan yang disepanjang jalannya diterangi lampu jalanan yang bagiku penataannya begitu rapi dan sesuai kebutuhan pengguna jalan.


"Ini dimana?" tanya Amy saat kami memasuki sebuah persimpangan dengan jalanan yang tidak terlalu ramai.


"Sampai di atas lo akan tahu." jawabku. Motor ini melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi untuk menanjak menuju sebuah area parkir yang cukup luas.


"Kita ngobrol sebentar disana yah?"


Begitu motor ini terparkir rapi pada area parkir yang ada dikawasan perbukitan ini, aku menunjukan sebuah tempat di ujung tangga jalanan yang tersaji dihadapanku dan Amy.

__ADS_1


"Disana?" Amy yang ikut menunjuk tempat yang ku arahkan.


Aku mengangguk.


"Ayo." jawabnya mengiyakan ajakanku.


Sepanjang anak tangga ini, aku ingin bisa menggenggam tangannya. Bergandengan tangan untuk sampai di puncak bukit untuk melihat pemandangan kota di malam hari. Malam yang di penuhi dengan cahaya lampu. Ku rasa dia akan menyukainya.


"Sampai." ujarku melihat ke arah Amy. Amy yang kini terkesima dengan pemandangan yang tersaji di hadapannya. Wajahnya sempat clingukan seperti anak kecil yang terlalu senang ketika di ajak ke area permainan. Ku rasa, perasaan seperti ini yang dulu ku miliki ketika ibu mengajakku ke sebuah acara karnaval.


"Duduk disana." tawarku kembali untuk mengajak Amy sekedar duduk menikmati indahnya suasana kota di malam hari dari tasa perbukitan yang ada.


"Indah sekali." ujar Amy nampak begitu senang.


"Syukurlah lo suka." ujarku sembari menatap gadis itu. Gadis yang kini tiba memalingkan wajahnya untuk waktu yang lama. Apa gue buat salah lagi disini?! Aku yang tadinya terkesima dengan kebahagiaan yang ia pancarkan seketika langsung jengkel karena kebiasaan buruknya satu ini. Setidaknya kalau nggak suka ya ngomong. Atau kalau ingin apa itu ngomong, bukan seperti sekarang. Tangan ini sudah bermaksud ingin menjitak kepala Amy saking gemasnya, tapi urung ku lakukan ketika melihat dia ternyata sedang berusaha merogoh tas untuk mencari hp miliknya.


"Ketemu." ujar Amy. Segera dia membuka kamera hpnya lalu memotret beberapa sudut yang ia sukai. Dan tolong jangan tanya hasilnya. Aku rasanya hanya bisa menghela nafas berhadapan dengan kepolosan Amy dihadapanku saat ini. Wajahnya murung dan nampak serius ketika melihat hasil fotonya. Lalu mengulangi hal yang sama dan kembali berwajah serius melihat fotonya sendiri.


Amy menatapku dengan pasrah. Untuk beberapa saat dia kembali diam. Dan ok, kali ini aku mengaku ini salahku. Terlalu jujur berkata tanpa memikirkan perasaan Amy yang terlalu menyukai pemandangan malam disini.


"Sini hpnya." pintaku. "Lo itu mestinya ubah dulu pengaturan cameranya." ujarnya menunjukan cara menggunakan mode malam pada camera hp milik Amy. Gadis itu serius melihat apa yang ku lakukan. Sembari manggut-manggut kecil, sosok Amy lalu mengikuti gerakan tanganku saat aku mensoot sebuah gambar yang tersaji dihadapan kami. Seuah foto selfi. Fotoku dan Amy.


"Aku mau lihat hasilnya." pinta Amy semangat.


"Belum!" jawabku. Segera aku mengambil beberapa gambar lain yang tidak terhitung jumlahnya. Berharap Amy tidak menemukan kejutan yang ku simpan dalam galeri hpnya. Ngomong-ngomong soal galery hp, aku melirik Amy. Aku penasaran ada foto siapa saja di hpnya. Tapi hp ini privasinya. Aku harus bagaimana?! Dalam keheningan malam ketika Amy menutup mata saat angin menera wajahnya, aku sekilas membuka galery foto milik Amy. Hanya sekilas. Aku hanya melihat sebuah foto jadul yang di foto ulang. Foto sepasang anak. Aku mengurungkan niatku untuk mengetahui isi galery hp milik Amy.


"Ini." ucapku mengembalikan hp miliknya.


"Sudah?" tanyanya. Dia lalu melihat foto yang ku ambil. Setiap kali membuka foto dengan sudut yang berbeda, Amy nampak berbinar-binar. "Aku juga mau mencobanya." ujar Amy kemudian. Dia lalu melakukan gerakan seperti memotret lalu mengarahkan hpnya ke semua arah dan lama terdiam menghadap ke arahku. Lama yang cukup lama. Membuatku langsung menoleh kepada Amy dengan rasa penasaran.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyaku pada Amy.


Dia menggeleng cepat. Lalu buru-buru memasukan hp itu ke dalam tasnya.


"Terima kasih." ucap Amy kemudian. "Tempat ini indah." tambahnya lagi.


"Sama-sama." ucapku yang tetap terpaku pada pemandangan yang tersaji di hadapanku. Untuk beberapa saat, aku hanya terdiam. Begitupun Amy.


"Jadi, kapan lo akan pindah?"


Untuk keheningan yang cukup lama, Amy terdiam.


"Kalau sesuai rencana, dua minggu lagi." jawabnya tertunduk.


"Lo akan kangen gue nggak?" tanyaku tiba-tiba. Ada hal yang tidak bisa ku terima mendengar Amy yang akan pindah sekolah. Beritanya juga ku dengar karena dua sobat Amy yang heboh saat Amy bercerita kepada mereka. Kalau mereka tidak heboh, mungkin Amy pindahpun aku tidak akan mengetahuinya.


"Aku..." Amy sejenak melirik kearahku. Tapi dia kembali tertunduk untuk sesaat. Sampai suara getaran di hp Amy membuat Amy tiba-tiba gelagapann.


Dilayar hpnya ada tertera tulisan "Abang." itu artinya kakak bukan?


"Ayo pulang." ajakku.


"Hah?!" Amy menoleh ke arahku dengan rasa tidak percaya.


"Lain kali kita kesini lagi." ucapku atas kekagetan yang di tunjukan Amy padaku. Entah apa yang kini ia pikirkan. "Masih ada dua minggu lagi, bukan?"


Amy mengangguk. Mengikuti langkahku dari belakang, kami menuruni anak tangga ini kembali dalam diam. Bahkan sepanjang perjalanan pulang pun, baik aku ataupun Amy memilih kekeh dengan kediaman kami satu sama lain. Meski pun begitu, malam ini tetap menjadi malam terbaik yang ku miliki bersama Amy.


Malam yang indah.

__ADS_1


***


__ADS_2